Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.
Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.
Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.
Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.
Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Takhta yang Terbelah
Kastil Ares. Pegunungan Alpen, Swiss. Pukul 10:00 Waktu Setempat.
Di sebuah ruangan dengan langit-langit setinggi sepuluh meter yang dihiasi lukisan perang kuno, seorang pria muda sedang bermain anggar. Lawannya adalah tiga instruktur pedang terbaik Eropa sekaligus.
Pria itu bergerak seperti kilat. Tring! Trang! Jleb!
Dalam tiga gerakan, ketiga instruktur itu jatuh berlutut, pedang mereka terlempar, dan ujung rapier pria muda itu sudah menempel di leher instruktur terakhir.
"Kalian lambat," desis pria itu. Ia membuka topeng anggarnya, memperlihatkan wajah tampan namun memiliki sorot mata yang kejam dan licik. Rambutnya pirang pucat, disisir rapi ke belakang.
Ini adalah Darius Ares. Sepupu laki-laki Jay. Kandidat kedua pewaris takhta Ares.
Seorang pelayan tua mendekat dengan gemetar, membawa handuk dan segelas air.
"Tuan Darius," kata pelayan itu. "Tuan Besar Alexander baru saja menghubungi satelit pribadi. Beliau... beliau menelepon Tuan Muda Jay."
Tangan Darius yang sedang memegang gelas air berhenti di udara.
Pyar!
Gelas kristal itu diremas hingga hancur berkeping-keping di tangannya. Pecahan kaca menusuk kulitnya, darah segar menetes ke lantai marmer putih. Namun, Darius tidak berkedip. Rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan rasa sakit di egonya.
"Orang tua bangka itu..." bisik Darius, suaranya mengandung racun. "Sepuluh tahun Jay pergi menjadi anjing militer. Sepuluh tahun aku mengurus bisnis keluarga, melipatgandakan aset, memusnahkan saingan. Dan dia masih memohon pada si anak hilang itu untuk kembali?"
Darius melemparkan handuk berdarah itu ke wajah pelayan.
"Siapkan jet pribadi. Siapkan Unit Gerhana (Eclipse Squad)."
"A-anda mau ke mana, Tuan?"
"Ke Negara Arvanta," Darius tersenyum menyeringai, senyum yang menjanjikan kematian. "Jika Alexander tidak bisa melupakan putranya, maka aku akan membantunya. Aku akan membawa pulang kepala Jay Ares dalam kotak kado. Dengan begitu, takhta Ares tidak punya pilihan lain selain jatuh ke tanganku."
Taman Belakang Kastil Ares.
Di sisi lain kastil yang lebih hangat, seorang wanita muda yang cantik sedang melukis di taman bunga mawar. Ia memiliki rambut hitam panjang seperti Jay dan mata yang lembut.
Elena Ares. Sepupu perempuan Jay.
Ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari jaringan intelijen internal yang ia sadap diam-diam.
[ALERT: Darius Ares mengaktifkan Protokol Perang. Tujuan: Kota Langit Biru. Target Potensial: J.A.]
Kuas lukis di tangan Elena jatuh. Wajahnya pucat.
"Tidak..." bisiknya. "Darius benar-benar akan membunuhnya."
Elena teringat masa kecilnya. Di antara semua sepupu yang sombong dan gila kekuasaan, hanya Jay yang mau bermain dengannya tanpa memandang status. Jay yang selalu melindunginya saat ia diejek karena menjadi anak dari istri kedua pamannya. Jay adalah kakak yang ia kagumi.
Elena segera mengambil ponsel terenkripsi miliknya. Ia tidak bisa menghentikan Darius secara fisik Darius menguasai aset militer keluarga tapi ia bisa memberikan peringatan.
"Bertahanlah, Kakak Jay," gumam Elena. "Jangan mati sebelum aku sampai di sana."
Kota Langit Biru, Arvanta. Pemakaman Umum Sektor Barat. Pukul 14:00.
Langit mendung menaungi pemakaman tua itu. Jay berdiri di depan sebuah nisan marmer hitam bertuliskan: Edward Severe.
Ia meletakkan satu buket bunga lili putih.
Di telinganya, earpiece terpasang. Ghost sedang membacakan hasil forensik digital.
"Komandan, Anda benar. Saya meretas database rumah sakit yang sudah dihapus tiga tahun lalu. Ada jejak digital yang tertinggal di backup server."
"Bacakan," perintah Jay datar.
"Penyebab kematian resmi Gagal Jantung. Tapi hasil lab darah asli menunjukkan adanya senyawa Neurotoxin VX-4. Itu racun langka yang hanya diproduksi oleh laboratorium militer swasta... milik Keluarga Arkady."
Tangan Jay mengepal. Informasi ayahnya benar. Kakek Edward tidak sakit. Dia dibunuh. Dibunuh karena menolak menjual Severe Group kepada Arkady. Dan sekarang, mereka mengincar Angeline untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.
Tiba-tiba, ponsel Jay bergetar. Panggilan masuk dari nomor Swiss.
