Di mata dunia, Michael Brown atau Kay adalah pewaris tunggal Brown Group yang angkuh dan bad boy penggila balap liar. Namun, di balik gelar playboy palsunya, Kay menyimpan rahasia: ia telah lama memperhatikan Paris Desmon, gadis pendiam yang menjadi satu-satunya ketenangan di tengah kepalsuan sekolah elit mereka.
Dunia Kay terguncang saat ia mengetahui bahwa sahabatnya, Luciano Russo, menjadikan Paris sebagai objek eksperimen emosional demi memuaskan rasa penasaran liar Max. Kay terpaksa menyaksikan dari bayang-bayang saat Luciano berbohong telah meniduri Paris hanya demi gengsi, sementara Paris sendiri tetap tulus mencintai Luciano tanpa tahu dirinya sedang dipermainkan.
Terjebak dalam kode etik persahabatan dan rasa sesak melihat gadis yang ia kagumi dirusak secara mental, Kay menghadapi pilihan sulit: Tetap diam sebagai penonton yang dingin, atau menghancurkan reputasi "Tiga Pilar" demi menyelamatkan Paris dari kehancuran yang direncanakan sahabatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pagi di Manhattan disambut dengan langit abu-abu yang muram, namun atmosfer di koridor St. Jude’s Academy terasa berbeda. Ada pergeseran energi yang tidak kasat mata, sebuah riak di permukaan air yang biasanya tenang.
Paris Desmon melangkah melewati gerbang besi sekolah dengan dagu yang sedikit lebih terangkat. Hari ini, ia meninggalkan perisainya. Tidak ada sweater rajut kebesaran yang menelan tubuhnya. Ia hanya mengenakan seragam resmi St. Jude’s—kemeja putih pas badan yang disetrika sempurna dengan rok tartan biru tua yang menunjukkan siluet tubuhnya yang ramping dan jenjang. Rambut cokelatnya yang biasa ia biarkan menutupi wajah, kini ia kuncir kuda dengan rapi, menonjolkan garis lehernya yang halus.
Perubahan itu kecil, namun bagi mata yang jeli, itu adalah sebuah pernyataan perang terhadap rasa rendah diri.
Di barisan depan kelas sejarah, Luciano Russo yang sedang membuka buku teksnya mendadak terpaku. Ia melihat Paris berjalan menuju bangkunya di baris tengah. Matanya menyusuri sosok gadis itu dengan intensitas yang tak bisa ia sembunyikan. Ada sesuatu yang bergejolak di dadanya—sebuah pengakuan objektif bahwa Paris Desmon memang cantik. Sangat cantik.
Luciano segera menunduk, merogoh ponselnya di bawah meja dengan gerakan yang mekanis.
Mine: Kau cantik hari ini, babe.
Ia mengirimkan pesan itu tanpa emosi yang meluap-luap. Di balik sikap dingin dan kecerdasannya yang melampaui rata-rata, Luciano sejujurnya belum memahami arti cinta. Baginya, kata-kata manis hanyalah instrumen untuk menjaga agar "laboratorium emosinya" tetap berjalan stabil. Ia menikmati kenyamanan yang diberikan Paris, tapi hatinya masih terasa seperti ruang hampa yang tertutup rapat oleh rumus-rumus logika.
Di baris tengah, Paris merasakan ponselnya bergetar. Ia membacanya dan tersenyum tipis ke arah punggung Luciano. Ia merasa keberaniannya semalam membuahkan hasil. Ia merasa dicintai.
Jam makan siang tiba, dan kantin kembali menjadi panggung drama kelas atas. "Tiga Pilar" duduk di meja eksklusif mereka. Max, dengan senyum ramahnya yang menipu, mencondongkan tubuh ke arah Luciano. Matanya berkilat penuh rasa ingin tahu yang predator.
"Jadi, bagaimana semalam?" bisik Max, suaranya rendah namun tajam. "Berhasil?"
Luciano terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana Paris menolaknya dengan kelembutan yang bijaksana semalam. Ia teringat betapa malunya ia saat menyadari ia hampir menjadi budak nafsu atas saran Max. Namun, di depan Max, Luciano tidak ingin terlihat lemah atau gagal. Ia tidak ingin harga dirinya sebagai seorang Russo jatuh di hadapan si Liar Max.
"Tentu saja berhasil," jawab Luciano datar, suaranya tenang tanpa keraguan.
Max melebarkan senyumnya, sebuah ekspresi kemenangan yang gelap. Ia merangkul bahu Luciano dengan akrab, seolah mereka baru saja memenangkan liga besar. "Wah, wah. Hebat juga kau, sang jenius. Beri tahu aku detailnya... berapa kali pelepasan?"
