Di Medan tahun 2026, Rania Putri pendiri startup yang membantu UMKM dengan teknologi data terpaksa bekerja sama dengan perusahaan besar dari Jakarta yang dipimpin oleh Reza Aditya, mantan kekasihnya yang menghilang tanpa kabar sepuluh tahun lalu.
Pada awalnya, mereka hanya fokus pada pengembangan aplikasi "UMKM Connect", namun menemukan kode aneh dalam sistem yang menyimpan jejak masa lalunya. Saat menyelidiki asal usul kode tersebut, mereka mengungkap rahasia mengejutkan, perpisahan mereka dulu adalah rencana jahat dari Doni Pratama, mantan sahabat Rania yang mengambil alih bisnis keluarga dia.
Di tengah penyelidikan yang penuh kejadian lucu dan tantangan bisnis, rasa cinta lama mereka kembali muncul. Setelah berhasil membongkar kejahatan Doni dan mendapatkan dukungan pemerintah, mereka tidak hanya menyelesaikan proyek aplikasi yang bermanfaat bagi jutaan UMKM, tapi juga menemukan kesempatan kedua untuk cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 : LINDUNGAN YANG MENDEKATKAN
Matahari mulai menunjukkan sinarnya di ufuk timur Medan ketika Rania dan Reza berkumpul di depan kantor UMKM Connect, siap untuk melakukan kunjungan kerja ke beberapa usaha kecil di daerah pinggiran kota. Hari ini mereka akan mengunjungi tiga usaha yang baru saja bergabung dengan program perlindungan kekayaan intelektual yang mereka luncurkan – sebuah warung makan tradisional, sebuah usaha kerajinan tangan, dan sebuah toko bahan makanan organik yang semua nya membutuhkan dukungan teknis dan hukum untuk melindungi produk mereka.
“Kita harus berangkat segera jika ingin sampai tepat waktu,” ucap Reza dengan senyum hangat sambil membuka pintu mobil untuk Rania. Dia telah mempersiapkan semua dokumen dan peralatan yang dibutuhkan, termasuk kamera untuk mendokumentasikan perkembangan setiap usaha yang mereka kunjungi.
Rania masuk ke dalam mobil dengan senyum yang tidak pernah padam dari wajahnya. Sejak mereka menemukan tentang masa lalu Doni dan bekerja sama untuk memperkuat sistem keamanan proyek, hubungan antara dia dan Reza menjadi semakin erat. Setiap tantangan yang mereka hadapi bersama hanya membuat mereka semakin saling memahami dan mendukung satu sama lain.
“Kamu sudah memeriksa semua jadwal kan?” tanya Rania sambil melihat ke arah daftar kunjungan yang ada di dasbor mobil. “Kita tidak ingin membuat mereka menunggu terlalu lama.”
“Semua sudah siap, Rania,” jawab Reza sambil memulai mesin mobil. “Saya juga sudah menghubungi mereka semalam untuk mengkonfirmasi kunjungan kita. Mereka semua sangat antusias dan tidak sabar untuk menunjukkan perkembangan usaha mereka.”
Perjalanan awal berjalan lancar dengan suasana yang hangat dan penuh candaan. Rania bercerita tentang bagaimana neneknya baru saja mengajarkan dia resep baru untuk makanan khas keluarga yang akan mereka tambahkan ke dalam program pelatihan kuliner untuk usaha kecil. Reza mendengarkan dengan penuh perhatian, kadang kala memberikan komentar yang lucu yang membuat Rania tertawa riang.
“Kamu tahu tidak Reza,” ucap Rania dengan mata yang bersinar, “nenek bilang bahwa resep baru ini adalah kombinasi dari resep leluhur kita dengan sentuhan modern yang dia pelajari dari salah satu usaha kuliner yang pernah kita bantu. Dia bilang ini adalah bukti bahwa tradisi bisa tetap hidup sambil tetap berkembang.”
