NovelToon NovelToon
JANJI CINTA SELAMANYA

JANJI CINTA SELAMANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Teen Angst / Romansa / Slice of Life / Konflik etika
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.

Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.

Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.

Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: TOPENG YANG TERLEPAS

BAB 24: TOPENG YANG TERLEPAS

Malam di kediaman Vashishth terasa sangat mencekam setelah insiden susu beracun yang hampir menewaskan Arlan. Di kamar utamanya, Suman berdiri di depan cermin besar, merapikan rambutnya yang tidak berantakan sedikit pun. Wajahnya tenang, tapi di balik matanya, tersimpan kegelapan yang dalam. Dia tidak merasa bersalah sedikit pun karena mencoba mencelakai Arlan; baginya, Arlan hanyalah hama yang harus dibasmi.

"Kenapa kau begitu keras kepala, Suman?" gumamnya pada bayangannya sendiri. "Aku sudah menyingkirkan wanita itu puluhan tahun lalu dari hidup suamiku, kenapa sekarang bibitnya kembali untuk menghancurkan putraku?"

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan keras. Rayhan masuk dengan wajah yang memerah karena marah. Di tangannya, ia memegang laporan hasil laboratorium darurat yang ia minta dari tim medis militer.

"Ibu, jelaskan ini!" Rayhan membanting kertas itu ke meja. "Zat penenang dosis tinggi. Jika Arlan meminumnya, jantungnya bisa berhenti dalam waktu kurang dari satu jam. Kenapa Ibu setega itu pada pria yang bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri?"

Suman berbalik perlahan, menatap putranya dengan tatapan dingin yang tidak goyah sedikit pun. "Aku melakukannya demi kau, Rayhan. Pria itu adalah noda. Dia adalah ancaman bagi karirmu, bagi masa depanmu, dan bagi kehormatan ayahmu yang sudah meninggal."

"Kehormatan Ayah?" Rayhan tertawa getir. "Atau ketakutan Ibu karena kebenaran akan terungkap? Aku sudah tahu semuanya, Ibu. Aku tahu siapa Arlan sebenarnya. Dia saudaraku. Dia anak Ayah!"

Suman berjalan mendekati Rayhan, suaranya kini merendah namun tajam seperti sembilu. "Kau pikir aku tidak tahu? Aku tahu sejak hari pertama suamimu membawa wanita jalang itu ke rumah ini! Aku tahu Arlan adalah anak dari Sujati. Dan itulah alasannya kenapa dia harus pergi! Jika dunia tahu bahwa pahlawan besar Mayor Jenderal Vashishth punya anak dari wanita simpanan di desa, apa yang tersisa dari nama besar kita? Kau akan ditertawakan oleh seluruh jajaran militer!"

Rayhan tertegun. Ia tidak menyangka ibunya akan mengakui kejahatannya dengan begitu angkuh. "Jadi selama ini Ibu tahu? Dan Ibu membiarkan mereka menderita? Ibu membiarkan Hendra menyiksa Arlan sampai dia kehilangan ingatannya?"

"Hendra hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan," jawab Suman tanpa ekspresi. "Tapi dia gagal. Dia pengecut karena tidak langsung menghabisi Arlan. Sekarang, karena Arlan ada di sini, aku sendiri yang akan menyelesaikan apa yang dia mulai."

Di paviliun, suasana sangat kontras. Arlan sedang duduk di lantai, sedang berusaha menyusun kepingan puzzle yang diberikan oleh Vanya. Arlan tampak sangat serius, lidahnya sedikit menjulur karena konsentrasi.

"Kakak Cantik, lihat! Aku berhasil memasang kepalanya!" seru Arlan sambil menunjuk gambar harimau.

Vanya tersenyum, meski hatinya sangat perih. Ia baru saja tahu dari Rayhan tentang betapa jahatnya Suman. Vanya menyadari bahwa rumah ini jauh lebih berbahaya daripada hutan di Simla. Di Simla, musuhnya jelas (Hendra), tapi di sini, musuhnya adalah wanita terhormat yang memegang kendali atas segalanya.

"Pintar sekali, Arlan," ucap Vanya sambil mengusap kepala Arlan.

Tiba-tiba, Ibu Sujati masuk dengan wajah pucat. Dia memegang dadanya, tampak sesak napas. "Vanya... kita harus pergi dari sini. Aku baru saja mendengar Suman bicara di telepon. Dia sedang merencanakan sesuatu untuk memindahkan Arlan ke panti rehabilitasi militer yang tertutup. Jika Arlan masuk ke sana, kita tidak akan pernah melihatnya lagi."

Vanya berdiri dengan sigap. "Tidak akan, Bu. Rayhan tidak akan membiarkan itu terjadi."

"Rayhan adalah anak Suman, Vanya!" Sujati menangis. "Darah lebih kental dari air. Suatu saat, Rayhan akan memilih ibunya daripada pria yang baru ia kenal sebagai saudara."

Malam itu, saat semua orang mengira situasi sudah tenang, Suman menjalankan rencana berikutnya. Dia tahu Rayhan sedang pergi ke markas pusat untuk urusan mendesak. Suman memanggil beberapa pengawal pribadinya (bukan tentara Rayhan, tapi orang sewaannya sendiri).

"Bawa pria itu sekarang. Jangan lewat pintu depan," perintah Suman.

Para pria itu masuk ke paviliun. Vanya mencoba melawan, tapi dia didorong hingga terjatuh. Arlan yang kaget melihat orang-orang asing itu mulai berteriak histeris.

"TUAN TENTARA! TOLONG ARLAN! KAKAK TENTARA!" teriak Arlan sambil meronta-ronta.

Sujati mencoba melindungi anaknya, tapi dia pun disingkirkan. Saat Arlan hendak diseret keluar, tiba-tiba lampu seluruh rumah padam. Keheningan yang mencekam menyelimuti paviliun.

Dari kegelapan, terdengar suara langkah sepatu bot yang sangat berwibawa. Bukan Rayhan. Tapi seorang pria tua dengan seragam lengkap yang sudah pensiun—paman Rayhan, yang merupakan satu-satunya orang yang ditakuti Suman.

"Berhenti!" suara itu menggelegar.

Suman yang menyusul ke paviliun membeku. "Kakak ipar? Apa yang kau lakukan di sini malam-malam begini?"

Pria tua itu menyalakan senter besarnya, menyorot langsung ke wajah Suman yang tampak pucat karena tertangkap basah. "Rayhan memintaku untuk menjaga rumah ini selama dia pergi. Dia bilang, ada serigala berbulu domba yang mencoba merusak kedamaian di sini. Dan aku tidak menyangka serigala itu adalah kau, Suman."

Suman mencoba membela diri. "Aku hanya ingin membawa Arlan ke tempat yang lebih aman untuk perawatannya!"

"Bohong!" teriak Vanya dari lantai. "Dia ingin membuang Arlan!"

Arlan berlari ke arah paman Rayhan dan memeluk kakinya. "Kakek... mereka jahat! Mereka ingin membawaku ke tempat gelap lagi!"

1
falea sezi
mending bawa pergi jauh deh arlan
falea sezi
ksian bgt arlan knp semua novel mu isinya sedih teros kapan bahagia nya q baca semua nya tp isinya menderita trs jd g mood baca pdhl mau ksih hadiah jd males
falea sezi
menyimakkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!