Seribu tahun setelah Era Kegelapan yang hampir menghancurkan tatanan alam semesta, Yun Tianxing—kultivator tertinggi dan penjaga keseimbangan antara Dunia Bawah dan Dunia Dewa—menemukan dua artefak legendaris: Darah Phoenix Abadi dan Jantung Naga Suci. Dalam upaya untuk memperkuat diri agar bisa mengantisipasi ancaman tersembunyi, ia memakan jantung naga dan meminum darah phoenix. Namun, kombinasi kekuatan kedua makhluk mistik tersebut terlalu besar untuk tubuhnya, menyebabkan guncangan hebat yang mengancam nyawanya. Sebelum meninggal, ia menciptakan sebuah benih ajaib, memasukkan seluruh energi Qi dan pengetahuan kultivasinya ke dalamnya.
Benih itu jatuh ke Dunia Fana dan memasuki tubuh Haouyu, putra mahkota Kekaisaran Lian yang baru lahir. Tak lama kemudian, kekaisaran keluarga Lian runtuh akibat peperangan besar dengan klan musuh. Untuk menyelamatkannya, ibunya menyerahkan dia kepada seseorang untuk membawanya meninggalkan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: MENJELANG TURNAMEN BELADIRI ANTAR SEKOLAH
Suara hentakan tangan yang kuat menggema di halaman utama Sekolah Kultivasi Xuanwu, memecah kesunyian pagi yang cerah. Batu-batu giok yang tertanam di lantai halaman bergetar samar, memantulkan gema kehormatan yang hanya terdengar pada momen-momen paling penting dalam sejarah sekolah.
Hari itu bukan hari biasa.
Lebih dari seratus murid berkumpul membentuk barisan rapi. Jubah-jubah kultivasi berwarna biru, hijau, dan abu-abu bergoyang tertiup angin gunung, sementara mata mereka tertuju pada panggung batu hitam di tengah halaman. Di sanalah upacara pemberian gelar Murid Atas akan dilaksanakan—sebuah kehormatan langka yang tidak hanya menuntut bakat dan kekuatan, tetapi juga karakter dan fondasi jiwa.
Di barisan depan panggung, berdiri empat murid terpilih.
Salah satunya adalah Lian Haouyu.
Meski usianya baru enam belas tahun—usia yang bagi sebagian besar murid baru saja memasuki tahap pemurnian tubuh—Haouyu berdiri dengan postur tenang dan mantap. Wajahnya menunjukkan kedewasaan yang tidak seharusnya dimiliki anak seusianya. Tatapannya jernih, dalam, seolah telah melihat terlalu banyak hal yang belum dipahami dunia.
Di balik jubah biru tua yang dikenakannya, Qi di tubuhnya berdenyut stabil dan padat, bukti nyata dari Tingkat Pembentukan Inti Tahap Akhir yang telah ia kokoh kan tanpa celah. Empat elemen di dalam dirinya—api, air, angin, dan kehidupan—kini berada dalam keadaan tenang, seperti danau yang permukaannya tak bergelombang.
Di barisan guru, tiga sosok berdiri dengan wibawa yang berbeda namun saling melengkapi.
Master Bai Caotian, dengan jubah hijau alkimia-nya, menatap muridnya dengan senyum bangga yang tak ia sembunyikan.
Master Huo Yanmei, berdiri tegak dengan tatapan tajam, mengangguk tipis—pengakuan seorang guru terhadap murid yang telah memahami makna pengendalian diri.
Dan Master Wei Qingyang, sang penjaga pengetahuan, tersenyum lembut seolah melihat bayangan masa depan yang panjang dan berliku.
Kepala Sekolah Xuanwu melangkah maju. Auranya menyelimuti seluruh halaman, membuat murid-murid menahan napas tanpa sadar.
“Kami berkumpul hari ini,” ucapnya dengan suara yang bergema jelas, “untuk memberikan gelar Murid Atas kepada empat murid yang telah membuktikan diri—bukan hanya melalui kekuatan, tetapi juga melalui sikap, tekad, dan fondasi batin.”
Tatapannya berhenti pada Haouyu.
“Salah satu penerima gelar tahun ini adalah Lian Haouyu.”
Bisik-bisik langsung menyebar di antara murid-murid.
Enam belas tahun… Pembentukan Inti Tahap Akhir… Empat elemen…
“Dia telah menunjukkan kemajuan kultivasi yang melampaui generasinya,” lanjut Kepala Sekolah, “namun yang lebih penting—dia tidak pernah menggunakan kekuatan itu untuk merendahkan yang lemah. Ia memahami bahwa kultivasi adalah jalan tanggung jawab, bukan kesombongan.”
Upacara dilanjutkan dengan doa pemuliaan. Simbol-simbol formasi cahaya muncul di udara, menyatu di atas panggung. Satu per satu, keempat murid maju.
Saat giliran Haouyu tiba, Kepala Sekolah menyerahkan sebuah lencana berbentuk bintang, terbuat dari logam spiritual bercampur giok hitam. Di tengahnya terukir lambang Xuanwu, kura-kura agung penjaga keseimbangan.
Ketika lencana itu terpasang di dada jubah Haouyu—
DUUM—
Gelombang energi lembut menyebar. Lencana itu beresonansi dengan Qi Haouyu, seolah mengakui keberadaannya.
