NovelToon NovelToon
Mencintai Adik CEO

Mencintai Adik CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad girl / One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang / Konflik etika
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.

Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.

Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.

Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?

"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Kelas

Udara di dalam ruang kuliah utama Fakultas Hukum pagi itu terasa begitu statis, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah habis diserap oleh ketegangan yang tak kasat mata.

Seraphina Aeru duduk di baris ketiga, jemarinya yang lentik terus memutar-mutar pena fountain emasnya. Di sampingnya, Dareen Christ duduk dengan punggung setegak mistar, pandangannya lurus ke depan, ke arah Profesor Aris yang sedang sibuk membagikan lembar soal ujian tengah semester untuk mata kuliah Hukum Pidana Internasional.

Ini adalah hari pertama Dareen kembali ke bangku kuliah setelah insiden motel dan negosiasi berdarah yang dilakukan Sera dengan Seldin. Namun, kepulangan Dareen ke dunia akademis ini bukan tanpa luka.

"Ingat catatan pertamaku, Dareen," suara Seldin yang dingin seolah kembali terngiang di telinga mereka berdua. "Nilaimu tidak boleh satu poin pun lebih tinggi dari Sera. Kau adalah bayangannya, dan bayangan tidak boleh lebih terang dari objeknya."

Profesor Aris meletakkan lembar soal di hadapan Dareen. Pria itu sempat menatap Dareen sejenak dengan pandangan penuh apresiasi. "Senang melihatmu kembali, Christ. Kelas ini terasa kurang tajam tanpa argumenmu."

Dareen hanya memberikan anggukan kaku. "Terima kasih, Profesor."

Sera melirik ke samping, menatap profil samping wajah Dareen yang terlihat seperti pahatan batu granit—tak terbaca dan dingin. Di bawah meja, Sera mencoba meraih tangan Dareen, namun pria itu dengan halus menjauhkan jemarinya, meletakkannya di atas meja untuk mulai memegang pena. Ia sedang dalam mode 'profesional'.

"Waktu dimulai. Sekarang," titah Profesor Aris.

Keheningan segera menyelimuti ruangan, hanya diselingi bunyi gesekan pena di atas kertas. Sera mulai membaca soal-soal itu. Sebagai seorang Aeru, ia sebenarnya cukup cerdas, namun ia tahu kapasitas Dareen jauh di atasnya. Dareen memiliki kemampuan analisis yang cepat, tajam, dan mampu melihat celah hukum yang bahkan tidak terpikirkan oleh mahasiswa tingkat akhir.

Sera mencuri pandang ke arah lembar jawaban Dareen. Ia melihat mata Dareen bergerak cepat membaca soal nomor lima tentang yurisdiksi kejahatan perang. Ia melihat tangan Dareen mulai menuliskan jawaban yang sangat teknis dan brilian pada awalnya, namun kemudian pria itu berhenti.

Rahang Dareen mengeras. Sera bisa melihat otot di lengan bawah pria itu menegang. Dareen menarik napas panjang, lalu dengan gerakan yang terlihat sangat menyakitkan bagi seorang akademisi, ia mencoret tiga baris analisisnya yang sempurna. Ia menggantinya dengan jawaban yang dangkal, hampir terlihat seperti jawaban mahasiswa tingkat pertama yang belum belajar.

Hati Sera mencelos. Ia merasa seperti sedang menyaksikan seorang maestro musik yang dipaksa memutus senar biolanya sendiri sebelum konser dimulai.

"Babe ..." bisik Sera sangat pelan, hampir tidak terdengar.

Dareen tidak menoleh. Ia terus bergerak ke soal berikutnya. Soal nomor sepuluh adalah soal jebakan tentang ekstradisi. Sera tahu Dareen pasti tahu jawabannya, karena mereka pernah mendiskusikan hal ini semalaman di perpustakaan sebelum tragedi vila Julian terjadi. Namun, Dareen justru memilih jawaban salah yang paling mencolok pada pilihan ganda tersebut.

Setetes keringat dingin jatuh dari pelipis Dareen, membasahi pinggiran kertas ujiannya. Baginya, menyalahkan jawaban adalah bentuk pengkhianatan paling hina terhadap ibunya yang seorang guru. Ibunya selalu berkata bahwa kejujuran intelektual adalah harga diri terakhir seorang pria. Dan sekarang, di bawah perintah Seldin, Dareen sedang meludahi harga diri itu setiap detiknya.

Sera merasa matanya mulai memanas. Rasa bersalah menghantamnya begitu hebat. Ia sengaja memperlambat tulisannya, mencoba menyalahkan beberapa jawabannya sendiri agar Dareen tidak perlu terlihat begitu buruk, namun ia tahu itu percuma. Seldin memantau semua nilai ini melalui asisten akademik yang telah dibayarnya. Seldin ingin melihat Dareen tunduk secara intelektual.

Tiba-tiba, Dareen meletakkan penanya. Ia belum menyelesaikan tiga soal terakhir yang memiliki bobot nilai paling besar. Padahal waktu masih tersisa dua puluh menit.

"Kau tidak menyelesaikannya?" bisik Sera lagi, kali ini dengan nada mendesak.

Dareen melirik Sera untuk pertama kalinya sejak ujian dimulai. Matanya terlihat kosong, seolah-olah jiwanya telah keluar dari tubuh itu. "Sudah cukup, Nona. Nilai ini sudah cukup untuk membuat Anda tetap berada di atas."

