Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tulang Naga
Suara serak Jian Chen yang menggandakan harga tawaran bergema di seluruh penjuru aula lelang bawah tanah. Ribuan pasang mata, yang tersembunyi di balik jubah pengabur jiwa, serempak menoleh ke arah barisan tengah.
Pria berjubah abu-abu yang menawar lima ratus batu spiritual sebelumnya menegang. Aura dari Alam Pembentukan Fondasi miliknya tanpa sadar bocor keluar, mencoba menekan sosok Jian Chen dari kejauhan.
"Seribu dua ratus," geram pria itu, suaranya dipenuhi dengan ancaman pembunuhan yang tidak ditutupi. Di pasar gelap ini, menggunakan kekuatan untuk mengintimidasi penawar lain adalah hal yang lumrah.
Namun, Jian Chen bahkan tidak mengedipkan matanya. Tekanan aura Pembentukan Fondasi itu terasa seperti hembusan angin sepoi-sepoi saat menghantam kekokohan jiwa dan Meridian Primordial-nya.
"Dua ribu," balas Jian Chen seketika, suaranya tetap sedatar air danau yang membeku.
Aula lelang mendadak riuh oleh bisik-bisik. Dua ribu Batu Spiritual Tingkat Rendah untuk sebuah tulang busuk yang tak dikenali?! Itu adalah kekayaan yang cukup untuk membeli sebuah sekte pinggiran! Bahkan seorang tetua dari klan besar pun akan berpikir seratus kali lipat sebelum membuang harta sebanyak itu untuk benda yang tidak pasti.
Pria berjubah abu-abu itu menggertakkan giginya hingga terdengar bunyi retakan pelan. Ia menatap Jian Chen lekat-lekat, seolah ingin mengukir postur pemuda itu di dalam ingatannya, sebelum akhirnya mendengus kasar dan menjatuhkan diri kembali ke kursinya. Ia menyerah.
Nyonya Merah, sang pemandu lelang, tersenyum semringah hingga matanya menyipit menyerupai bulan sabit. "Dua ribu Batu Spiritual! Adakah yang berniat menawar lebih tinggi? Tiga... dua... satu! Terjual kepada Tuan di barisan tengah!"
Palu lelang diketukkan.
Tak lama kemudian, seorang pelayan menghampiri Jian Chen dengan nampan kayu. Jian Chen melemparkan sebuah Kantong Penyimpanan kecil berisi dua ribu Batu Spiritual yang telah ia siapkan, lalu mengambil tulang kuno yang menghitam itu.
Begitu jemarinya bersentuhan dengan permukaan kasar tulang tersebut, lautan jiwanya bergolak hebat. Darah Primordial di dalam dirinya berdegup layaknya genderang perang surgawi.
Tulang Naga Kekacauan, sebuah pemahaman purba tiba-tiba melintas di benak Jian Chen.
Jantungnya berdetak kencang di balik tulang rusuknya. Ini bukanlah tulang sembarang binatang iblis. Ini adalah serpihan tulang dari Naga Kekacauan, entitas purba yang berenang di lautan kehampaan kosmik jauh sebelum Sembilan Surga terbentuk! Tulang ini memiliki asal-usul yang sama tuanya dengan Darah Primordial miliknya. Jika ia bisa memurnikan esensi di dalamnya, fisik fana miliknya akan mengalami transformasi yang menentang kehendak langit.
Jian Chen segera memasukkan tulang itu ke dalam cincin penyimpanannya dengan wajah tanpa ekspresi, menahan luapan kegembiraan di hatinya.
Pelelangan berlanjut selama setengah waktu pembakaran dupa lagi, namun Jian Chen tidak lagi tertarik pada barang-barang fana lainnya. Begitu Nyonya Merah menutup perhelatan malam itu, Jian Chen segera bangkit dan melangkah keluar dari istana batu hitam.
Udara malam di lembah berbatu terasa menggigit tulang. Angin bersiul melewati celah-celah tebing tandus.
Jian Chen melangkah menjauh dari ilusi gerbang pelelangan. Baru sepuluh tombak ia berjalan, Indra Spiritual-nya yang terbentang sejauh lima ratus langkah seketika menangkap fluktuasi Qi pembunuh yang sangat pekat.
"Keluar. Ilmu sembunyimu terlalu kasar untuk mengelabui mataku," ucap Jian Chen dingin, menghentikan langkahnya di tengah tanah lapang berbatu.
Dari balik bayangan sebuah batu raksasa, sesosok pria melangkah keluar. Ia telah melepaskan jubah pengabur jiwanya, menampakkan wajah keriput dengan hidung bengkok menyerupai paruh burung pemakan bangkai. Ia adalah pria yang menawar tulang naga tadi di pelelangan.
"Intuisi yang luar biasa untuk seekor semut di Kondensasi Qi Tingkat Tujuh Puncak," pria tua itu, yang dikenal di dunia hitam sebagai Tetua Gagak Hitam, mencibir sinis. Aura Pembentukan Fondasi Tahap Awal meledak dari tubuhnya, mengunci seluruh jalan keluar. "Serahkan cincin penyimpananmu, dan aku akan bermurah hati membiarkan mayatmu utuh."
Jian Chen perlahan melepas jubah abu-abu pengabur jiwa dari tubuhnya, membiarkan jubah hitam kelamnya berkibar tertiup angin malam. Tangan kanannya menjangkau ke belakang, menggenggam erat gagang Pedang Penguasa Kosong yang masih terbalut kain rami.
