Karya terbaru Gurania Zee yang menceritakan tentang gadis tidak peka dan cinta segitiga antara Aluna, Arsen dan Prasha Arzelio.
memiliki kisah yang sedikit rumit perihal rahasia misteri kematian ayahnya dan adanya permainan bisnis yang menjadikannya sebuah kunci utama dari misteri tersebut. dan Cinta yang mulai tumbuh perlahan. Aluna seorang gadis yang polos tanpa sadar menjadi pusat permainan dalam dunia bisnis mendiang ayahnya. yang jauh lebih besar dari semua intriks itu bahkan paling tidak menyadari akan hal yang paling sederhana yaitu, perasaannya sendiri. karena terkadang misteri dalam hidup, bukanlah rahasia dari kisah masa lalu melainkan hati yang terlambat menyadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 ADPH
Dirumah Arden mencari sesuatu yang menurutnya bisa dijadikan bukti. Namun seseorang tiba tiba saja mengirim pesan anonim.
"Jangan mencari tau maka adikmu akan jadi korbannya."
Degh
Ini aneh sekali, pada masih didalam rumahnya sendiri mengapa pergerakannya seperti ada yang mengintai rumah ini.
************
Hari ini tepatnya sudah satu Minggu, kebetulan obat kak Arden habis, Aluna mengantar kakaknya untuk check up ke rumah sakit.
Rumah sakit itu memiliki delapan lantai, namun ia dibuat pusing oleh denah rumah sakit tersebut. Ada keanehan yang terjadi saat ia ingin naik lift, menekan tombol **2** pintu langsung tertutup, didalam lift Aluna sendirian. Kakaknya sudah lebih dulu, karena sempat Aluna jajan dulu diluar rumah sakit.
Lampu didalam lift berkedip sekali, hanya sekali. Lift naik, angka digital yang berubah dari angka 7 sampai hitungan mundur 5,4,3,2,1.. Lalu mati.
Angka berubah menjadi 00, entah kenapa sungguh aneh sekali menurutnya. Tidak adanya papan nama tidak adanya suar, lorong rumah sakitpun gelap sangat gelap, hanya lampu redup yang berwarna kekuningan seperti lama ditinggalkan. Tak terawat sama sekali.
Aluna ingin kembali menekan tombol tutup pintu, akan tetapi pintu otomatis tersebut tidak meresponnya, "Ini pasti rusak kali ya."
Seakan memaksanya untuk keluar dari area lift, langkah kalinya begitu ragu dan berat. Rasa berani yang dipaksakan membuat Aluna ingin sekali memanggil sang kakak.
Seolah ia diberikan petunjuk, saat ia berjalan menyelusuri lorong tersebut, ada suara dari kejauhan yang membuatnya berdiri kaku dan membeku.
Sekilas ada bayangan yang tertangkap oleh kedua netra Aluna, sosok dua pria berdiri didalam dengan gagahnya.
Satunya ia tidak mengenal pria itu, tapi satunya ia begitu mengenali dari siluet yang sangat nampak dari bayangan itu.
"Hah, Prasha."
"Krek"
Tiba tiba saja Aluna menginjak sesuatu yang suaranya terdengar oleh kedua pria itu. Aluna yang tadinya mengintip lewat celah jendela yang buram.
Pada akhirnya langsung lari ngibrit. Bayangan yang bergerak pun berhenti, "Ada orang diluar" salah satu pria berbisik pelan.
Aluna menarik nafas lega setelah perjuangannya keluar dari tempat yang tidak seharusnya ia pijak, begitu menyeramkan.
Entah apakah hanya halusinasinya saja, yang ternyata rumah sakit tersebut tidak ada kode Ruangan 00.
***
Kembali ke Arden
Dengan nafas tersengal, Aluna masuk.ke.ruamgan Arden dengan susah payah, keringat membanjiri sekujur tubuhnya, Arden yang melihat begitu heran dan penasaran. Akan tetapi Aluna tidak banyak cerita.
