bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi
itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia
ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hilang fokus
Siang itu, suasana kantor tetap berjalan seperti biasa.
Ruang meeting penuh dengan orang-orang penting.
Presentasi berjalan.
Angka-angka ditampilkan.
Suara diskusi terdengar silih berganti.
Namun—
Yoga tidak benar-benar ada di sana.
Tatapannya kosong.
Beberapa kali ia melamun, bahkan saat namanya dipanggil.
“Yoga?”
Suara salah satu direksi membuatnya tersentak.
“Iya… maaf, lanjutkan.”
Ia mencoba fokus.
Namun pikirannya terus kembali—
ke rumah sakit.
Ke Arabella.
Ke wajah gadis itu yang penuh kecemasan.
Ke tangisan yang ia lihat sendiri.
Dan fakta bahwa sekarang—
ia meninggalkannya sendirian.
Meeting terasa sangat panjang.
Hingga akhirnya selesai.
—
Yoga langsung kembali ke ruangannya.
Ia menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi.
Tangannya menutup wajahnya.
“Kenapa jadi begini…”
Belum sempat ia berpikir lebih jauh—
pintu ruangannya diketuk.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Ayahnya masuk.
Tatapannya langsung tertuju pada Yoga.
“Kamu tidak fokus tadi.”
Bukan pertanyaan.
Pernyataan.
Yoga mengangkat wajahnya.
Sedikit terdiam.
“Maaf, Pa.”
Ayahnya mendekat.
“Ada apa?”
Yoga menghela napas.
Sejenak ia ragu.
Namun akhirnya ia bicara.
“Ibunya Arabella masuk rumah sakit.”
Ayahnya mengernyit.
“Arabella?”
Yoga mengangguk.
“Operasi jantung. Kondisinya cukup parah.”
Ekspresi ayahnya berubah lebih serius.
Yoga melanjutkan, suaranya lebih pelan.
“Tadi pagi aku yang bawa dia ke rumah sakit.”
Ia menunduk.
“Sekarang dia sendirian di sana.”
Ayahnya menatapnya dalam.
“Kamu khawatir.”
Yoga tidak menjawab.
Namun jelas terlihat.
“Saya ninggalin dia buat meeting tadi…”
Suaranya terdengar menyesal.
“Padahal dia lagi butuh.”
Hening sejenak.
Ayahnya menghela napas pelan.
“Kamu sudah melakukan yang benar.”
Yoga mengangkat wajahnya.
“Pekerjaan juga tanggung jawab kamu.”
Yoga menggenggam tangannya.
“Tapi rasanya… salah.”
Ayahnya menepuk bahunya.
“Kadang hidup memang memaksa kita memilih.”
Kalimat itu sederhana—
namun terasa berat.
Ayahnya melanjutkan,
“Sayangnya, kali ini Papa tidak bisa banyak membantu.”
Yoga menatapnya.
“Malam ini kita harus ke luar negeri.”
Yoga sedikit terkejut.
“Secepat itu?”
Ayahnya mengangguk.
“Ada urusan bisnis penting yang tidak bisa ditunda.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan,
“Ibumu juga ikut.”
Yoga terdiam.
Berarti…
tidak ada yang bisa datang menjenguk.
Ayahnya melanjutkan dengan nada lebih lembut,
“Sampaikan salam Papa dan Mama untuk ibunya Arabella.”
“Dan… minta maaf karena belum bisa menjenguk.”
Yoga mengangguk pelan.
“Iya, Pa.”
“Oh ya,” lanjut ayahnya, “Kania juga sudah kembali ke Belanda pagi tadi. Kuliahnya mulai lagi.”
Yoga menarik napas panjang.
Semuanya terasa… bertepatan.
Di saat seperti ini.
“Jadi untuk sementara… kamu yang harus mengurus semuanya di sini.”
Yoga mengangguk lagi.
Namun pikirannya tetap sama.
Arabella.
Sendirian di rumah sakit.
Menunggu ibunya sadar.
Ayahnya menatapnya sekali lagi.
“Apa kamu yakin bisa fokus kerja?”
Yoga terdiam.
Lalu menjawab jujur,
“Tidak.”
Ayahnya sedikit tersenyum tipis.
“Kalau begitu, selesaikan yang penting saja.”
Yoga menatapnya.
“Dan setelah itu…”
Ayahnya memberi jeda.
“…pergilah ke tempat yang menurut kamu lebih penting.”
Yoga terdiam.
Kata-kata itu…
seolah memberi izin.
Ia mengangguk pelan.
“Terima kasih, Pa.”
Ayahnya menepuk bahunya sekali lagi.
Lalu berbalik dan keluar dari ruangan.
—
Setelah pintu tertutup—
Yoga langsung mengambil ponselnya.
Menatap layar beberapa detik.
Nama itu terlintas lagi.
