Zoran Shihai adalah pemuda 19 tahun dari Bumi yang hidup sebagai perampok jalanan. Ia mencuri bukan karena rakus, melainkan demi bertahan hidup. Namun satu kesalahan fatal yakni merampok keluarga kaya yang terhubung dengan dunia gelap membuat hidupnya berubah selamanya.
Dikejar para pembunuh bayaran, Zoran terjebak dalam pelarian putus asa yang berakhir pada sebuah retakan ruang misterius. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di Bumi, melainkan di Dunia Pendekar, sebuah dunia kejam tempat kekuatan menentukan segalanya.
Terlempar ke Hutan Angin dan Salju, Zoran harus bertahan dari cuaca ekstrem, binatang buas, manusia berkuasa, dan kelaparan tanpa ampun. Di dunia ini, uang Bumi tak berarti, belas kasihan adalah kelemahan, dan bahkan seorang pemilik kedai tua bisa memiliki kekuatan mengerikan.
Tanpa bakat luar biasa, tanpa guru, dan tanpa sistem,
Ini adalah kisah tentang bertahan hidup, ironi, dan kebangkitan seorang manusia biasa di dunia yang tidak memberi ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kon Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari binatang spiritual.
Zoran merasa benar-benar dibohongi oleh buku teknik yang dia baca.
Di dalam buku itu tertulis jelas, untuk menjadi pendekar Raga Spiritual, seseorang seharusnya hanya merasakan ledakan kecil energi spiritual di dalam tubuh, lalu disusul rasa segar yang membanjiri setiap urat dan tulang.
Bukan… Disambar petir tiga kali secara langsung.
Zoran menghela napas panjang, masih merasakan sisa nyeri samar di sekujur tubuhnya. Namun kali ini, dia tidak langsung mengumpat. Perlahan, dia memejamkan mata dan mulai memeriksa kondisi di dalam tubuhnya.
Dia merasakan sesuatu yang berbeda.
Ada aliran hangat yang stabil di dalam tubuhnya. Tidak liar, tidak menyakitkan, tenang dan patuh. Energi itu bergerak mengikuti pikirannya, menyatu dengan otot dan tulangnya.
Zoran membuka mata. Senyum lebar merekah di wajahnya. “Raga Spiritual tingkat satu,” gumamnya, lalu berseru dengan suara serak namun penuh kegembiraan. “Akhirnya… aku menjadi pendekar juga.”
Untuk sesaat, dia hanya terdiam, membiarkan perasaan itu meresap.
Sejujurnya, sejak awal Zoran tidak benar-benar yakin dia bisa menjadi pendekar. Dunia ini terasa terlalu kejam baginya. Terlalu berat. Terlalu tidak adil. Namun sekarang, kenyataan berdiri jelas di hadapannya.
Dia berhasil.
Dan itu adalah kabar baik. Kabar yang sangat baik. Dengan dirinya kini menjadi seorang pendekar, Zoran yakin hidupnya tidak akan sama lagi. Dia mungkin masih lemah, masih berada di tingkat paling dasar, namun setidaknya,
Dia tidak akan dipukuli begitu saja seperti sebelumnya.
Kalaupun suatu hari nanti dia kembali menghadapi orang yang lebih kuat, dia yakin masih bisa melawan… atau setidaknya kabur. Bukan pingsan tanpa tahu apa-apa.
Dengan hati yang terasa ringan, Zoran berbaring di tanah cukup lama, menatap langit tanpa bergerak sedikit pun.
Bahkan saat dia mencium bau aneh seperti daging panggang dari tubuhnya sendiri, dia hanya menghela napas malas.
Dia sudah tahu. Kalau bau itu bukan makanan. Melainkan… dagingnya sendiri yang sempat tersambar petir.
Matahari perlahan condong ke arah barat. Cahaya keemasan memantul di atas salju, menandakan malam akan segera datang.
Zoran akhirnya bangkit.
Dengan gerakan perlahan, dia membersihkan tubuhnya menggunakan salju. Di tempat ini, dia tidak tahu di mana sungai berada, dan mungkin memang tidak ada. Jadi salju adalah satu-satunya pilihan.
\*\*\*
Waktu berlalu perlahan.
Hari-hari Zoran di tempat ini diisi dengan hal yang hampir sama setiap harinya, mempelajari teknik dari buku, lalu melatihnya sedikit demi sedikit sambil menunggu tubuhnya pulih sepenuhnya. Dia tidak memaksakan diri. Luka-lukanya masih ada, dan dia tahu terlalu gegabah hanya akan membawa kematian lebih cepat.
Teknik yang dia pelajari saat ini tidak banyak. Hanya teknik pedang dan teknik bertarung dasar.
Itu pun karena satu-satunya senjata yang dia miliki hanyalah pedang yang diberikan Zilan. Tidak ada pilihan lain. Jika ingin bertahan hidup, maka dia harus mahir menggunakan apa yang ada di tangannya.
Meski Zoran jarang benar-benar bertarung, bukan berarti tempat ini aman sepenuhnya.
Pada malam-malam tertentu, lolongan serigala sering terdengar dari kejauhan. Kadang terdengar dekat, kadang menjauh, namun yang membuat Zoran merasa tidak nyaman adalah, mereka datang terlalu sering.
Sekali atau dua kali mungkin wajar. Namun para serigala itu datang berkali-kali, seolah mencari sesuatu.
Awalnya, Zoran mengira tempat ini cukup aman. Namun kenyataan membuatnya berpikir ulang. Karena itulah, dia akhirnya memindahkan tempat tinggalnya, membangun tenda sederhana di atas pohon, jauh dari jangkauan hewan buas.