Reza tersenyum melihat ekspresi wajah Rania yang penuh semangat. “Itu adalah ide yang luar biasa, Rania. Kita bisa membuat modul khusus untuk mengajarkan usaha kecil bagaimana menggabungkan tradisi dengan inovasi agar produk mereka tetap diminati namun tidak kehilangan ciri khasnya.”
Setelah sekitar satu jam berkendara, mereka sampai di lokasi pertama – Warung Makan ‘Rasa Asli’ yang dikelola oleh Pak Sutiono dan keluarganya. Usaha ini yang dulu hampir gulung tikar kini telah berkembang pesat berkat bantuan teknologi dan perlindungan hak cipta dari UMKM Connect.
“Selamat datang, Pak Reza, Mbak Rania!” teriak Pak Sutiono dengan senyum lebar saat mereka turun dari mobil. Dia langsung mengajak mereka masuk ke dalam warung yang kini telah direnovasi dengan lebih nyaman namun tetap mempertahankan suasana tradisional yang khas.
“Lihat ini, Mbak Rania,” ucapnya dengan bangga sambil menunjukkan sebuah papan nama baru dengan tulisan ‘Resep Terdaftar – Hak Cipta Dilindungi’. “Sekarang kami tidak perlu khawatir lagi orang lain akan meniru resep khas kami yang sudah ada sejak tiga puluh tahun yang lalu.”
Rania merasa sangat bangga melihat perkembangan usaha tersebut. Dia dan Reza segera bekerja sama untuk memeriksa sistem pemesanan online yang baru saja mereka pasang, memberikan masukan dan bantuan teknis untuk memastikan semua berjalan dengan lancar.
Setelah sekitar dua jam bekerja bersama dengan Pak Sutiono dan keluarganya, mereka melanjutkan perjalanan ke lokasi kedua – Usaha Kerajinan Tangan ‘Cantik Alam’ yang dikelola oleh Bu Yanti dan sekelompok ibu rumah tangga di desa sekitar Medan. Jalan menuju desa tersebut tidak terlalu baik, dengan beberapa bagian yang berlubang dan beraspal aus akibat sering dilalui kendaraan berat.
“Harap hati-hati ya, jalan di sini agak licin karena baru saja hujan kemarin malam,” ucap Reza dengan suara khawatir saat mobilnya melaju melewati sebuah tikungan yang licin karena genangan air.
Rania mengangguk dan mulai melihat ke luar jendela, kagum dengan pemandangan sawah dan perkebunan yang luas di sekitar jalan. “Sangat indah bukan? Kadang kala kita terlalu sibuk dengan pekerjaan di kantor sehingga kita lupa betapa indahnya alam sekitar kita.”
“Sebenarnya ada ide yang bisa kita kembangkan dari sini,” ucap Reza sambil tetap fokus pada jalan. “Kita bisa membuat program untuk membantu usaha kecil seperti ini memasarkan produk mereka sebagai produk lokal yang ramah lingkungan – ini akan menarik minat konsumen yang peduli dengan lingkungan.”
Baru saat itu, sebuah kendaraan truk besar tiba-tiba muncul dari arah seberang dan harus menyilang jalan yang sudah sangat lebar. Reza dengan cepat memutar kemudi untuk menghindari tabrakan, namun ban mobilnya terpeleset di bagian jalan yang sangat licin akibat genangan air dan lumpur.
“Reza!” teriak Rania dengan suara cemas saat mobil mulai meluncur ke arah jurang kecil di sisi jalan.
Reza tetap tenang dan mencoba mengendalikan kemudi dengan hati-hati, namun jalan yang terlalu licin membuatnya sulit untuk menghentikan mobil dengan cepat. Dalam sekejap, mobil menyentuh tepi jalan yang tidak stabil dan mulai miring ke satu sisi.
