Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Alana berdiri di tepi kolam renang indoor yang luasnya menyerupai danau kecil, dikelilingi oleh pilar-pilar marmer putih dan kaca-kaca besar yang memperlihatkan pemandangan taman belakang yang asri. Pagi ini, ia mengenakan baju renang one-piece berwarna oranye cerah. Potongannya sebenarnya cukup sopan, namun bahan kain yang melekat sempurna itu tetap saja menonjolkan lekuk tubuhnya yang mulai terbentuk berkat latihan intensif belakangan ini. Warna oranye itu tampak begitu kontras dan cantik di atas kulit putih susunya yang masih menyisakan beberapa memar tipis kemerahan—jejak kepemilikan Dante semalam.
Valerie berdiri di pinggir kolam dengan peluit di lehernya, wajahnya tanpa ekspresi seperti biasa. "Masuk ke air, Nyonya. Jangan hanya menatapnya. Kau tidak akan bisa membangun kapasitas paru-paru jika hanya berdiri di sana seperti patung pajangan."
Alana menggigit bibir bawahnya, melangkah perlahan menuruni anak tangga kolam. Begitu air dingin menyentuh kulitnya, ia bergidik. Baginya, air sedalam dua meter ini adalah ancaman. Ia tidak pernah memiliki kemewahan untuk belajar berenang saat kecil; hidupnya dulu terlalu sibuk untuk sekadar bertahan dari kemiskinan.
"Ayo, kayuh lenganmu! Jangan hanya berpegangan pada pinggiran!" teriak Valerie tegas saat melihat Alana hanya diam mematung sambil mencengkeram erat tepian kolam. "Gerakkan kakimu! Kau harus bisa mencapai sisi seberang dalam sepuluh detik!"
Alana mencoba mengikuti arahan, melepaskan pegangannya dan mulai menggerakkan tangan secara serampangan. Namun, ia justru tersedak air dan tenggelam sesaat sebelum kembali muncul dengan wajah pucat dan mata yang mulai berkaca-kaca. "Aku tidak bisa, Valerie! Aku sungguh tidak bisa berenang, ini terlalu sulit!"
"Tidak ada kata tidak bisa di kamus keluarga Volkov! Bergerak atau aku akan membiarkanmu tenggelam lebih lama agar paru-parumu belajar cara bekerja!" bentak Valerie dengan disiplin militernya yang kaku.
***
Di saat yang sama, sebuah mobil Rolls-Royce hitam berhenti di lobi mansion. Dante pulang tiga jam lebih awal dari jadwal biasanya. Pikirannya tidak bisa fokus pada rapat anggaran tahunan karena terus terbayang wajah memohon Alana tadi pagi dan janji "nanti malam" yang diucapkan gadis itu. Hasratnya yang membara justru membuatnya ingin melihat apa yang sedang dilakukan "istri kecilnya" di kolam renang.
Begitu Dante melangkah masuk ke area kolam, ia mendengar suara bentakan Valerie yang keras. Langkah kakinya yang berat terhenti sejenak. Matanya menyipit saat melihat Alana yang gemetar, ketakutan, dan hampir menangis di dalam air.
Entah mengapa, ada sengatan amarah yang asing menjalar di dada Dante. Ia adalah pria yang sering membentak Alana, ia adalah pria yang menghancurkan gadis itu di atas ranjang sampai ia memohon ampun, tapi melihat orang lain—bahkan orang kepercayaannya sekalipun—membuat Alana menangis, menciptakan rasa tidak senang yang luar biasa di hatinya. Hanya dia yang boleh membuat Alana menangis. Hanya dia yang boleh mengendalikan rasa takut gadis itu.
Dante melangkah maju, aura dominasinya seketika membekukan ruangan. "Sudah cukup untuk hari ini, Valerie," suara dinginnya memotong instruksi Valerie seperti sebilah pisau. "Hari ini, biar aku yang mengajarkan istriku berenang. Kau boleh pulang sekarang."
Valerie tersentak, ia segera berbalik dan menunduk hormat dengan patuh. Tanpa sepatah kata pun, instruktur itu membereskan peralatannya dan pergi, menyadari bahwa sang tuan sedang dalam suasana hati yang tidak bisa diganggu gugat.
Dante berjalan ke tepi kolam, berjongkok tepat di depan Alana yang masih berpegangan pada pinggiran marmer dengan jari-jari yang memutih. Ia mendengus, menatap wajah Alana yang basah oleh air kolam dan air mata yang menyatu.
