AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 11
"Kak, kenapa sih sampai segitunya ? Nggak perlu marah-marah seperti tadi, harusnya ngomong saja baik-baik."
Di dalam mobil yang di kendarai supir pribadi, Audrey langsung protes soal kejadian di meja makan tadi.
"Jangan asal memberikan nomor ponselmu pada orang lain!!"
"Orang lain ? Orang lain yang mana ? Satu-satunya orang lain bagi ku cuma kamu!!" Pekik Audrey sambil membuang pandangan dengan tangan yang terlipat di dada.
Wira diam, dia tak lagi mendebat Audrey sebab pandangannya fokus pada Ipad di tangan dengan alis yang nyaris bertaut.
Mobil berhenti di depan kampus. Audrey mau langsung turun tapi tangannya di cekal Wira.
"Pulang jam berapa ?"
"Tidak tahu!"
"Pastikan!"
Audrey menoleh. Sungguh dia sangat gemas pada sang suami yang sifat nya lebih-lebih dari Kak Vincent yang terkenal dingin.
"Aku tidak tahu!! Aku mau survei lokasi, bisa jadi sampai malam."
"Baiklah." Sahut Wira sambil melepas tangan Audrey.
Setelah itu Audrey pun langsung turun dan masuk ke gerbang kampus tanpa menoleh lagi ke belakang.
🏵️
Di perusahaan..
Ketika mengetahui Bosnya sudah diruangan, Hendra langsung menyusul untuk membacakan jadwal kerja hari ini.
"Kenapa jadwal hari ini padat sekali ?" tanya Wira setelah asisten pribadinya selesai membacakan urutan kegiatan hari ini.
Hendra mengerutkan kening, "Apa kau sedang sakit, Bos ?"
Wira mengerutkan dahi, tak mengerti.
"Apa maksudmu ?"
"Biasanya Bos selalu minta 'memadatkan' jadwal setiap hari nya, kenapa hari ini mengeluh ?"
Wira termenung, membenarkan ucapan Hendra dalam benaknya. Wira meyakini satu hal, besar kemungkinan ini karena Audrey. Iya, pasti karena gadis itu. Entah apa yang sudah dia perbuat pada Wira, tapi tanpa disadari Audrey telah membuat Wira merubah dirinya yang workaholic sedikit demi sedikit.
"Geser semua meeting yang dimulai dari pukul satu siang ke hari-hari berikutnya!"
Hendra semakin dibuat tak percaya, dia terdiam sambil menatap Bosnya dengan tatapan penuh tanya.
🏵️
Di kampus...
"Kita berangkat sekarang ?" tanya Lula,
Secara kebetulan Audrey, Lula, James dan Dean masuk di kelompok yang sama. Mereka bersama enam teman yang lain akan berangkat bersama dengan kendaraan mereka masing-masing.
Lula, James dan Audrey berangkat bersama dengan mobil James. Sedangkan Dean, dia pergi dengan motor gedenya bersama beberapa teman yang juga naik kendaraan roda dua.
"James, nanti kalau udah mau nyampe mampir dulu di mini market ya, gue mau beliin oleh-oleh buat anak-anak disana.."
Lula dan James saling menatap sambil berkata.. "Wahhh...Ibu peri mah memang beda." Goda James yang langsung di sambut tawa oleh Lula.
"Haish! Apaan sih.." Ucap Audrey malu-malu.
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya mobil James sampai juga di balai desa.
Eughh....
Lula melenguh sambil merenggangkan otot-otonya.
"James, untung lo bawa Fortuner, jalannya makin rusak karena hujan. Banyak lubang, sakit pantat gue."
Senada dengan Lula, Audrey pun mengatakan hal yang sama. Pinggangnya terasa encok, sakit semua.
"Yuk turun, udah ditungguin tuh sama Pak Lurah." James menunjuk ke arah depan dimana Pak Lurah dan beberapa warga berdiri menunggu mereka turun.
Pak Lurah dan warga menyambut ke sepuluh mahasiswa yang datang dengan ramah. Setelah berbincang sedikit, mereka pun di antar ke salah satu rumah warga yang akan menjadi tempat mereka tinggal sementara.
"Ini rumah nya, kamarnya ada tiga. Kamar utama didepan dan dua kamar lagi ada di ruang tengah." Ucap salah seorang warga pemilik rumah.
"Silahkan masuk.. Kalian bisa cek dulu ke dalam, kalau belum cocok masih ada satu rumah lagi, sekitar dua ratus meter dari sini." Timpal Pak Lurah
Audrey dan kesembilan temannya pun masuk bersama pemilik rumah, sementara Pak Lurah dan warga yang lain menunggu di teras.
"Rumah ini sudah lama kosong, tapi setiap hari ada yang bersih-bersih disini. Maklum di kampung, rumah bagus-bagus juga nggak ada yang minat kalau di jual." Pemilik rumah tersebut menjelaskan keadaan rumah nya meski tidak di tanya.
"Kamar utamanya besar sekali ya, Pak.." James membuka suara.
Pemilik rumah yang namanya Pak Junaedi itu pun mengangguk dengan senyum ramah nya.
"Iya, Den. Muat untuk tiga sampai empat orang. Kasur King bisa dua orang, kasur yang dibawahnya ini bisa di tarik, cukup juga untuk dua orang."
Dari kamar utama, mereka beralih ke bagian dalam lagi. Dua kamar yang lain serta dapur dan halaman belakang.
"Air disini masih pake sumur ya, Pak ?" Tanya Lula yang sedikit kaget saat melihat sumur di halaman belakang rumah.
"Betul, Neng. Kalau warga yang lain pakai air yang langsung dari gunung, jarang loh neng yang pake sumur seperti rumah saya ini. Lagian nih neng, air gunung mah dingin banget. Orang-orang kota seperti kalian mah mungkin nggak akan kuat.."
Audrey dan yang lain saling pandang.
Benar juga sih ucapan Pak Junaedi. Hampir ke sepuluh mahasiswa itu adalah anak-anak horang kayah. Kamar mandi mereka tentunya memiliki fasilitas Water Heater.
Setelah berkeliling rumah, ke sepuluh mahasiswa termasuk Audrey sudah berada di teras lagi. Di dalam mereka sudah berdiskusi dan mencapai kesepakatan bersama bahwa mereka akan tinggal di rumah Pak Junaedi tanpa terlebih dulu melihat rekomendasi rumah yang lain.
"Lusa kami akan datang lagi membawa barang-barang. Minggu depan nya kami mulai KKN disini." Kata James sebagai ketua.
Setelah berpamitan pada Pak Lurah dan warganya, Audrey dan teman-teman nya pun memulai perjalanan pulang mereka.
"Lul...tadi Dean kok diem aja ya ? Dia sakit apa gimana ?" Tanya Audrey setelah mobil Fortuner berwarna putih susu milik James meninggalkan perkampungan.
"Masa sih ? Perasaan lo aja kali. Tadi sama gue ngobrol."
"Iya. Sama gue juga ngobrol kok, kaya biasa." Timpal James yang sedang menyetir.
Audrey terdiam.
"Kenapa sih emang nya ?" Lula penasaran
"Itu...tadi di sana pas gue ajak ngobrol dia diem aja." jawab Audrey.
"Dean nggak denger kali."
"Nggak mungkin, James. Orang gue sebelahan kok sama dia. Hari ini dia aneh banget, di kampus tadi juga dia kaya ngehindarin gue mulu. Gue salah apa ya sama Dean ?!"