Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.
Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.
Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.
Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04 - Yang Tidak Lagi Ditunggu
..."Diam tidak selalu kosong. Kadang, diam adalah cara hati tetap menyimpan seseorang tanpa harus memilikinya."...
Happy Reading!
...----------------...
Ada hari-hari ketika aku bangun tanpa ingin menanyakan apa pun. Bukan karena sudah mengerti. Tapi karena tidak lagi punya tenaga untuk mencari penjelasan.
Pagi itu berjalan seperti biasa. Seragam kusetrika rapi. Tas kusandang di bahu kiri. Langkahku tetap menuju sekolah yang sama, di jam yang sama. Tidak ada yang berubah dari luar.
Yang berbeda hanya satu: aku tidak lagi mengecek ponsel sebelum masuk gerbang.
Dulu, ada kebiasaan kecil yang selalu kulakukan tanpa sadar—mencari namanya di notifikasi. Satu pesan singkat. Satu sapaan ringan. Apa pun, asal ada tanda bahwa aku masih dipikirkan.
Hari itu, aku tidak mencarinya. Dan tidak ada apa pun yang masuk.
Di kelas, Raven sudah duduk di tempatnya.
Posisinya sama. Cara ia membuka tasnya sama. Ekspresi datarnya juga sama.
Aku melirik sekilas, lalu duduk tanpa menyapanya lebih dulu.
Bukan karena marah. Hanya… ingin tahu rasanya tidak memulai.
Ia menoleh sebentar. Tatapan kami bertemu sepersekian detik. Lalu ia kembali ke bukunya.
Tidak ada yang menyapa. Tidak ada yang bertanya. Dan anehnya—dunia tidak runtuh.
Jam pelajaran berjalan pelan. Aku mencatat. Mendengarkan. Mengangguk saat guru bertanya. Sesekali tertawa kecil ketika teman-teman bercanda.
Aku baik-baik saja. Atau setidaknya, terlihat begitu.
Saat istirahat, Nara menarik lenganku.
“Ke kantin?”
Aku mengangguk. “Ayo.”
Kami berjalan berdua melewati koridor yang ramai. Di tengah langkah itu, aku menyadari sesuatu yang tidak langsung terasa: biasanya aku akan menoleh ke belakang. Mencari Raven. Menunggu ia menyusul. Atau sekadar memastikan ia ada.
Hari itu, aku tidak menoleh.
“Lo kenapa?” tanya Nara pelan saat kami duduk.
“Kenapa apa?”
“Lo lebih diem dari biasanya.”
Aku tersenyum tipis. “Capek aja.”
Itu bukan bohong. Hanya tidak menjelaskan semuanya.
Capek menunggu balasan. Capek membaca jeda. Capek menebak sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditebak.
Setelah istirahat, aku kembali ke kelas lebih dulu. Duduk. Membuka buku. Menghela napas pelan.
Raven masuk beberapa menit kemudian bersama teman-temannya. Tertawa kecil. Bercanda. Suaranya terdengar ringan—versi dirinya yang masih utuh.
Aku menatap mejaku.
Bukan karena tidak ingin melihatnya. Tapi karena aku tidak ingin membandingkan.
Siang itu, guru memberi tugas kelompok dadakan. Nama kami disebut berurutan.
Dan untuk pertama kalinya, aku berharap namaku tidak berada di dekat namanya.
Tapi tetap saja.
Kami duduk berhadapan. Kertas di tengah. Pena di tangan masing-masing.
“Gue kerjain bagian ini ya,” katanya datar.
“Iya,” jawabku singkat.
Tidak ada diskusi panjang. Tidak ada tawa kecil seperti dulu. Kami hanya bekerja. Efisien. Jauh.
Selesai lebih cepat dari kelompok lain.
“Udah,” katanya.
“Iya.”
Kami menyerahkan tugas. Lalu kembali ke tempat duduk masing-masing tanpa kata tambahan.
Di momen itu aku sadar: bahkan kebersamaan pun bisa terasa formal jika perasaan sudah tidak dilibatkan.
Bel pulang berbunyi. Kursi digeser. Tas diangkat. Kelas kembali riuh.
Aku merapikan bukuku tanpa terburu-buru. Tidak ada janji pulang bareng hari itu. Dan aku tidak merasa kehilangan apa pun.
Raven berjalan lebih dulu. Biasanya aku akan menyamakan langkah.
Hari itu, aku membiarkannya menjauh.
Aku pulang bersama Nara. Kami bicara tentang hal-hal ringan—tugas, guru, hal sepele. Dan itu… terasa lega.
Di rumah, aku meletakkan tas dan duduk di tepi tempat tidur. Ponselku tergeletak di samping. Layarnya gelap.
Aku tidak menyalakannya.
Malam datang dengan tenang. Tidak ada pesan masuk. Dan untuk pertama kalinya,
aku tidak menunggu.
Bukan karena berharap ia mengirim. Tapi karena aku mulai belajar: tidak semua keheningan perlu diisi.
Hari-hari setelah itu berjalan mirip. Aku tetap menyapanya jika perlu. Tetap menjawab jika ia bertanya.
Tapi aku berhenti mencari celah untuk mendekat.
Jika dulu aku selalu berjalan setengah langkah di belakangnya—kini aku memilih jalanku sendiri.
Raven tetap di sana.
Dekat. Terjangkau. Tapi tidak lagi kuraih.
