di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Racun Ular Hijau dan Ujung Pedang Hantu
Aula Kolam Air Raksa, Makam Raja Pedang.
Bau amis darah yang tertinggal dari pembantaian Liu Mang dan anak buahnya kini bercampur dengan bau baru yang lebih menyengat: bau racun korosif yang manis namun mematikan.
Ye Yuan baru saja melangkah keluar dari tangga spiral bawah tanah ketika tekanan udara di aula itu mendadak menjadi berat, seolah atap batu di atasnya runtuh menimpanya.
BOOM!
Pintu masuk utama aula meledak hancur. Bongkahan batu beterbangan seperti peluru.
Dari balik debu hijau beracun, seorang pria tua kurus kering dengan jubah hijau tua melayang masuk. Matanya sipit dan tajam seperti ular derik, kulitnya pucat kehijauan, dan di tangannya tergenggam tongkat berkepala ular kobra emas.
Itu adalah Liu She, Tetua Ketiga Sekte Ular Hijau. Kultivator Ranah Pembentukan Fondasi Tingkat Tiga.
Begitu masuk, mata Liu She langsung tertuju pada satu hal: mayat putranya, Liu Mang, yang terpaku di dinding batu dengan lubang menganga di leher.
"MANG'ER!"
Teriakan Liu She memecahkan gendang telinga. Kesedihan seorang ayah berubah menjadi kegilaan dalam sekejap mata.
Dia menoleh perlahan ke arah Ye Yuan. Tatapannya begitu penuh kebencian hingga udara di sekitar mereka bergetar.
"Kau..." desis Liu She, suaranya bergetar menahan amarah. "Kau yang melakukannya?"
Ye Yuan berdiri tegak, memegang pedang patah barunya yang kini memiliki corak aliran sungai biru di bilah hitamnya. Dia tidak gemetar di bawah tekanan aura Tingkat Tiga. Tubuh Pedang Perunggu-nya membuatnya berdiri kokoh seperti pilar besi.
"Dia mencoba membunuhku demi harta," jawab Ye Yuan tenang. "Aku hanya mengembalikan niatnya."
"Mati! MATI! AKU AKAN MENGULITIMU HIDUP-HIDUP DAN MENJADIKAN TENGKORAKMU TEMPAT MINUM!"
Liu She menghentakkan tongkat kobranya ke tanah.
ZING!
Gelombang energi hijau menyapu lantai, mengubah batu menjadi lumpur beracun yang mendesis.
[Domain Racun Ular Hijau!]
Ye Yuan melompat mundur, menghindari gelombang racun itu. Namun, Liu She jauh lebih cepat dari putranya.
"Kau pikir kau bisa lari?!"
Liu She mengibaskan lengan bajunya. Lima ekor ular energi hijau melesat keluar, masing-masing sebesar paha manusia, membuka mulut lebar-lebar untuk menggigit Ye Yuan dari lima arah berbeda.
Ini bukan serangan fisik biasa. Ular-ular ini terbuat dari Qi Racun murni. Jika tersentuh sedikit saja, daging akan membusuk sampai ke tulang.
Ye Yuan tidak bisa menghindar ke segala arah. Dia terkepung.
"Kalau begitu, bakar saja."
Ye Yuan memutar pedang patahnya. Dia mengalirkan Qi Pembentukan Fondasi barunya ke dalam pedang itu.
WUUNG!
Api biru menyala di sepanjang bilah pedang. Itu adalah Api Bintang Dingin. Anehnya, api itu tidak terasa panas, melainkan dingin membekukan, namun memiliki sifat membakar seperti api.
[Tebasan Pedang Asura: Lingkaran Api Beku!]
Ye Yuan berputar di tempat, menciptakan cincin api biru di sekelilingnya.
CESS! CESS! CESS!
Saat lima ular racun itu menabrak cincin api biru, mereka tidak meledak, melainkan membeku menjadi es biru, lalu hancur berkeping-keping menjadi serbuk kristal.
Racun Liu She dinetralkan seketika!
"Apa?!" Mata Liu She terbelalak. "Api Bintang Dingin?! Bagaimana mungkin murid sampah sepertimu bisa mengendalikan Api Bumi Tingkat Tiga?!"