Jay mengangkatnya. "Halo?"
"Kak Jay! Ini Elena!" suara panik terdengar di seberang sana.
Ekspresi dingin Jay sedikit melunak. "Elena? Si Kecil Cengeng? Sudah lama sekali."
"Jangan bercanda! Dengarkan aku! Darius tahu Ayah menghubungimu. Dia marah besar. Dia sedang terbang menuju Arvanta sekarang membawa Unit Gerhana. Dia mau membunuhmu!"
Jay menghela napas panjang. Masalah datang bertubi-tubi.
"Biarkan dia datang, El. Aku sudah pernah menghajar dia waktu umur 10 tahun. Aku bisa menghajarnya lagi sekarang."
"Ini berbeda! Dia bukan anak kecil lagi. Dia... dia monster, Kak. Dia membawa senjata eksperimental Ares. Dan dia tidak sendirian, dia akan bekerja sama dengan Keluarga Arkady untuk menjepitmu."
Jay terdiam sejenak. Aliansi antara Darius (teknologi Ares) dan Arkady (kekuatan politik lokal). Itu kombinasi yang berbahaya.
"Terima kasih peringatannya, El. Kau tidak perlu terlibat. Ini urusan laki-laki."
"Aku tidak peduli! Aku akan menyusul ke sana. Aku tidak akan membiarkan Darius menyentuhmu!"
Sambungan terputus.
Jay menatap nisan Kakek Edward.
"Kek," bisik Jay. "Sepertinya janji untuk melindungi Angeline akan menjadi jauh lebih sulit. Musuh kita bukan lagi cuma preman pasar atau politisi korup."
"Musuh kita adalah darah dagingku sendiri."
Markas Besar Keluarga Arkady (Gedung Parlemen).
Di sebuah ruangan rapat tertutup yang kedap suara, Senator Arkady pria tua licik dengan senyum palsu duduk berhadapan dengan layar besar yang menampilkan wajah Darius Ares yang sedang berada di pesawat.
"Tuan Darius," sapa Senator Arkady hormat. "Suatu kehormatan bagi kami bisa bekerja sama dengan Keluarga Ares."
"Langsung saja," potong Darius dari layar. "Aku butuh akses penuh ke kota kalian. Tutup mata polisi, lumpuhkan kamera pengawas. Aku akan membersihkan kota dari 'hama' bernama Jay Ares."
"Dengan senang hati," jawab Senator Arkady. "Tapi sebagai imbalannya?"
"Setelah Jay mati, aku akan memberikan hak monopoli teknologi energi Ares kepada Keluarga Arkady. Kalian akan menjadi penguasa mutlak di negara ini."
Mata Senator Arkady berbinar tamak. "Sepakat. Tapi hati-hati, Tuan Darius. Jay... atau siapapun dia... memiliki dukungan dari unit militer misterius."
Darius tertawa meremehkan.
"Unit militer? Mainan anak-anak. Tunggu sampai kau melihat apa yang dibawa Unit Gerhana. Kami akan mengubah kota kalian menjadi ladang pembantaian jika perlu."
Layar mati.
Senator Arkady tersenyum puas. Ia menoleh ke asistennya.
"Siapkan dokumen pengambilalihan aset Severe Group dan Orion Group. Sebentar lagi, janda muda bernama Angeline itu akan kehilangan pelindungnya."
Apartemen Jay.
Malam itu, Jay pulang dengan wajah lelah. Angeline sedang duduk di sofa, menonton berita tentang kecelakaan di Jalan Pantai Utara (kematian Mr. K).
"Beritanya mengerikan ya, Jay," kata Angeline. "Geng narkoba saling bunuh."
"Ya, mengerikan," jawab Jay sambil duduk di samping istrinya, memeluknya.
"Oh ya," Angeline tiba-tiba teringat sesuatu. "Tadi ada paket aneh datang untukmu. Tidak ada nama pengirimnya. Cuma kotak kayu kecil."
Jantung Jay berhenti berdetak sesaat. "Di mana paketnya?"
"Di meja makan. Belum kubuka."
Jay berjalan cepat ke meja makan. Sebuah kotak kayu eboni hitam tergeletak di sana. Ukiran lambang Ares terpahat di tutupnya, tapi lambangnya tergores pisau tanda tantangan perang.
Jay membuka kotak itu perlahan.
Isinya adalah sebuah mainan prajurit timah yang kepalanya sudah dipenggal, dan selembar kartu ucapan mewah bertuliskan tinta emas:
*"Untuk Sepupu Tersayang. Mainan lamamu sudah rusak. Saatnya dibuang. Aku akan datang saat gerhana bulan lusa. Siapkan pemakamanmu.
Darius"*
Jay menutup kotak itu dengan kasar.
Jay menoleh ke arah Angeline yang menatapnya bingung.
"Angel," panggil Jay serius.
"Ya?"
"Mulai besok, kau tidak boleh jauh-jauh dariku. Tidak sedetik pun."