“Turun sekarang, Rania!” teriak Reza dengan cepat sambil membuka pintunya sendiri. Dia dengan cepat berlari ke sisi mobil di mana Rania berada dan membuka pintunya dengan kuat. Saat Rania mulai keluar, bagian depan mobil tiba-tiba terangkat karena tanah di bawahnya longsor sedikit.
Dalam kondisi yang penuh tekanan, Reza dengan cepat mengeluarkan Rania dari dalam mobil dan menariknya menjauh dari jurang. Namun saat mereka berjalan mundur, tanah di bawah kaki Rania tiba-tiba menjadi licin akibat lumpur yang terbawa dari jalan. Dia tergelincir dan mulai jatuh ke arah jurang yang dalamnya sekitar dua meter.
Tanpa berpikir dua kali, Reza melompat dan menangkap tangan Rania dengan kuat. Dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk menariknya kembali, namun lumpur yang licin membuat dia juga hampir tergelincir. Akhirnya, dengan usaha yang sangat keras, Reza berhasil menarik Rania ke tempat yang aman, dan mereka berdua jatuh bersandar pada tanah yang lebih stabil di sisi jalan.
“Kamu baik-baik saja tidak?” tanya Reza dengan napas terengah-engah, matanya penuh dengan khawatir saat dia memeriksa tubuh Rania dari atas ke bawah.
Rania masih dalam keadaan terkejut, namun melihat wajah Reza yang penuh perhatian membuatnya merasa tenang kembali. “Ya… saya baik-baik saja. Terima kasih telah menyelamatkan saya, Reza.”
Reza menghela napas lega dan kemudian tertawa sedikit melihat kondisi mereka yang sekarang penuh lumpur. “Kita memang harus lebih hati-hati di jalan seperti ini ya.”
Rania juga mulai tertawa melihat penampilan mereka yang tidak biasa. “Kita seperti anak kecil yang baru saja bermain di lumpur,” candanya sambil mencoba membersihkan lumpur dari baju nya.
Mereka duduk bersama di atas tanah yang kering sambil menunggu bantuan yang sudah Reza hubungi melalui telepon. Suasana yang awalnya penuh ketegangan kini berubah menjadi lebih hangat dan akrab. Reza mengambil handuk dari dalam tas darurat dan membantu membersihkan wajah dan tangan Rania dengan lembut.
“Kamu tahu tidak, Rania,” ucap Reza dengan suara yang lebih pelan, “saat saya melihat kamu akan jatuh, rasanya seperti dunia saya berhenti sejenak. Saya tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi padamu.”
Rania melihat ke mata Reza dengan ekspresi yang semakin dalam. Dia merasa ada sesuatu yang berbeda dalam cara Reza melihatnya saat ini – sebuah kedekatan yang lebih dalam dari sekadar teman atau rekan kerja.
“Reza… apa kamu…” ucap Rania dengan suara yang sedikit gemetar, tidak tahu harus melanjutkan kalimatnya atau tidak.
Reza mengangguk perlahan dan mengambil tangan Rania dengan lembut. “Ya, Rania. Sejak lama saya merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar kerja sama antara kita. Tapi saya selalu takut untuk mengatakannya karena saya khawatir akan merusak hubungan kita dan proyek yang kita bangun bersama.”
Rania merasa hati nya berdebar kencang mendengar kata-kata tersebut. Dia juga telah merasakan hal yang sama selama bertahun-tahun, namun seperti Reza, dia juga takut untuk mengungkapkannya karena takut akan merusak kerja sama yang telah mereka bangun dengan susah payah.
“Kamu tahu tidak Reza,” ucap Rania dengan suara yang penuh emosi, “saya juga merasa hal yang sama. Tapi saya selalu berpikir bahwa proyek ini lebih penting daripada perasaan pribadi saya. Saya tidak ingin membuat kamu merasa tidak nyaman atau membuat tim kita terganggu.”
