Untuk visualnya, silahkan kunjungi Instagram noer_azzura16
Kakak Bella ditemukan dalam keadaan mabukk dan menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa Lusi, adik Leo. Membuat ibu dan ayah Leo terpukul hebat.
Sementara Bella dan Leo baru saja kembali dari bulan madu. Kebahagiaan itu hancur seketika, melihat keluarga yang akhirnya menatap Bella sebagai seorang adik dari pembunuhh orang yang mereka cintai.
Setelahnya Bella bahkan tidak bisa menatap cinta itu lagi di mata suaminya. Meski kakaknya bahkan di penjara. Dia masih harus menanggung akibat dari apa yang dilakukan kakaknya itu.
Dua orang yang tadinya saling mencintai, dendam telah mengalahkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8-CKOD 8
Sementara itu di rumah sakit, para dokter yang menangani Bagas sudah keluar dari ruangan operasi sekitar satu jam yang lalu.
Luka luarnya sangat parah, tapi ada yang lebih parah dari itu. Orang terakhir yang menendang Bagas, mengakibatkan luka yang sangat serius. Terjadi benturan yang sangat keras di kepala. Dan hal itu menyebabkan Bagas koma.
Di luar, petugas sedang berbicara dengan Oscar.
"Tenang saja, keluarganya tidak ada. Rawat saja seperlunya. Jika sudah bisa berjalan, bawa kembali ke penjara"
Suara Oscar terdengar begitu entang. Ya, dia memang kan hanya anak buah yang menjalankan perintah bosnya. Bosnya bilang begitu, dia juga hanya melakukan hal itu saja.
"Baik tuan Oscar" jawab petugas itu.
Sementara di dalam ruangan, Bagas sudah mulai membuka matanya. Perlahan, mata itu berkedip beberapa kali, dan tatapannya mulai fokus.
Sebuah ingatan melintas, dimana peristiwa kecelakaan mobil itu terjadi. Tangannya terkepal kuat.
**
Sementara itu di kediaman Alexander. Bella yang sejak tadi di tunggui oleh bibi Okta juga sudah mulai sadarkan diri.
"Non..."
Mata Bella terbuka, dan segera melebar ketika dia melihat dimana dia sekarang berada.
"Bi, aku harus ke teras..."
Bella berusaha untuk bangkit, dia masih dalam hukuman. Kalau ibu mertua, dan kakak iparnya itu tahu dia ke kamar sebelum hukuman selesai. Mereka pasti akan mengadukannya pada Leo. Dan entah apa yang akan Leo lakukan pada kakaknya yang sudah terluka parah di video tadi.
"Non, non Bella tadi pingsan. Ini Dini buatkan bubur, non makan dulu!"
Bibi Okta berusaha menasehati Bella. Tapi Bella sama sekali tidak merespon. Dia hanya ingin ke teras samping. Menyelesaikan hukumannya. Karena jika tidak, kakaknya akan berada dalam bahaya.
"Non..." bibi Okta berusaha menahan Bella.
Tapi wajah Bella dengan tegas menggambarkan kalau wanita itu sedang sangat ketakutan saat ini. Rasa takut akan konsekuensi jika dia membuat marah anggota keluarga Alexander. Bukan hanya dia yang akan menderita, tapi kakaknya juga.
"Bi, tolong biarkan aku pergi ke teras. Bi, mereka akan marah!"
Mata Bella bahkan sudah berkaca-kaca. Dia sungguh tak ingin membuat satu pun keluarga Alexander marah. Dia memang menderita, dia memang masakan rasa sakit itu. Tapi tidak separah yang dia lihat terjadi pada kakaknya di penjara. Apalagi kakaknya di penjara, tidak akan ada yang membantunya.
"Non..."
"Bella, kamu tidak perlu ke teras lagi! ini hampir jam 5!" Sony yang mendengar keributan dari kamar Bella pun masuk ke kamar adik iparnya itu.
Bella menggelengkan kepalanya.
"Belum jam 5, artinya hukumanku belum selesai, mas"
Bella berjalan tertatih melewati Sony. Sony tak habis pikir. Kenapa Bella seperti itu.
"Bella..."
"Terimakasih, Mas. Tapi jangan terlibat denganku. Nanti mas akan kena masalah!" kata Bella yang pergi meninggalkan Sony.
Bella tahu Sony orang baik. Tapi, justru karena Sony sangat baik. Dia tidak ingin Sony menjadi sasaran kemarahan mertua dan kakak iparnya, kalau ikut campur apalagi membantu Bella.
Sony hanya bisa diam. Dia melihat Bella kembali berlutut di teras samping.
Dini yang melihat itu, segera melaporkan semua yang dia saksikan dan dengar pada Vivian dan Desy.
Tentu saja mendapatkan laporan dari Dini. Vivian dan Desy segera kembali ke rumah.
