Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Penjara Marmer
Dunia Liana Shine seolah runtuh dalam semalam. Pagi itu, jam baru menunjukkan pukul lima lewat lima belas menit ketika ia diseret keluar dari zona nyamannya. Tidak ada pelukan perpisahan yang hangat dari Liam; kakaknya itu hanya berdiri di ambang pintu besar rumah keluarga Shine dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara lega, sedih, dan ketegasan yang mutlak.
Liana duduk di kursi penumpang mobil sedan hitam milik Morgan. Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, hanya ada keheningan yang menyesakkan. Aroma mobil Morgan seperti pemiliknya: dingin, bersih, dan berbau kayu cendana yang samar. Tidak ada musik, tidak ada gantungan kunci lucu, hanya ada fungsionalitas.
"Aku bisa menyetir mobilku sendiri, Pak Dosen. Kau tidak perlu menjemputku seperti anak TK," cetus Liana memecah keheningan, suaranya serak karena sisa tangis semalam.
Morgan tetap fokus pada jalanan di depannya. Tangannya yang besar dan bersih memegang kemudi dengan posisi sempurna—pukul sepuluh dan pukul dua. "Mobilmu sudah disita oleh Liam. Mulai hari ini, transportasimu adalah tanggung jawabku. Dan panggil aku Morgan jika kita sedang tidak di lingkungan kampus."
"Aku lebih suka memanggilmu 'Sipir'," gumam Liana ketus sambil membuang muka ke arah jendela.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di sebuah bangunan apartemen high-end di kawasan pusat bisnis. Bangunan itu menjulang tinggi, dengan fasad kaca gelap yang mencerminkan langit fajar yang kelabu. Morgan memarkirkan mobilnya di slot khusus, lalu turun tanpa menunggu Liana.
Di bagasi, empat koper besar milik Liana menunggu. Morgan menarik dua koper paling berat dengan gerakan yang terlihat ringan, sementara Liana terpaksa menyeret sisanya dengan perasaan dongkol.
Lantai 22. Unit 2205.
Saat pintu apartemen terbuka, Liana berharap melihat sesuatu yang setidaknya memiliki sentuhan "manusia". Namun, yang ia dapati adalah definisi dari minimalism yang ekstrem. Lantai kayu berwarna abu-abu gelap, dinding putih bersih tanpa bingkai foto keluarga, dan furnitur dengan garis-garis tegas. Tidak ada bantal sofa yang empuk, tidak ada hiasan meja yang manis. Hanya ada sebuah rak buku raksasa yang memenuhi satu sisi dinding ruang tamu, berisi ribuan buku tebal dengan judul-judul ekonomi dan filsafat yang membuat kepala Liana pening hanya dengan melihatnya.
"Ini rumah atau laboratorium?" tanya Liana sarkastik saat melangkah masuk ke ruang tamu.
Morgan meletakkan koper-koper itu di tengah ruangan. "Ini tempat tinggal. Dan mulai sekarang, ini rumahmu."
Liana berjalan menuju balkon, ingin melihat pemandangan, namun langkahnya terhenti saat melihat tiga koper kecil lainnya yang masih berada di dekat pintu. Ia mulai membuka salah satu koper besarnya, berniat mengeluarkan tumpukan koleksi sepatu hak tinggi dan tas desainernya.
"Apa yang kau lakukan?" suara bariton Morgan menghentikannya.
"Apa lagi? Aku mau membereskan barang-barangku! Aku butuh rak untuk koleksi tas Chanel-ku dan tempat untuk skincare-ku yang jumlahnya tidak sedikit," jawab Liana sambil mulai mengeluarkan sebuah tas kulit berwarna merah menyala.
Morgan melangkah mendekat, matanya menatap tas itu seolah-olah itu adalah sampah yang mengotori lantainya. "Barang-barang itu tidak akan masuk ke kamarmu."
Liana membeku. "Maksudmu?"
"Aku sudah menyiapkan satu kamar untukmu. Di sana sudah ada lemari dengan kapasitas yang cukup untuk pakaian esensial. Sisanya—tas-tas mahal, sepatu pesta, dan gaun-gaun kurang bahan itu—masukkan kembali ke koper. Aku akan menyimpannya di gudang bawah tanah."
"KAU GILA?!" Liana berteriak, suaranya menggema di ruangan yang minim peredam itu. "Ini barang-barang mahalku! Aku butuh ini untuk kuliah, untuk bertemu teman-temanku, untuk—"
"Untuk pamer?" potong Morgan datar. Ia menunjuk sebuah kardus besar di pojok ruangan dengan ujung dagunya. "Barang-barang bermerek yang tidak berguna itu, simpan di gudang. Di sini, kita hanya menyimpan apa yang kita butuhkan untuk hidup produktif. Kau di sini untuk belajar menjadi dewasa, Liana, bukan untuk menjadi manekin berjalan."
Liana merasakan wajahnya memanas. Amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun. Ia menghentakkan kakinya ke lantai kayu dengan keras, membuat suara berdentum yang memuaskan hatinya sedikit. "Ini hak asasi manusia! Kau tidak bisa mengatur apa yang ingin aku pakai, Pak Tua! Kak Liam membayarmu untuk menjagaku, bukan untuk menjadi diktator fashion-ku!"
