Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detak Jantung yang Berkhianat
Malam semakin larut di apartemen mewah milik Shaneen. Michael akhirnya tertidur (atau setidaknya berpura-pura tidur) di sofa ruang tengah. Shaneen melihat kesempatan ini. Dengan gerakan seringan kapas, ia menyelinap ke perpustakaan.
Ia menggeser rak buku besar itu—bunyi mekanisnya hampir tak terdengar—dan menuruni tangga menuju markas bawah tanahnya. Ia perlu memeriksa koordinat Don yang sempat ia retas tadi sore. Namun, saat kakinya menginjak anak tangga terakhir, kepalanya mendadak berdenyut hebat. Pandangannya mengabur.
Sial, bukan sekarang... Umpatnya dalam hati.
Shaneen memiliki kondisi medis langka akibat luka lama saat ia masih remaja—saat ia berusaha menyelamatkan dokumen ayahnya dari mension yang terbakar. Ia menderita Anemia Sideroblastik kronis yang kambuh setiap kali ia terlalu stres atau kelelahan. Jika ia tidak segera mendapatkan suntikan vitamin khusus, saraf motoriknya akan lumpuh sementara.
Ia merangkak menuju meja kerjanya, tangannya gemetar hebat mencoba meraih laci berisi obat-obatan. Di saat itulah, sebuah tangan besar dengan lembut namun kuat menangkap pergelangan tangannya.
Shaneen tersentak, ia mendongak dengan napas memburu. Michael?
Malam di apartemen Shaneen terasa begitu sunyi, namun bagi Michael Miguel, kesunyian itu justru terdengar sangat bising. Ia berbaring di sofa ruang tengah, matanya terpejam namun indranya bekerja 200%. Sebagai pria yang dilatih untuk bertahan hidup dari upaya pembunuhan sejak usia belasan, tidur nyenyak di tempat yang asing adalah kemewahan yang tidak ia miliki.
Pukul 02.15 pagi, Michael mendengar suara mekanis yang sangat halus—gesekan kayu dengan lantai yang hanya terdengar jika seseorang menempelkan telinga ke dinding.
Dia bergerak, batin Michael.
Ia tidak langsung bangun. Ia menunggu lima menit, lalu melangkah menuju perpustakaan. Michael tidak menggunakan kekerasan. Saat ia memeriksa rak buku besar itu sebelumnya, ia sudah menempelkan sebuah alat pelacak panas mikroskopis di sela-sela buku. Ia melihat sidik jari hangat Shaneen masih tertinggal di sebuah buku tebal berjudul 'The Art of War'. Michael menarik buku itu. Klik. Rak itu bergeser.
Michael menuruni tangga beton yang dingin dengan langkah kaki tanpa suara. Di bawah sana, ia tidak menemukan gudang berdebu, melainkan sebuah pusat komando yang membuat sistem keamanan Tizon Tech & Property terlihat seperti mainan anak-anak.
Ia terpaku melihat deretan layar yang menampilkan arus kas pasar gelap, koordinat gudang-gudang Don, hingga rekaman CCTV pelabuhan malam itu. Namun, yang paling membuatnya sesak napas adalah sebuah layar besar di tengah yang menampilkan foto Michael satu tahun lalu—saat ia terluka di gedung tua yang belum jadi itu.
"Jadi kau benar-benar menjagaku sejak hari itu," bisik Michael pada ruangan yang kosong.
Michael berjalan lebih dalam. Ia melewati dinding kaca yang menghubungkan markas itu ke ruang rahasia di balik dapur. Di sana, ia melihat pemandangan yang membuatnya bergidik sekaligus kagum. Dinding Kematian. Senjata-senjata itu tertata seperti karya seni di galeri. Ada belati hitam legam yang tidak memantulkan cahaya, pistol khusus dengan peredam yang dimodifikasi, dan berbagai tabung gas saraf kecil. Michael menyadari, wanita yang ia nikahi bukan hanya berbahaya, dia adalah sebuah pasukan tempur yang dikemas dalam tubuh satu wanita cantik.
Saat Michael sedang mengagumi sebuah sniper laras pendek, ia mendengar suara benda jatuh. Ia bergegas menuju meja kerja utama dan menemukan Shaneen sedang berjuang untuk tetap sadar.
Shaneen memiliki kondisi medis langka akibat trauma hebat saat remaja. Ketika mension pribadi milik ayahnya dibakar oleh musuh bisnis, Shaneen terjebak di ruang bawah tanah selama berjam-jam sambil menghirup gas beracun sebelum berhasil keluar membawa dokumen ayahnya. Akibatnya, ia menderita Anemia Sideroblastik kronis dan kerusakan saraf sensorik ringan yang kambuh saat ia mengalami kelelahan ekstrem.
Michael melihat tangan Shaneen gemetar hebat, ia berusaha meraih laci berisi suntikan vitamin dan obat penenang saraf.
