NovelToon NovelToon
JODOH, YANG DIJODOHKAN

JODOH, YANG DIJODOHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna ceriya

Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.

Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____

Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18.

Beberapa hari setelah pertemuan di kafe Danau Jenewa, Alana menghabiskan sebagian besar waktunya sendirian di kamar, merenungkan setiap kata yang dia bicarakan dengan Aslan. Ia mengingat bagaimana pria itu berusaha untuk mengendalikan diri, bagaimana dia menghormati jarak yang dia tetapkan, dan bagaimana mata birunya penuh dengan cinta yang tulus setiap kali melihatnya.

Meskipun masih ada rasa ragu yang tinggal dalam hatinya, Alana merasa bahwa cinta dan rasa saling menghargai yang tumbuh di antara mereka layak untuk diberikan kesempatan. Ia mulai membayangkan bagaimana kehidupan bersama Aslan mungkin akan terasa—bersama sebagai pasangan yang setara, saling mendukung impian masing-masing.

Pada sore hari yang cerah, Alana mengambil telepon dan menekan nomor ayahnya, Samuel Hadinata, yang berada di Yogyakarta di Kediaman utama Hadinata berada .Setelah beberapa kali dering, suara ayahnya yang akrab terdengar di ujung talian.

"Hai sayang," ucap Samuel dengan nada yang hangat. "Apa kabarmu di Swiss? Sudah siap untuk pulang?"

"Aku baik, Ayah," jawab Alana dengan suara yang tenang namun jelas. "Aku memang sudah siap untuk kembali dalam beberapa minggu ke depan. Tapi ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu—tentang perjodohan antara aku dan Aslan."

Ada jeda singkat di ujung lain talian sebelum Samuel menjawab, "Baiklah sayang. Aku sedang dengar."

"Aku telah berpikir banyak tentang ini," mulai Alana, mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. "Pada awalnya, aku merasa tertekan dan takut—rasanya seperti hidupku akan ditentukan oleh orang lain tanpa aku punya pilihan."

Ia melanjutkan dengan nada yang lebih mantap, "Tapi setelah aku mengenal Aslan lebih jauh, aku menyadari bahwa dia bukanlah orang yang aku kira dulu. Dia juga telah menunjukkan bahwa dia bisa mengubah diri dan menghormati batasan yang aku tetapkan."

"Ayah," ucapnya dengan tegas, "aku telah membuat keputusanku. Aku bersedia untuk melanjutkan perjodohan ini dengan Aslan. Tapi dengan satu syarat—kami tidak akan langsung menikah. Kami perlu waktu lebih banyak untuk mengenal satu sama lain dengan benar, untuk membangun hubungan berdasarkan kepercayaan dan rasa saling menghormati yang sesungguhnya. Tidak ada tekanan untuk segera menikah—kami akan memutuskan waktu yang tepat ketika kami merasa sudah siap."

Samuel terdiam sejenak di ujung talian. Kemudian terdengar suara dia yang penuh dengan kegembiraan, "Aku sangat senang mendengarnya, sayang. Aku tahu bahwa ini bukan keputusan yang mudah untuk kamu buat. Dan tentang syarat mu, aku akan berbicara dengan Marcel untuk menyetujuinya. Kita semua hanya ingin kamu bahagia."

Ia menambahkan dengan lembut, "Ingat sayang, apa pun yang terjadi nantinya, aku akan selalu ada untukmu. Jika suatu hari kamu merasa bahwa ini bukan jalan yang benar untukmu, aku akan selalu mendukungmu."

Setelah berbicara lebih lama dengan ayahnya, Alana menutup telepon dan menarik napas lega. Rasanya seperti batu besar telah terangkat dari pundaknya. Ia melihat ke arah jendela kamar yang menghadap ke Danau Jenewa, dengan hati yang penuh dengan harapan dan sedikit rasa takut tentang masa depan yang akan datang.

Sekarang tinggal satu hal lagi yang perlu dia lakukan—memberitahu Aslan tentang keputusannya sebelum pria itu kembali ke Paris.

******

Beberapa jam setelah berbicara dengan ayahnya, Alana menghubungi Aslan melalui pesan singkat: "Bisakah Kita bertemun di kafe termat kita dulu pernah bertemu ? Ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu." Tak butuh lama, balasan datang: "Segera aku ada di sana, Alana."

Ketika Alana tiba di kafe dan melihat Aslan sudah menunggu di meja yang sama menghadap Danau Jenewa, hati nya berdebar kencang. Pria itu berdiri perlahan ketika melihatnya datang, dengan tatapan penuh harap di mata birunya. Namun segera setelah Alana duduk dan melihatnya dengan mata yang hangat, senyum lembut mulai muncul di wajah tampan Aslan—seolah ia merasakan bahwa kabar yang akan diberikan bukanlah kabar buruk.

"Aku sudah berbicara dengan Ayah," ucap Alana dengan nada yang mantap, menatap mata Aslan tanpa ragu. "Dan aku telah membuat keputusanku tentang rencana perjodohan kita."

Pada saat itu, senyum di wajah Aslan semakin lebar, menyinari wajahnya yang biasanya tampak tenang. Ia tidak mengucapkan apa-apa, hanya menatapnya dengan penuh perhatian, membiarkan Alana melanjutkan.

"Aku bersedia melanjutkan perjodohan kita, Aslan," kata Alana perlahan, sambil melihat mata biru yang kini semakin bersinar. "Tapi dengan satu syarat—kita butuh waktu lebih banyak untuk mengenal satu sama lain dengan benar. Tidak ada tekanan untuk segera menikah; kita akan memutuskan waktu yang tepat ketika kita merasa benar-benar sudah siap."

Kata-kata itu seperti embun pagi yang menghiasi bunga setelah musim dingin panjang bagi Aslan. Senyumnya kini sudah tak bisa disembunyikan lagi, meliputi seluruh wajahnya dan membuat matanya berbinar dengan kebahagiaan yang tulus. Ia mengangkat tangan dengan hati-hati dan menyentuh tangan Alana yang ada di atas meja, menjemputnya dengan lembut.

"Alana..." ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi, senyum tetap terukir di wajahnya yang tampan membuat nya semakin terlihat menawan. "Kau tidak tahu seberapa bahagia aku saat ini. Aku akan menerima syarat mu dengan senang hati—bahkan lebih dari itu, aku sangat menghargainya. Karena itu berarti kau benar-benar ingin membangun sesuatu yang nyata bersama ku."

Ia memegang tangannya lebih erat, mata tidak pernah lepas dari pandangan Alana. "Aku bersedia menunggu selama apa pun yang kau butuhkan. Aku tidak ingin apa-apa selain membangun hubungan yang penuh kepercayaan dan rasa saling menghormati denganmu sebagai pasangan seperti yang kau inginkan."

Kebahagiaan yang dirasakan Aslan terasa begitu nyata hingga bisa dirasakan Alana. Pria itu bahkan tidak menyadari bahwa bibirnya terus menggumamkan kata-kata bahagia sambil tetap menatapnya dengan senyum yang paling indah yang pernah dilihat Alana.

"Terima kasih, Alana," katanya sekali lagi, dengan senyum yang tak pernah pudar. "Aku akan melakukan segala yang aku bisa untuk membuatmu bahagia." ujar Aslan tulus, tatapanya begitu dalam dan tulus penuh dengan janji.

 

1
Mia Camelia
lanjut thor👍
Anna ceriya: terimakasih atas support nya kaka🙏💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!