EDISI SPESIAL RAMADHAN
Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.
Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.
Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!
Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencapai Titik Jenuh
Pipi Zunaira memerah sempurna, Mbak Hana mendekat dan berbisik di telinga Zunaira.
"Anak kecil tidak pernah bohong ustadzah Zu, Azlan memang sering membicarakanmu di depan kami, jadi jangan takut pada surat-surat dari Jawa Timur itu karena kami semua ada di belakangmu." ucap Mbak Hana.
Dukungan dari Ning Hana dan kehadiran Naura yang menggemaskan menjadi penawar racun dari surat manipulatif Ning Syifa.
Zunaira menyadari bahwa ia tidak sedang memasuki keluarga kiai yang kaku dan menakutkan melainkan sebuah rumah yang penuh kasih sayang.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama, di akhir pekan sebuah mobil mewah berwarna hitam kembali terlihat memasuki gerbang pesantren.
Kali ini yang datang bukan Kyai Mansur melainkan asisten pribadinya yang membawa beberapa kotak bingkisan besar.
"Ini bingkisan dari Kyai Mansur untuk seluruh pengurus ustadzah sebagai tanda terima kasih atas sambutan kemarin." ujar utusan itu di depan kantor pengurus.
Saat pembagian bingkisan, Zunaira mendapatkan satu kotak khusus yang ukurannya lebih besar.
Saat dibuka di depan ustadzah lain, isinya adalah kain sutra mahal dan seperangkat perhiasan perak.
"Wah Zunaira! Kamu dapat yang paling bagus!" seru Ustadzah Sarah dengan nada iri yang tak tertutup.
"Kayaknya Ning Syifa benar-benar ingin mengambil hatimu supaya kamu mau membujuk Gus Azlan ya?"
Zunaira terdiam, ia merasa dipermalukan secara halus karena pemberian ini seolah ingin membeli loyalitasnya atau sekadar menunjukkan jurang pemisah antara si pemberi yang kaya raya dan si penerima yang yatim piatu.
Di kejauhan, dari balkon lantai dua kantor pusat Gus Azlan melihat kejadian itu.
Rahangnya mengeras, ia tahu ini adalah taktik psychological warfare dari sang paman.
Ia harus segera mempercepat proses akad, ia tidak bisa membiarkan Zunaira terus-menerus menjadi sasaran permainan mental ini sendirian.
Azlan melangkah turun dan menemui Gus Haidar.
"Mas siapkan semuanya, kita lakukan akadnya lebih cepat dari jadwal semula. Aku tidak mau Zunaira semakin tertekan oleh kiriman-kiriman manipulatif ini." seru Gus Azlan.
Haidar mengangguk karena dia juga berfikir seperti itu, melihat apa yang dilakukan pamannya membuat Gus Haidar juga was-was.
"Aku setuju. Besok malam setelah jamaah Isya, kita kumpul lagi untuk finalisasi, masalah ini harus segera kita pecahkan dengan cahaya akad." seru Gus Haidar.
Zunaira, di kamarnya menatap kain sutra pemberian Ning Syifa itu dengan pandangan hampa.
Ia kemudian melipatnya rapat-rapat dan memasukkannya ke dalam lemari paling bawah.
Baginya pakaian paling indah bukanlah sutra dari Jawa Timur, melainkan ketaatan yang akan ia persembahkan dalam heningnya malam Jumat nanti.
...****************...
Angin malam berdesir melewati celah jendela asrama ustadzah, membawa aroma tanah basah sehabis hujan sore tadi.
Di dalam kamarnya, Zunaira duduk bersimpuh di depan sebuah meja kayu kecil yang catnya mulai mengelupas.
Di atas meja itu terletak dua benda yang saling bertolak belakang yaitu sebuah kotak bingkisan mewah berisi kain sutra mahal dari Ning Syifa dan sebuah ponsel sederhana yang menjadi satu-satunya penyambung nyawanya dengan Gus Azlan.
Zunaira menatap kotak perhiasan perak yang berkilau di bawah cahaya lampu neon.
Pemberian ini bukan sekadar hadiah tapi ini adalah pesan, sebuah pengingat akan jarak yang sengaja diciptakan oleh keluarga Kyai Mansur.
Zunaira merasa hatinya seperti diremas, ia teringat tatapan Ustadzah Sarah tadi siang yang penuh selidik dan kecemburuan.
Di lingkungan pesantren yang komunal sebuah keistimewaan kecil saja bisa menjadi api fitnah yang besar, apalagi jika itu menyangkut perhatian dari keluarga besar Kyai Mansur.
Dengan tangan gemetar Zunaira mengambil selembar kertas kosong, ia harus membalas surat Ning Syifa.
Bukan karena ia ingin berdebat tapi karena ia harus menunjukkan bahwa ia bukan sekadar pion yang bisa digerakkan sesuka hati.
Sementara itu di kediaman utama suasana nampak kontras, jika Zunaira sedang bergulat dengan kecemasan maka keluarga Kyai Hamid justru sedang berupaya menciptakan benteng kasih sayang.
Gus Haidar baru saja kembali dari rumahnya menggendong Naura yang nampak mengantuk, sementara Mbak Hana menyusul di belakang membawa nampan berisi wedang jahe.