Tatapan Desy kepada Sony yang bahkan terlihat begitu kasihan saat berdiri di dekat teras samping. Semakin membuat Desy kesal pada Bella.
Vivian juga merasa begitu kesal. Dia mendengar kalau Sony menggendong Bella ke kamar. Vivian makin merasa kalau Bella itu bukan hanya menyebalkan karena dia adalah adik dari seorang pembunuhh. Tapi juga wanita murahan yang suka menggoda suami orang.
Desy sengaja berjalan dengan cepat ke arah Bella. Melewati suaminya yang sebenarnya cukup terkejut dengan kedatangannya.
"Des..."
"Dasar wanita murahan!"
Plakk
Wajah Bella sampai menoleh ke arah kiri dengan cepat karena kuatnya tamparann dari Desy.
Sony yang melihat itu segera menghampiri istrinya.
"Desy, apa yang kamu lakukan?" tanya Sony yang menarik secara reflek Desy, untuk menjauh dari Bella.
Merasa suaminya malah semakin membela Bella, Desy semakin kesal.
"Lepaskan aku, mas!" pekik Desy kesal.
"Kenapa kamu tampar dia?" tangan Sony .
Desy berbalik dan mendorong suaminya. Wajahnya jelas sekali menunjukkan kalau dia marah.
"Kamu masih tanya kenapa? kamu masih belum sadar. Wanita ini wanita murahan mas! bukan hanya murahan, tapi sangat menjijikkan!"
Desy kembali berbalik ke arah Bella. Bella yang masih memegang pipinya, dengan mata berkaca-kaca hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia sudah tahu, kalau pada akhirnya akan jadi seperti ini. Mana mungkin anggota keluarga Alexander membiarkan ada satu orang pun yang kasihan padanya.
Brukk
Desy mendorong Bella, sampai wanita itu jatuh tersungkur ke lantai.
Sony bergegas menarik tangan istrinya.
"Desy, sudah!"
Tapi Desy kembali menepis tangan Sony. Jelas sekali Desy semakin marah, dia kesal, dia cemburu. Dini membuat laporan yang di lebih-lebihkan. Makanya Desy merasa kalau adik iparnya sengaja merayu suaminya supaya membantunya, membelanya.
"Diam kamu, mas! jangan katakan kamu tidak tahu, kalau dia memang harus berlutut disini setiap hari? kamu sudah tahu hal itu kan, mas? itu aturan yang ayah dan Leo buat! Lalu kenapa dia harus pura-pura pingsan saat kamu pulang? dia sengaja, mas! dia mau merayu mu!" pekik Desy.
"Tidak begitu! aku baru kembali, dan wajah Bella pucat..."
"Wajahnya pucat?" sela Desy yang di penuhi amarah kecemburuan yang begitu besar, "Wajahnya pucat?" ulangnya.
Desy segera menoleh ke arah Bella.
"Maka akan aku buat wajahnya tidak pucat lagi!" pekiknya kesal yang segera menghampiri Bella.
Plakk
Plakk
Sony tak habis pikir, dia segera merangkul pinggang istrinya itu dari belakang. Menariknya menjauh dari Bella yang wajahnya memerah karena terus ditamparr oleh Desy.
"Lepaskan aku!"
Sony mengangkat istrinya, dia menarik dan mengangkat paksa Desy menuju ke dalam rumah.
"Bibi Okta, tutup pintunya!" kata Sony yang mencoba mencegah Desy mengamuk Bella lagi.
Bibi Okta dengan cepat menutup pintu menuju teras samping. Tangannya gemetar, mata wanita tua itu juga sudah berkaca-kaca. Tatapannya tertuju pada Bella yang bahkan masih berusaha bangkit dan kembali berusaha untuk berlutut lagi.
'Non, kasihan sekali kamu!' batin bibi Okta yang begitu tidak tega melihat semua penderitaan Bella.
"Lepaskan aku!" pekik Desy.
"Desy cukup! bagaimana kalau sampai Davin melihat kamu seperti ini? semua yang terjadi tidak seperti apa yang ada di pikiran kamu. Bella tidak pernah merayu..."
"Diam kamu, mas! lihat saja! aku akan adukan ini pada ayahmu. Lihat apa yang akan dia lakukan padamu!" gertak Desy yang mendorong suaminya dan berjalan cepat menuju kamarnya.
***
Bersambung...
Author, boleh ngamuk gak, sama suami & keluarga nya..?
Karena menurut ku keluarga suaminya ada gila²nya.. 🤭
Pengen aja jadi psikopat jika di posisi si Bella..
Biar di babat habis mereka semua.. 🤭
mudah mudahan ada penolong 🤲
mimpi aja kamu Leo 🤭
Nicklas
niklas🙈