Arabella.
Ia menghela napas panjang.
Dalam hatinya hanya satu hal—
ia ingin segera kembali.
Karena sekarang…
ia sadar.
Yang membuatnya tidak tenang—
bukan hanya rasa tanggung jawab.
Tapi juga—
perasaan yang mulai tumbuh.
Dan kali ini…
ia tidak bisa lagi menyangkalnya.
Yoga buru buru menekan dan mengukir ponsel nya menghubungi Rafi untuk mengurus pekerjaan kantornya sementara
Rafi bekerja sebagai asisten ke satu yoga yang ia percayai untuk menggantikannya disaat keadaan mendesak seperti sekarang
Yoga memiliki 2 assisten yang berbeda jenis pekerjaan nya
Yoga tidak ingin berlama-lama di sana.
Tangannya bergerak cepat, hampir tanpa berpikir.
Nama itu langsung ia pilih.
Panggilan tersambung.
Beberapa detik…
“Ya, Yo?”
Suara santai Rafi terdengar dari seberang.
“Fi, lo lagi di mana?”
“Di kantor. Kenapa?”
Nada suara Yoga berubah lebih serius.
“Gue butuh bantuan.”
Rafi langsung menangkap nada itu.
“Serius banget. Ada apa?”
Yoga menarik napas.
“Gue harus keluar sekarang. Ada urusan penting.”
“Meeting tadi belum kelar semua, Yo.”
“Gue tahu.”
Suaranya tegas.
“Tolong handle sisanya.”
Rafi terdiam sejenak.
Jarang sekali Yoga bicara seperti ini.
“Ini soal cewek itu, ya?”
Yoga tidak langsung menjawab.
Namun diamnya sudah cukup.
Rafi menghela napas pelan.
“Di rumah sakit?”
“Iya.”
Jawaban singkat.
“Tadi operasi ibunya. Sekarang dia sendirian.”
Rafi langsung paham.
“Oke.”
Tanpa banyak tanya lagi.
“Gue ambil alih.”
Yoga sedikit lega.
“Thanks, Fi.”
“Tapi lo yakin mau ninggalin semua ke gue?”
Yoga menatap meja di depannya.
Lalu menjawab pelan tapi pasti,
“Yang ini lebih penting.”
Rafi tersenyum kecil di seberang.
“Gue udah bilang, Yo…”
“Apa?”
“Itu bukan lagi sekadar perjanjian.”
Yoga terdiam.
Kalimat itu…
kembali menampar kenyataan.
“Udah, gue berangkat sekarang.”
Rafi tidak melanjutkan.
“Pergi sana. Jangan bikin cewek lo nunggu lama.”
Panggilan terputus.
—
Yoga langsung berdiri.
Tanpa pikir panjang, ia meraih jasnya.
Langkahnya cepat keluar dari ruangan.
Pikirannya hanya satu—
kembali ke rumah sakit.
Kembali ke Arabella.
Karena sekarang—
ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Meninggalkannya sendirian…
saat ia sedang paling membutuhkan.
...****************...
Panggilan itu terputus.
Rafi masih memegang ponselnya beberapa detik lebih lama.
Tatapannya kosong.
Seolah sedang mencerna sesuatu.
“Yoga… ninggalin kerjaan?”
Ia menghela napas pelan.
Masih sulit dipercaya.
Baru saja ia ingin kembali ke meja kerjanya—
suara langkah kaki mendekat.
“Fi.”
Rafi menoleh.
Andre.
Sahabat sekaligus asisten kedua Yoga itu berdiri dengan wajah penasaran.
“Dari tadi gue lihat lo bengong. Ada apa?”
Rafi tersadar.
Ia memasukkan ponselnya ke saku.
“Yoga cabut.”
Andre mengernyit.
“Cabut? Ke mana?”
“Rumah sakit.”
Ekspresi Andre langsung berubah.
“Serius?”
Rafi mengangguk.
“Dia ninggalin semua meeting.”
Andre hampir tidak percaya.
“Tunggu… ini Yoga yang sama?”
Rafi tersenyum tipis.
“Iya. Yang lo kenal itu.”
Andre menggeleng pelan, masih mencerna.
“Gue kira dia itu tipe yang lebih milih kerjaan daripada apa pun.”
Rafi bersandar di meja.
“Gue juga.”
Ia menghela napas.
“Tapi ternyata… nggak sekarang.”
Andre menyilangkan tangan.
“Karena cewek itu?”
Rafi mengangguk.
“Arabella.”
Andre menatap Rafi dalam.
“Sejauh itu?”
Rafi tersenyum kecil, tapi kali ini ada arti lain di baliknya.
“Lebih jauh dari yang kita kira.”
Andre terdiam sejenak.
Lalu tertawa pelan, sedikit tidak percaya.
“Gila… bos kita berubah.”
