NovelToon NovelToon
00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Sepuluh tahun bersahabat, satu menit untuk jatuh cinta, dan dua belas menit untuk mempertaruhkan segalanya.

Tepat pukul 23:48 di malam pergantian tahun, Arka memiliki satu misi gila: Menyatakan cinta pada Lala, sahabat masa kecilnya, sebelum kembang api pertama meledak. Namun, semesta seolah sedang bercanda. Mulai dari sinyal yang timbul tenggelam, serangan video call grup keluarga yang heboh, hingga baterai ponsel yang tersisa 1%.

Di tengah riuhnya Jakarta, setiap detik adalah pertaruhan. Apakah pesan "Aku suka kamu" akan sampai sebelum jam berubah menjadi 00:00? Ataukah Arka harus menahan rindu dan penyesalan satu tahun lagi?

"Ikuti perjalanan chat paling mendebarkan dalam 12 menit terakhir tahun ini!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Pertanyaan "Kapan Lulus?" di Saat Kritis

Bab 19: Pertanyaan "Kapan Lulus?" di Saat Kritis

Detik ke-40 di menit 23:49. Secara kronologis, aku seharusnya sudah berada pada karakter ketiga atau keempat dari draf pengakuanku. Namun, realitas digital yang kejam baru saja memuntahkan residu dari trauma panggilan video massal di Bab 18. Meskipun layar sudah kembali ke antarmuka chat Lala, sisa-sisa invasi keluarga Bani Mansyur masih bergetar di bilah notifikasi atas.

Sebuah pesan teks muncul, meluncur perlahan dari balik notch kamera depan ponselku.

Tante Lastri: "Arka mana? Kok nggak muncul? Masih jomblo ya di tahun baru? Inget umur, Ka. Sepupumu Rina aja sudah lamaran. Kapan lulus kuliahnya? Jangan main HP terus!"

Secara mikroskopis, aku memperhatikan bagaimana setiap kata dalam notifikasi itu memicu reaksi biokimia yang merusak di dalam tubuhku. Kata "Jomblo" seolah memiliki massa fisik yang menekan diafragmaku, membuat napas yang kucoba stabilkan di Bab 14 kembali tersangkut di tenggorokan. Ada serangan neurotransmiter kortisol yang masif, merambat dari hipotalamus menuju ujung-ujung saraf di telapak tanganku, menyebabkan tremor halus yang tidak bisa kukontrol secara sadar.

Analisis rigor-ku mulai membedah struktur kalimat Tante Lastri. Ini bukan sekadar pertanyaan; ini adalah sebuah audit eksistensial yang dilakukan pada waktu dan tempat yang paling tidak tepat.

* Audit Status Hubungan: "Masih jomblo ya?" – Kata ini bertindak sebagai katalisator kecemasan. Di depanku berdiri Lala, subjek dari seluruh kegelisahanku, dan di layar ponselku, keluargaku justru menertawakan kekosongan yang sedang kucoba isi.

* Audit Akademik: "Kapan lulus?" – Pertanyaan ini menyerang fondasi harga diriku. Secara matematis, sisa skripsiku adalah variabel yang belum terselesaikan, mirip dengan pesan yang sedang kususun ini. Keduanya adalah proyek yang tertunda.

* Perbandingan Sosial: "Rina saja sudah lamaran." – Ini adalah taktik tekanan psikologis klasik. Menggunakan pencapaian orang lain sebagai unit pengukuran kegagalanku.

Aku merasakan panas menjalar di daun telingaku. Panas ini bukan berasal dari suhu udara Bundaran HI (Bab 2), melainkan hasil dari vasodilatasi pembuluh darah akibat rasa malu dan kesal yang memuncak. Aku menatap huruf 'L' di layar. Huruf itu kini tampak menyedihkan, seolah terintimidasi oleh deretan pertanyaan retoris dari Tante Lastri yang menggantung di atasnya.

"Kenapa, Ka? Wajahmu merah banget," suara Lala memecah keheningan internal yang berisik.

Aku tidak bisa menjawab. Secara mekanis, lidahku terasa kelu. Bagaimana aku bisa menjelaskan bahwa saat ini aku sedang "diadili" oleh seratus orang di dalam sebuah aplikasi, sementara aku sendiri sedang mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengubah status yang mereka tertawakan?

Ekspektasi keluarga besar kini bertransformasi menjadi beban massa yang nyata di pundakku.

Setiap kata dari Tante Lastri menambah beban beberapa gram pada gravitasi yang menarik jempolku menjauh dari layar. Aku merasa seolah-olah seluruh silsilah keluarga Bani Mansyur sedang berdiri di belakangku, memperhatikan setiap gerak-gerikku dengan tatapan menghakimi, menunggu aku melakukan kesalahan fatal.

Secara mikroskopis, aku memperhatikan pantulan cahaya lampu jalanan pada permukaan layar ponsel yang berminyak. Di sela-sela pantulan itu, notifikasi Tante Lastri masih bertahan. Ia tidak mau hilang begitu saja. Ia seolah menuntut jawaban, menuntut aku untuk keluar dari duniaku bersama Lala dan kembali ke dalam peran sebagai "Arka si mahasiswa abadi yang belum punya pasangan."