Reza menggeleng perlahan dan memegang tangan Rania lebih erat. “Kamu salah, Rania. Proyek ini memang penting, tapi kamu juga penting bagiku. Tanpa kamu, saya tidak akan bisa mencapai apa yang kita capai sekarang. Kamu adalah orang yang selalu ada untuk saya dalam suka dan duka, yang selalu memberikan semangat dan inspirasi.”
Di saat yang sama, suara sirine mobil bantuan mulai terdengar dari kejauhan. Namun mereka tidak memperdulikannya, masih saling melihat satu sama lain dengan mata yang penuh dengan makna.
“Kita bisa melakukan ini bersama kan, Rania?” tanya Reza dengan penuh harapan. “Bekerja sama untuk proyek ini sambil juga membangun hubungan yang lebih dalam antara kita.”
Rania tersenyum hangat dan mengangguk. “Ya, Reza. Kita bisa melakukan ini bersama. Seperti yang selalu kita lakukan dari dulu hingga sekarang – bersama-sama kita lebih kuat.”
Reza dengan lembut menarik Rania lebih dekat dan memberikan ciuman lembut pada dahinya. “Terima kasih telah ada dalam hidup saya, Rania. Tanpa kamu, semuanya tidak akan sama.”
Rania merasa bahagia dan lega mendengarnya. Semua perasaan yang telah dia sembunyikan selama ini akhirnya menemukan tempatnya. Mereka tetap duduk bersama hingga mobil bantuan tiba, dengan tangan mereka masih saling memegang erat.
Setelah mobil mereka ditolong dan bisa berjalan kembali, mereka melanjutkan perjalanan dengan suasana yang jauh lebih hangat dan penuh dengan harapan. Mereka sampai di Usaha Kerajinan Tangan ‘Cantik Alam’ dengan wajah yang masih bersinar meskipun tubuh mereka masih penuh dengan bekas lumpur.
Bu Yanti dan para pekerja usaha tersebut langsung terkejut melihat penampilan mereka, namun setelah mendengar cerita tentang kejadian di jalan, mereka langsung mengucapkan syukur bahwa tidak ada yang terluka parah.
“Kalian benar-benar orang yang baik hati,” ucap Bu Yanti dengan suara penuh penghargaan. “Meskipun mengalami kejadian seperti itu, kalian tetap datang untuk membantu kami.”
Rania dan Reza saling melihat dengan senyum hangat. “Kita selalu ada untuk usaha kecil yang membutuhkan bantuan,” ucap Rania dengan suara penuh semangat. “Itu adalah janji kita dan kita akan selalu memenuhinya.”
Mereka bekerja bersama dengan para pekerja usaha tersebut untuk memeriksa sistem manajemen produk dan pemasaran yang baru saja mereka terapkan. Reza membantu mengatur sistem komputer dan aplikasi yang digunakan untuk mencatat produksi dan penjualan, sementara Rania memberikan pelatihan tentang cara mendaftarkan hak cipta untuk desain kerajinan tangan mereka.
“Dengan hak cipta yang terdaftar,” jelas Rania dengan suara yang jelas, “kalian tidak perlu khawatir lagi orang lain akan meniru desain unik yang kalian ciptakan. Ini akan membantu kalian membangun merek yang kuat dan berbeda dari pesaing.”
Para pekerja usaha tersebut mendengarkan dengan penuh perhatian dan antusiasme. Mereka bertanya berbagai pertanyaan tentang cara mendaftarkan hak cipta dan bagaimana cara melindungi produk mereka dari pemalsuan.
Setelah menyelesaikan kunjungan di tempat kedua, mereka melanjutkan ke lokasi terakhir – Toko Bahan Makanan Organik ‘Sehat Alam’ yang dikelola oleh seorang muda bernama Rio. Usaha ini baru saja memulai beberapa bulan yang lalu namun telah menunjukkan perkembangan yang sangat baik berkat dukungan dari UMKM Connect.
Rio langsung menyambut mereka dengan senyum lebar saat mereka tiba. “Selamat datang, Mbak Rania, Pak Reza! Saya sudah tidak sabar untuk menunjukkan perkembangan usaha saya.”
