Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.
Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)
Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Keesokan harinya.
Jiang Tao tidak datang ke latihan. Tidak seperti kemarin yang bersembunyi diam-diam. Xiao Han sedikit memahami perasaannya. Dirinya sudah menduga. Anak seperti Jiang Tao tidak akan langsung bergabung hanya karena sekali diundang. Butuh waktu. Butuh alasan. Butuh sesuatu yang membuatnya percaya bahwa tempat ini layak untuknya.
Tapi waktu tidak menunggu. Target dua belas anggota masih jauh dari harapan. Mu Qingyao semakin sering muncul di koridor dengan tatapan tajam. Dan hari ini, Xiao Han harus keliling kelas lagi.
Kini giliran kelas 8.
Xiao Han berjalan menyusuri koridor lantai dua, clipboard di tangan, derap langkah pincangnya mulai terbiasa dia sembunyikan. Celana training panjang menutupi alat penopang di betis.
Chen Hao bilang jangan tunjukkan kelemahan, dan Xiao Han belajar bahwa kelemahan tidak selalu tentang kaki. Kelemahan adalah ketika orang melihatmu ragu.
Berjalanlah seperti kau punya tujuan. Entah mengapa sepenggal kalimat Chen Hao tertanam di benak Xiao Han.
Tujuannya hari ini kelas 8, ruang 3 dan 4. Informasi dari tata usaha mengatakan ada beberapa siswa yang pernah ikut ekskul sepak bola, sebelum tim dibubarkan karena kekurangan anggota. Mungkin ada yang masih menyimpan mimpi.
Dirinya sampai di depan kelas 8C ruang 3. Pintu terbuka, suara guru sejarah yang monoton terdengar dari dalam. Xiao Han mengetuk pelan, memberi isyarat pada guru bahwa dia hanya akan mengamati dari belakang.
Guru itu mengangguk tanpa banyak perhatian.
Xiao Han berdiri di sudut ruangan, matanya bergerak perlahan dari barisan depan ke belakang. Dia sudah belajar dari pengalaman dengan Jiang Tao, jangan hanya melihat postur tubuh. Lihat mata. Lihat ke mana pandangan mereka pergi saat bosan. Lihat apa yang mereka gambar di pinggir buku.
Seorang anak laki-laki di baris tengah menggambar mobil. Bukan.
Seorang anak di depan menggulung kertas menjadi bola kecil, menyembunyikannya di telapak tangan. Calon kiper? Mungkin. Tapi matanya tidak pernah melihat ke luar jendela, ke arah lapangan.
Xiao Han terus mengamati. Hingga matanya lagi-lagi berhenti di barisan paling belakang, dekat jendela.
Seorang anak perempuan duduk dengan sangat tenang. Tidak mengobrol, tidak melamun, tidak menggambar. Ia menulis sesuatu di buku catatan dengan rapi. Di samping bukunya, ada buku lain yang terbuka, bukan buku pelajaran. Lantas Xiao Han menyipit.
Itu buku sketsa. Dan di halaman yang terbuka, ia melihat garis-garis yang familiar. Lingkaran tengah. Kotak penalti. Garis gawang.
Lapangan sepak bola.
Untungnya, mataku cukup tajam sebagai gelandang tengah. Batin Xiao Han.
Anak itu tidak menggambar sekarang. Ia sedang menulis catatan sejarah. Tapi buku sketsa itu terbuka di halaman yang sama sejak tadi, seolah ia tidak tega menutupnya.
Xiao Han mencatat di clipboard. Baris belakang, dekat jendela. Perempuan. Buku sketsa lapangan. Belum sempat ia menulis lebih lanjut, guru sejarah mengakhiri pelajaran.
Kring ...
Bel istirahat berbunyi. Suasana kelas langsung berubah menjadi keributan yang terkendali.
Xiao Han tidak bergerak dari tempatnya. Dia menunggu. Anak-anak mulai berhamburan keluar. Sebagian ke kantin, sebagian ke lapangan basket, sebagian duduk di kelas sambil mengobrol. Anak perempuan di baris belakang itu diam. Dia tetap di tempatnya, membuka buku sketsa, mulai menggambar lagi dengan pensil yang sudah pendek.
Xiao Han menghampiri. Langkahnya pelan, tidak ingin mengejutkan. “Boleh aku lihat?”
Anak itu menoleh. Wajahnya bulat, rambut diikat ke belakang dengan karet gelang biru. Matanya agak menyipit, bukan karena ragu, tapi karena terbiasa melihat sesuatu dari kejauhan.
“Apa?” Suaranya pelan, hampir tidak terdengar.
Xiao Han menunjuk buku sketsa. “Gambar itu. Lapangan sepak bola, kan?”
Anak itu menunduk, tangannya bergerak cepat menutup buku. Tapi sebelum tertutup, Xiao Han sempat melihat lebih jelas. Bukan hanya lapangan. Ada nomor-nomor punggung, formasi, panah-panah yang menunjukkan pergerakan. Itu bukan sekadar gambar. Itu analisis.
“Maaf, aku tidak bermaksud mengintip,” kata Xiao Han cepat. Ia menarik kursi kosong di depan meja, duduk membelakangi papan tulis. “Aku Xiao Han, asisten pelatih tim sepak bola sekolah.”