Lebih tepatnya belum berani untuk cerita, masih terlalu bahaya, begitulah pikirnya. Namun Arden berbisik "tenang jangan takut, kamu bisa cerita nanti."
"Seolah Arden tahu apa yang terjadi pada Aluna saat ini."
Setelah tenang dan meneguk air di botol yang ia beli, sebelum masuk ruangan. Aluna tarik nafas dalam dalam lalu menghembuskan nafasnya perlahan.
Aluna pun menceritakan kejadian yang ia alami pada Arden kakaknya. "Kamu yakin, dia itu Prasha?." Setelah semua diceritakan, membuat Aluna sedikit lega.
"Dimana kejadiannya Lun?, tanya Arden, seraya bangkit dari tidurnya. Dan mengajak Aluna untuk kembali ke lift tersebut.
"Kak, kakak belum sembuh, ini terlalu bahaya untuk kita kak."
"tidak apa lun, kakak tidak bisa hanya berdiam diri saja."
Setelah mengeceknya pada lift tersebut seolah ada yang mengotak Atik tombol tersebut menggunakan obeng atau alat lainnya, yang pastinya bukan teknisi ahli sehingga menyisakan goresan.
"Ini bukan kebetulan."
Arden tersenyum smirk, meski dalam kondisi tubuh yang masih lemah, tapi dirinya dan Aluna harus menghadapi teka teki seperti ini dalam hidupnya.
Arden melihat ada bima yang datang dengan berlari menghampirinya. "waduh mas, saya cari cari sampeyan toh, untung kita ketemu disini pas saya lihat tadi dijalan.
"kenapa bim?."
Sebetulnya saat kecelakaan saya melihat bos Prasha ada dilokasi tersebut.
"berapa lama"
"sekitar empat sampai lima menit mungkin mas."
dan itu cukup untuk membuktikan, dalam waktu singkat bisa menghilangkan bukti kejadian.
"Saya pikir, ini bukan bisnis biasa, saya curiga, makanya saya lebih baik mundur jadi sopirnya saya tidak ingin terlibat mas."
"Oke terimakasih informasinya, jaga dirimu Bim."
Bima pergi secepat kilat, dan tak lama ponselnya berdering, nomer tidak dikenal.
"Halo, siapa ini."
"Orang yang sudah membuatmu selamat dari kejadian direl itu."
degh
"Jangan mencari tau, karena kamu bukan target, kamu hanya umpan."
"Kalau tidak ada saya, kamu pasti sudah mati hari itu juga."
Degh
Telpon itu mati.
Tiba tiba saja lampu rumah sakit pun mati, salah satu perawat masuk, saat itu Arden dan Aluna sudah kembali dari penyelidikannya di lift rumah sakit tersebut.
Namun anehnya, saat lampu mati laptop tiba tiba saja terbuka, dan memperlihatkan sebuah video saat kejadian kecelakaan yang dialaminya waktu itu.
Aluna melihatnya dua pria itu ada dilokasi, yang dia lihat sangat sesuai dengan bayangan yang tadi dilihatnya. Gesturnya sama dengan Prasha dan satu bayangan lain yang dilihatnya begitu sama persis.
"Sekarang kakak yakin lun, memang bukan kakak yang mereka incar."
Aluna membeku dan ada rasa ketakutan yang dia rasakan saat itu. "lalu siapa kak?."
"Kamu."
"Kakak yakin, dikeluarga Raharjo ada yang tidak setuju dengan perjanjian lama itu."
selesai pengobatan dirumah sakit, kembali Arden mengajak Luna untuk pergi ke rumah Prasha, namun saat sampai, disambut oleh Darto, sopir baru yang logatnya sama persis dengan Bima, dan entah bima saat ini ada dimana.
Disana Arden bertanya pada Darto "Mas kalo boleh tau dimana mas Prasha nya ya?."
"Oh kebetulan Mas Prasha sedang ke sawah."
"Hah,.Sawah?."