Mereka masuk ke dalam toko yang penuh dengan berbagai jenis bahan makanan organik dari petani lokal. Rio menunjukkan bagaimana mereka menggunakan sistem yang diberikan oleh UMKM Connect untuk mencatat stok barang dan mengelola pesanan dari pelanggan.
“Dengan sistem ini,” jelas Rio dengan bangga, “saya bisa lebih efisien dalam mengelola usaha saya dan juga bisa menjaga kualitas produk yang saya jual. Pelanggan juga semakin percaya karena mereka tahu bahwa semua produk yang saya jual sudah terdaftar dan terlindungi.”
Rania dan Reza bekerja sama untuk memberikan masukan dan bantuan tambahan kepada Rio. Mereka membahas tentang cara memperluas jangkauan pemasaran dan bagaimana cara bekerja sama dengan lebih banyak petani lokal untuk menyediakan bahan baku yang berkualitas.
“Kita bisa membantu kamu menjalin kerja sama dengan beberapa usaha kuliner yang juga bergabung dengan kita,” ucap Reza dengan suara penuh semangat. “Ini akan menciptakan ekosistem usaha lokal yang saling mendukung satu sama lain.”
Rio merasa sangat bersyukur mendengarnya. “Ini adalah kesempatan yang luar biasa bagi saya. Saya selalu ingin membantu petani lokal meningkatkan pendapatan mereka sambil juga memberikan produk berkualitas bagi masyarakat.”
Setelah menyelesaikan kunjungan di tempat ketiga, mereka memutuskan untuk pulang karena sudah mulai malam. Perjalanan pulang terasa lebih cepat dengan suasana yang penuh dengan candaan dan cerita tentang pengalaman mereka selama hari itu.
“Kamu tahu tidak Rania,” ucap Reza sambil melihat ke arahnya dengan senyum hangat, “meskipun hari ini dimulai dengan kejadian yang tidak menyenangkan, tapi saya merasa ini adalah hari yang sangat berharga bagi saya. Saya akhirnya punya keberanian untuk mengatakan apa yang ada di hati saya.”
Rania tersenyum dan meraih tangan Reza yang sedang mengemudi. “Saya juga merasa begitu, Reza. Saya merasa seperti beban yang telah saya bawa selama ini akhirnya hilang. Sekarang saya tahu bahwa kita bisa menjalankan proyek ini sambil juga membangun hubungan yang lebih dalam antara kita.”
Mereka sampai di kantor UMKM Connect saat malam sudah mulai menjelang. Namun mereka tidak langsung pulang, melainkan memilih untuk duduk bersama di taman belakang kantor yang penuh dengan lampu hias yang indah.
“Kita telah melalui banyak hal bersama ya, Reza,” ucap Rania dengan suara penuh rasa syukur. “Dari awal mendirikan UMKM Connect hingga menghadapi berbagai tantangan yang datang menghadang kita. Tapi setiap tantangan yang kita lewati hanya membuat kita semakin kuat dan semakin erat hubungan kita.”
Reza mengangguk dan menarik Rania lebih dekat ke dalam pelukannya. “Ya, Rania. Dan saya tahu bahwa dengan kamu di sisi saya, tidak ada yang tidak bisa kita capai. Kita akan terus bekerja sama untuk membantu usaha kecil berkembang dan membangun masa depan yang lebih baik bagi semua orang.”
Mereka tetap duduk bersama menikmati kedamaian malam hari, dengan hati yang penuh rasa syukur dan tekad untuk terus bekerja sama dalam suka dan duka. Semua yang terjadi pada hari itu – mulai dari kejadian di jalan yang membuat mereka hampir mengalami bahaya hingga momen romantis yang akhirnya muncul – telah memperkuat keyakinan mereka bahwa mereka adalah pasangan yang saling melengkapi, baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan pribadi.