Rafi ikut tertawa kecil.
“Bukan berubah…”
Ia menatap ke arah pintu, seolah melihat bayangan Yoga yang tadi pergi.
“…tapi akhirnya nemu alasan buat berubah.”
Andre mengangkat alis.
“Dan lo yakin ini bukan sekadar main-main?”
Rafi langsung menggeleng.
“Kalau cuma main-main, dia nggak akan ninggalin kerjaan sepenting ini.”
Hening sejenak.
Andre mengangguk pelan.
“Berarti serius.”
Rafi menatapnya.
“Sangat.”
Andre menarik napas panjang.
“Yaudah… berarti kita yang harus beresin semuanya di sini.”
Rafi menepuk bahu Andre.
“Welcome to hell.”
Andre mendengus kecil.
“Gue baru juga mau santai hari ini.”
Rafi tersenyum tipis.
“Lupakan.”
Ia berjalan ke arah meja kerja.
“Sekarang kita jadi Yoga sementara.”
Andre mengikutinya.
“Dan itu berarti?”
Rafi menoleh sebentar.
“Kerja tanpa ampun.”
Andre menghela napas panjang.
“Ya ampun…”
Meski begitu, keduanya langsung mulai bekerja.
Mengambil alih semua yang ditinggalkan.
Rafi duduk di kursinya, mulai membuka berkas-berkas yang ditinggalkan Yoga.
Sementara Andre berdiri di samping meja, masih menggeleng pelan.
“Gue masih nggak percaya sih,” gumam Andre.
Rafi melirik sekilas.
“Apanya?”
“Yoga.”
Andre mendengus pelan.
“Bos kita yang super workaholic itu… tiba-tiba cabut demi cewek.”
Rafi tersenyum tipis tanpa mengangkat kepala.
“Lo pikir gue lebih percaya?”
Andre berjalan mondar-mandir kecil.
“Dulu siapa yang bilang, ‘kerjaan dulu, urusan lain belakangan’?”
Rafi langsung menjawab,
“Yoga.”
“Sekarang?” Andre mengangkat tangan.
“Kerjaan ditinggal. Meeting dilempar ke kita.”
Rafi akhirnya bersandar di kursinya.
“Ya… hidup kadang suka ngebalik orang.”
Andre menghela napas panjang.
“Yang kena dampaknya kita.”
Rafi tertawa kecil.
“Itu juga bener.”
Andre menjatuhkan tubuhnya ke kursi di depan meja.
“Gue kira hari ini bisa agak santai…”
Ia menatap tumpukan berkas di meja.
“Nyatanya… malah jadi hari paling sibuk.”
Rafi mengangguk setuju.
“Selamat datang di kehidupan Yoga.”
Andre mendengus.
“Kalau tiap hari begini, gue angkat tangan.”
Rafi tersenyum.
“Tenang. Ini cuma sementara.”
Andre menatapnya.
“Lo yakin?”
Rafi terdiam sebentar.
Lalu menjawab pelan,
“…nggak juga.”
Andre langsung menatapnya tajam.
“Wah, bahaya.”
Rafi menghela napas.
“Kalau dia udah sejauh ini… gue rasa ini bukan hal yang gampang selesai.”
Andre mengusap wajahnya.
“Artinya… kita harus siap jadi ‘backup system’ dia?”
Rafi mengangguk santai.
“Kurang lebih.”
Andre menatap langit-langit.
“Gila… cinta emang bisa ngerusak sistem kerja orang ya.”
Rafi tertawa kecil.
“Bukan ngerusak…”
Ia menatap Andre.
“…ngubah prioritas.”
Andre terdiam.
Kalimat itu cukup masuk akal.
Namun tetap saja—
“Ya tapi jangan pas lagi sibuk-sibuknya juga kali…” keluh Andre.
Rafi berdiri, meraih beberapa berkas.
“Udah lah. Ngomel juga nggak bakal ngubah apa-apa.”
Ia menyerahkan sebagian berkas ke Andre.
“Kerja.”
Andre menerima dengan wajah pasrah.
“Iya… iya…”
Ia membuka berkas itu dengan malas.
“Kalau nanti dia balik, gue tagih traktiran besar.”
Rafi tersenyum.
“Setuju.”
Andre menggeleng sambil mulai membaca.
“Tapi serius ya…”
Rafi menoleh.
“Apalagi?”
Andre menyeringai tipis.
“Gue penasaran sama cewek yang bisa bikin Yoga kayak gini.”
Rafi ikut tersenyum.
“Lo nggak sendiri.”
Mereka berdua kembali fokus ke pekerjaan.
Namun di balik keluhan dan candaan itu—
ada satu hal yang sama-sama mereka sadari.
Kali ini…
Yoga benar-benar berbeda.
Dan perubahan itu—
tidak akan mudah kembali seperti semula.