Ye Yuan tidak menjawab. Dia memanfaatkan keterkejutan Liu She.
BOOM!
Dia menghentakkan kakinya. Lantai di bawahnya retak. Ye Yuan melesat menembus sisa kabut racun, pedangnya terangkat tinggi, mengincar kepala Liu She.
"Jangan sombong, Bocah!"
Liu She bereaksi cepat. Dia mengangkat tongkat kobranya untuk menangkis. Tongkat itu adalah Senjata Roh Tingkat Rendah, jauh lebih kuat dari senjata murid biasa.
TRAAANG!
Bentrokan terjadi.
Ye Yuan merasakan tangannya kesemutan hebat. Perbedaan dua tingkat kultivasi masih terasa. Tenaga murni Liu She lebih besar darinya.
Ye Yuan terpental mundur tiga langkah, sementara Liu She hanya mundur setengah langkah.
"Hehe, tenaga kerbau," cibir Liu She, tangannya sedikit gemetar. "Tapi pengalamanmu nol!"
Tongkat kobra Liu She tiba-tiba "hidup". Kepala kobra emas di ujung tongkat itu membuka mulutnya dan menembakkan jarum-jarum hitam kecil ke arah mata Ye Yuan dalam jarak dekat.
Jaraknya kurang dari satu meter!
Ye Yuan tidak panik. Dia memiringkan kepalanya dengan refleks Sutra Asura yang mengerikan. Jarum-jarum itu lewat, menggores pipinya. Darah hitam menetes. Racun!
"Mati kau!" Liu She menyusulkan tendangan lutut ke perut Ye Yuan.
BUGH!
Ye Yuan terbatuk darah, terlempar menabrak pilar batu.
"Uhuk..." Ye Yuan menyeka darah hitam di pipinya. Rasa pusing menyerang, tapi Tubuh Pedang Perunggu dan Sutra Asura segera bekerja, membakar racun yang masuk ke darahnya.
"Lumayan," kata Ye Yuan, berdiri lagi. "Pukulan orang tua ternyata lembek juga."
Liu She semakin murka. Bocah ini terkena racun saraf dan hantamannya, tapi masih bisa berdiri dan mengejek? Monster macam apa ini?
"Aku tidak punya waktu bermain denganmu! Aku akan menggunakan teknik terkuatku untuk menghancurkanmu dan pedang anehmu itu!"
Liu She menggigit lidahnya, menyemburkan Darah Esensi ke tongkatnya.
Aura tongkat itu meledak. Bayangan ular raksasa setinggi sepuluh meter muncul di belakang Liu She, memenuhi ruangan makam yang sempit itu.
[Teknik Terlarang Sekte Ular: Penelan Jiwa Raja Kobra!]
"Telan dia!"
Bayangan ular raksasa itu menerjang, mulutnya yang menganga cukup besar untuk menelan gajah. Tekanan spiritualnya mengunci gerakan Ye Yuan.
Ye Yuan tahu dia tidak bisa menghindar. Dan dia juga tahu, pertahanannya mungkin tidak cukup kuat untuk menahan serangan penuh Tingkat Tiga ini.
Satu-satunya cara adalah menyerang titik lemahnya sebelum serangan itu sampai.
"Tujuh inchi," gumam Ye Yuan. "Setiap ular punya titik mati di tujuh inchi dari kepalanya."
Tapi tongkat Liu She melindunginya dengan rapat. Pedang patah Ye Yuan terlalu pendek untuk menjangkau leher Liu She.
Tunggu... Pendek?
Ye Yuan tersenyum tipis. Dia ingat perubahan pada pedangnya setelah ditempa ulang.
Dia memegang pedang patahnya dengan dua tangan di samping pinggang, dalam posisi menghunus pedang Iaido.
Dia memejamkan mata, membiarkan bayangan ular raksasa itu mendekat.
Lima meter...
Tiga meter...
Satu meter...
"SEKARANG!"
Ye Yuan membuka mata. Ungu menyala.
[Seni Pedang Tiga Langkah Kilat - Langkah Ketiga: Tusukan Tanpa Bayangan!]
Ye Yuan menusukkan pedang patahnya lurus ke depan.
Liu She tertawa mengejek. "Bodoh! Pedangmu patah! Jangkauanmu tidak cukup untuk menyentuhku!"
Jarak ujung pedang patah Ye Yuan dengan dada Liu She masih terpaut setengah meter. Liu She yakin dia menang.
Namun...
WUUUNG!
Tiba-tiba, dari ujung patahan pedang hitam itu, sebuah bilah energi berwarna biru transparan—seperti hantu es—memanjang keluar dengan kecepatan cahaya.
Ini adalah kemampuan baru Pedang Asura: Bilah Hantu Bintang Dingin.
Bilah energi itu memanjang satu meter dalam sekejap, menembus pertahanan Liu She yang lengah, menembus dada kirinya, dan keluar dari punggungnya.
"Uh...?"
Mata Liu She melotot. Dia melihat bilah biru transparan yang menembus jantungnya. Dingin. Sangat dingin hingga dia tidak merasa sakit, hanya mati rasa.
Bayangan ular raksasa di belakangnya berkedip-kedip, lalu perlahan memudar menjadi asap hijau.
"Kau bilang... pedangku patah?" bisik Ye Yuan, memutar gagang pedangnya.
Api biru menjalar dari pedang energi itu ke dalam tubuh Liu She, membekukan darah dan organ dalamnya dari dalam.
"T... Tidak... mungkin..." Liu She berusaha mengangkat tongkatnya, tapi tenaganya hilang. "Kau... Iblis..."
Ye Yuan mencabut pedangnya.
Bilah hantu biru itu menghilang kembali, menyisakan pedang hitam patah yang tampak biasa saja.
Tubuh Liu She jatuh berlutut, lalu ambruk ke lantai dengan suara keras, bergabung dengan mayat putranya dalam kematian.
Ye Yuan menghela napas panjang, lalu jatuh terduduk. Kakinya lemas. Serangan terakhir tadi menguras hampir 80% Qi barunya.
"Hampir saja," gumam Ye Yuan. "Kalau dia tahu tentang jangkauan pedang hantu ini, aku yang mati."
Dia segera meminum sebotol Pil Pengumpul Qi untuk memulihkan tenaga. Dia tidak boleh berlama-lama. Pertarungan tingkat tinggi seperti ini pasti menarik perhatian binatang buas atau kultivator lain di sekitar makam.
Ye Yuan bergerak cepat. Dia mengambil kantong penyimpanan Liu She.
Isinya jauh lebih kaya daripada Liu Mang.
2000 Batu Roh Tingkat Rendah.
Tongkat Kobra Emas (Senjata Roh Tingkat Rendah - bisa dijadikan makanan pedang nanti).
Buku Manual Racun Ular Hijau.
Dan sebuah Peta Rahasia yang menunjukkan lokasi markas cabang Sekte Ular Hijau.
Ye Yuan menyimpan semuanya. Dia menatap mayat ayah dan anak itu sekilas.
"Dunia persilatan itu kejam," katanya pada diri sendiri. "Hari ini aku membunuh, besok mungkin aku dibunuh. Yang bisa kulakukan hanyalah menjadi pedang yang paling tajam."
Ye Yuan melesat keluar dari makam yang mulai runtuh karena pertarungan tadi.
Begitu dia sampai di permukaan, sinar matahari pagi menyambutnya. Udara segar hutan terasa nikmat setelah bau amis darah di bawah sana.
Namun, Ye Yuan tidak kembali ke arah Sekte Pedang Surgawi. Dia melihat ke arah peta yang dia dapat dari Liu She.
Ada sebuah kota kecil di perbatasan wilayah sekte, bernama Kota Angin Hitam. Itu adalah tempat perdagangan pasar gelap, tempat para kultivator liar berkumpul.
Ye Yuan butuh tempat untuk menjual barang jarahan, membeli baju baru, dan mencari informasi tentang dunia luar sebelum dia siap kembali menantang Tetua Li.
"Kota Angin Hitam," Ye Yuan mengencangkan ikatan pedangnya. "Tujuan selanjutnya."
Saat dia melangkah pergi, di belakangnya, pintu masuk Makam Raja Pedang Langit runtuh total, mengubur rahasia dan mayat-mayat di dalamnya selamanya.
Satu babak berakhir. Babak baru di dunia yang lebih luas baru saja dimulai.
[Bersambung ke Bab 17]