Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.
Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.
Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.
Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.
Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang di kubur bersama Kyai
Fariz tidak pernah benar-benar tidur malam itu.
Tubuhnya berbalik ke kiri, ke kanan, ke kiri lagi — kasur yang sama, tapi terasa seperti permukaan yang tidak mengenalnya. Dari balik gelap, suara-suara samar merayap ke telinga, tidak jelas tapi tidak asing, seperti percakapan di balik dinding yang terlalu tipis. Dadanya berat. Napasnya pendek.
Setiap kali memejamkan mata, bayangan hitam berdiri di sisi kasurnya.
Diam. Tidak mendekat. Hanya berdiri — tepat di batas penglihatan, cukup dekat untuk membuat kelopak matanya kembali terbuka setiap kali.
Fariz berbaring menatap langit-langit gelap, menghitung suara jangkrik yang tidak ada malam ini, dan berpikir tentang genggaman tangan Kyai Salman — hangat, pasti, seperti seseorang yang menitipkan sesuatu berharga ke tangan yang tidak yakin siap menerimanya.
Aku tidak minta ini, pikirnya. Aku tidak pernah minta apa-apa.
Tidurnya terpecah-pecah seperti benang yang terus ditarik sebelum sempat terikat. Menjelang pukul tiga pagi, tubuhnya akhirnya mengendur karena kelelahan — bukan karena tenang.
Tepat pukul tiga.
Di suatu tempat di desa ini, sesuatu berhenti bernapas.
"Fariz, bangun!"
Tepukan Ratna di pundaknya membuat Fariz tersentak dan berteriak pendek — suara yang langsung ia telan sendiri.
"Bapakmu sudah ke masjid duluan." Ratna menyodorkan sarung lusuh dan kemeja ke tangannya. "Ayo, kamu kesiangan."
Fariz mengenakannya tanpa banyak pikir. Berlari keluar.
Di jalan, beberapa orang tampak tergesa dengan cara yang berbeda dari biasanya — bukan terlambat, tapi seperti orang yang ingin segera berada di dalam, di antara kerumunan, agar tidak sendirian di luar.
Ketika Fariz tiba, shalat berjamaah sudah dimulai. Tiga saf penuh, nyaris tanpa celah. Ia ikut berdiri, berniat Subuh, mengangkat tangan.
Lalu ia melihat orang-orang di hadapannya.
Mereka mengangkat tangan — tapi tidak membungkuk untuk rukuk. Gerakan mereka seragam, terlalu tenang, asing dengan cara yang tidak langsung bisa ia tunjuk.
Shalat gaib.
Entah untuk siapa.
Fariz sudah terlanjur berniat Subuh. Ia menyelesaikannya hingga salam, jantungnya berdebar tidak beraturan.
"Pak," bisiknya kepada lelaki tua di sebelahnya, "siapa yang meninggal?"
Lelaki itu membuka satu mata. "Ssst." Pelan. "Nanti juga diumumkan."
Ia memejamkan mata kembali, bibirnya bergerak komat-kamit — seolah nama yang didoakan lebih aman disimpan di dalam kepala daripada diucapkan di udara terbuka.
Pagi itu tidak membawa sejuk.
Angin bertiup ke arah barat, hangat dan kering, menempel di kulit seperti sesuatu yang tidak diundang. Matahari tertutup awan gelap yang tidak kunjung menurunkan hujan — pengap, seperti siang yang tertunda.
Di serambi masjid, imam berdiri tanpa pengeras suara. Suaranya tetap terdengar jelas.
"Hari ini kita telah ditinggalkan seorang ulama besar." Satu tarikan napas. "Kyai Salman wafat pukul tiga dini hari tadi, dalam keadaan khusnul khotimah."
Tidak ada isak.
Tidak ada gumam.
Jamaah menunduk sebentar — lalu bangkit dan pergi satu per satu, terlalu cepat untuk orang-orang yang baru saja kehilangan seorang ulama.
Fariz tidak ikut pulang.
Di depan gerbang Pondok Al Mukhlisin, Rahman berdiri memegang kain kafan — baru diterimanya dari seorang lelaki yang langsung pergi tanpa banyak bicara.
"Man," bisik Fariz saat menerobos masuk, "Kyai sakit apa?"
Rahman tidak menjawab.
Ia hanya menyerahkan tali putih ke tangan Fariz. "Bantu aku."
Fariz menurut. Tangannya bergerak mengikuti — mengikat, melipat, menutup — dan di dalam gerakan-gerakan itu ada sesuatu yang terasa seperti melanjutkan sesuatu yang semalam belum selesai. Seperti ia sudah seharusnya ada di sini, jauh sebelum ia tahu harus ada di sini.
Ketika selesai, mereka mengangkat keranda bersama.
Di sepanjang jalan menuju makam, warga berdiri di depan rumah masing-masing.
Tidak ada yang ikut bergabung dalam rombongan. Mata-mata mengikuti keranda lewat — beberapa bibir bergerak saling berbisik, lalu kembali diam. Dari atap beberapa rumah, Fariz melihat sosok-sosok berdiri di balik genting, mengikuti prosesi dari atas.
Bukan duka.
Lebih seperti pengawasan.
Di gerbang makam Linggar Arum, Darma Wijaya sudah menunggu.
Wajahnya tenang, nyaris resmi — wajah seorang pria yang sudah tahu kabar ini sejak dini hari dan sudah memutuskan bagaimana perasaannya sebelum fajar.