Dan aku mulai mengerti sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun: bahwa melepaskan tidak selalu berarti pergi. Kadang, ia hanya berarti berhenti menunggu.
...----------------...
Setelah itu, hidup berjalan seperti biasa. Atau setidaknya, aku memaksakan diri untuk percaya begitu.
Tidak ada pertengkaran. Tidak ada penutupan. Tidak ada kalimat terakhir yang bisa kuingat sebagai akhir.
Kami hanya berhenti saling hadir.
Pandemi datang dan mengambil banyak hal sekaligus. Sekolah ditutup. Ruang-ruang yang dulu penuh cerita mendadak kosong. Dan tanpa kusadari, jarak yang sudah ada menjadi semakin tak terjangkau.
Tidak ada lagi lorong yang familiar. Tidak ada lagi bangku yang sama. Tidak ada lagi kemungkinan untuk bertemu tanpa sengaja.
Yang tersisa hanya ingatan—dan ingatan selalu terasa lebih hidup ketika kenyataan berhenti bergerak.
Berbulan-bulan berlalu. Perasaanku mengecil pelan-pelan. Seperti suara radio yang diputar makin lirih.
Hingga suatu hari aku sadar—aku tidak lagi mendengarnya.
Dan aku mengira, itu sudah selesai.
...----------------...
Hingga dunia kembali dibuka.
Sekolah kembali menjadi tempat yang sama. Langkah kakiku membawaku ke parkiran dekat lobi guru—tempat yang dulu hanya kulewati tanpa berpikir panjang.
Aku berdiri di sana, menunduk, memainkan ponsel seolah tak sengaja. Pikiranku tidak sedang mencari siapa pun.
Dan justru karena itulah, aku melihatnya.
Raven.
Tidak berubah banyak. Posturnya sama. Caranya berjalan masih sama—tenang, mantap, seperti dulu.
Aku menunduk lebih dalam. Tidak ada adegan besar. Tidak ada dialog panjang.
Kami hanya saling melihat sekilas—cukup untuk mengenali, tidak cukup untuk kembali.
Nara berjalan di sampingku. Aku tahu dia menangkap perubahan langkahku.
Ia tersenyum kecil. Aku tidak menanggapi. Kami melanjutkan langkah.
Dan di sanalah aku tahu: beberapa orang datang bukan untuk menetap. Mereka singgah cukup lama untuk meninggalkan jejak—lalu pergi tanpa penjelasan.
Aku meninggalkan area parkiran itu tanpa menoleh lagi. Membawa sesuatu yang tidak lagi menyakitkan, tapi akan selalu menjadi bagian dari siapa aku dulu dan siapa aku sekarang.
...----------------...
Sejak hari itu, ada satu hal kecil yang kembali menggangguku.
Parkiran dekat lobi guru.
Tempat itu seharusnya tidak berarti apa-apa. Hanya area lewat. Hanya titik singgah sebelum pulang.
Tapi sejak kami bertemu lagi di sana, kakiku selalu melambat setiap kali melewatinya.
Aku tidak sedang mencari Raven. Aku tahu betul itu.
Namun mataku, entah kenapa, selalu bergerak lebih dulu. Seperti refleks lama yang belum sepenuhnya hilang.
Setiap suara motor yang berhenti, setiap langkah yang terdengar dari arah gerbang, dadaku sempat menegang—sebentar saja.
Lalu aku menarik napas, menenangkan diri sendiri.
Tidak ada siapa-siapa. Atau ada orang lain—bukan dia.
Dan entah kenapa, aku tidak tahu mana yang lebih melelahkan: harap kecil yang muncul,
atau kelegaan singkat saat harapan itu patah lagi.
Aku menyadari satu hal yang tidak ingin kuakui sejak awal: aku baik-baik saja sebelum pertemuan itu.
Bukan sepenuhnya sembuh. Tapi stabil. Aku sudah berhenti menunggu. Sudah berhenti menoleh. Sudah berhenti berharap ada sesuatu yang kembali.
Lalu ia muncul—tanpa niat, tanpa usaha, tanpa permintaan maaf—dan menggeser sedikit keseimbangan yang sudah susah payah kujaga.
Bukan karena ia melakukan apa-apa. Tapi karena kenangan tidak pernah butuh izin untuk datang kembali.
Malam-malamku jadi sedikit lebih panjang sejak itu.
Aku kembali membuka ponsel, bukan untuk mengirim pesan, melainkan memastikan aku masih cukup kuat untuk tidak melakukannya.
Namanya tetap ada. Masih di tempat yang sama. Aku menatapnya beberapa detik. Lalu mengunci layar.
Aku tahu, satu langkah kecil saja bisa membuatku kembali ke titik awal. Dan aku tidak ingin mengulang perjalanan yang sama,
hanya untuk berakhir di jarak yang serupa.
Aku masih merasakan sesuatu—aku tidak menyangkalnya. Tapi kali ini, aku memilih menahannya.
Bukan karena takut. Bukan karena tidak berani. Melainkan karena aku tahu: tidak semua yang kembali perlu disambut.
Beberapa hanya datang untuk menguji apakah kita benar-benar sudah belajar menjaga diri sendiri.
Dan di parkiran itu, setiap sore, aku belajar satu hal yang sunyi tapi penting: aku boleh terganggu—tapi aku tidak harus kembali.
...----------------...
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/