NovelToon NovelToon
From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: WesternGirl10

Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
​Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
​Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
​Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
​Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

01

Satu tahun berlalu.

​Kevin sudah terbiasa tinggal di mansion dan melakukan semua hal yang selalu ingin ia lakukan.

Selama setahun itu pula, Kevin hanya bertemu Ashley saat jam makan atau jika tidak sengaja berpapasan di koridor. Hal itu tidak mengherankan, karena Ashley sangat gila kerja; ia pernah pulang jam tiga pagi dan berangkat lagi jam tujuh.

​Rumor tentang sifat dingin Ashley ternyata bukan sekadar isapan jempol. Sifatnya benar-benar kaku dan ia bisa menjadi sangat galak saat menegur pelayan yang melakukan kesalahan. Selain itu, dia sangat sensitif terhadap hal-hal kecil, seperti setitik debu pada barang-barangnya atau suara detak jarum jam. Itulah sebabnya, tidak ada satu pun jam di mansion yang memiliki jarum detik.

​Hari ini, seperti hari-hari biasanya, Kevin sedang menikmati sinar matahari pagi yang hangat ditemani buku komik kesukaan dan sebungkus keripik kentang setelah Ashley berangkat bekerja.

​Sore harinya, Ashley pulang tepat pukul lima sesuai jadwal. Begitu melewati pintu masuk, Ashley menyerahkan semua barangnya kepada pelayan yang sudah berbaris rapi. Jika suasana hatinya sedang buruk, Ashley akan menjatuhkan barang-barangnya ke lantai dan membiarkan para pelayan memungutnya. Kevin sudah terbiasa dengan pemandangan itu. Meski awalnya ia merasa itu berlebihan, ada kepuasan tersendiri saat Kevin pernah mencobanya sekali karena iseng.

​Seperti biasa, setelah tiba di rumah pun, Ashley langsung masuk ke ruang kerjanya dan tidak keluar hingga jam makan malam tiba.

​Makan malam pun dilalui dalam kesunyian; hanya ada suara alat makan yang bergesekan dengan piring.

​"Nevin," Ashley membuka suara setelah selesai makan.

​"Kevin," koreksi Kevin pelan.

​"Sama saja. Besok pagi kau ikut aku."

​"Ke mana?"

​"Ke kediaman ayahku."

​Kevin hampir tersedak. Kenyataannya, setelah menikah, Ashley tidak pernah berkunjung ke kediaman ayahnya. Begitu pula Kevin yang belum pernah bertemu ayah mertuanya.

​"Kenapa?"

​"Seperti yang kau tahu, kesehatan ayahku memburuk. Karena itu, besok aku akan membawamu."

​"Oh, begitu ya... Jam berapa?"

​"Jam delapan pagi."

​Keesokan harinya, Kevin sudah menunggu Ashley di ruang tengah. Beberapa saat kemudian, Ashley menuruni tangga sambil berbicara serius dengan Neena. Neena mengangguk pelan, lalu pergi meninggalkan Ashley dan Kevin berdua.

​"Ayo."

​Kevin mengikuti Ashley keluar, namun ia merasa aneh karena tidak ada mobil yang menunggu di depan mansion.

​"Oh, apa kita naik kendaraan lain?"

​"Huh? Iya," jawab Ashley singkat sambil terus berjalan melewati kebun samping.

​"Ke arah ini... helikopter?"

​"Hm, lebih cepat."

​Selama setahun ini, Ashley jarang menggunakan helikopternya kecuali untuk urusan darurat. Helikopter di hadapan mereka tampak terawat dengan baik. Sang pilot pun terlihat sedang merapikan seragamnya.

​Kevin membantu Ashley menaiki tangga menuju helipad. Setelah sampai, Kevin naik lebih dulu dan mengulurkan tangannya-yang langsung disambut oleh Ashley-untuk masuk dan duduk di sampingnya.

​"Hmm, ayahmu... dia orang seperti apa?" tanya Kevin, mencoba mencairkan suasana.

​"Hanya pria tua yang menyebalkan."

​"Huh...?"

​Sebelum Kevin sempat menimpali, pilot memberitahukan bahwa helikopter akan segera lepas landas. Bilah rotor mulai berputar cepat. Perjalanan itu hanya diisi oleh suara bising mesin dan sesekali instruksi dari pilot. Tak butuh waktu lama, helikopter mendarat di atas sebuah mansion megah lainnya.

​Kevin membantu Ashley turun. Seorang pria berpakaian pelayan menghampiri mereka. Pria itu adalah Samuel, kepala pelayan di kediaman utama keluarga Giovano.

​"Selamat datang, Nona Muda."

​"Helikopter itu milik Kay? Kapan dia datang?" Ashley menunjuk helikopter lain di helipad seberang.

​"Nona Kay datang kemarin malam bersama Tuan Alex."

​"Ya sudah, Samuel, bawa aku langsung ke kamar Ayah."

​Pria itu mengangguk dan menuntun mereka memasuki bangunan mewah tersebut.

​Andrew Giovano memiliki tiga orang anak: Danny, Ashley, dan Kayra. Rentang umur ketiganya tidak terlalu jauh, masing-masing hanya selisih dua tahun. Hanya Danny dan Kayra yang terpaut empat tahun karena Kayra adalah si bungsu.