Morgan tidak terpancing. Ia justru melangkah satu tapak lebih dekat, menginvasi ruang pribadi Liana hingga gadis itu harus mendongak untuk menatap matanya. Mata Morgan yang tajam dan tak terbaca itu seolah menguliti harga diri Liana.
"Liam tidak membayarku," ucap Morgan dengan nada rendah yang menggetarkan. "Dia memohon padaku. Dan dalam kontrak yang kau tanda tangani dengan tangan gemetarmu semalam, disebutkan bahwa aku memiliki otoritas penuh atas lingkungan tempat tinggalmu. Jika kau ingin memakai tas merah itu, silakan. Tapi kau harus memakainya di luar sana, dan jangan harap kau bisa membawanya masuk lagi melewati pintu ini."
"Aku benci kau! Aku benci tempat ini!" Liana menjerit, ia mencoba menyambar kopernya dan menyeretnya menuju kamar yang ia asumsikan sebagai kamarnya.
Liana menemukan sebuah kamar di ujung lorong. Ruangan itu sama dinginnya dengan ruang tamu. Sebuah tempat tidur dengan sprei abu-abu polos, sebuah meja belajar kayu, dan sebuah lemari pakaian dua pintu. Benar-benar seperti sel penjara mewah.
Liana mencoba membanting pintu kamarnya sekuat tenaga untuk menyalurkan emosinya. Ia ingin dunia tahu betapa menderitanya dia. Namun, tepat sebelum daun pintu itu menyentuh bingkainya, sebuah tangan besar dengan urat-urat yang menonjol menahannya dengan sangat mudah.
Morgan berdiri di sana, menahan pintu itu hanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya berada di saku celana kainnya. Wajahnya tidak menunjukkan amarah, hanya sebuah ketegasan yang mutlak.
"Di rumah ini, tidak ada pintu yang dibanting, Liana," ucap Morgan pelan, namun setiap katanya terasa seperti perintah militer. "Jika kau merusak satu engsel saja karena emosi kekanak-kanakanmu itu, aku akan menyita ponselmu selama seminggu. Dan aku tahu, ponsel itu adalah satu-satunya jembatanmu untuk menghubungi kekasih berandalanmu itu, bukan?"
Liana terkesiap. Napasnya memburu, matanya berkaca-kaca karena rasa frustrasi yang tak terlukiskan. Ia merasa seperti burung yang sayapnya baru saja dipatahkan dan dimasukkan ke dalam sangkar emas yang dingin.
"Kau ... kau monster," bisik Liana dengan suara bergetar.
Morgan menarik tangannya dari pintu, membiarkan Liana berdiri di sana dengan kehancurannya. "Aku bukan monster. Aku hanya seseorang yang menghargai ketenangan. Mandilah, aku akan menyiapkan sarapan. Sepuluh menit. Jika kau terlambat, kau tidak akan mendapat jatah makan pagi."
Morgan berbalik dan melangkah menuju dapur tanpa menoleh lagi.
Liana jatuh terduduk di tepi tempat tidur yang keras. Ia menatap koper-kopernya yang berantakan. Di dalam kepalanya, ia membayangkan Derby akan datang menyelamatkannya, mendobrak pintu apartemen ini, dan membawanya pergi. Namun, ia tahu itu hanya khayalan. Derby bahkan tidak tahu di mana dia berada sekarang.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin meja rias yang polos. Liana Shine yang manja, egois, dan selalu mendapatkan apa pun yang ia mau, kini harus tunduk pada seorang dosen ekonomi yang kaku.
"Lima tahun," bisik Liana pada dirinya sendiri. "Aku tidak akan bertahan lima minggu di sini."
Namun, di balik dinding kamar, di dapur yang sunyi, Morgan Bruggman sedang menyeduh kopi hitamnya. Tangannya sedikit bergetar saat menuangkan air panas, sebuah reaksi fisik yang jarang ia alami. Ia menatap ke arah lorong kamar Liana. Ia tahu gadis itu sedang menangis, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang logis, Morgan merasakan sebuah variabel yang tidak bisa ia jelaskan dalam rumus ekonomi mana pun: rasa sesak yang aneh di dadanya.
Liana akhirnya keluar dari kamar setelah lima belas menit—sengaja terlambat lima menit untuk menantang Morgan. Namun, saat ia sampai di meja makan, piringnya kosong. Morgan sudah duduk di sana, membaca koran pagi sambil menghabiskan kopinya.
"Kau terlambat lima menit," ucap Morgan tanpa mendongak. "Aturan adalah aturan. Tidak ada sarapan untukmu hari ini. Sekarang ambil tas kuliahmu, kita berangkat sepuluh menit lagi."
Liana kelaparan dan lemas, namun yang lebih membuatnya terkejut adalah saat Morgan meletakkan sebuah benda di atas meja. Itu adalah ponsel Liana.
"Aku akan menyimpan ini selama kita di kampus," ujar Morgan dingin. "Kau akan mendapatkannya kembali setelah kita sampai di rumah sore nanti. Jangan membantah, atau kau akan kehilangan ponsel ini selama sebulan."
Liana hanya bisa terpaku, menyadari bahwa Morgan tidak hanya mengatur pakaiannya, tapi mulai memutus urat nadinya ke dunia luar.