NovelToon NovelToon
Dibalik Lampu Sorot

Dibalik Lampu Sorot

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Duniahiburan / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Tujuh belas tahun telah berlalu sejak dunia menyambut kelahiran sang "Pangeran New York". Kini, Archelo St. Clair bukan lagi bayi mungil yang tertidur di dekapan Andreas.

Di usianya yang ke-18, ia adalah replika sempurna dari ayahnya, rahang yang tajam, mata yang dingin dan intens, serta aura otoritas yang lahir secara alami. Namun, ada satu perbedaan besar: jika Andreas dulu dikenal sebagai pria yang sangat terkendali, Archelo adalah badai yang tak berarah.

Archelo bersekolah di sebuah Elite High School di Manhattan, tempat di mana anak-anak senator, pewaris minyak, dan pemilik media berkumpul. Namun, dunianya tidak berputar di dalam kelas atau di lapangan lacrosse. Dunianya berada di balik pintu besi kelab malam eksklusif yang hanya bisa dimasuki jika namamu terdaftar dalam silsilah keluarga St. Clair.

Malam itu, jarum jam menunjuk pukul dua pagi di sebuah penthouse mewah di kawasan SoHo. Bau asap rokok yang pekat bercampur dengan aroma tajam alkohol mahal dan sisa-sisa aroma kimia dari serbuk putih di atas meja kaca.

Archelo duduk di sofa kulit berwarna gelap, memutar-mutar gelas berisi whiskey murni tanpa es. Di sekelilingnya, teman-temannya—anak-anak dari lingkaran keluarga terkaya di Amerika, sudah hancur. Julian, putra seorang raja properti, sedang terkapar di lantai setelah menghabiskan beberapa baris sabu-sabu.

Sementara itu, seorang gadis model muda tampak tertidur pulas di bahu Marcus, teman main Archelo yang dikenal paling bebas tidur dengan siapa saja.

"Mereka semua sampah," gumam Archelo pelan, suaranya berat dan dalam, mirip sekali dengan suara Andreas St. Clair saat sedang marah.

Teman-teman Archelo sering kali merasa dibuang oleh orang tua mereka yang terlalu sibuk dengan saham dan politik. Mereka melampiaskan rasa kosong itu dengan narkoba, seks bebas, dan pil-pil penenang. Archelo berada di sana, di tengah lingkaran setan itu, setiap malam. Namun, secara ajaib, ia tetap menjadi satu-satunya yang waras.

Archelo tidak menyentuh sabu. Ia membenci perasaan kehilangan kendali atas otaknya. Ia juga tidak mengikuti jejak Marcus yang berganti-ganti wanita setiap malam hanya untuk merasa hidup. Satu-satunya racun yang diterima tubuhnya adalah alkohol.

Di usia 18 tahun, tubuh Archelo telah membangun toleransi yang mengerikan. Ia jago minum; ia bisa menghabiskan dua botol Scotch tanpa membuat langkahnya goyah sedikit pun.

Archelo menatap teman-temannya yang satu per satu mulai dijemput oleh bodyguard keluarga mereka. Itulah rutinitas mereka: berpesta hingga mati rasa, pingsan, lalu diangkut pulang seperti paket berharga yang rusak.

Archelo merasa muak, namun ia tidak bisa pergi. Ada rasa hampa yang aneh dalam dirinya. Ia dibesarkan dengan cinta yang melimpah dari Andreas dan Sera, namun nama besar St. Clair terasa seperti penjara baginya. Di luar sana, orang melihatnya sebagai dewa. Di sini, di tengah pergaulan bebas ini, ia merasa menjadi manusia biasa yang boleh saja hancur.

"Chello... kau tidak mau coba ini?" Julian menyodorkan sebuah plastik kecil berisi kristal bening dengan tangan gemetar.

Archelo menepis tangan itu dengan dingin. "Sudah kubilang, aku tidak butuh itu untuk merasa hebat, Julian. Kau butuh rehabilitasi, bukan dosis tambahan."

"Kau sok suci," racau Julian sambil tertawa sinis. "Kau tiap malam di kelab, kau minum seperti orang gila, kau pulang pagi... tapi kau berlagak seperti malaikat di depan orang tuamu."

Archelo tidak membalas. Ia hanya meneguk habis minumannya. Julian benar soal satu hal: Archelo adalah ahli dalam penyamaran. Di depan Andreas dan Sera, ia tetap putra kebanggaan yang berprestasi di sekolah. Namun di malam hari, ia adalah raja dari kegelapan Manhattan.

Pukul empat pagi, Archelo keluar dari penthouse itu dengan langkah tegap. Tidak ada bodyguard yang menjemputnya karena ia selalu bersikeras menyetir sendiri mobil Aston Martin hitamnya. Angin malam Manhattan yang dingin menusuk kulitnya, namun ia hampir tidak merasakannya karena kadar alkohol di darahnya.

