Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Takhta Dan Tanda Kepemilikan
Pagi itu, di hadapan petugas kantor catatan sipil yang tampak tegang, Valerie resmi menyandang nama Renfred di belakang namanya. Prosesi itu berjalan sangat lancar, tanpa gangguan maupun interupsi, seolah semesta sedang memberi jalan bagi takdir baru mereka. Jerome menggenggam tangan Valerie dengan sikap protektif yang nyaris obsesif sepanjang acara; jemarinya mengunci jemari Valerie begitu erat, seolah jika ia melepaskannya sedetik saja, wanita itu akan menguap menjadi asap dan menghilang dari jangkauannya.
Namun, di balik senyum tipis yang tersungging di bibir Valerie, jantungnya berdegup kencang melawan trauma. Ia sangat mengenali kalender ini.
Di kehidupan lalunya, sehari setelah pernikahan terkutuk dengan Aiden, pria itu membawanya ke ruang kerja dengan berpura-pura manis. Aiden berlutut, memohon agar Valerie menandatangani surat penyerahan hak kelola perusahaan peninggalan ibunya dengan alasan agar Valerie bisa fokus menjadi istri yang baik. Saat itu Valerie yang naif menyerahkan segalanya—sebuah kesalahan yang berakhir dengan nyawanya sendiri.
Kali ini, rencana mereka berantakan. Karena Valerie berada di bawah perlindungan Jerome, target mereka sekarang adalah jantung harta yang tersisa: Vaughn Group.
"Jerome," panggil Valerie saat mereka berjalan menuju mobil Rolls-Royce yang menunggu di depan gedung. "Kita tidak pulang ke mansion."
Jerome menghentikan langkahnya, menatap Valerie dengan alis bertaut tajam. "Lalu ke mana?"
"Ke perusahaanku. Edward, Aiden, dan Serena pasti sudah di sana. Mereka akan mencoba merampas apa yang tersisa sebelum aku benar-benar mengunci aksesnya," jawab Valerie dengan tatapan penuh tekad.
Jerome terdiam sejenak, lalu sebuah seringai tipis yang mengerikan muncul di bibirnya—tipe senyuman yang biasanya menandakan kehancuran bagi musuh-musuhnya. Ia membukakan pintu mobil dengan anggun. "Kalau begitu, mari kita beri mereka pertunjukan yang tak terlupakan, Istriku."
Begitu mereka tiba di lobi Vaughn Group, suasana sudah sangat mencekam. Para karyawan tampak berbisik-bisik ketakutan, sementara beberapa petugas keamanan berjaga dengan wajah tegang. Di ruang rapat utama lantai atas, suara teriakan Edward Vaughn terdengar menggelegar hingga ke lorong.
"Aku adalah ayahnya! Aku punya hak sebagai wali sah jika Valerie dianggap tidak stabil secara mental setelah skandal kemarin!" teriak Edward sembari memukul meja.
"Dan aku adalah tunangannya! Kami punya kontrak pra-nikah yang menjamin pembagian aset!" Aiden menimpali dengan nada serakah yang menjijikkan.
BRAKK!
Jerome menendang pintu ruang rapat itu hingga terbuka lebar. Suara benturan pintu dengan dinding membuat semua orang di dalam ruangan tersentak. Aiden, Serena, dan Edward mematung seketika saat melihat Jerome melangkah masuk sembari merangkul pinggang Valerie dengan sangat posesif.
"Kontrak pra-nikah?" suara Jerome rendah, namun bergema dengan otoritas yang membekukan darah. "Seingatku, kontrak itu batal demi hukum saat kau ketahuan membiayai gundik dan anak harammu dengan uang perusahaan ini, Aiden."
"Jerome! Ini urusan internal keluarga Vaughn! Kau tidak punya hak mencampuri urusan kami!" teriak Edward, wajahnya merah padam karena merasa terpojok.
Valerie maju satu langkah, melepaskan rangkulan Jerome. Ia meletakkan buku nikah yang baru saja mereka terima di atas meja rapat dengan bantingan keras yang tegas.
"Aku bukan lagi sekadar seorang Vaughn. Aku adalah istri sah Jerome Renfred," ucap Valerie dengan nada sedingin es. "Dan mulai detik ini, Ayah, Aiden, dan Serena... kalian dilarang menginjakkan kaki di gedung ini. Satpam sudah memegang surat pemecatan dan perintah pencekalan kalian secara resmi."
"Kau anak durhaka!" Edward Vaughn kehilangan kendali. Ia menerjang maju dengan tangan terangkat tinggi, hendak mendaratkan tamparan keras ke wajah Valerie.
Valerie memejamkan mata, refleks tubuhnya bersiap menerima hantaman itu. Namun, serangan itu tidak pernah sampai. Jerome sudah lebih dulu menangkap pergelangan tangan Edward di udara. Pria itu mencengkeramnya begitu kuat hingga terdengar bunyi gemeretak tulang yang mengerikan.
"Ugh!"
Tiba-tiba, Jerome mengerang tertahan. Wajahnya mendadak memucat, dan ia memegangi perutnya sendiri dengan tangan yang bebas. Valerie tersentak sadar. Rasa takut dan stres yang ia rasakan saat melihat ayahnya hendak memukulnya tadi telah mengalir langsung ke tubuh Jerome. Pria itu merasakan sakitnya kecemasan Valerie sebelum kulit Valerie sempat tersentuh.
"Jerome!" Valerie memegang lengan suaminya dengan cemas.
Jerome menepis tangan Valerie dengan lembut, mencoba berdiri tegak kembali meski napasnya tersengal menahan sinkronisasi rasa sakit itu. Ia menatap Edward dengan mata merah penuh amarah yang murni.
"Sentuh dia sekali lagi," desis Jerome tepat di depan wajah Edward, "dan aku akan memastikan perusahaan ini bangkrut besok pagi, lalu kalian bertiga akan membusuk di penjara atas tuduhan penggelapan dana warisan."
Serena melangkah mundur dengan gemetar, wajahnya pucat pasi melihat Hiro yang ketakutan di belakangnya. Aiden hanya bisa mengepalkan tangan, menyadari ia sama sekali tidak berdaya melawan kekuatan absolut Jerome Renfred.
"Pergi. Sekarang," perintah Jerome dengan nada final.
Saat mereka menyeret langkah keluar dengan penuh kehinaan, Jerome perlahan ambruk di kursi CEO. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya akibat guncangan energi yang ia terima dari Valerie.
"Kau baik-baik saja?" bisik Valerie, berlutut di samping Jerome.
Jerome menarik napas panjang, menatap Valerie dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang mencampurkan cinta, rasa sakit, dan obsesi yang gelap. "Aku baik-baik saja selama kau tidak terluka, Val. Tapi jangan pernah membuat jantungku hampir berhenti lagi karena ketakutanmu."
Jerome menarik Valerie ke pangkuannya tepat di kursi kepemimpinan yang kini resmi menjadi milik istrinya. Di tengah ruang rapat yang kini kosong dan sunyi, ia mencium leher Valerie, seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya.
"Sekarang, perusahaan ini milikmu. Dan kau... kau adalah milikku selamanya."
...****************...