Tepuk tangan bergema. Bukan riuh berlebihan, melainkan penghormatan tulus.
Haouyu menunduk hormat.
Namun di dalam hatinya, ia tahu—
ini bukan puncak. Ini hanyalah gerbang.
Hak Istimewa Murid Atas
Usai upacara, Haouyu mengikuti ketiga masternya menuju ruang kerja Master Bai Caotian. Ruangan itu hangat, dipenuhi aroma tanaman obat langka dan pil setengah jadi. Tungku alkimia berkilau lembut, memancarkan panas spiritual yang stabil.
“Sebagai Murid Atas,” kata Master Bai sambil menuang teh herbal, “kamu kini memiliki hak istimewa.”
Ia mengangkat satu jari.
“Pertama. Ruang kerja alkimia pribadi. Tungku tingkat tinggi, bahan bebas akses, dan kebebasan eksperimen.”
Mata Haouyu berbinar tipis. Ia teringat tekadnya—mengembangkan pil bukan hanya untuk dirinya, tetapi suatu hari untuk rakyat jelata.
Jari kedua terangkat.
“Kedua,” ujar Master Huo Yanmei tegas, “akses ke Tempat Meditasi Bintang. Medan energi di sana tidak ramah bagi mereka yang fondasinya rapuh. Tapi bagimu… itu akan menjadi batu asah.”
Dan jari ketiga.
Master Wei Qingyang tersenyum. “Akses penuh ke perpustakaan rahasia. Sejarah kekaisaran, catatan teknik kuno, dan… kebenaran yang tidak selalu indah.”
Haouyu menarik napas dalam-dalam. Ia membungkuk hormat.
Namun ia lalu berbicara, suaranya tenang tapi mantap.
“Pak Guru… setelah semua ini, saya ingin mengubah fokus latihan.”
Ketiganya menatapnya.
“Saya ingin memusatkan diri pada serangan Qi murni dan teknik beladiri esensi spiritual. Empat elemen adalah fondasi, tapi saya tidak ingin bergantung padanya.”
Keheningan singkat.
Lalu Master Huo tersenyum tipis. “Keputusan yang benar.”
“Elemen adalah senjata,” lanjutnya, “tetapi Qi murni adalah dirimu sendiri.”
Tempat Meditasi Bintang
Sore itu juga, Haouyu mendaki puncak Gunung Xuanwu.
Jalan setapak sempit, medan energi berlapis, tekanan spiritual semakin berat setiap langkah. Namun Haouyu berjalan tanpa ragu.
Saat ia tiba—
ia mengerti mengapa tempat ini hanya untuk Murid Atas.
Udara di sana jernih sempurna. Energi spiritual mengalir seperti sungai tak terlihat. Di tengahnya berdiri panggung meditasi batu putih, berkilau di bawah cahaya matahari senja.
Delapan menhir mengelilinginya, masing-masing terukir simbol kuno—keheningan, kehendak, tubuh, jiwa, keseimbangan, penyangkalan, kelahiran, dan kehancuran.
Haouyu duduk bersila.
Ia tidak memanggil elemen.
Ia hanya… bernapas.
Qi murni bergerak.
Dan jauh di dalam cincin penyimpanannya, Heilong bergetar pelan, seolah merasakan langkah awal sebuah jalan yang akan mengguncang langit.
Harmoni yang Ditempa, Bayangan Kekaisaran yang Bangkit.
Master Huo Yanmei berdiri di tengah lingkaran batu Tempat Meditasi Bintang. Angin gunung berputar pelan di sekelilingnya, membawa hawa dingin yang menusuk namun murni. Langit di atas puncak Gunung Xuanwu tampak luas tanpa awan, seolah menjadi cermin dari jalan kultivasi yang sedang dibentangkan di hadapan muridnya.
Ia mengangkat kedua tangannya secara perlahan.
Seketika, suhu udara berubah drastis.
Di tangan kanannya, api merah menyala dengan panas yang terkendali, berdenyut seperti jantung yang hidup. Di tangan kirinya, kristal es biru pucat terbentuk, memancarkan hawa dingin yang mampu membekukan napas. Dua elemen yang seharusnya saling meniadakan itu justru berputar stabil, terpisah namun tidak bermusuhan.
“Inilah dasar yang harus kamu pahami,” ujar Master Huo dengan suara tenang namun sarat wibawa. “Elemen tidak pernah benar-benar bertentangan. Manusialah yang memaksakan konflik pada mereka.”
Di hadapannya, Lian Haouyu berdiri dengan sikap hormat. Tatapannya tajam, fokus sepenuhnya pada setiap perubahan aliran energi di sekitar sang guru. Ia bisa merasakan bagaimana api tidak membakar es, dan es tidak memadamkan api. Keduanya berada dalam batas yang jelas, diikat oleh kehendak dan pemahaman.
Haouyu mengangkat kedua tangannya, meniru gerakan Master Huo.
Api muncul lebih dulu—panas, agresif, hampir tak sabar. Air menyusul, dingin dan lembut. Namun ketika ia mencoba memanggil cahaya dan kegelapan, Qi di dalam tubuhnya bergetar keras. Dua elemen itu masih menolak bersatu tanpa fondasi niat yang matang.
...~BERSAMBUNG~...