NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Duniahiburan / Selingkuh / Dendam Kesumat / PSK / Playboy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1.Nikmat yang Membusuk

Bau parfum murahan bercampur aroma rokok menyerbak di dalam kamar hotel melati yang remang-remang itu. Di atas tempat tidur dengan sprei yang sudah sedikit menguning, Bimo duduk sambil menyesap sisa bir dinginnya. Di depannya, seorang wanita bernama Cindy,wanita yang baru saja ia "sewa" dengan sisa uang terakhir hasil menipu Ratih tengah melepaskan pakaiannya satu per satu dengan gerakan menggoda.

Bimo tersenyum puas. Pikirannya melayang pada Ratih, si babu dungu yang malang. Bodoh sekali perempuan itu, pikir Bimo. Dia banting tulang mencuci baju orang, sementara aku di sini menikmati hasilnya dengan perempuan yang jauh lebih cantik.

"Ayo, Sayang... jangan melamun terus," bisik Cindy sambil mendekat. Suaranya serak-serak basah, jemarinya mulai merayap di dada Bimo.

Hasrat Bimo seketika memuncak. Darahnya berdesir hebat ke arah bawah. Ia merasa sangat percaya diri malam ini. Namun, saat gairah itu mencapai puncaknya, sebuah sensasi aneh mulai menjalar. Awalnya hanya rasa gatal yang samar, seperti digigit semut api.

"Ah..." Bimo mengerang, tapi bukan karena nikmat.

"Kenapa, Mas? Sudah nggak sabar ya?" goda Cindy sambil tangannya hendak membuka resleting celana jeans Bimo.

Begitu resleting itu terbuka, rasa gatal itu berubah menjadi panas yang membakar. Bimo meringis. Ia merasa seperti ada ribuan jarum panas yang ditusukkan sekaligus ke area pribadinya.

"Tunggu, Cindy... kok panas ya?" Bimo mulai gelisah. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai membanjiri dahinya.

"Halah, paling juga grogi karena aku terlalu seksi," canda Cindy. Iya telentang di atas kasur dan menggoda Bimo agar segera memulai kenikmatan surga duniawi.

Dan saat itulah, neraka itu dimulai.

Begitu alat vital Bimo terpampang bebas, Cindy mendadak kaku. Matanya melotot. Tangannya yang tadinya membelai, kini menutup mulutnya rapat-rapat.

"Mas... itu... itu kenapa?" suara Cindy bergetar hebat.

Bimo menunduk. Matanya nyaris melompat keluar dari kelopaknya. Pemandangan di bawah sana benar-benar tidak masuk akal. Alat kelamin yang tadinya tegang sempurna, kini dalam hitungan detik berubah warna menjadi merah tua, lalu menghitam seperti daging yang membusuk di bawah terik matahari selama berminggu-minggu.

"Aaaarrghh! Panas! Panas sekali!" jerit Bimo.

Kulit di area sensitifnya mulai melepuh, menggelembung berisi cairan kuning yang keruh. Bau busuk yang sangat menyengat lebih busuk dari bangkai tikus yang sudah hancur,tiba-tiba memenuhi kamar hotel itu. Cairan itu pecah, dan dari balik lapisan kulit yang hancur, muncul sesuatu yang menggeliat.

Satu, dua, lalu puluhan ulat grayak berwarna abu-abu kusam mulai merayap keluar dari dalam pori-pori kulitnya. Tak hanya itu, belatung-belatung putih berukuran besar tampak berpesta pora, menggeliat lincah memakan jaringan daging Bimo dari dalam.

"Tolong! Cindy, tolong aku!" Bimo menjerit histeris. Ia mencoba menarik ulat-ulat itu dengan tangannya, tapi setiap kali ia menyentuh kulitnya, dagingnya justru ikut terkelupas seperti kertas basah.

Cindy berteriak sekuat tenaga. Suaranya melengking menembus dinding kamar. "SETAN! KAMU PAKAI ILMU HITAM YA?! JIJIK! TOLOOOONG!"

Cindy tidak peduli lagi dengan pakaiannya yang berserakan. Ia menyambar tasnya dan berlari kencang menuju pintu. "BAU! KAMU BUSUK! JANGAN DEKATI AKU!"

BRAK!

Pintu kamar terbanting keras. Cindy lari tunggang langgang di lorong hotel sambil terus menjerit histeris, meninggalkan Bimo yang kini merangkak di lantai.

"Ratih... ini pasti gara-gara Ratih..." raung Bimo. Ia mencoba berdiri, tapi rasa sakitnya begitu luar biasa. Belatung-belatung itu seperti memiliki gigi-gigi kecil yang menggerogoti hingga ke tulang.