Suara Dareen yang menyebutnya 'Nona' di tengah keintiman rasa sakit ini membuat Sera merasa ingin berteriak. Ia benci melihat kecerdasan Dareen dikebiri seperti ini. Ia benci melihat pria yang ia cintai harus merangkak di lantai hanya karena ego kakaknya yang haus kekuasaan.

Setelah ujian berakhir, mereka berjalan menyusuri lorong kampus yang ramai. Mahasiswa lain berbisik-bisik saat melihat mereka. Reputasi Dareen sebagai "mahasiswa beasiswa jenius" mulai luntur digantikan oleh rumor bahwa ia mulai malas dan kehilangan taringnya.

"Lihat si Christ itu," bisik seorang mahasiswa dari kelompok Julian yang masih tersisa. "Ternyata dia hanya pengawal yang kebetulan beruntung di awal semester. Nilai kuisnya minggu lalu hancur total. Memang benar, anjing tidak akan pernah bisa jadi majikan."

Tangan Dareen mengepal di samping tubuhnya, namun wajahnya tetap datar. Ia terus berjalan dengan langkah lebar, menjaga jarak profesional dua langkah di belakang Sera.

Sera berhenti mendadak di tengah lorong, membuat Dareen nyaris menabraknya. Sera berbalik, matanya berkilat penuh amarah yang ditujukan pada mahasiswa yang baru saja mengejek tadi.

"Tutup mulutmu atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa bekerja di firma hukum mana pun di kota ini!" bentak Sera.

Lorong itu seketika hening. Mahasiswa itu pucat pasi dan segera menghilang di balik kerumunan. Sera kemudian berbalik menatap Dareen, napasnya memburu.

"Kenapa kau membiarkan mereka bicara begitu?! Kau lebih pintar dari mereka semua gabungan!"

"Itu tidak penting, Nona," jawab Dareen tenang, namun suaranya terdengar sangat lelah. "Tuan Seldin mendapatkan apa yang dia inginkan. Anda tetap menjadi yang terbaik, dan saya tetap menjadi bayangan. Itu adalah kesepakatan yang kita buat untuk keamanan kita."

Sera mendekat, mengabaikan tatapan mata orang-orang di sekeliling mereka. Ia menarik kerah jas Dareen, memaksa pria itu untuk menunduk agar sejajar dengan wajahnya.

"Aku membenci ini, Dareen. Aku membenci melihatmu menghancurkan dirimu sendiri demi aku," bisik Sera, suaranya pecah oleh isak tangis yang tertahan.

"Jangan membencinya, Sera," suara Dareen melunak sedikit, hanya untuk telinga Sera. "Ini hanya kertas. Selama Anda tahu siapa saya yang sebenarnya di balik meja itu, saya tidak butuh pengakuan dari universitas ini."

Sera memeluk Dareen di tengah lorong kampus, sebuah tindakan provokatif yang menantang aturan Seldin secara terang-terangan. Dareen mencoba melepaskan diri karena menyadari ada beberapa kamera ponsel yang mulai merekam, namun Sera justru mempererat pelukannya.

"Aku akan mencari cara, Babe. Aku bersumpah. Aku akan mengembalikan kehormatanmu, meski aku harus menghancurkan seluruh kekaisaran Seldin untuk melakukannya," janji Sera di balik dada Dareen yang bidang.

Di saat itulah, Sera menyadari sesuatu yang krusial. Rasa bersalahnya kini berubah menjadi amunisi. Ia tidak bisa lagi hanya diam menjadi alasan Dareen terluka. Ia harus mulai menggali lebih dalam tentang apa yang Seldin sembunyikan, termasuk konspirasi militer masa lalu Dareen.

Sera tahu, di balik kegelapan yang Seldin ciptakan untuk Dareen, ada sebuah kunci yang bisa membebaskan mereka berdua. Dan kunci itu melibatkan rahasia masa lalu yang baru saja mulai ia temukan dalam foto dashboard tersebut.

Malam itu, saat mereka pulang ke kediaman Aeru, Sera tidak lagi bersikap manja yang menuntut. Ia duduk diam di kursi belakang, memperhatikan Dareen melalui spion tengah. Ia melihat bekas luka di pelipis Dareen yang mulai mengering, dan ia menyadari bahwa cinta mereka bukan lagi sekadar pelarian remaja. Ini adalah perang—perang melawan sistem, kasta, dan masa lalu yang mencoba mengubur mereka hidup-hidup.

"Dareen," panggil Sera saat mereka sampai di gerbang rumah.

"Ya, Nona?"

"Mulai besok, jangan pernah lagi mencoret jawabanmu yang benar untukku. Tulis apa yang kau tahu. Aku yang akan mengatur nilai-nilaiku sendiri agar terlihat lebih tinggi darimu. Kita akan memutar balik permainan Seldin."

Dareen menatap Sera melalui spion, ada binar harapan yang sangat kecil di matanya. "Itu berbahaya, Sera. Bagaimana caranya? Apa kau akan menyontek?"

"Bagaimanapun caranya akan aku lakukan. Biarkan dia tahu," tantang Sera dengan senyum licik khas Aeru yang mematikan. "Dia ingin kita bermain peran? Maka kita akan memberikan pertunjukan yang tidak akan pernah dia lupakan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!