Iritasi ini melahirkan dorongan agresif mikro. Aku ingin menyapu (swipe) notifikasi itu dengan kasar, melemparnya keluar dari bingkai kesadaranku.

Namun, jariku tetap terpaku. Ada ketakutan bahwa jika aku menyentuh notifikasi itu, aku akan secara tidak sengaja membuka aplikasi dan terjerumus kembali ke dalam labirin percakapan grup yang tidak berujung.

Aku mulai melakukan evaluasi kritis terhadap situasiku.

* Waktu tersisa di menit 23:49: Kurang dari sepuluh detik.

* Beban Mental: Meningkat 300% karena intervensi eksternal.

* Probabilitas Keberhasilan: Menurun secara drastis seiring dengan meningkatnya gangguan kognitif.

Ekspektasi keluarga untuk "segera sukses" dan "segera berpasangan" justru menjadi penghambat utama bagiku untuk melakukan hal tersebut malam ini. Ironi ini begitu tajam hingga aku bisa merasakan perihnya di ulu hati. Mereka menginginkan hasil, tapi mereka menghancurkan prosesnya dengan kebisingan notifikasi.

Aku menatap Lala kembali. Dalam cahaya remang-remang, dia tampak begitu tenang, tidak tersentuh oleh drama digital yang sedang menghancurkan sistem sarafku. Kedamaiannya adalah kontras yang menyakitkan bagi kekacauanku. Aku merasa kecil. Aku merasa seperti pengecut yang sedang diawasi oleh ribuan mata.

"Arka?" Lala menyentuh lengan atasku.

Sentuhan itu melepaskan aliran listrik statis yang mengejutkan. Secara mikroskopis, aku merasakan folikel rambut di lenganku berdiri tegak—refleks piloereksi. Sentuhannya adalah pengingat akan realitas fisik yang sedang kucoba menangkan, sekaligus pemicu kepanikan karena notifikasi Tante Lastri masih terpampang jelas di layar yang mungkin bisa ia baca.

Aku harus menyingkirkan pesan itu. Sekarang.

Dengan gerakan yang lebih dipicu oleh rasa kesal daripada perhitungan teknis, aku menggerakkan jempol kiriku untuk menyapu notifikasi tersebut ke atas. Namun, karena koordinasi motorikku sedang terganggu oleh rasa marah, tekanan jariku terlalu kuat dan tidak akurat.

Bukannya menghapus notifikasi, sistem operasi ponselku justru menanggapinya sebagai perintah untuk membuka jendela balasan cepat (quick reply). Sebuah kotak teks kecil terbuka di bawah pesan Tante Lastri, menutupi seluruh draf chat Lala yang sudah kususun dengan air mata dan keringat.

Papan ketik (keyboard) virtualku berubah. Ia bukan lagi papan ketik untuk Lala. Ia sekarang adalah medan perang melawan Tante Lastri.

Aku melihat kursor berkedip di sana, menantangku untuk memberikan jawaban atas pertanyaan "Kapan Lulus?" dan "Masih Jomblo?".

Rasa frustrasiku mencapai titik didih. Dalam upaya putus asa untuk menutup jendela balasan cepat itu dan kembali ke Lala, jempolku melakukan kesalahan fatal berikutnya.

Karena terburu-buru, aku tidak menekan ikon "X" yang kecil di sudut kanan atas. Malahan, aku menekan baris pintasan emoji yang muncul secara otomatis di atas papan ketik.

Satu ketukan yang meleset. Satu bencana baru.

Layar ponselku mendadak dipenuhi oleh barisan emoji tertawa sampai menangis (😂) yang terinput secara otomatis ke dalam kolom balasan untuk Tante Lastri. Dan sebelum aku sempat menghapusnya, getaran haptik dari tombol "Kirim" terasa di ujung jariku karena ponselku sedikit terguncang oleh dorongan orang asing di kerumunan.

Pesan itu terkirim ke grup keluarga. Arka baru saja mengirimkan deretan emoji tertawa sebagai jawaban atas hinaan tentang status jomblo dan kelulusannya.

Secara mikroskopis, aku melihat ikon tanda centang satu berubah menjadi centang dua di layar panggilan video yang masih berusaha menghubungkan ulang di latar belakang. Aku baru saja memicu ledakan baru di grup keluarga Bani Mansyur. Mereka akan menganggap aku sedang menantang mereka, atau lebih buruk lagi, mereka akan menganggap aku sedang mabuk di malam tahun baru.

Kesalahan teknis ini (Bab 20) akan menjadi babak baru dari penderitaanku. Tapi untuk saat ini, di detik terakhir menit 23:49, aku hanya bisa menatap layar dengan hampa. Draf "L" untuk Lala sudah tertutup total oleh antarmuka grup keluarga yang riuh.

Satu menit berharga telah hangus terbakar oleh "kepedulian" keluarga yang salah waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!