"Jangan bergerak," suara Michael berat dan penuh otoritas.
Shaneen tersentak hebat, kepalanya berputar. "Michael? Bagaimana... kau..."
Michael tidak menjawab. Ia segera mengambil alih laci itu, menemukan suntikan otomatis (auto-injector), dan tanpa ragu menyuntikkannya ke lengan Shaneen. Ia memegang tubuh Shaneen yang mendadak lemas, membiarkan kepala istrinya bersandar di dadanya.
"Jadi ini alasan kenapa kau selalu butuh jus stroberi dan manisan di setiap acara?" suara Michael tidak lagi jahil, melainkan rendah dan penuh kecemasan yang nyata.
"Kau masuk ke sini... kau merusak segalanya," isak Shaneen, suaranya parau. Ia merasa telanjang. Rahasianya, kekuatannya, dan kini kelemahannya, semuanya tergeletak di depan kaki Michael Miguel.
"Kau memaksakan dirimu terlalu keras, Shaneen," bisik Michael. Ia berlutut di depan Shaneen, memijat lembut telapak tangan istrinya yang dingin. "Kau bisa membantai sepuluh pria di pelabuhan tanpa berkeringat, tapi kau tidak bisa naik tangga tanpa pingsan?"
Shaneen mencoba menarik tangannya, tapi tenaganya habis. "Keluar, Michael... Kau tidak seharusnya melihat ini. Kau tidak seharusnya tahu..."
"Tahu apa? Bahwa calon istrimu adalah pahlawan yang sekarat?" Michael menatap mata sayup Shaneen yang kini terlihat sangat rapuh. "Ayahmu membangun tempat ini untuk melindungimu, bukan untuk membunuhmu pelan-pelan dengan beban ini."
Nama Ayah disebut, dan pertahanan mental Shaneen runtuh. Air mata yang selama ini ia tahan sebagai 'Wanita Berbahaya' menetes satu per satu. Kelemahannya bukan hanya fisiknya yang rapuh, tapi kerinduannya pada sosok pelindung yang kini digantikan oleh pria yang paling ia curigai.
"Aku hanya sedang melihat sisi lain dari duniaku yang selama ini hilang. Kenapa kau tidak pernah bicara? Kenapa harus menanggung ini sendirian?" Ucap Michael.
"Karena di duniaku, kelemahan berarti kematian, Michael! Ayahku mati karena dia percaya pada orang lain. Aku tidak bisa... aku tidak boleh lemah," Shaneen mencoba berdiri, tapi Michael menahannya dengan pelukan yang lebih erat.
"Duniamu sekarang adalah duniaku juga," Michael menatap layar monitor yang masih menampilkan data Don. "Kau punya senjatanya, kau punya teknologinya, tapi kau tidak punya tubuh yang cukup kuat untuk melakukan semuanya sendiri malam ini."
Shaneen bersandar di kursi, napasnya mulai teratur setelah obatnya bekerja. "Kau sudah tahu semuanya. Sekarang apa? Kau akan melaporkanku pada otoritas karena menyimpan senjata ilegal?"
Michael berdiri, ia mengecup dahi Shaneen—bukan jentikan dahi kali ini, tapi ciuman yang dalam dan penuh janji.
"Aku akan melakukan sesuatu yang lebih baik," ucap Michael. "Aku akan menjadi orang yang memegang senjatamu saat tanganmu gemetar. Aku akan menjadi dinding dapurmu, Shaneen. Tidak akan ada yang masuk ke markas ini, dan tidak akan ada yang tahu tentang kondisimu... selama kau membiarkanku tidur di kamarmu, bukan di sofa."
Shaneen mendengus lemah, tawa kecil keluar dari bibirnya yang pucat. "Kau benar-benar mengambil kesempatan dalam kesempitan, Tuan Miguel."
"Itu namanya strategi bisnis, Sayang," balas Michael sembari menggendong Shaneen kembali ke atas, menuju kamar tidur utama.
Michael mengangkat Shaneen dalam gendongannya, melewati rak buku yang terbuka. Sebelum ia menutup pintu rahasia itu, Michael menatap ruangan bawah tanah itu sekali lagi.
"Besok, aku akan mengirim dokter pribadiku ke sini. Dia bisa dipercaya. Dan Shaneen..." Michael menunduk, menatap mata sayu Shaneen yang mulai sayu karena efek obat. "Jangan pernah berpikir untuk membunuhku agar rahasia ini tetap aman. Karena mulai detik ini, aku adalah asisten pribadimu dalam membantai musuh."
Shaneen tidak mampu menjawab, obat itu membuatnya tertidur di dalam dekapan pria yang seharusnya ia hindari. Michael membawanya ke kamar tidur utama—bukan ke sofa—dan merebahkan diri di sampingnya, menjaga sang Naga yang sedang terluka hingga fajar tiba.