Luna, seorang mahasiswi jurusan teknologi informasi semester akhir selalu begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Suatu malam ia tertidur di meja belajar bersama tumpukan kertas-kertas nya lalu tiba-tiba ia merasa seperti jatuh dari kursi. Tapi saat ia membuka matanya rupanya ia berada di dalam tubuh seseorang yang mirip dengannya. Ia yakin itu bukan dirinya yang sebelumnya. Tempat itu juga sangat asing baginya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang pria tampan berparas lembut berbicara padanya. "Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datang ke pesta
Leon dan Annette tiba di tempat pesta dengan menaiki kereta kuda. Semua barang-barang Annette menumpuk di dalam kereta karena ia tidak rela meninggalkannya di rumahnya lagi sebab ia tidak tau kapan Emilie akan pulang. Bisa saja adiknya itu akan merebut miliknya lagi.
Leon sudah membenarkan penampilannya. Ia begitu tampan dengan rambut yang disisir ke belakang. Dan Annette pun juga meminta bantuan pelayan untuk menata rambutnya. Tidak lupa kalung favoritnya juga ia kenakan.
Sejak tadi ia tidak berhenti tertawa kecil. Ia mengira tempat pestanya jauh ternyata tidak sampai sepuluh menit mereka sudah tiba.
Sebuah rumah mewah seperti milik Tuan Wiles menjadi tempat diadakannya pesta pernikahan ini.
"Kau tidak membawa hadiah ?" tanya Annette ketika menyadari seperti ada yang kurang.
"Aku sudah mengirimkannya kemarin," jawab Leon. Annette menatap ada yang berbeda dari ekspresi Leon. Suaminya itu memasang wajah tegas dan pandangannya lurus ke depan.
"Memangnya kau memberikan hadiah apa ?" tanya Annette penasaran.
"Hanya peralatan rumah tangga seperti piring porselen dan gelas kristal," jawab Leon masih dengan ekspresi datar.
Lagi-lagi mulut Annette terbuka. Di dunia modern ia bahkan tidak pernah punya gelas kristal itu karena harganya mahal.
"Apa itu barang mahal ?" tanya Annette menahan tangan Leon. Jadi mau tidak mau mereka berhenti berjalan. Leon menatap Annette dengan lembut seperti biasanya.
"Kenapa kau bertanya begitu ? Di rumahmu kan ada. Aku juga tidak tau berapa harganya karena aku tidak ikut membelinya. Aku hanya meminta tolong pada temanku yang lain untuk membeli nya di luar negeri kemudian mengantarnya kemari," ujar Leon.
'Apa beli di luar negeri ?' lagi-lagi Annette tidak habis pikir. Memberi hadiah semahal itu untuk temannya bisa tapi Leon membiarkan gubuknya berlubang.
"Memangnya temanmu itu laki-laki atau perempuan ?" tanya Annette. Ia mulai mencurigai satu hal.
"Perempuan," jawab Leon singkat.
Segera Annette mencampakkan lengan Leon yang sejak tadi dipeluknya. Sebuah kecurigaan mulai muncul. Jangan-jangan Leon menyukai teman perempuannya itu makanya memberikan hadiah mahal dari luar negeri.
"Kenapa ?" tanya Leon bingung dengan sikap Annette yang mudah berubah.
"Apa kau menyukai perempuan itu ?" tanya Annette dengan mata melotot.
"Siapa ?" tanya Leon bingung. Tiba-tiba saja Annette menuduhnya. Ia belum sempat mencerna.
"Perempuan itu. Temanmu yang menikah itu. Apa jangan-jangan kau menyukainya sampai membelikan hadiah bagus untuknya," tuduh Annette.
Disitulah Leon mulai mengerti. Jadi inilah sifat asli Annette. Sangat cemburu. Lihatlah sudah dua kali ia cemburu pada hal yang seharusnya tidak perlu.
"Tentu saja tidak, Annette. Dia adalah teman masa kecilku. Lagi pula aku sudah hidup di perkebunan selama sepuluh tahun. Aku tidak sempat menyukai seorang wanita," kata Leon. mencoba membujuk Annette.
"Tapi kau sempat menyukai Emilie," gerutu Annette yang cemberut.
"Sudahlah kalau kau cemberut seperti itu membuatku ingin menciummu. Apa kau ingin aku melakukannya disini ?" kata Leon sambil mengangkat dagu Annette yang tertunduk.
"Iya, baiklah. Aku percaya. Maafkan aku sudah menuduh mu," kata Annette tersenyum. Ia sendiri juga tidak tau kenapa tiba-tiba saja menuduh Leon seperti itu. Sepertinya jiwa dan raga Annette benar-benar mencintai Leon dan tidak rela Leon memikirkan apapun selain dirinya. Annette saja.
Suara piano samar-samar terdengar dan menyambut langkah mereka yang memasuki ruangan utama. Banyak sekali orang yang datang. Dan dengan sekali melihat saja, Annette sudah menduga kasta sosial mereka.