“Aku tahu.”
Xiao Han mengerjap. “Kau tahu?”
Anak itu tetap diam. Dia membuka buku sketsa lagi, kali ini dengan sengaja. membalikan ke halaman pertama, memperlihatkan gambar yang lebih tua, lebih kusam. Sebuah stadion. Kerumunan. Pemain berseragam hijau berlari di lapangan.
“Zhejiang Professional FC,” kata Xiao Han. “Kau menggambar ini?”
“Tahun lalu. Waktu masih ada tim.”
Setahun lalu? Xiao Han mengingat informasi dari Chen Hao. Tim sepak bola Xuejun bubar setahun lalu karena kekurangan anggota, senior-senior yang ingin lulus, Maling'sheng yang masih duduk di kursi kelas 8. Jika anak ini sudah menggambar sejak saat itu, berarti ia sudah lama terhubung dengan sepak bola.
“Namamu?”
“Chen Lili.”
“Kau suka sepak bola?”
Chen Lili tidak menjawab. Dia membalik halamannya lagi. Kali ini gambar yang lebih personal, dua orang yang sedang bermain bola di lapangan belakang sekolah. Satu lebih tinggi, satu lebih pendek. Kakak-beradik, mungkin, dilihat dari posturnya.
“Itu kakakku,” kata Chen Lili. “Dia yang mengajariku. Sekarang dia di SMA, tidak pernah main lagi. Sibuk belajar.”
Xiao Han diam. Dia tahu perasaan itu. Kehilangan teman bermain. Kehilangan seseorang yang mengerti.
Tapi ... ini seperti Shen Yuexi yang dirinya tinggal kala lulus SD untuk sepak bola.
“Kau tidak bermain dengan teman-teman?”
“Tidak ada yang mau. Sekolah ini perempuannya sedikit. Yang suka bola cuma aku. Laki-laki juga tidak mau main sama aku.”
Alasannya sederhana. Dan menyakitkan.
Xiao Han mengingat Wei Ying yang dulu juga bermain sendirian, sampai ia bertemu Xiao Han di halte bus. Wei Ying beruntung karena ia laki-laki, karena ada tim yang menerimanya. Chen Lili tidak punya itu.
“Sekarang ada tim lagi,” kata Xiao Han. “Kami punya delapan anggota. Latihan setiap sore. Kau bisa ikut.”
Chen Lili menatapnya. Matanya tidak berbinar seperti Wei Ying saat pertama kali mendengar tawaran. Hanya ada keraguan.
“Aku perempuan.”
“Analisa taktis, dan hal yang berhubungan dengan sepak bola.” kata Xiao Han, dirinya lebih berpikir untuk perkembangan tim jangka panjang, manajemen ekskul. “Kau mau jadi manajer kami? Mengatur kebutuhan tim? Mengelola keuangan. Karena kami sedang rekrontuksi total hingga sepak bola Hangzhou Xuejun hidup kembali.
“Tapi …” Ia menunduk, memainkan ujung pensil. “Pasti mereka akan menertawakan aku. Aku sudah coba sekali, waktu kelas 7. Kata mereka, perempuan tidak usah main bola.”
Xiao Han menarik napas. Luka masa lalu. Dia sudah melihatnya di Jiang Tao, dan sekarang di Chen Lili. Setiap anak yang berhenti bermain punya cerita sendiri. Tapi semuanya punya kesamaan, mereka berhenti bukan karena tidak suka, tapi karena lingkungan tidak memberi ruang.
“Kau tahu,” kata Xiao Han pelan. “Aku dulu cedera. Dokter bilang aku tidak bisa main bola lagi.”
Chen Lili mendongak.
“Aku hampir percaya. Tapi kemudian aku sadar, bukan kaki yang membuatku bisa main bola.” Xiao Han menunjuk kepalanya. Lalu menunjuk dadanya. “Tapi ini. Selama masih bisa berpikir dan merasa, aku masih ada di sepak bola.”
Xiao Han berdiri. “Tim kami tidak sempurna. Ada yang egois, ada yang baru belajar, ada yang belum bisa kontrol bola dengan baik. Tapi mereka datang setiap hari. Mereka mencoba. Dan tidak ada yang menertawakan siapa pun, aku memang tak bisa jadi pemain, tapi aku memilih melanjutkannya sebagai peran yang lain.”
Dia mengeluarkan selebaran dari saku, sebuah kertas fotokopian seadanya dengan tulisan Ekskul Sepak Bola Xuejun dan jam latihan.
“Coba datang sekali. Kalau tidak suka, kau tidak usah datang lagi, aku harap dirimu mau mempertimbangkan menjadi manajer kami.”
Ya, dengan adanya dia, Pak Chen dapat fokus melatih, kata Xiao Han dalam hati. Aku juga dapat fokus pada perkembangan individu.
Chen Lili menerima selebaran itu, dia tidak bilang iya, tidak juga bilang tidak, dia hanya menatap kertas itu lama, lalu menyimpannya di saku seragam.
Xiao Han tidak memaksa, dirinya sudah belajar dari Jiang Tao, paksaan hanya akan membuat mereka lari. Yang bisa dilakukan adalah memberi ruang, dan menunggu.