Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Pukul delapan malam tepat. Suasana restoran di lantai teratas hotel itu terasa lebih intim dengan pencahayaan lilin yang menari-nari ditiup angin laut. Pradipta sudah duduk di sana, menyesap kopi hitamnya sambil menatap lurus ke arah lift.
Tak lama, pintu lift berdenting. Alana melangkah keluar dengan gaun sederhana berwarna pastel, rambutnya dibiarkan tergerai menutupi bahunya yang tampak masih tegang. Ia berjalan menghampiri meja Pradipta dengan langkah yang sengaja dibuat tegas.
"Sepuluh menit lebih awal," puji Pradipta sambil menarik kursi untuk Alana. "Sepertinya kamu benar-benar merindukan ponselmu, atau mungkin... merindukan pemberi perintahnya?"
Alana duduk dengan kaku, mengabaikan godaan itu. "Saya merindukan ketenangan saya, Pradipta. Sekarang, tolong kembalikan ponsel saya seperti janji Anda siang tadi."
Pradipta tidak langsung memberikannya. Ia meletakkan ponsel tipis itu di atas meja, tepat di bawah telapak tangannya. "Hari ini pengecorannya sempurna. Pak Wayan bilang kamu bekerja seperti singa betina yang tidak kenal lelah. Tanpa gangguan 'dunia luar', kamu sehebat itu, Alana."
"Itu karena tugas saya," sahut Alana pendek. Matanya tertuju pada ponsel di bawah tangan Pradipta. "Bisa saya ambil?"
Pradipta menghela napas, lalu perlahan menggeser ponsel itu ke arah Alana. "Ambillah. Tapi aku harus memberitahumu satu hal. Layar ponselmu terus menyala sepanjang sore. Ada lebih dari tiga puluh pesan masuk dari nama 'Rian' dan 'Ibu'."
Jari Alana membeku tepat di atas layar ponselnya. Rasa mual yang ia rasakan tadi pagi kembali menyerang.
"Aku tidak membacanya secara sengaja," lanjut Pradipta dengan suara yang tiba-tiba memberat, "tapi beberapa baris kalimat muncul di pop-up layar kunci. Kalimat tentang 'anak durhaka' dan 'tebusan motor'. Apa itu yang kamu hadapi setiap hari, Alana?"
Alana segera menyambar ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas tanpa melihat isinya. Ia merasa telanjang di depan Pradipta. Rahasianya sebagai "mesin ATM" keluarga yang ia tutupi dengan kerja keras, kini terbongkar begitu saja.
"Itu bukan urusan Anda, Pak... Dipta," suara Alana bergetar. "Terima kasih sudah menjaganya sore ini. Saya permisi."
"Duduk, Alana," perintah Pradipta, kali ini tanpa nada bercanda. "Kita belum memesan makan malam. Dan aku tidak akan membiarkanmu kembali ke kamar hanya untuk menangis membaca pesan-pesan beracun itu sendirian. Makanlah bersamaku, atau aku akan menyita ponsel itu lagi sekarang juga."
Alana tertegun, menatap mata Pradipta yang memancarkan perlindungan yang begitu nyata. Di bawah lampu temaram, ia menyadari bahwa pria ini bukan sekadar bos yang menyebalkan, melainkan satu-satunya orang yang berani berdiri di antara dirinya dan badai yang dikirimkan keluarganya.
Alana menghela napas panjang, akhirnya menyerah dan kembali mendudukkan dirinya di kursi yang tadi ditarik Pradipta. Ia menaruh tasnya di samping kursi, lalu menatap pria di depannya dengan tatapan yang jauh lebih berani, meski matanya masih tampak lelah.
"Kenapa, Dipta?" tanya Alana pelan, suaranya hampir tenggelam oleh alunan musik restoran. "Kenapa kamu harus melakukan penyitaan kekanak-kanakan itu di tengah proyek? Kamu CEO, bukan guru BK di sekolah menengah."
Pradipta sedikit terenyum, namun senyumnya kali ini tidak mengandung nada ejekan. Ia menyesap kopinya sejenak sebelum menjawab. "Karena aku tahu kamu tidak akan pernah mematikan ponselmu sendiri, Alana. Kamu terlalu patuh, atau mungkin terlalu takut pada mereka."
"Aku hanya mencoba bertanggung jawab," bantah Alana cepat.
"Bertanggung jawab pada siapa? Pada orang-orang yang hanya meneleponmu saat ada cicilan yang menunggak?" Pradipta memajukan tubuhnya, menatap Alana intens. "Alasan konyolku tentang 'fokus pengecoran' siang tadi hanyalah tameng. Alasan sebenarnya adalah aku ingin memberimu hak untuk tenang selama delapan jam. Aku ingin kamu ingat bagaimana rasanya bekerja tanpa harus mengkhawatirkan tuntutan yang bukan tanggung jawabmu."
Alana terdiam. Ia meremas jemarinya di bawah meja. "Tapi itu tetap urusan pribadiku. Kamu tidak berhak masuk sejauh itu."
"Mungkin tidak secara profesional," sahut Pradipta dengan nada yang kini lebih lembut. "Tapi melihatmu gemetar di lift tadi pagi membuatku merasa perlu bertindak. Aku menyita ponselmu karena aku tahu kamu tidak punya kekuatan untuk berkata 'tidak' pada mereka. Jadi, aku yang melakukannya untukmu. Aku yang menjadi dinding penghalang antara kamu dan pesan-pesan beracun itu."
Alana merasakan ada sesuatu yang hangat namun menyesakkan di dadanya. Selama ini, ia terbiasa menjadi pelindung bagi keluarganya, menjadi tiang yang menopang segalanya. Tak pernah ada seorang pun yang menawarkan diri untuk menjadi dinding bagi dirinya.
"Kamu terlalu ikut campur, Dipta," gumam Alana, namun kali ini nada suaranya tidak lagi ketus.
"Mungkin," jawab Pradipta santai. "Tapi setidaknya sore ini kamu bekerja dengan luar biasa tanpa air mata, bukan? Sekarang, pesanlah makanan yang paling mahal di menu ini. Anggap saja ini kompensasi karena bosmu sudah bersikap otoriter hari ini."
Alana menatap Pradipta lama, mencoba mencari celah kebohongan di mata pria itu, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang menakutkan. Untuk pertama kalinya, Alana merasa bahwa mungkin—hanya mungkin—ia boleh melepaskan bebannya sebentar saja di depan pria ini.