NovelToon NovelToon
Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Balas Dendam
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Dansa di Atas Belati

Napas Alana tercekat di tenggorokan. Lorong panjang itu mendadak terasa seperti labirin yang menyempit. Di bawah temaram lampu kristal yang redup, ia melihat bayangan pria tinggi melangkah keluar dari perpustakaan. Kilatan logam di tangannya bukan ilusi—itu adalah pisau lipat kecil yang digenggam dengan jemari yang gemetar karena amarah.

"Jadi, ini si gadis pemberani yang tadi sok jago di meja makan?"

Suara itu milik Dion, sepupu Arkan yang sedari tadi menatapnya seperti ingin menelan Alana hidup-hidup. Wajah tampannya kini terlihat buruk rupa karena dendam.

Alana mundur satu langkah, tumit high heels-nya mengeluarkan bunyi tuk yang menggema. "Mas Dion, mending pisaunya dipakai buat kupas mangga di dapur aja deh. Daripada buat mainan begini, nanti kena tangan sendiri nangis, lho."

Alana mencoba tetap "julid". Itu adalah mekanisme pertahanannya. Jika dia menunjukkan ketakutan, pria di depannya ini akan menang.

"Mulutmu benar-benar minta disumpal, ya?" Dion melangkah maju, ujung pisau itu terangkat ke arah wajah Alana. "Kamu pikir Arkan benar-benar cinta sama kamu? Kamu itu cuma pion, Alana. Begitu wasiat Kakek turun ke tangan dia, kamu bakal dibuang ke tempat sampah, sama seperti mantanmu membuangmu!"

"Yah, setidaknya kalau saya dibuang sama Arkan, saya bakal dibuang pakai pesangon miliaran. Daripada kamu? Udah tinggal di rumah Kakek, masih aja kelakuannya kayak preman pasar," balas Alana ketus, meski hatinya sudah berteriak minta tolong.

Dion menggeram. Ia menerjang maju. Alana refleks menghindar, namun punggungnya membentur guci besar di pojok lorong. Saat pisau itu hampir mengenai lengannya, sebuah tangan kokoh mencengkeram pergelangan tangan Dion dari belakang dengan bunyi krak yang menyakitkan.

"Aakh!" Dion memekik, pisaunya terjatuh ke lantai marmer dengan suara denting yang nyaring.

Arkan berdiri di sana. Wajahnya tidak lagi dingin, tapi gelap—seperti badai yang siap menghancurkan apa pun. Tanpa sepatah kata pun, Arkan memelintir tangan Dion lebih jauh hingga pria itu berlutut di lantai.

"Sentuh dia lagi," bisik Arkan dengan suara yang begitu rendah hingga bulu kuduk Alana meremang, "dan aku pastikan besok namamu dihapus dari daftar ahli waris, atau mungkin... dari daftar penduduk bumi."

Arkan menghempaskan tangan Dion seolah pria itu adalah sampah yang menjijikkan. Dion terengah-engah, menatap mereka berdua dengan mata merah sebelum akhirnya lari terbirit-birit menghilang di balik lorong.

Suasana hening sejenak. Alana masih bersandar pada guci, mencoba menenangkan jantungnya yang serasa mau copot. Arkan berbalik menatapnya. Alana mengira Arkan akan bertanya apakah dia baik-baik saja, tapi ternyata...

"Bukannya tadi saya bilang, gunakan mulutmu untuk membalas sindiran, bukan untuk memancing orang menusukmu?" Arkan melipat tangan di dada, menatapnya datar.

Alana melongo. "Wah, Mas! Saya baru aja hampir jadi sate, bukannya ditanya 'Lana kamu gapapa?' malah diomelin? Mas ini hatinya terbuat dari batu kali ya? Beku banget!"

Arkan melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka sampai Alana bisa mencium kembali aroma maskulin yang kini terasa sedikit menenangkan. Arkan mengulurkan tangan, bukan untuk mencekik, melainkan untuk merapikan sehelai rambut Alana yang berantakan.

"Jangan mati dulu," bisik Arkan. "Pernikahan kita belum dimulai."

"Bisa nggak sih Mas berhenti bahas kontrak atau bisnis setiap kali ada kejadian seru begini? Saya butuh minum. Yang manis, yang dingin, dan yang nggak ada racunnya!" Alana bersungut-sungut sambil melangkah mendahului Arkan menuju aula utama.

Sisa malam itu dilewati dengan ketegangan yang lebih halus namun lebih mematikan: tatapan mata. Alana duduk di samping Arkan, membalas setiap pandangan sinis Tante Sofia dengan senyum lebar yang dipaksakan. Ia makan steak mahal itu seolah-olah itu adalah makanan terakhirnya, tidak peduli betapa kaku suasana di sana.

Saat mereka akhirnya pamit pulang, Kakek Arkan—pria tua yang diam-diam mengamati Alana—memanggil mereka.

"Arkan," suara Kakek terdengar parau namun berwibawa. "Gadis ini... dia punya sesuatu yang tidak dimiliki wanita lain yang pernah kamu bawa ke sini. Dia punya 'nyawa'. Jaga dia. Karena musuhmu bukan cuma Dion atau Sofia, tapi rasa takutmu sendiri."