Ia mengemudi menuju Long Island, kembali ke Mansion St. Clair. Saat ia memasuki gerbang raksasa itu, ia mematikan mesin mobilnya jauh sebelum sampai di lobi utama agar suaranya tidak membangunkan ayahnya.

Archelo berjalan melewati koridor mansion yang gelap. Ia berhenti di depan sebuah foto besar di dinding: foto dirinya saat bayi, digendong oleh Andreas dan Sera yang tampak sangat bahagia. Ia menatap tangannya yang sedikit gemetar karena alkohol, lalu menatap foto itu lagi.

Ada rasa bersalah yang menusuk, namun juga rasa berontak yang besar.

Kenapa aku tidak bisa melepaskan mereka? pikirnya. Kenapa aku terus berteman dengan para pecandu itu?

Mungkin karena hanya di depan mereka, Archelo tidak perlu menjadi "Sempurna". Di depan pecandu dan wanita-wanita haus perhatian itu, Archelo hanya seorang pria bernama Chello, bukan simbol kemegahan Vanderbilt atau St. Clair.

Saat Archelo hendak menaiki tangga menuju kamarnya, sebuah suara rendah dan dingin menghentikan langkahnya.

"Kau pulang terlambat lagi, Archelo."

Archelo membeku. Ia menoleh perlahan dan melihat Andreas St. Clair berdiri di bayang-bayang pintu ruang kerja. Meskipun usia Andreas sudah tidak muda lagi, tatapannya tetap setajam elang. Ia masih bisa melihat menembus penyamaran siapa pun, termasuk putranya sendiri.

Andreas berjalan mendekat. Bau alkohol dari napas Archelo tidak bisa disembunyikan. Andreas melihat mata putranya yang merah, namun ia juga melihat betapa tegapnya Archelo berdiri—sebuah tanda bahwa putranya memiliki ketahanan fisik yang menakutkan, persis seperti dirinya dulu.

"Dua botol whiskey?" tanya Andreas pendek, menebak dengan akurasi yang mengerikan.

Archelo menarik napas panjang. "Tiga, Dad. Aku hanya menemani Julian dan yang lain."

"Menemani mereka menuju liang kubur?" balas Andreas, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang membuat Archelo terdiam. "Aku tahu kau tidak menyentuh obat-obatan itu, Chello. Aku tahu kau tidak semurah Marcus dalam memilih wanita. Tapi berada di lingkungan yang salah akan tetap membuatmu kotor, tidak peduli seberapa keras kau mencuci tanganmu."

Archelo menatap ayahnya dengan berani. "Aku hanya butuh ruang untuk bernapas, Dad. Di sekolah, semua orang menuntutku menjadi kau. Di perusahaan kakek, aku harus menjadi dewa. Setidaknya di kelab malam, aku bisa melihat sisi nyata dari dunia ini—bahwa semuanya adalah sampah."

Andreas terdiam sejenak. Ia melihat gejolak jiwa remaja putranya yang sedang mencari identitas di bawah bayang-bayang raksasa orang tuanya. Ia mendekati Archelo, meletakkan tangannya di bahu putranya, persis seperti yang sering ia lakukan saat Archelo masih kecil.

"Dunia ini memang sampah jika kau mencarinya di kelab malam, Archelo," bisik Andreas. "Tapi kau adalah seorang St. Clair. Kita tidak hanya melihat sampah, kita yang memutuskan apakah sampah itu akan membakar kita atau kita yang akan membersihkannya. Tidurlah. Ibumu akan sedih jika melihat wajahmu yang berantakan besok pagi."

Archelo mengangguk pelan, rasa haru sedikit menyusup di tengah mabuknya. Ia tahu, meski ia terjebak dalam pergaulan bebas yang salah, ia masih memiliki pelabuhan untuk pulang.

Namun, di dalam hatinya, Archelo tahu bahwa badai dalam dirinya belum benar-benar reda. Pergaulan itu, alkohol itu, dan kegilaan malam New York masih memanggilnya, sebuah perang batin bagi sang pewaris yang memiliki segalanya, namun tetap merasa kesepian di tengah keramaian.

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍

1
Triana Oktafiani
Terloveh semua ceritamu ❤️❤️
ros 🍂: ma'aciww kak 😍
total 1 replies
isnaini_jk 28
Luar biasa
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Siti Maryati
bagus .... bagus ..... ceritanya
ros 🍂: Ma'aciww kak 😍
total 1 replies
Siti Maryati
enak bacanya...bahasa tertata, alur cerita nya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
ini tuch bgus banget asli cuma baru nemu aja.... karna gak kepikiran judulnya Inggris gak nyambung di pencarian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!