*Biasa dia suka jogging sambil melihat penghijauan diarea persawahan, hilangin mumet katanya."
Arden manggut manggut.
"iya mas,.disini siapa saja yang tinggal, pak raharjonya kemana?."
"Oh bapak Raharjo sudah lama meninggal itu yang saya ketahui belum lama ini mas, karena saya masih pegawai baru di rumah ini."
"Lalu siapa lagi yang tinggal dirumah ini?."
"Ada Bu Ratna, pak Arya yang sekarang mengurus perusahaan."
"Itu saja, yang lain?."
"Ada Mas Adhikara."
"Siapa dia?."
"Beliau Anak pertama pak Raharjo, tapi jarang terlihat karena tidak menyukai mas Prasha, dan tidak menganggap sebagai keluarganya."
"Dan pak Arya, itu omnya mas Prasha."
Setelah mengobrol dengan Darto sambil berjalan menuju area persawahan yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah tersebut, pada akhirnya mereka bertemu dengan Prasha.
Dengan tenang dan santai Prasha menghampiri dan mencium tangan kak Arden dengan penuh hormat.
"Prasha, aku ingin bertanya sesuatu padamu, perihal kecelakaan waktu itu."
Prasha tidak kaget dia hanya santai menjawab dengan tenang, hanya dengan anggukan dan tak lama ia pun berkata "ya, aku ada disana untuk meretas sistem saat itu."
"jadi kamu mau mencelakai kakakku."
"jangan salah paham Luna, justru kalo aku tidak lebih cepat kakakmu akan mati saat itu juga."
"lalu, apa tujuanmu yang sebenarnya."
"melindungi kalian."
"dan siapa yang membuat aku celaka waktu itu apa kamu mengetahuinya?."
"Ya, dia kakak ku, Adhikara, dia tidak setuju dengan perjanjian yang dilakukan ayahku dengan ayahmu, jika saja kalian teliti, didalam surat perjanjian itu, ada membahas tentang hak waris tunggal."
Prasha tidak terkejut saat Arden banyak bertanya akan hal itu, sebab suatu saat cepat atau lambat dirinya akan tau juga.
Kedua netranya menatap hamparan sawah yang menyegarkan. "Nanti aku beritahu lagi isi perjanjiannya pada kalian."
"Intinya adalah bukan hanya soal pernikahan tapi juga tentang kekuasaan tentang harta warisan.
"Jadi jika aku mati, pemegang kendali perusahaan adalah Aluna."
"Ya seperti itulah kira kira."
"Dan kalau kak Arden mati, otomatis mereka bisa saja menuduhku yang membunuh kak Arden."
****
*Nembak dadakan diluar rencana
Adhikara muncul tiba tiba, hendak menembak Arden. Satu peluru dilesatkan namun tidak kena, hanya membuat gempar dan membuat kerbau mengamuk saat itu.
Prasha yang belum siap langsung menarik Aluna berlari menjauh dari amukan kerbau itu. Hingga terpeleset ke area lumpur.
"Kak, jangan celakai mereka, aku cinta sama Luna kak."
degh
Namun Adhikara terus membuat rusuh, membuat kerbau kerbau berlarian dengan khas amukannya baik Aluna maupun prasha keduanya dipenuhi dengan kotoran lumpur, benar benar penembakan yang tidak romantis
Darto dan lainnya hanya tertawa melihat kelakuan prasha yang absurd menurut mereka. Sementara Aluna yang kelewat tidak peka ia hanya menganggap angin lalu saja terhadap ucapannya Prasha.
"Mas bukan waktunya untuk nembak toh, tuh kerbau masih ngejar"
"Ya Tuhan, kenapa.jadi gini sih."
Tak lama prasha pingsan, namun sebelum pingsan ia berkata "jangan tulis dinisanku nanti jika aku mati gegara ditolak cinta, ditabrak kerbau." Semua hanya diam, dan mengangguk, dan semua sudah jelas terlihat siapa yang harus diwaspadai.
Bersambung