Dan benar saja.
Para serigala itu memang datang lagi. Beberapa kali bahkan berkeliling di sekitar area tempat Zoran biasa berlatih. Namun mereka tidak pernah menemukan keberadaannya.
Pagi ini, Zoran berdiri di tengah salju yang masih tebal, pedang di tangan kanannya. Nafasnya teratur, tatapannya fokus. Dia melatih teknik di bawah suhu dingin yang menusuk tulang, memaksa tubuhnya beradaptasi.
Setiap ayunan pedang meninggalkan jejak tipis di udara. Tidak cepat, tidak lambat, namun stabil.
Setelah waktu yang cukup lama, Zoran berhenti. Nafasnya sedikit berat, uap putih keluar dari mulutnya. Dia kemudian duduk dan beristirahat.
Makanannya saat ini sederhana, daging hewan kecil seperti kelinci atau makhluk serupa yang berhasil dia tangkap. Tidak lezat, namun cukup untuk bertahan hidup.
Minumannya tetap sama.
Rebusan bunga Teratai Salju Api Merah. Bunga yang menurut Zilan adalah racun mematikan.
Namun sejauh ini, Zoran tidak pernah merasakan efek keracunan sedikit pun. Tidak panas di dada, tidak ilusi, tidak rasa haus ekstrem.
Karena itu, Zoran mulai berpikir bahwa Zilan mungkin terlalu melebih-lebihkan… atau sengaja menakut-nakutinya agar dia tidak sembarangan.
Namun Zoran tidak benar-benar yakin. Dia hanya tahu satu hal, tubuhnya terasa baik-baik saja.
Perlu diketahui, Hutan Angin dan Salju bukan hanya dihuni oleh hewan biasa. Di dalamnya juga terdapat binatang spiritual, makhluk yang memiliki energi spiritual di dalam tubuh mereka.
Kekuatan binatang spiritual sangat bergantung pada tingkatannya. Ada yang hanya sedikit lebih kuat dari hewan biasa, ada pula yang mampu menyaingi bahkan membunuh pendekar tingkat rendah dengan mudah.
Maka dari itu, Zoran tahu dia harus berhati-hati.
Hutan Angin dan Salju bukan hanya dingin dan sepi, tapi juga penuh dengan makhluk-makhluk aneh yang tidak bisa diukur dengan logika manusia biasa. Dia tidak ingin lagi melihat jalan kematian terbentang di depan matanya, terlebih dengan cara yang konyol dan sia-sia.
“Aku tidak boleh ceroboh,” gumamnya pelan.
Sejenak kemudian, sebuah pikiran muncul di benaknya.
“Sepertinya… aku bisa membunuh beberapa binatang spiritual untuk meningkatkan kekuatan,” pikir Zoran.
Bukan tanpa alasan dia berpikir demikian.
Sebelumnya, dia pernah secara tidak sengaja bertemu dengan sebuah binatang spiritual, yakni
Kepompong Sunyi Tanpa Bayangan.
Makhluk itu tampak seperti kepompong hitam kusam yang tidak memantulkan cahaya sedikit pun. Ia tidak bersuara, tidak bergerak, bahkan hampir mustahil dideteksi. Namun bahaya sejatinya bukan pada bentuknya, melainkan pada kehadirannya.
Kepompong itu menghisap panas batin orang-orang di sekitarnya.
Siapa pun yang menatapnya terlalu lama akan merasakan ketenangan yang luar biasa, rasa nyaman yang menipu, seolah seluruh penderitaan lenyap begitu saja. Nafas menjadi pelan, pikiran menjadi kosong… hingga akhirnya, orang itu lupa bernapas dan mati tanpa sadar.
Zoran masih mengingat dengan jelas sensasi saat itu.
Begitu menyadari keanehan itu, Zoran tidak ragu. Dia langsung membunuh kepompong tersebut, lalu secara naluriah menyerap energi yang tersisa di dalamnya.
Hasilnya membuatnya terkejut.
Kekuatannya benar-benar meningkat, meskipun hanya sedikit.
Itulah momen ketika Zoran menyadari,
binatang spiritual bukan hanya ancaman, tapi juga kesempatan.
“Sepertinya cara itu lebih baik,” gumam Zoran sambil berdiri. “Lagipula… tubuhku sudah pulih sekarang.”
Dengan tekad yang lebih mantap, Zoran melangkah masuk ke hutan yang lebih dalam, berniat mencari binatang spiritual lain untuk memperkuat dirinya.
Di antara semak-semak Hutan Angin dan Salju, Zoran bersembunyi. Dia menahan napas, menajamkan pendengarannya. Nalurinya mengatakan bahwa tempat seperti ini, sunyi, dingin, dan jarang dilewati manusia, pasti menjadi wilayah binatang spiritual.
Tidak lama kemudian,
Langkah berat terdengar.
Salju terinjak.
Zoran menegang. Dari balik semak, muncul seekor binatang besar dengan tubuh kekar dan bulu putih kusam. Matanya kosong, sorotnya dingin dan hampa, seolah tidak memiliki emosi sedikit pun.
Zoran membelalakkan mata. “Babi Hutan Salju Kosong,” gumamnya pelan.
Menurut buku yang dia baca, binatang ini dikenal sebagai makhluk bodoh yang diselimuti aura kesepian pekat. Banyak pendekar mengatakan bahwa menatap matanya terasa seperti melihat salju jatuh di atas kuburan lama, sunyi, dingin, dan mematikan secara perlahan.