Darah hitam kental bercampur nanah mulai mengalir di paha Bimo, membasahi karpet hotel yang kusam. Ia merasa seperti sedang dimakan hidup-hidup oleh sesuatu yang tak terlihat. Ia ingin pingsan, tapi rasa sakit itu justru membuatnya tetap terjaga untuk merasakan setiap gigitan larva-larva kelaparan itu.

"TOLOOOOOONG! SAKIIIIIT!" teriak Bimo hingga pita suaranya nyaris putus. Ia memukuli lantai, mencakar-cakar dadanya sendiri, frustasi karena kengerian yang ia lihat di antara selangkangannya tidak kunjung hilang selama gairahnya belum sepenuhnya padam.

Sementara itu, di lorong hotel yang sepi, tepat di balik pintu kamar Bimo, seorang wanita berdiri dengan tenang. Ia mengenakan daster batik lusuh yang ditutup jaket tipis. Wajahnya gelap tertutup bayangan topi, tapi bibirnya yang pecah-pecah melengkung membentuk senyuman paling puas yang pernah ada.

Ratih memejamkan mata, meresapi setiap oktaf jeritan pilu Bimo. Suara teriakan mantan tunangannya itu terdengar seperti musik dangdut yang paling indah di telinganya. Rasa lelah di punggungnya akibat mencuci baju seharian seolah hilang seketika digantikan oleh energi dingin yang mengalir di nadinya.

"Baru segitu, Bim?" bisik Ratih pelan, hampir menyerupai desisan ular.

Ratih ingat bagaimana saat itu melihat kekasih pujaan hatinya keluar dari sebuah Bar memeluk mesra seorang wanita malam . Ia ingat rasa sakit saat hatinya hancur tahu tabungan yang selama ini dia cari ternyata habis tidak tersisa hanya untuk menyewa jasa seorang wanita malam.Sekarang, melihat Bimo membusuk hidup-hidup, semua pengorbanannya terasa sangat murah.

"Makan itu uangku. Makan itu nafsumu," gumamnya lagi.

Ratih mendengar suara langkah kaki orang-orang hotel yang mulai berlarian menuju kamar Bimo karena mendengar keributan. Dengan tenang, Ratih membalikkan badan. Ia berjalan menyusuri lorong hotel dengan langkah ringan, hampir seperti menari.

Ia keluar dengan tenang dari hotel itu, melewati gang sempit yang gelap. Udara malam yang dingin terasa menyegarkan di kulitnya. Di kejauhan, ia masih bisa mendengar sayup-sayup teriakan Bimo yang meminta tolong, tapi tak ada satu pun manusia yang bisa menolongnya dari kutukan yang sudah meresap ke dalam sumsum tulangnya.

Ratih meraba saku jaketnya, memastikan sebuah botol kecil berisi tanah kuburan masih ada di sana. Perjalanannya masih panjang. Bimo tidak boleh mati secepat itu. Bimo harus merasakan bagaimana rasanya hidup namun setiap detik memohon untuk mati.

"Tidurlah yang nyenyak malam ini, Bimo.Jika itu bisa. Besok pagi, kamu akan sadar bahwa ini bukan sekadar mimpi buruk," ucap Ratih pada kegelapan malam.Ini baru permulaan neraka bagimu,aku akan menikmati setiap jeritan mu dan rasa keputusan asaanmu.

" Hahahahahahahahahahaha..."

Ia berjalan terus menuju kontrakannya yang kumuh, menikmati sisa-sisa jerit pilu yang masih terngiang di kepalanya. Malam ini, Ratih tidak perlu makan. Rasa puas akan dendam sudah membuatnya kenyang lebih dari apa pun.

Babak baru hidupnya telah dimulai, dan bagi Bimo, neraka dunia baru saja membuka pintunya lebar-lebar.

Mungkin itu yang di bilang para pujangga cinta,jangan mencintai seseorang melebihi kapasitas cintamu karena saat dia merasakan sakit hati,rasa cinta itu akan menjadi dendam yang membara dan menghilangkan akal sehatmu.

Dan itu terjadi.....

1
Bp. Juenk
Bagus kisah nya. cinta ya g tulis dari seorang gadis desa berubah menjadi pembunuh. karena dikhianati.
Halwah 4g
iya ka..ada lanjutannya kok
Rembulan menangis
gantung
Bp. Juenk
ooh masih dalam bentuk ghaib toh. belum sampe ke media
Bp. Juenk
pantesan. Ratih nya terlalu lugu
Halwah 4g: hehehehe..maklum dari kampung ka 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis ya si ratih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!