NovelToon NovelToon
Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

"Terima kasih, Tante," ucap anak perempuan itu, matanya berkaca-kaca saat ia mengangkat wajahnya memandang Vania dengan penuh haru.

Sebuah pertanyaan terlontar dari bibir Vania yang mencoba menyelami lebih dalam, "Siapa Om yang tadi bersamamu, sayang?"

Dengan sebuah jabat tangan yang penuh arti, anak perempuan itu memperkenalkan diri, "Perkenalkan Tante, namaku Syakila, tapi biasa dipanggil Cila. Om yang tadi...," suaranya bergetar, terhenti sejenak. "Om itu... dia mau menculik aku." Wajahnya memucat, rasa takut yang mendalam terpancar jelas.

"Papah pernah bilang, ada orang-orang jahat dengan ciri-ciri tertentu; mereka berwajah seram, memakai jaket kulit, sering memberi jajanan pada anak-anak, dan berpura-pura baik. Papah bilang  kalau bertemu seseorang seperti itu, aku harus minta tolong pada tante-tante atau ibu-ibu sambil mengaku sebagai keluarga agar si penculik takut dan mengurungkan niatnya," lanjutnya sambil menggenggam tangan Vania, mencari kekuatan.

"Terima kasih sudah buat om penculik itu kabur, Tante," akhirnya dengan suara yang bergetar dan mata yang masih berkaca-kaca, Syakila menyampaikan rasa terima kasihnya yang paling dalam, menggenggam erat tangan Vania dalam solidaritas dan rasa aman yang baru ditemukannya.

"Ya ampun, syukurlah aku tadi samperin kamu. Maafin tante ya, tadi sempat emosi gara-gara kamu merengek. Tante pikir Om yang tadi itu Papah kamu. Terus papa kamu sekarang di mana?"

Sebelum gadis itu sempat menjawab, suara tegas dari belakang Vania memintanya untuk segera menggeser dari hadapan kasir. Dengan wajah bersalah, Vania meminta maaf dan segera membimbing Cila ke meja tempat ia dan dua asistennya tengah menunggu.

Cila duduk dengan lembut, wajahnya yang lucu memikat hati kedua asisten tersebut yang tidak bisa menyembunyikan rasa gemas mereka. Vania menatap gadis kecil itu, rasa penasaran bercampur kehangatan terpancar dari matanya.

"Jadi, Papah kamu sekarang di mana, Nak?"

"Papa ada di luar kota, Tante," jawab Cila dengan suara lembut.

"Luar kota?" Vania dan kedua asistennya nyaris serempak terkejut.

"Terus, mama kamu di mana?" tanya Vania, penasaran menggantung di udara.

Namun, alih-alih menjawab, Cila malah mengalihkan topik. "Cila boleh minum dulu gak, Tante?"

"Boleh banget, anak manis," sambut salah satu asisten dengan penuh kasih, sambil menyodorkan segelas es teh manis yang masih hampir penuh kepada Cila, membuat suasana menjadi lebih hangat dan penuh kelembutan.

"Mamah Cila sudah di surga," ujar Cila lirih, setelah meneguk habis minuman yang diberikan oleh asisten Vania.

Kata-katanya menghantam relung hati Vania yang terkejut mendengar pengakuan itu. "Oh, maaf Tante tidak tahu. Lantas, dengan siapa kamu tinggal sekarang?" tanya Vania, suaranya lembut penuh kepedulian.

"Dengan Bibi, suster dan om supirnya Papah," jawab Cila seraya matanya menghindar, seolah menyimpan cerita pilu yang tak ingin terungkap.

Di samping Vania, Risa, salah satu asisten Vania, mengamati Cila dengan tatapan penuh keheranan. "Aku rasa pernah melihat anak ini. Ya, dia sangat mirip dengan anak aktor yang sedang naik daun. Ayahnya itu sering muncul di web series," gumamnya hampir tidak percaya.

Vania mengerutkan alisnya, pandangan matanya semakin dalam saat menatap Cila. "Siapa nama ayah kamu, Nak?" tanyanya, suara bergetar, seakan-akan menyentuh sebuah misteri yang sebentar lagi terpecahkan.

"Nama papah aku Farel Ardhana,Tante."

Seketika dia asisten Vania serentak bersorak." Wah! Anaknya duren kiyowo."

"Tuh kan bener, aku sebagai fans Farel gak akan pernah salah."

Vania menggeleng-geleng kepala, memang dua asistennya ini penggemar Farel Ardhana, aktor yang tengah naik daun karena web series-nya yang bisa buat orang-orang baper gak ketulungan.