Luciano menyesap air mineralnya perlahan, otaknya bekerja cepat mengarang data fiktif untuk memuaskan rasa haus teman di sampingnya. "Dua kali," jawabnya asal, dengan nada yang begitu meyakinkan hingga siapapun akan mempercayainya.
Max tertawa keras, menepuk-nepuk bahu Luciano. "Wah, wah! Kau tidak bisa melupakan rasanya, kan? Apa kubilang, Luciano. Sekali kau mencicipi kemurnian itu, angka-angka di buku matematikamu akan terasa hambar. Selamat datang di dunia nyata, sobat."
Di sebelah mereka, Kay yang sejak tadi hanya menyimak sambil memutar-mutar garpunya, menggelengkan kepala dengan rasa jijik yang nyata. Wajahnya mengeras, menatap Luciano seolah laki-laki di sampingnya itu adalah orang asing yang mengerikan.
"Kau sudah gila, Luciano," desis Kay. "Kau benar-benar melakukannya? Kau merusak gadis itu hanya untuk membuktikan teori sampah Max?"
Luciano menatap Kay dengan tatapan kosong. "Itu bukan urusanmu, Kay."
"Lalu apa?" Kay mencondongkan tubuh, suaranya penuh ancaman. "Apa kau akan melepaskannya setelah ini? Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau, kan? Buang dia sekarang sebelum keluargamu mencium bau busuk ini."
Luciano terdiam sejenak. Pikirannya melayang pada kehangatan tangan Paris yang menggenggamnya semalam, pada cara gadis itu menyemangatinya untuk fokus pada olimpiade alih-alih memuaskan hasrat sesaat.
"Tidak," jawab Luciano tegas. "Aku tidak akan melepaskannya."
"Kenapa?" tanya Max dengan nada menggoda. "Masih ingin ronde tambahan?"
"Aku nyaman bersamanya," jawab Luciano pendek. Dan kali ini, ada setitik kejujuran yang terselip dalam kalimatnya, meski ia sendiri belum mampu mengidentifikasi bahwa rasa nyaman itu adalah benih dari sesuatu yang lebih dalam.
Max kembali tertawa terbahak-bahak, menarik perhatian beberapa siswa di meja sekitar.
"Lihat itu! Sang pangeran es kita akhirnya mencair karena kehangatan seorang gadis pendiam. Aku bilang juga apa, sensasi itu candu, Luciano. Kau tidak akan pernah bisa lepas darinya sekarang."
Di meja lain, Paris sedang makan bersama Delaney. Ia merasa sangat bahagia hari ini. Ia merasa hubungannya dengan Luciano telah naik ke tingkat yang lebih dewasa karena mereka mampu melewati godaan semalam tanpa merusak masa depan.
"Kenapa kau senyum-senyum terus?" tanya Delaney curiga. "Dan kenapa hari ini kau sangat... glow up? Apa ada sesuatu yang terjadi yang tidak kau ceritakan padaku?"
"Tidak ada, Delaney. Aku hanya merasa lebih percaya diri saja," jawab Paris dengan binar mata yang tak bisa disembunyikan.
Paris tidak tahu bahwa beberapa meter darinya, di meja "Tiga Pilar", namanya sedang dijadikan bahan taruhan dan kebohongan. Ia tidak tahu bahwa Luciano, pria yang ia anggap sebagai pelindungnya, baru saja menjual harga dirinya dalam sebuah cerita fiktif demi menjaga gengsi di depan teman-temannya.
Kay berdiri dari meja dengan kasar, membuat kursinya berdecit nyaring di atas lantai marmer. Ia menatap Luciano untuk terakhir kalinya sebelum pergi.
"Jangan datang padaku saat kau sadar kau telah menghancurkan satu-satunya hal tulus dalam hidupmu, Luciano," ucap Kay dingin sebelum melangkah pergi meninggalkan kantin.
Luciano hanya menatap punggung Kay yang menjauh, lalu kembali menatap iPad-nya. Namun kali ini, angka-angka di layar itu tampak kabur. Di dalam hatinya, sebuah konflik mulai bergejolak. Ia merasa menang di depan Max, tapi ia merasa ada sesuatu yang retak di dalam dirinya setiap kali ia membayangkan wajah tulus Paris.
Eksperimen ini masih berlanjut, namun Luciano mulai menyadari bahwa dalam permainan emosi, variabel yang paling sulit dikendalikan bukanlah subjeknya, melainkan dirinya sendiri.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
lnjut Thor yg bnyk yh 🥰😍