Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.
Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.
Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.
Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.
“Daddy!”
"Hah?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Suasana lobi rumah sakit cukup ramai.
Beberapa pasien sedang mengantri di resepsionis, perawat berlalu-lalang, dan suara langkah kaki bergema pelan di lantai marmer yang mengkilap.
Di antara keramaian itu, Tasya terlihat mendorong kursi roda kakeknya menuju pintu keluar. Di pangkuan kakeknya ada tas kecil berisi obat-obatan.
Sementara, di tangan Tasya sendiri terdapat sebuah tas kecil berisi pakaian dan barang-barang pribadi.
Di belakang mereka, Kenzo dan Kenzi berjalan berdampingan. Kenzi terlihat ceria karena akhirnya boleh pulang, sementara Kenzo berjalan lebih tenang dengan mata yang terus mengamati sekitar. Tetapi, langkah Tasya tiba-tiba terhenti. Beberapa pria berbadan tegap berpakaian hitam berdiri menghadang mereka di tengah lobi.
Wajah mereka dingin dan Tasya langsung mengenali mereka. Di antara mereka berdiri Mario, pria itu melangkah sedikit ke depan.
“Nona Tasya,” sapanya dengan nada sopan.
Tasya menatapnya tajam.
“Ada apa lagi?”
Mario menarik napas sebentar sebelum menjawab.
“Saya datang karena perintah Tuan Alex.”
Tasya langsung mengernyit, Mario melanjutkan dengan hati-hati,
“Tuan Alex meminta saya membawa Kenzo dan Kenzi.”
“Ke mana?” tanya Tasya dingin.
“Ke tempat beliau.”
Kalimat itu membuat wajah Tasya langsung berubah.
“Apa?” Nada suaranya meninggi.
“Tidak!” Jawaban itu keluar tanpa ragu.
“Nona Tasya—” Mario mencoba menjelaskan.
Tetapi, Tasya sudah lebih dulu memotong.
“Tidak ada hubungan apa pun lagi antara saya dan Tuan Alex!” Suara Tasya terdengar keras di tengah lobi.
Beberapa orang bahkan mulai menoleh melihat mereka.
“Urusan kami sudah selesai!” Tasya menarik kedua anaknya mendekat ke sisinya.
“Jadi jangan ganggu anak-anak saya lagi!”
Tatapan matanya tajam penuh amarah, Mario terlihat sedikit serba salah.
“Nona Tasya, tolong mengerti. Saya hanya menjalankan perintah—”
“Perintah?” Tasya tertawa kecil namun sinis.
“Perintah macam apa ini?" Ia menunjuk kedua anaknya.
“Ini anak-anak saya. Tuan Alex tidak punya hak apapun atas mereka.”
Kenzo berdiri di depan ibunya sekarang. Tatapannya tajam menatap Mario dan para pengawal di sekitarnya. Sementara, Kenzi menggenggam tangan ibunya dengan bingung. Kakek Tasya yang duduk di kursi roda juga terlihat gelisah melihat situasi itu.
“Tasya…” gumam pria tua itu pelan, Tasya tidak mundur sedikit pun. Ia menatap Mario dengan tegas.
“Saya sudah cukup sabar kemarin, sekarang tolong minggir. Biarkan kami pergi!"
Mario terdiam beberapa detik, tatapannya terlihat berat. Ia tahu situasi ini akan menjadi sulit. Ia juga tahu Tasya bukan wanita yang mudah dipaksa.
Di ujung lobi rumah sakit, pintu lift perlahan terbuka. Suasana di lobi rumah sakit yang tadinya ramai tiba-tiba berubah tegang.
Beberapa pengawal Alex mulai melangkah mendekat. Tasya langsung berdiri di depan kedua anaknya. Tangannya terbentang lebar menghalangi mereka.
“Berhenti!” Suara Tasya menggema keras di dalam lobi.
“Kalian tidak bisa membawa anak-anakku!”
Beberapa orang yang berada di sekitar langsung berhenti dan menoleh ke arah mereka. Namun, para pengawal itu tetap bergerak maju. Kenzo langsung berdiri di depan Kenzi.
Ia meraih tangan adiknya erat.
“Kami tidak mau ikut kalian,” kata Kenzo dingin.
Kenzi juga menggeleng cepat.
“Aku mau ikut Mommy!”
Sementara itu Tasya masih berdiri menghalangi para pengawal, tatapannya penuh kemarahan. Mario yang melihat situasi semakin memanas akhirnya maju selangkah.
“Nona Tasya, dengarkan dulu.”
Namun, Tasya langsung memotong.
“Tidak ada yang perlu didengar! Pergi dari sini!”
Mario menarik napas panjang, dia tahu ini akan terjadi. Akhirnya, ia berkata dengan suara lebih serius.
“Tuan Alex menginginkan mereka.”
Tasya menatapnya tajam. “Untuk apa?”
Mario ragu sebentar tetapi akhirnya ia mengatakan kebenarannya.
“Karena mereka adalah anak-anaknya.” Kalimat itu membuat waktu seolah berhenti.
Wajah Tasya langsung pucat.
“A… apa?” Matanya melebar tidak percaya.
Namun, di sampingnya Kenzo justru tidak terlihat terlalu terkejut. Bocah itu hanya menyempitkan matanya sedikit. Seolah sesuatu yang ia duga akhirnya benar. Dalam pikirannya ia langsung mengingat kejadian kemarin. Saat Kenzi dirawat di rumah sakit. Saat Alex berbicara dengan dokter. Saat mereka berpisah sebentar. Kenzo menggertakkan giginya pelan.
'Jadi benar … Dia melakukan tes DNA.'
Sementara Tasya masih berdiri kaku.
“Itu tidak mungkin…” gumamnya. Namun, Mario tidak menjawab lagi. Beberapa pengawal mulai maju.
“Tuan Alex memerintahkan kami membawa mereka.”
Tasya langsung tersadar dari keterkejutannya. Ia berdiri lebih tegak di depan kedua anaknya.
“Jangan sentuh mereka!” Suara Tasya bergetar namun penuh keberanian.
“Tidak ada yang boleh membawa anak-anak saya!”
Namun, para pengawal tetap mencoba mendekat. Salah satu dari mereka bahkan mencoba menarik Kenzi. Tasya langsung menepis tangan pria itu.
“Jangan berani menyentuh anak saya!” Ia berusaha mendorong mereka menjauh.
Kenzo juga menarik Kenzi mundur ke belakang ibunya.
“Kami tidak akan ikut kalian!” katanya tegas.
Kenzi mulai terlihat ketakutan, dia memeluk lengan ibunya erat.
“Mommy…”
Namun, para pengawal itu tetap mencoba memaksa maju. Tasya terus berusaha menghalangi mereka. Ia berdiri seperti tembok di depan anak-anaknya. Sementara Mario yang melihat semua itu mulai merasa situasi benar-benar di luar kendali. Dan di saat keributan itu semakin menarik perhatian orang-orang di lobi. Sebuah suara dingin tiba-tiba terdengar dari belakang mereka.
“Cukup!”
Aseli penasaran 👍👍👍
kalau itu pamannya Tasya, bisa jadi Tasya malah dalam bahaya
ga mungkin putranya kan putranya arlad udah meninggal