Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa di Sampingnya?
Mobil masih terparkir di pinggir jalan kecil ketika Yasmin membaca ulang pesan anonim itu.
“Kamu pikir itu semua? Tanyakan siapa yang duduk di sampingnya malam kecelakaan itu.”
Tangannya terasa dingin.
Ragnar masih memandangi setir, berusaha menenangkan diri setelah pertemuan yang emosional dengan keluarga korban. Air mata yang tadi jatuh masih meninggalkan jejak tipis di wajahnya.
Yasmin menatap pria itu dalam diam.
Apakah ia harus langsung bertanya?
Atau menunggu?
Tapi jika ta’aruf ini ingin dibangun di atas kejujuran, ia tak bisa menyimpan keraguan.
“Kang…” suaranya pelan.
Ragnar menoleh. “Iya?”
Yasmin menelan ludah. “Waktu kecelakaan itu… Akang sendirian?”
Pertanyaan itu membuat Ragnar membeku sepersekian detik.
Hanya sepersekian detik.
Tapi cukup untuk membuat jantung Yasmin berdetak lebih keras.
“Aku…” Ragnar menarik napas. “Tidak.”
Yasmin menahan napasnya.
“Siapa?”
Ragnar memejamkan mata sejenak sebelum menjawab.
“Clara.”
Nama itu jatuh seperti batu ke dasar hati Yasmin.
Mobil terasa semakin sempit.
“Kenapa tidak bilang dari awal?” suara Yasmin tetap lembut, tapi jelas menahan luka.
“Aku tidak ingin kamu berpikir aku menyembunyikan sesuatu,” jawab Ragnar cepat. “Aku hanya… ingin menjelaskannya dengan lengkap, bukan sepotong-sepotong.”
“Dia yang mengirim foto-foto itu?” tanya Yasmin.
“Aku tidak tahu. Tapi aku curiga.”
Hening menggantung.
Ragnar melanjutkan, “Malam itu kami bertengkar. Tentang keputusanku masuk Islam. Tentang masa depan kami. Aku emosional. Hujan deras. Aku mengemudi terlalu cepat.”
Yasmin menutup matanya.
“Dan setelah kecelakaan?”
“Dia hanya mengalami luka ringan. Tapi setelah itu… hubungan kami benar-benar berakhir.”
Nada suara Ragnar terdengar lelah.
Yasmin menatapnya lama. Ia mencoba membaca wajah itu, mencari tanda-tanda kebohongan. Tapi yang ia lihat hanya rasa bersalah yang sudah terlalu lama dipikul.
“Apakah dia merasa bersalah juga?” tanya Yasmin pelan.
Ragnar menggeleng. “Dia selalu menyalahkanku. Katanya kalau aku tidak berubah, kami tidak akan bertengkar malam itu.”
Yasmin meremas jemarinya sendiri.
Jadi Clara bukan hanya masa lalu.
Ia adalah saksi malam kelam itu.
Dan mungkin… merasa punya hak atas Ragnar karena pernah melalui momen itu bersama.
________________________________________
Di Jakarta, Clara duduk di apartemennya sambil menatap layar ponsel.
Ia tahu pesan anonim itu sudah sampai.
Ia memang tidak mengirimnya sendiri.
Rafi yang melakukannya.
Kerja sama yang tak pernah mereka rencanakan secara resmi, tapi terjadi begitu saja karena tujuan mereka sejalan: mengguncang keyakinan Yasmin.
Clara tidak peduli pada Yasmin.
Ia hanya tidak ingin Ragnar bahagia tanpa dirinya.
Baginya, Ragnar adalah bagian dari hidup yang belum selesai.
Dan ia tak suka kalah.
________________________________________
Di Ciwidey, Rafi duduk sendirian di kamar kecilnya.
Ia membaca pesan balasan singkat dari Clara.
“Bagus. Biarkan dia berpikir.”
Rafi menatap layar itu lama.
Ada rasa tak nyaman di dadanya.