"Itu Emilie," kata Leon menunjuk kearah tengah ruangan yang dimana dikelilingi banyak orang.
"Benarkah ?" tanya Annette tidak percaya. Ia berjinjit untuk melihat apa benar ada Emilie disana. Tapi mendengar suara piano tersebut membuat Annette mengerti. Mungkin saja Emilie juga diundang kemari untuk bermain piano.
Suara piano yang dimainkan oleh Emilie begitu lembut menyapa telinga. Musik yang mendayu-dayu begitu menenangkan hati.
Tapi tidak untuk Annette. Ia menatap datar kearah sekumpulan orang yang mengelilingi Emilie. Andai saja Emilie tidak mengikuti sifat ibunya yang culas maka Annette pasti akan menyayangi nya.
"Ayo kita mencari makanan. Aku lapar," kata Annette lalu meninggalkan Leon dan melangkah lebih dulu.
Leon menatap heran pada Annette yang suaranya lirih. Tapi tetap ia mengikuti kemana Annette pergi.
"Kau tadi mengatakan tidak lapar saat ayahmu menyuruh makan," kata Leon.
"Itu tadi. Sekarang aku kelaparan karena aku merasa akan mengeluarkan tenaga yang besar," kata Annette menggebu-gebu. Leon hanya mengangkat satu alisnya tanda tidak mengerti. Tapi ia tutup rapat-rapat mulutnya karena merasa Annette sedang tidak dalam suasana hati yang baik.
Annette makan beberapa hidangan. Leon hanya mengambil minuman saja. Ia masih kenyang sejak sarapan dirumahnya pagi tadi.
Selama makan, Annette terus melihat pada tempat orang-orang berkumpul. Dalam hatinya timbul pertanyaan untuk apa mengelilingi Emilie bukannya melihat pengantinnya.
Setelah dirasa kenyang, Annette menyerahkan piringnya yang masih berisi banyak makanan pada Leon. Leon menghela nafasnya panjang sebelum akhirnya menghabiskan makanan Annette.
Dalam hati Leon bersyukur ia tidak mengambil makanan tadi. Kalau tidak, sudah dipastikan perutnya akan penuh dan ia kesulitan berjalan. Jika tidak dimakan Annette pasti marah.
Permainan piano terdengar melambat. Tanda jika akan berakhir. Dan benar, orang-orang memberikan tepuk tangan yang meriah kemudian bubar masing-masing.
Annette mencoba mendekat. Pantas saja mereka berkumpul disini, rupanya kedua mempelai pengantin berdiri di dekat piano. Mungkin mereka tadinya berdansa.
Sesuatu yang melingkar di leher Emilie mulai membakar hati Annette. Ia mengenali itu miliknya. Kenapa Annette bisa tau jika itu miliknya sedangkan bentuk dan warna kalungnya sama dengan milik Emilie ? Karena ia memberikan liontin kecil berbentuk bunga tulip diujung kalungnya yang tepat berada di tengkuk Emilie saat ini.
Emilie yang duduk membelakangi Annette tidak tau jika dibelakangnya ada Annette yang menatapnya dengan tatapan ingin menerkam.
Emilie merasakan ada hawa dingin dibelakangnya. Ia menengok ke belakang dan matanya membulat sempurna ketika mendapati tatapan Annette yang tidak bersahabat. Ia segera ingat jika ia saat ini sedang mengenakan kalung milik Annette.
Emilie menatap kesana dan kemari mencari keberadaan Nyonya Vivian. Sungguh dia tidak bisa menghadapi Annette sendiri. Dan bisa dipastikan jika Annette saat ini sedang marah.
Bayangan tentang bagaimana dua hari yang lalu Annette menarik paksa kalung mendiang Nyonya Isabela yang dipakainya tanpa memikirkan apapun. Itu berarti, tidak menutup kemungkinan jika Annette akan melakukan itu lagi.
Emilie melihat keberadaan Nyonya Vivian. Ibunya itu berada sangat jauh darinya sedang bicara dengan teman baiknya. Terlihat mereka tertawa sambil memegang meminum. Sedikitpun tidak menoleh kearahnya.
Annette hanya berdiri mematung mengamati tingkah Emilie yang ketakutan. Emilie pikir Annette tidak akan berani merebut kalung itu atau membuat keributan di acara ini.
Emilie pun tidak menyangka jika Annette akan datang kemari. Entah siapa diantara Annette atau Leon yang diundang tapi sungguh kehadiran Annette benar-benar tidak ia sangka.
...
Annette kok dilawan😁
😍😍💪❤❤
paati meninggalnya diracun ama vivian..
❤😍😍💪💪💪❤❤❤
❤❤❤💪💪💪
🤣😄😄❤💪💪
😍❤❤❤💪💪💪💪
🤣😄❤❤💪
❤❤😍😍💪