"Paman Azlan... kenapa Paman baca buku terus? Ayo main tebak-tebakan huruf sama Naura." rengek Naura kecil sambil menarik-narik ujung sarung Azlan.
Azlan yang sedari tadi melamun menatap halaman kitabnya pun langsung tersenyum, ia mengangkat Naura ke pangkuannya.
"Oke, Naura mau tebak huruf apa? Huruf Hijaiyah atau huruf Latin?"
"Huruf Arab! Huruf yang ada di awal nama Ustadzah Zu!" seru Naura polos.
Seketika gerakan Mbak Hana yang sedang menuangkan wedang jahe terhenti, ia melirik Azlan dengan senyum penuh arti.
Ning Arifa yang sedang asyik memilin ujung jilbabnya langsung menyahut dengan nada ceria khasnya.
"Wah Naura pinter banget sih! Kok tahu aja kalau Paman Azlan lagi kangen sama huruf 'Zai'?" goda Arifa sambil tertawa kecil.
"Arifa jangan digoda terus Masmu itu nanti kalau dia salah tingkah, bisa-bisa bumbu pengajiannya jadi hambar." sahut Gus Haidar sambil duduk di samping Azlan, ia kemudian merendahkan suaranya dan bicara secara privat.
"Lan, aku sudah dengar soal bingkisan dari Jawa Timur itu, paman Mansur memang luar biasa kalau soal memetakan pengaruh. Dia ingin membuat Zunaira merasa berhutang budi atau setidaknya merasa inferior." ucap Gus Haidar.
Azlan menghela napas dan jemarinya mengusap rambut Naura yang imut.
"Itu sebabnya Azlan tidak mau menunda lagi, Mas. Zunaira itu yatim piatu, dia tidak punya siapa-siapa yang melindunginya secara formal di sini. Jika Paman Mansur menekan melalui opini publik ustadzah, Zunaira bisa hancur sendirian di asrama." sahut Gus Azlan.
"Sabarlah Nak." Kyai Hamid tiba-tiba bersuara dari arah pintu kamar, beliau didorong oleh Ummi Salamah menggunakan kursi roda.
"Pernikahan rahasia ini adalah sirr (rahasia) antara kamu, dia, dan Allah. Selama kamu memegang teguh niatmu untuk memuliakannya, Allah akan menutup aib dan mematikan api fitnah itu." ucap Kyai Hamid.
Kyai Hamid kemudian mengutip sebuah hadis untuk menenangkan putranya.
"Barangsiapa yang meringankan beban penderitaan seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan bebannya di hari kiamat." (HR. Muslim).
"Zunaira sedang memikul beban martabat kita Azlan, pastikan kamu menjadi tempatnya bersandar meski hanya lewat doa dan pesan-pesan singkat untuk saat ini." pesan Kyai Hamid dengan bijak.
Kembali ke asrama, Zunaira akhirnya mulai menggoreskan pena ia mengingat nasihat almarhum ayahnya dulu.
“Jangan pernah menjawab api dengan api, tapi jawablah dengan air yang menyejukkan namun tak bisa dibendung.”
"Bismillahirramanirrahim. Yang Teramat Mulia Ning Syifa di Jawa Timur. Salam takzim dan doa saya haturkan.
Terima kasih atas bingkisan dan surat yang sangat indah ini, Kain sutra ini sungguh mulia, namun saya merasa tidak layak mengenakan sesuatu yang begitu berharga di tengah tugas saya yang hanya seorang pelayan ilmu di Al-Anwar. Biarlah bingkisan ini tersimpan sebagai tanda persaudaraan kita sesama thalabul ilmi (penuntut ilmu).
Mengenai harapan Ning untuk masa depan Gus Azlan, saya meyakini sepenuhnya bahwa takdir seorang hamba telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Siapapun yang Allah pilihkan untuk mendampingi beliau kelak, pastilah ia yang sanggup menjaga hati beliau untuk tetap mencintai umat dan pesantren ini di atas segalanya. Tugas saya hanya mengabdi sebaik mungkin, tanpa melampaui batas yang telah ditetapkan-Nya.
Semoga Allah senantiasa menjaga kesucian niat kita semua. Salam hormat, Zunaira."
Zunaira melipat surat itu dengan rapi, kalimatnya sopan namun secara implisit ia menegaskan bahwa ia hanya takut pada takdir Allah, bukan pada tekanan manusia.
Ia menolak secara halus untuk dimasukkan ke dalam kotak oleh Ning Syifa.
Namun setelah surat itu selesai Zunaira merasa seluruh tenaganya terkuras, tekanan batin yang ia pendam selama berhari-hari mulai dari lamaran Kyai Mansur, penolakan Azlan, rencana akad rahasia, hingga surat manipulatif ini akhirnya mencapai titik jenuh.
Kepalanya terasa berdenyut hebat, ia mencoba bangkit untuk mengambil wudhu namun pandangannya mengabur.
Bruk
Zunaira terduduk di lantai, tangannya memegangi tepian tempat tidur dan napasnya pendek-pendek. Rupanya, beban emosional ini benar-benar menguras fisiknya.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...