"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Cermin Masa Lalu yang Retak
Mimpi itu terasa begitu nyata, lebih seperti kepingan film yang diputar paksa di depan mataku. Aku melihat diriku sendiri, namun bukan Vaya yang berusia 18 tahun yang penuh tawa. Itu adalah aku yang berusia 20-an, dengan tatapan mata yang dipenuhi kebencian dan rasa jijik setiap kali Narev mendekat.
...****************...
[POV: Vaya]
Dalam mimpiku, suasana rumah terasa sangat dingin, jauh lebih dingin dari AC mobil tadi siang. Aku melihat diriku sedang mengemas tas dengan terburu-buru.
"Vaya, kau mau ke mana lagi?" suara Narev di dalam mimpi itu terdengar sangat lelah, bukan meledak-ledak seperti sekarang.
"Bukan urusanmu! Aku mau menemui Rian. Dia satu-satunya orang yang mengerti aku, bukan monster sepertimu yang memaksaku menikah!" jawabku ketus dalam mimpi itu. Aku melihat diriku mendorong dada Narev, mengabaikan tatapan hancur di matanya.
Lalu, adegan berubah. Aku berada di sebuah kafe remang-remang bersama Rian. Rian membisikkan kata-kata manis yang beracun. "Narev itu hanya ingin menguasaimu, Vaya. Dia memanipulasi perusahaan ayahmu agar kau jatuh ke tangannya. Kau harus meninggalkannya, bawa semua aset yang kau bisa."
Dan aku... aku yang bodoh di masa itu, mengangguk percaya. Aku berbohong berkali-kali pada Narev, menggunakan setiap celah untuk lari ke pelukan Rian, tanpa tahu bahwa Rian hanyalah serigala yang mengincar harta keluargaku.
Puncaknya adalah saat Mici lahir. Aku melihat diriku di rumah sakit, membuang muka saat suster memberikan bayi mungil itu padaku. Aku melihat Narev menggendong bayi itu sendirian di pojok ruangan, air matanya jatuh ke pipi bayi Mici sementara aku hanya menatap jendela dengan dingin.
"Aku tidak menginginkan anak ini, Narev. Dia hanya pengikat yang kau buat agar aku tidak bisa cerai!" teriakku dalam mimpi itu.
"TIDAK! JANGAN!"
Aku tersentak bangun. Napas ku memburu, keringat dingin membasahi seluruh tubuhku. Aku merasakan sesak yang luar biasa di dada, seolah-olah oksigen di kamar ini habis. Air mataku mengalir deras tanpa bisa kubendung.
"Vaya? Sayang? Kau kenapa?"
Sebuah tangan besar dan hangat langsung menarikku ke dalam dekapan. Narev. Dia sudah bangun, matanya yang terlihat sangat cemas menatapku di bawah temaram lampu tidur.
Aku tidak bisa bicara. Aku hanya bisa menangis sesegukan di dadanya, mencengkeram kemeja kausnya dengan kuat. Rasa bersalah itu menghantamku seperti godam. Ternyata... ternyata akulah penyebabnya. Akulah yang membuat Narev menjadi monster posesif seperti sekarang.
"Maaf... Narev, maafkan aku..." isakku parau.
Narev mengelus punggungku dengan gerakan menenangkan, meski suaranya terdengar bingung. "Mimpi buruk? Sudah, tidak apa-apa. Aku di sini. Mici ada di sini."
Aku mendongak, menatap wajahnya dengan mata sembab. "Narev... apa benar aku dulu sejahat itu? Apa benar aku sering membohongimu demi Rian? Apa benar aku... aku tidak peduli pada Mici?"
Narev membeku. Gerakan tangannya di punggungku terhenti sejenak. Dia memalingkan wajah, rahangnya mengeras seolah sedang menelan pahitnya kenangan yang baru saja kusebutkan.
"Vaya, itu masa lalu. Kamu tidak ingat, kan? Jadi tidak usah dipikirkan," ucapnya dengan suara yang berusaha dikontrol, namun getarannya tidak bisa berbohong.
"Jawab aku, Narev!" aku menarik wajahnya agar menatapku. "Apa itu alasan kamu mengurungku? Karena kamu takut aku lari lagi ke Rian? Karena kamu takut aku menyakiti Mici lagi?"
Narev menatapku lama, matanya yang kelabu tampak berkaca-kaca. "Iya," bisiknya lirih. "Aku menjadi monster karena aku tidak tahu lagi bagaimana cara membuatmu melihatku, Vaya. Aku sudah memberikan segalanya—cinta, harta, perhatian—tapi kau selalu melihat pria itu. Aku ketakutan setengah mati setiap kali kau keluar rumah, takut kau tidak akan pernah kembali lagi ke pintu ini."
Aku menangis lebih kencang, memeluk lehernya erat-erat. "Aku bodoh... aku minta maaf. Rian menghasutku, Narev. Dia membuatku membencimu. Aku baru sadar sekarang..."
Narev terdiam, dia membalas pelukanku dengan sangat erat hingga aku hampir sulit bernapas. Dia membenamkan wajahnya di rambutku. "Jangan minta maaf. Melihatmu yang sekarang... melihatmu sayang pada Mici... itu sudah lebih dari cukup bagiku, Vaya. Aku tidak peduli jika kau tidak ingat masa lalu, asal kau tetap seperti ini."
Di tengah suasana emosional itu, Mici yang tidur di antara kami bergerak pelan. Dia belum bangun sepenuhnya, tapi suara hatinya merembes masuk ke pikiranku dengan sangat jelas.
“Mama nangis lagi... tapi kali ini Mama nangis karena sayang Papa. Mici senang... bau hati Mama sekarang warnanya pink, nggak abu-abu lagi...”
Aku mencium puncak kepala Mici, lalu mencium pipi Narev yang masih basah.
"Narev, janji satu hal padaku," ucapku di sela isak tangis.
"Apa?"
"Jangan pernah biarkan Rian mendekat lagi. Dan... tolong bantu aku jadi ibu yang baik buat Mici. Aku mau menebus semua tahun-tahun yang kubuang sia-sia karena membencimu."
Narev tidak menjawab dengan kata-kata. Dia justru mencium bibirku dengan sangat lembut dan lama—sebuah ciuman yang penuh dengan pengampunan dan janji masa depan. Malam itu, di bawah saksi tidur lelap Mici, aku menyadari bahwa cinta Narev yang dianggap 'gila' itu sebenarnya hanyalah sisa-sisa dari hati yang hancur dan mencoba bertahan.
...****************...
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa