Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: NAVIGASI DALAM GELAP
Kereta barang itu berguncang hebat saat membelah hutan pinus yang mulai membeku. Kai dan Elara bersembunyi di pojok gerbong, di antara tumpukan kayu yang berbau tajam. Kai duduk bersandar, matanya terbuka namun ia tidak mencoba memfokuskan pandangan. Di dunianya yang kini sepenuhnya monokrom, bentuk-bentuk benda tidak lagi didefinisikan oleh warna, melainkan oleh tekstur, suhu, dan getaran.
"Kau sangat tenang," bisik Elara. Ia sedang membalut luka bakar di telapak tangan Kai dengan potongan kain dari syalnya.
"Aku sedang mendengarkan kereta ini, Elara," jawab Kai pelan. "Aku bisa merasakan gesekan logam di rel. Aku bisa merasakan kelembapan udara yang berubah setiap kali kita melewati sungai. Anehnya, tanpa gangguan warna, dunia terasa lebih jujur."
Elara menatap wajah Kai. Ada ketenangan yang menakutkan di sana. "Tapi kita sedang diburu, Kai. Profesor Aris benar, Spektrum Putih adalah sesuatu yang diinginkan semua orang untuk alasan yang salah."
Tiba-tiba, suara dengung halus terdengar dari atap gerbong. Bukan suara mesin kereta. Itu adalah suara drone pengintai dengan mesin senyap.
"Mereka menemukan kita," Kai berdiri dengan sigap, meskipun ia tidak bisa melihat drone itu. "Jangan bergerak, Elara. Mereka menggunakan sensor panas."
Kai menarik terpal plastik besar yang dingin untuk menutupi mereka berdua. Ia tahu plastik itu akan membantu membiaskan tanda panas tubuh mereka sejenak. Di dalam kegelapan terpal, ia bisa mendengar napas Elara yang memburu.
"Ingat buku catatan Aris?" tanya Kai dalam bisikan. "Halaman tentang 'Refraksi Putih'. Dia bilang cahaya putih bisa menyembunyikan segala sesuatu jika kita tahu frekuensinya."
Kai mengeluarkan sebuah senter kecil yang dimodifikasi yang diberikan Aris sebelum mereka berpisah. Ia memutar lensa senter itu hingga mencapai spektrum tertentu. Saat ia menyalakannya di bawah terpal, cahaya yang keluar tidak tampak terang, namun udara di sekitar mereka seolah-olah bergetar.
Drone di atas gerbong itu berputar-putar sejenak, sensornya kebingungan karena cahaya itu menciptakan zona 'buta' pada kamera termalnya. Setelah beberapa menit yang menegangkan, suara dengung itu menjauh.
"Kita harus lompat sebelum sampai di stasiun utama Oakhaven," ucap Kai. "Mereka pasti sudah menunggu di peron."
"Lompat? Kereta ini sangat cepat, Kai!"
"Percayalah padaku. Di depan ada tikungan besar di dekat sungai. Kecepatannya akan melambat. Kita akan jatuh ke tumpukan salju di pinggir tebing."
Saat kereta mulai berbelok dan suara decit rel memekak telinga, Kai memegang tangan Elara erat-urat. "Satu... dua... tiga!"
Mereka melompat ke kegelapan malam yang beku.
Tubuh mereka menghantam salju yang dalam dengan suara *puk* yang tumpul. Rasa dingin yang menusuk segera menyerang indra mereka, namun mereka selamat. Kai segera menarik Elara ke bawah bayang-bayang pohon besar.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kai sambil membersihkan salju dari mantel Elara.
"Hanya sedikit kaget," Elara terengah. "Tapi Kai... lihat ke sana."
Elara menunjuk ke arah bukit di kejauhan. Di sana, di tengah reruntuhan hitam yang merupakan bekas rumah masa kecil Kai, terlihat beberapa lampu sorot bergerak-gerak. Seseorang sudah berada di sana, menggali di antara puing-puing trauma Kai.
"Mereka sudah ada di rumahku," desis Kai. Amarah mulai membara di dadanya, namun ia menekannya. "Mereka mencari Spektrum Putih di tempat yang salah. Mereka pikir itu terkubur di dalam tanah."
"Lalu di mana itu?"
Kai meraba saku mantelnya, menyentuh kunci perak dari Elara yang kini ia satukan dengan liontin kecil peninggalan ibunya. "Ayahku tidak pernah menyembunyikan sesuatu di dalam materi. Dia menyembunyikannya di dalam memori. Spektrum Putih tidak ada di rumah itu, Elara. Spektrum Putih adalah rumah itu sendiri."
Kai teringat sebuah puisi yang sering dibacakan ayahnya sebelum tidur: *'Saat semua warna telah terbakar habis, yang tersisa hanyalah fondasi cahaya yang takkan pernah padam.'*
"Kita harus masuk ke sana tanpa terlihat," kata Kai. "Gunakan suaramu untuk mengalihkan perhatian mereka. Bukan senandung yang tadi, tapi gema. Buat mereka berpikir kita ada di sisi lain tebing."
Elara mengangguk. Ia mulai memahami perannya. Ia bukan lagi sekadar penyanyi; ia adalah bagian dari sistem pertahanan cahaya Kai.
Mereka mulai merayap mendaki bukit, mendekati sisa-sisa reruntuhan yang masih menyimpan bau asap dari sepuluh tahun yang lalu. Bagi Kai, setiap langkah adalah tusukan pada ingatannya. Namun kali ini, ia tidak menutup mata. Ia melihat bayangan rumah itu dalam bentuk energi—garis-garis putih tipis yang mulai muncul di antara kegelapan monokromnya.
"Aku melihatnya," bisik Kai. "Fondasi cahayanya."
Namun, di tengah reruntuhan itu, seorang pria dengan setelan taktis hitam berdiri diam. Ia tidak memegang lampu sorot. Ia memegang sebuah alat yang memancarkan frekuensi tinggi yang membuat telinga Elara berdenging sakit.
"Selamat datang di rumah, Kai Malik," suara pria itu dingin dan mekanis. "Kami sudah menunggu kuncinya."
Babak baru di Oakhaven dimulai dengan konfrontasi di atas abu masa lalu. Kai harus membuktikan bahwa meskipun matanya tidak lagi melihat warna, jiwanya telah menjadi spektrum yang tak terkalahkan.