Awalnya ia hanya ingin Yasmin tahu semuanya.
Tapi kini ia sadar Clara tidak sekadar ingin membuka kebenaran.
Ia ingin menghancurkan.
Dan Rafi mulai merasa ia telah melangkah terlalu jauh.
________________________________________
Mobil kembali melaju menuju Ciwidey.
Sepanjang perjalanan, Yasmin lebih banyak diam.
Ragnar tidak memaksanya berbicara.
Ia tahu kejujuran kadang justru membuat jarak sementara.
Sesampainya di depan rumah, Yasmin tidak langsung turun.
“Kang.”
“Iya?”
“Kalau Clara tidak pernah pergi… Akang akan tetap masuk Islam?”
Pertanyaan itu membuat Ragnar terpaku.
“Aku tidak tahu,” jawabnya jujur. “Mungkin prosesnya berbeda. Tapi kecelakaan itu… membuatku sadar hidupku kosong. Bukan karena Clara. Karena aku sendiri.”
Yasmin memandang lurus ke depan.
“Aku tidak ingin jadi pelarian.”
Ragnar menoleh cepat. “Kamu bukan pelarian.”
“Pastikan itu.”
Ragnar menggenggam setir lebih erat.
“Aku memilihmu bukan karena aku ingin menebus dosa. Aku memilihmu karena setiap kali bicara denganmu, aku merasa dekat dengan Allah. Dan itu tidak pernah aku rasakan dengan siapa pun.”
Yasmin terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Tapi terasa tulus.
________________________________________
Malamnya, Yasmin sujud lebih lama dari biasanya.
Air matanya jatuh membasahi sajadah.
Ia takut.
Takut kalah oleh masa lalu.
Takut tak cukup untuk dunia Ragnar.
Takut menjadi bagian dari perang ego yang tak ia mengerti.
Namun ia juga melihat sisi Ragnar yang jarang dimiliki banyak lelaki: keberanian mengakui salah.
Sementara itu, di rumah mewahnya, Ragnar duduk di balkon kamar.
Ia menerima telepon dari ibunya.
“Kamu ke Ciwidey lagi?” tanya sang ibu.
“Iya.”
“Kamu yakin dengan pilihanmu?”
Ragnar menatap langit Jakarta yang tanpa bintang.
“Saya tidak mencari perempuan yang sempurna di mata dunia, Bu. Saya mencari yang menenangkan hati.”
Ibunya terdiam.
“Dan dia menenangkanmu?”
“Iya.”
Di ujung sana, ibunya menghela napas panjang.
“Tapi dunia kita berbeda.”
“Kalau dunia saya harus berubah untuk lebih baik, kenapa tidak?”
Percakapan itu berakhir tanpa kesimpulan.
________________________________________
Keesokan paginya, Yasmin menerima pesan lain.
Bukan anonim.
Dari Clara langsung.
“Kita perlu bicara. Perempuan ke perempuan.”
Yasmin membaca pesan itu berkali-kali.
Jantungnya berdetak cepat.
Ia tahu pertemuan itu tidak akan mudah.
Tapi mungkin… perlu.
Ia membalas singkat.
“Di mana?”
Clara mengirim lokasi sebuah kafe di Bandung.
Yasmin menatap layar itu lama.
Ia tidak memberi tahu Ragnar.
Belum.
Karena ada sesuatu yang ingin ia dengar langsung.
Tanpa perantara.
Tanpa pembelaan.
Hanya dua perempuan… dan satu masa lalu yang sama-sama belum selesai.
Kabut Ciwidey pagi itu terasa lebih tipis.
Tapi hati Yasmin justru semakin berkabut.
Ia tidak tahu apakah pertemuan itu akan menguatkannya… atau justru menghancurkan sisa keyakinannya.
Yang jelas, bab berikutnya dalam ta’aruf ini tak lagi hanya tentang perbedaan budaya.
Tapi tentang siapa yang benar-benar siap melepaskan.
Dan siapa yang masih menggenggam masa lalu terlalu erat.