​Danny awalnya merupakan penerus utama Giotech Corp, hingga dua tahun lalu ia ditendang dari daftar hak suksesi. Ia memutuskan menikahi kekasihnya, seorang mantan pekerja klub malam yang bahkan sudah tidak bisa memiliki keturunan. Hal itu membuat Andrew murka dan mengusirnya tanpa sepeser pun uang. Skandal itu menjadi topik panas di seluruh negeri.

​Kini, hak suksesi berpindah kepada Ashley dan Kayra. Meski awalnya diragukan, publik bungkam setelah melihat pencapaian Ashley yang berhasil membawa Giotech C&T menjadi perusahaan tiga besar di bidang keuangan dalam waktu kurang dari lima tahun. Di sisi lain, Kayra memilih mengembangkan merek kosmetiknya sendiri, meski akhirnya gagal dan dibeli oleh Andrew untuk menjadi anak perusahaan Giotech Corp.

​Mereka tiba di sebuah pintu besar yang tinggi. Pelayan itu mengetuk pintu sebelum mempersilakan Ashley dan Kevin masuk. Ashley melangkah mendekat ke ranjang ayahnya yang tampak terpejam.

​"Aku tahu kau tidak tidur, Ayah." Ashley duduk di kursi samping ranjang.

​Andrew membuka matanya sambil merengut. "Cih, putriku masih saja dingin."

​"Bagaimana keadaanmu?"

​"Aku merasa sehat, bahkan bisa pergi memancing besok."

​"Aku sedang tidak bercanda."

​"Haah, kau memang selalu serius." Mata Andrew lalu beralih pada Kevin. "Oh, apa dia anaknya Amal?"

​"Hm, aku sudah menikahinya setahun lalu."

​"Aku tidak mengira pemuda tampan sepertinya harus bersama bongkahan es sepertimu."

​"Jangan menghinaku. Aku bukan bongkahan es."

​"Jika bukan, lalu apa? Kulkas dua pintu?"

​"Ugh, Ayah masih saja menyebalkan."

​"Hahaha! Begitulah hidup, Putriku. Ngomong-ngomong, apa aku sudah bisa mendengar kabar gembira?" Andrew menatap Ashley dengan senyum nakal.

​"Kabar gembira? Kau seharusnya menanyakan itu pada doktermu."

​"Maksudku cucu. Bukankah aku sudah terlalu tua untuk menunggu lebih lama lagi?"

​"Cucu...? Kau... ingin cucu?"

​Andrew menatap Ashley dengan heran. "Jangan bilang kalian belum..." Ia mengusap dahi. "Ugh, ya... aku mengerti. Kalian bahkan tidak menikah karena kemauan sendiri. Cih, kau dan Kay sama saja. Padahal aku sudah berbaik hati mencarikan pemuda tampan. Jika tidak, kau akan membusuk di meja kerjamu tanpa pernah menikah."

​Ashley menghela napas. "Baiklah, itu akan kupikirkan."

​"Bukan dipikirkan, tapi dilakukan!"

​"Iya, iya."

​Pintu diketuk dan seorang dokter masuk. "Maaf menyela, Nona. Ini saatnya Tuan Besar makan siang dan minum obat."

​Ashley berdiri. "Aku akan datang lagi nanti."

​Kevin mengikuti Ashley turun ke lantai satu. Di sana, seorang pria dan wanita duduk di ruang tengah. Ashley menghampiri mereka dan duduk di sofa sembari menyalakan TV.

​"Aku tidak mengira kau akan datang," ucap Ashley tanpa menatap pria itu.

​"Tentu saja aku datang. Ayah sedang sakit."

​"Kau sudah menemuinya?"

​"Sudah..." pria itu menjawab dengan kepala tertunduk. "Dia..."

​"Aku tahu. Walau begitu, kau seharusnya pulang. Kenapa masih di sini?"

​"Ashley, aku-"

​"Danny, pulang saja," potong Ashley dingin. "Aku tidak ingin melihatmu di sini, begitu juga dengan Kay."

​"Apa keputusanku untuk menjalani hidupku sendiri itu salah?" Danny menatap adiknya.

​"Tidak. Aku justru pernah menjadikanmu role model karena berani mengambil pilihan demi diri sendiri. Tapi aku sama seperti Ayah; aku kecewa dengan pilihan pasanganmu."

​"Hm, begitu ya. Ashley, apa kau bahagia?"

​"Hm? Tentu saja. Kau tidak?"

​"Aku bahagia. Jauh lebih bahagia daripada saat masih menyandang nama Giovano. Rasanya seperti memiliki kehidupan kembali."

​"Kau terlalu berlebihan. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada uang."

​"Yah, kau ternyata masih sama. Yang di sampingmu itu suamimu, kan? Aku dengar dari Samuel kalau kau dan Kay sudah menikah dengan pria pilihan Ayah. Tapi... kenapa kau atau pun Kay tidak mengadakan resepsi besar? Kau juga tidak mengundangku."

​"Jangan bicara omong kosong. Untuk apa aku mengundangmu?"

​Danny terdiam, lalu mengangguk pelan. "Aku mengerti. Padahal dulu kau selalu membelaku. Ternyata masa-masa itu sudah lewat, ya."

​Danny berdiri sembari menggandeng tangan istrinya. "Kalau begitu, aku dan Renata pulang dulu. Sampai bertemu lagi."

​Danny dan istrinya berjalan menuju pintu depan. Namun, Ashley sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari layar TV sejak percakapan itu dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!