"Saya turut berduka cita," katanya kepada Rahman. Singkat, terukur.
"Terima kasih, Pak," jawab Rahman. Air mata menggantung di kelopak matanya, tidak sampai jatuh — ditahan dengan cara yang membuat dada Fariz terasa terjepit.
Rombongan masuk. Darma ikut berjalan di belakang, berdiri tepat di sisi liang lahat.
Lalu ia berbicara.
"Sebelum dimakamkan," katanya, suaranya cukup keras untuk semua orang dengar, "saya mohon izin pamit lebih dulu. Jam sembilan saya harus ke balai desa."
Ia menunduk — penghormatan terakhir yang rapi, terukur, tidak memakan waktu lebih dari yang direncanakan. Lalu berbalik.
"Semoga desa ini tetap terjaga." Matanya melintas ke arah keranda — sepersekian detik, cukup lama untuk disengaja. "Dan dijauhkan dari orang-orang yang ingin membawa kekacauan."
Ia berhenti. Membiarkan sunyi turun.
"Keseimbangan adat dan kebiasaan yang diwariskan puluhan tahun tidak boleh ternodai." Suaranya tidak naik. Tidak perlu. "Terlebih oleh nilai-nilai yang sejak dulu tidak pernah kita terima."
Darma Wijaya melangkah pergi bersama anak buahnya.
Ia tidak menoleh.
Fariz berdiri di tepi liang lahat, menatap punggung lelaki itu menjauh, dan baru menyadari sesuatu: pidato itu bukan untuk para pelayat. Pidato itu untuk jenazah di dalam keranda. Peringatan terakhir yang diberikan kepada seseorang yang sudah tidak bisa membalasnya.
Kemenangan yang tidak perlu dirayakan karena sudah lama pasti.
Fariz membantu hingga akhir.
Setelah tanah menutup liang lahat, ia duduk di samping Rahman. Mengangkat tangan, membiarkan doa mengalir — ia tidak tahu semua lafaznya, tapi bibirnya bergerak, dan itu terasa seperti satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.
Satu per satu pelayat beranjak. Rahman yang terakhir, memberikan salam singkat sebelum pergi.
Fariz tidak ikut.
Ia tetap jongkok di depan gundukan tanah basah itu. Tidak ada taburan kembang. Batu nisan polos — bahkan nama Kyai Salman terlalu berbahaya untuk diukir di tempat yang bisa dilihat orang.
Jarinya menyentuh batu itu.
"Apa yang sebenarnya Kyai inginkan dariku?" Suaranya nyaris tidak keluar. "Semalam... aku datang karena dipanggil. Aku masuk karena pintu dibuka. Aku menerima karena tanganku dijangkau." Ia berhenti. "Aku tidak pernah memilih apa pun."
Tidak ada jawaban. Hanya tanah yang masih lembap dan sunyi yang terlalu patuh.
Mungkin itu yang Kyai lihat padamu, sesuatu berbisik di dalam dadanya. Seseorang yang sudah lama tidak memilih.
Fariz menarik tangannya kembali.
Dalam perjalanan pulang, beberapa warga menatapnya lebih lama dari seharusnya.
Tatapan itu tidak terang-terangan menuduh — tapi cukup berat untuk membuat bahunya menegang. Dari balik pagar dan jendela, ia menangkap potongan percakapan. Nama Kyai Salman disebut sambil tertawa kecil, seperti kematian itu sebuah jeda yang patut dirayakan.
Kenapa mereka begitu lega?
Ia menunduk. Mempercepat langkah.
Sucipto sudah berdiri di depan rumah.
Wajahnya kaku, seperti tanah yang lama tidak digarap. Matanya menyapu Fariz dari ujung kepala hingga ke kaki — mencari sesuatu yang mungkin menempel, mungkin terbawa.
"Dari mana kamu, Iz?"
"Habis mengantar jenazah Kyai Salman, Pak. Sama murid-muridnya."
Tangan Sucipto bergerak cepat — mencengkeram lengan Fariz, menariknya masuk. Sucipto melirik kiri-kanan, memastikan tidak ada mata yang terlalu dekat, lalu mendorong pintu tertutup.
"Kamu nggak perlu ikut sampai liang lahat," hardiknya pelan tapi tajam. "Itu urusan murid-muridnya. Bukan kamu."
"Tapi, Pak," Fariz mencoba menahan sakit di lengannya, "imam bilang kalau ada yang meninggal kita dianjurkan melayat—"
"Kamu masih terlalu polos."
Sucipto melepaskan cengkeraman itu. Menatap anaknya sejenak dengan cara yang bukan marah, bukan kasihan — lebih seperti seseorang yang melihat bahaya yang tidak bisa dijelaskan tanpa menambah bahaya.
"Mandi," katanya. "Setelah itu, bakar baju yang kamu pakai."
Ia mengambil cangkul dari sudut ruangan. Melangkah keluar tanpa menunggu jawaban.
Fariz berdiri di ambang rumah, menatap punggung ayahnya menjauh.
Bakar. Bukan cuci. Bukan ganti. Bakar.
Seperti sesuatu yang menempel di kain itu harus dimusnahkan, bukan sekadar dibersihkan.
Fariz menghela napas.
Selama ini ia melangkah sebagaimana diminta: bangun, pergi, pulang, menunduk. Baru sekarang ia menyadari — kebiasaan patuh itu tidak membuatnya aman. Ia hanya membuatnya terlambat memahami apa yang sebenarnya dijaga di desa ini.
Dan dari siapa.