"Apa kau sebodoh itu sampai tidak bisa berenang, huh? Bahkan bayi saja bisa mengapung secara alami," ejek Dante, namun matanya tidak lepas dari bibir Alana yang mengerucut mencebik lucu.
"Aku tidak pernah berenang, Dante! Untuk orang sepertiku, hal-hal seperti ini terlalu mewah. Aku tidak punya waktu untuk bermain air saat harus bekerja mencari makan," sahut Alana dengan suara bergetar karena kesal dan malu.
Dante tidak menjawab. Ia justru mulai melepas jas mahalnya, menyampirkannya di kursi terdekat. Kemudian jemarinya dengan cekatan membuka kancing kemeja sutranya satu per satu, memperlihatkan otot dada dan perut yang keras seperti pahatan batu, lengkap dengan tato mawar hitam yang tampak mengancam. Jam tangan Patek Philippe dan celana panjangnya pun menyusul jatuh ke lantai.
Alana membelalak panik. Melihat suaminya yang kini hanya mengenakan pakaian dalam dengan tubuh raksasa setinggi 195 cm yang sangat intimidatif, ia mengira Dante akan melanjutkan "negosiasi" tadi pagi di sini juga. Alana mencoba menarik dirinya naik ke permukaan untuk melarikan diri.
"Diam di tempat," perintah Dante dengan nada rendah yang mutlak. "Jangan berani-berani kau naik ke permukaan sebelum aku mengizinkannya."
Alana membeku, tubuhnya kembali masuk ke dalam air hingga sebatas leher. BYUR! Dante terjun ke dalam kolam dengan gerakan yang sangat atletis, menciptakan gelombang kecil yang menerpa wajah Alana. Begitu ia muncul ke permukaan, Dante langsung bergerak mendekat, menyudutkan Alana di antara lengannya yang kokoh dan dinding kolam.
Dante merangkul pinggang kecil Alana, menarik tubuh gadis itu hingga perut mereka bersentuhan di dalam air. Ia mendekatkan wajahnya, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Alana berdiri tepat di telinganya.
"Biar aku yang mengajarimu cara bertahan hidup di air ini, Alana... Kau terlihat sangat segar memakai pakaian ini. Warna oranye ini membuatmu terlihat seperti jeruk matang yang segar, dan kau tahu? Aku sedang sangat ingin memakan jeruk hari ini."
Alana merasa jantungnya seolah ingin melompat keluar. Ia mencoba mendorong dada Dante yang basah dan licin. "T-tidak, Dante... biarkan aku naik. Aku akan latihan lagi besok dengan Valerie!"
Dante justru mempererat pelukannya di pinggang Alana, tangannya yang besar merayap turun ke bawah air, meremas ßðkðñg Alana dengan posesif di bawah kain baju renang itu. "Jika kau berani melangkah keluar dari kolam ini sebelum aku puas mengajarimu, aku bersumpah akan mêmå§µkïmµ di sini sekarang juga, di depan semua kaca transparan ini. Kau ingin para pengawal di luar sana melihat bagaimana suamimu mengambil milik pribadinya?"
Alana terengah, ia menatap mata biru es Dante yang kini sudah berubah menjadi api biru yang membara. Ia tahu Dante tidak pernah menggertak. Di bawah air yang tenang itu, Alana bisa merasakan kêjåñ†åñåñ Dante yang sudah kembali mengeras sempurna, menekan perut bawahnya seolah siap untuk menerjang kapan saja.
"S-sekarang... apa yang harus kulakukan?" tanya Alana lirih, menyerah pada dominasi suaminya.
Dante menyeringai, sebuah senyum mesum yang sangat tampan. "Rilekskan tubuhmu. Sandarkan punggungmu di dadaku. Kita akan belajar bagaimana caranya agar kau tetap bisa bernapas saat aku berada di atasmu nanti malam."
Maka dimulailah sesi latihan yang jauh lebih panas daripada yang diberikan Valerie. Di dalam air yang sejuk, Dante membimbing Alana, namun setiap §êñ†µhåññɏå tidak pernah luput dari niat mê§µm—memastikan bahwa setiap inci tubuh istrinya terjamah oleh tangannya sebelum hari berganti malam.
Sama klau bisa request yg dominan cewenyabdongggg
kecewa😔😔😔