"Alam Pembentukan Fondasi," Jian Chen menggumam pelan. "Kultivator yang telah memadatkan Qi mereka menjadi cairan spiritual sejati. Hari ini, biarkan aku melihat apakah leher kalian lebih keras dari batu giok."
Mendengar kesombongan yang melampaui batas nalar itu, wajah Tetua Gagak Hitam berubah beringas.
"Bocah yang tidak tahu seberapa tinggi langit dan setebal apa bumi! Mati kau!"
Tetua Gagak Hitam menerjang maju. Qi Pembentukan Fondasi yang berwarna hitam pekat memancar dari kedua tangannya, membentuk sepasang cakar raksasa yang meneteskan racun mematikan di udara.
"Seni Cakar Gagak Berbisa!"
Kecepatan dan tekanan dari serangan ahli Pembentukan Fondasi sepuluh kali lipat lebih mematikan dari siapa pun yang pernah dihadapi Jian Chen di Gelanggang Asura. Tanah di bawah cakar hantu itu meleleh mendesis.
Namun, Jian Chen tidak mundur sejengkal pun.
Meridian Primordial, buka!
Lautan Qi berwarna perak meletus di sekujur tubuh Jian Chen. Bersamaan dengan itu, tenaga fisik murni sebesar enam ribu kilogram mengalir deras dari sumsum tulang hingga ke telapak tangannya.
"Tarik!"
Dengan raungan rendah, Jian Chen menghunus Pedang Penguasa Kosong dari punggungnya. Kain rami yang membalutnya langsung hancur menjadi serpihan debu akibat gelombang Qi, menampakkan bilah hitam pekat selebar telapak tangan yang memancarkan beban layaknya sebuah gunung berukuran kecil.
Mata Jian Chen berkilat dengan niat pembantaian mutlak. "Seni Tebasan Kehancuran Bintang!"
Ia mengayunkan pedang seberat delapan ratus kilogram itu dari atas ke bawah, membelah malam. Tidak ada cahaya yang menyilaukan dari pedang tersebut; ia murni menelan cahaya di sekitarnya. Namun, kekuatan fisik enam ribu kilogram yang dipadukan dengan teknik tingkat Bumi menghasilkan daya hancur yang memutarbalikkan nalar manusia.
Tebasan itu berbenturan langsung dengan Cakar Gagak Berbisa.
BOOOOOOM!!!
Ledakan dahsyat merobek lembah tandus tersebut. Gelombang kejutnya menyapu bebatuan raksasa hingga menggelinding sejauh puluhan tombak.
Mata Tetua Gagak Hitam melotot lebar hingga ujung sarafnya nyaris putus. Cakar Qi Pembentukan Fondasi yang ia banggakan hancur berkeping-keping layaknya kaca rapuh saat bersentuhan dengan pedang hitam itu.
"T-Tidak mungkin! Tenaga fisik macam apa—?!"
Pekikannya terputus. Pedang Penguasa Kosong tidak melambat sedikit pun. Bilah hitam itu melaju, menghancurkan pelindung Qi murni di dada pria tua itu, dan menebas tubuhnya menyilang dari bahu kiri hingga ke pinggang kanan.
CRAAAT!
Hujan darah mengguyur tanah tandus. Tubuh seorang ahli Pembentukan Fondasi, sosok yang disembah sebagai dewa oleh manusia biasa dan dihormati sebagai tetua di sekte besar, terbelah menjadi dua bagian dalam satu tebasan tunggal!
Jian Chen berdiri tegak di tengah hujan darah tersebut. Napasnya terengah-engah, otot-otot lengannya bergetar hebat. Menggunakan Seni Tebasan Kehancuran Bintang dengan kekuatan penuh memberikan beban balik yang luar biasa, namun fondasi tulangnya yang telah ditempa Darah Primordial menahannya dengan sempurna tanpa ada tulang yang retak.
Ia menancapkan pedang raksasanya ke tanah dan segera mengulurkan tangannya ke arah dua potongan mayat tersebut.
"Seni Melahap Surga Primordial—LUMATKAN!"
Pusaran di Dantiannya merintih gembira yang luar biasa liar. Ini adalah pertama kalinya pusaran itu menelan esensi dari seorang ahli Pembentukan Fondasi!
Cairan spiritual sejati yang terkandung di dalam meridian mayat itu disedot keluar secara paksa. Energi yang luar biasa murni dan tebal membanjiri tubuh Jian Chen, menyirami sel-selnya bagai hujan embun keabadian.
Hanya dalam waktu kurang dari setengah batang dupa, mayat Tetua Gagak Hitam telah mengering menjadi mumi debu yang berserakan ditiup angin.
Jian Chen memejamkan mata, merasakan energi spiritualnya yang kini mendidih di puncak batas fana, menabrak berulang kali ke dinding transparan yang memisahkan Alam Kondensasi Qi dan Pembentukan Fondasi.
"Luar biasa... Namun, Dantian pusaranku terlalu lebar. Esensi dari satu ahli Pembentukan Fondasi baru cukup untuk mengisi celah kekosonganku di Tingkat Tujuh Puncak," Jian Chen membuka matanya, tidak kecewa melainkan semakin bersemangat.
Ia mengambil cincin penyimpanan milik mayat itu, menyarungkan pedangnya kembali ke punggung, dan memandang ke arah Puncak Awan Awan di kejauhan.
"Pertarungan malam ini hanyalah pemanasan," ucapnya pelan, membelai tulang Naga Kekacauan di dalam cincinnya. "Begitu aku memurnikan tulang naga ini... bahkan Pembentukan Fondasi Tahap Puncak sekalipun hanya akan menjadi rumput liar di hadapan pedangku."