“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”
Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.
— Cinta Ribuan Duri —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 – Panggilan yang Terasa Jauh
Pagi datang terlalu cepat bagi Ardila.
Ia hampir tidak tidur semalaman.
Bekas tamparan di pipinya memang sudah tidak terlalu terasa sakit, tapi ingatannya tentang kejadian semalam masih jelas seperti luka yang belum sempat mengering.
Ardila berdiri di depan cermin kamar mandi.
Ia menyentuh pipinya perlahan.
Masih sedikit kemerahan.
Ia menarik napas panjang lalu mengambil sedikit bedak untuk menutupinya. Bukan karena ingin terlihat cantik.
Tapi karena ia tidak ingin orang lain bertanya.
Beberapa menit kemudian Ardila turun ke ruang makan.
Aroma makanan sudah memenuhi ruangan.
Di meja makan, orang tua Rafa sudah duduk di sana.
Ibu Rafa menuangkan teh hangat ke dalam cangkir, sementara ayahnya membaca koran dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung.
Rafa juga sudah duduk di kursinya.
Wajahnya terlihat biasa saja.
Seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
Ardila menahan napas sebentar sebelum akhirnya duduk.
“Pagi, Ma… Pa…” sapanya pelan.
Ibunya Rafa mengangguk kecil.
“Pagi.”
Pembantu rumah itu baru saja meletakkan beberapa piring sarapan di meja. Nasi goreng, telur, dan beberapa potong buah tersusun rapi.
Ardila menatap meja itu sebentar.
Rumah ini sebenarnya tidak pernah kekurangan apa pun.
Bahkan ada pembantu yang setiap hari mengurus hampir semua pekerjaan rumah.
Tapi entah kenapa… Ardila merasa kehadirannya tetap dianggap kurang.
Ia baru saja ingin mengambil sendok ketika suara ayah Rafa terdengar.
“Dila.”
Ardila langsung menoleh.
“Iya, Pa?”
Ayah Rafa menurunkan korannya.
“Kamu kerja hari ini?”
Ardila mengangguk.
“Iya, Pa. Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.”
Kalimat itu baru saja keluar ketika Rafa tiba-tiba tertawa pendek.
Ardila menoleh ke arahnya.
“Tentu saja kerja,” kata Rafa dengan nada datar.
Ibunya Rafa mengerutkan kening sedikit.
“Maksud kamu?”
Rafa menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Sejak menikah, kerjaannya cuma kerja.”
Ardila langsung menatapnya.
Nada itu.
Nada yang sama seperti semalam.
“Aku cuma menjalankan pekerjaanku,” kata Ardila pelan.
Rafa menatapnya sekilas.
“Kamu ini istri.”
Ibunya Rafa ikut menatap Ardila sekarang.
“Seorang istri harusnya lebih memperhatikan rumah.”
Ardila menggenggam sendoknya pelan.
“Tapi di rumah ini ada pembantu, Ma.”
Ia berkata dengan hati-hati.
“Semuanya sudah diurus.”
Ibunya Rafa menghela napas kecil.
“Itu bukan alasan.”
Ayah Rafa ikut bicara sekarang.
“Seorang istri tetap punya tanggung jawab di rumah.”
Suasana meja makan berubah tegang.
Ardila menatap Rafa.
Ia berharap setidaknya lelaki itu mengatakan sesuatu.
Menjelaskan.Atau sekadar tidak ikut menyudutkannya.Tapi Rafa hanya mengambil minumannya.Seolah percakapan ini tidak ada hubungannya dengan dirinya.Ardila akhirnya berkata pelan, “Mas…”Kata itu keluar begitu saja.
Ia selalu memanggil Rafa seperti itu.Sejak awal pernikahan mereka.
Bagi Ardila, panggilan “Mas” bukan sekadar kebiasaan. Itu adalah bentuk penghormatan kepada suami. Di keluarganya, seorang istri memang biasa memanggil suaminya dengan sebutan itu.
Tanda hormat.
Tanda bahwa ia mengakui posisi lelaki itu sebagai kepala rumah tangga. Walaupun usia mereka tidak terlalu jauh.
“Mas, aku tetap menjalankan tanggung jawabku.”
Rafa menoleh. Tatapannya dingin. “Oh ya?”
“Aku tetap pulang ke rumah. Aku tetap melakukan apa yang harus aku lakukan.”
Rafa tertawa kecil lagi.
“Kamu serius?”
Ardila mengerutkan kening.
“Apa maksud Mas?”
Rafa menatapnya lurus.
“Dua hari menikah, kamu sudah sibuk dengan pekerjaanmu.”
Ibunya Rafa mengangguk pelan.
“Seharusnya kamu lebih fokus pada rumah tangga dulu.”
Ardila menahan napasnya.
“Aku tidak meninggalkan rumah.”
Rafa meletakkan sendoknya di meja.
“Tapi kamu juga tidak benar-benar ada di rumah ini.”
Kalimat itu terasa seperti tuduhan.
Ardila menatap Rafa dengan mata yang mulai terasa panas.
Ia ingin mengatakan banyak hal.
Tentang bagaimana Rafa bahkan tidak pernah benar-benar berbicara dengannya sejak mereka menikah.
Tentang bagaimana ia pulang larut setiap malam.
Tentang bagaimana ia bahkan…
Ardila menahan kata-kata itu di dalam kepalanya.
Ia tidak ingin membuka semuanya di depan orang tua mereka.
“Aku hanya bekerja,” katanya akhirnya.
Nada suaranya lebih pelan sekarang.
Rafa menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kadang aku heran.”
Ardila menatapnya.
“Kenapa?”
Rafa tersenyum tipis.
Senyum yang tidak terasa hangat.
“Kenapa kamu menikah kalau akhirnya kamu lebih memilih pekerjaanmu.”
Suasana meja makan menjadi sangat sunyi.
Ibunya Rafa terlihat tidak nyaman.
Ayahnya kembali mengangkat koran, seolah tidak ingin ikut lebih jauh dalam percakapan itu.
Ardila menatap Rafa lama.
Kemudian ia berkata pelan,
“Aku menikah bukan untuk berhenti menjadi diriku.”
Rafa tidak langsung menjawab.
Tatapannya tetap dingin.
Dan untuk pertama kalinya sejak sarapan itu dimulai…
Ardila merasa panggilan “Mas” yang ia ucapkan tadi terasa begitu jauh.
Seolah hubungan di antara mereka hanyalah sebuah formalitas.
Bukan kedekatan.
Bukan juga kehangatan.
Hanya dua orang yang dipaksa berada di dalam satu rumah… tanpa benar-benar saling memahami.