Arkan hanya mengangguk singkat, lalu menarik Alana keluar menuju mobil.

Di dalam perjalanan pulang, Alana terdiam menatap lampu-lampu jalanan yang melesat cepat. Ia teringat pesan misterius di ponsel Arkan tadi.

"Mas Arkan," panggil Alana pelan.

"Hmm?"

"Pesan di ponsel Mas tadi... Mas tahu siapa yang kirim?"

Arkan menghela napas panjang, ia melepaskan dasi tuksedonya yang terasa mencekik. "Itu dari orang yang tahu terlalu banyak tentang keluarga saya. Bisa jadi sekretaris saya yang berkhianat, atau mungkin... seseorang yang ingin kita saling menghancurkan."

"Mas nggak takut saya benar-benar jadi 'umpan'?"

Arkan menoleh, menatap mata Alana dalam kegelapan kabin mobil. "Saya tidak pernah membiarkan aset berharga saya hancur, Alana. Dan saat ini... kamu adalah aset paling berharga yang saya miliki."

Alana mencibir. "Lagi-lagi 'aset'. Mas, saya ini calon istri—biar pun kontrak. Panggil apa kek yang lebih enak didengar. Sayang gitu, atau apa."

Arkan tertegun. "Sayang?"

"Iya, latihan! Biar besok pas di depan orang nggak kaku kayak kanebo kering!"

Arkan terdiam lama, lalu dengan nada yang sangat kaku, hampir lucu, ia berucap, "Baiklah... Sayang."

Alana spontan tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit. "Aduh, Mas! Jangan deh! Mas kalau bilang 'Sayang' malah kayak robot mau konslet. Mending panggil Lana aja, tapi jangan pakai nada ngajak berantem."

Tawa Alana rupanya menular. Arkan tersenyum tipis—kali ini senyum yang tulus, bukan seringai bisnis. Untuk sesaat, mereka bukan lagi miliarder dan gadis rakyat jelata yang terjebak kontrak, melainkan dua orang yang sedang menertawakan kegilaan hidup.

Namun, keceriaan itu tidak bertahan lama. Saat mobil mereka memasuki area basement apartemen, Alana melihat sebuah mobil tua yang sangat ia kenali terparkir tidak jauh dari lift pribadi Arkan.

Itu mobil Bayu.

Bayu berdiri di sana, di samping mobil bututnya, tampak berantakan dan emosional. Begitu melihat Alana turun dari Rolls-Royce bersama Arkan, pria itu langsung berlari menghampiri.

"Lana! Alana, tunggu!" teriak Bayu.

Arkan langsung memasang badan di depan Alana, wajahnya kembali membeku menjadi es. "Mau apa lagi kamu?"

Bayu mengabaikan Arkan, ia menatap Alana dengan mata berkaca-kaca. "Lana, aku tahu aku salah. Tapi kamu jangan mau dimanfaatin sama pria ini! Dia cuma mau pakai kamu buat dapetin warisan kakeknya! Aku dengar semuanya dari orang dalam perusahaannya!"

Alana menatap Bayu datar. "Terus? Kalaupun dia manfaatin aku, dia kasih aku rumah, baju bagus, dan rasa hormat. Kamu kasih aku apa? Janji manis yang isinya cuma hamilin anak orang lain?"

"Tapi Lana, dia berbahaya! Dia... dia punya rahasia yang bisa bikin kamu hilang selamanya!" Bayu berteriak putus asa.

Arkan memberi tanda pada petugas keamanan. Dua pria berseragam langsung menyeret Bayu menjauh. "Bawa pria ini keluar. Jangan biarkan dia masuk ke area ini lagi."

Alana menatap punggung Bayu yang diseret paksa. Ia merasa ada yang tidak beres. Bagaimana bisa Bayu tahu soal warisan Kakek? Dan siapa "orang dalam" yang memberi tahu Bayu?

Arkan menarik lembut tangan Alana menuju lift. "Jangan dengarkan dia. Dia hanya pria yang menyesal."

Tapi saat lift mulai bergerak naik, Alana merasakan genggaman tangan Arkan sangat dingin. Dan saat itulah Alana sadar, ponselnya sendiri di dalam tas bergetar. Sebuah pesan masuk.

Dari nomor yang sama dengan yang mengirim pesan ke Arkan tadi.

"Bayu benar. Tapi bukan hanya Arkan yang harus kamu takuti. Lihatlah ke dalam laci meja kerja Arkan malam ini. Temukan dokumen berjudul 'Project Phoenix'. Di sanalah namamu tertulis sebagai 'Biaya Kerugian'."

Alana berdiri di dalam lift bersama Arkan, mencoba bersikap biasa saja sementara tangannya gemetar memegang tasnya. Akankah ia nekat menyelinap ke ruang kerja Arkan malam ini dan membongkar rahasia "Project Phoenix"? Ataukah dia akan terjebak dalam cinta yang ternyata adalah skema pembunuhan berencana?

1
Sefna Wati
"Nulis bab ini beneran bikin aku putar otak banget biar tetep seru buat kalian. Semoga suka ya! Kalau ada saran atau kritik, langsung tumpahin aja di sini. Aku butuh asupan semangat dari kalian nih! ❤️"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!