___

Vania memasuki gerbang rumah mewah itu dengan hati yang diliputi kecemasan. Begitu kaki menginjak halaman, dua sosok wanita menyambutnya dengan napas lega yang terlihat jelas di wajah mereka.

"Gusti, non Cila kemana saja? Tadi bibi dan mbak sus mencarimu di sekolah, tapi kamu tak ada di sana. Ibu guru sampai ikut panik cariin Cila," ucap perempuan paruh baya itu sambil memeluk Cila erat.

Cila, dengan mata berbinar, menunjuk ke arah Vania, "Cila bersama Tante ini, Bi. Tadi ada om yang mengajak Cila ke kafe, tapi untungnya tante ini menyelamatkan Cila," cerita Cila dengan nada lega.

Mendekati perempuan paruh baya itu, Vania meraih tangan wanita tersebut dalam jabat tangan yang penuh arti, diikuti kedua asistennya. "Eum, tadi di kafe saya liat Cila bersama seorang laki-laki. Saya kira pria itu adalah ayah Cila, untungnya saya peka. Pria itu pergi setelah saya menghampiri mereka dan mengaku sebagai.." Vania berbicara, meninggalkan kata-kata tergantung di udara.

"Sebagai pacarnya papah," timpal Cila tiba-tiba.

Vania hanya bisa menggaruk kepala, yang sebenarnya tidak gatal, mencoba menyembunyikan raut kebingungannya. "Iya," dia mengakui, mencoba menstabilkan keadaan yang hampir saja meluncur ke jurang yang tidak terduga.

"Terima kasih,mbak udah mau menolong anak majikan saya. Saya gak tau lagi gimana nasib non Cila kalau mbak gak nolong dia," tutur perempuan paruh baya itu.

"Sama-sama. Saya sarankan, Cila sebaiknya di jemput lebih awal untuk berjaga-jaga supaya hal ini tidak terjadi lagi. Apalagi akhir-akhir ini penculikan anak sedang marak terjadi."

"Baik, mbak terima kasih sarannya. Kalau boleh tau nama mbak siapa?"

"Saya Vania Maheswari."

Wanita paruh baya itu mengangguk." Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih. Maaf, saya gak bisa kasih apa-apa sebagai ucapan terima kasih."

"Gak apa-apa, Saya menolong Cila bukan untuk sebuah imbalan, tapi saya menolongnya secara ikhlas sebagai sesama manusia. Kalau begitu kami pamit."

"Baik,sekali lagi terima kasih ya Mbak Vania."

Vania sesekali menilai ke belakang, memastikan anak perempuan itu baik-baik saja di rumah. Entah kenapa setelah menolong Cila, dia merasa tenang dan bangga pada dirinya sendiri karena berhasil menolong seorang anak perempuan yang dalam bahaya. Walaupun dirinya tidak terlalu suka dengan anak kecil, tapi melihat Cila ia merasakan sesuatu yang berbeda. Dari jauh Cila terus melambaikan tangan kepada Vania dan dua asistennya.

Vania ada dua asistennya masuk ke dalam mobil kemudian menyusuri jalanan kota. Dering ponsel Vania berbunyi pertanda ada pesan masuk. Vania mengambil ponselnya dengan tangan kiri sambil menyetir mobil, ternyata ada pesan masuk dari kekasihnya.

Sayang|

Aku sama kedua orang tuaku, sore ini akan berangkat ke sana. Besok pagi aku akan ajak kalian ke wisata alam. Miss you, Vania.

Tanpa membalas pesan itu, Vania kembali meletakkan ponselnya. Di sampingnya salah satu asistennya tiba-tiba berbicara.

"Beruntung banget Mbak Vania bisa nolongin anaknya Farel!" Jeruk salah satu asistennya dengan semangat.

"Biasa aja kali, Ris. Aku nolong anak itu bukan karena dia anak seorang artis tapi murni karena rasa kemanusiaan. Untung saja tadi aku nggak emosi duluan," ujar Vania.

"Berarti Tuhan masih sayang sama anak itu dan Mbak Vania jadi perantara pahlawan kesiangan buat anak itu," ujar asistennya yang lain bernama Indah lalu tertawa.

"Pahlawan kesiangan yang juga suka bangun kesiangan,"timpal Risa lalu ikut tertawa.

Walaupun mereka sedang bersenda gurau di tengah lalu lalang kendaraan, Vania tetap fokus menyetir hinggak akhir dia berhenti karena lampu merah. Ia seakan-akan bisa lupa perihal pesan masuk dari Deo. Yang perlu disiapkan nya saat ini adalah mental yang kuat dan tegar saat nanti berhadapan dengan Deo dan juga calon mertuanya.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
falea sezi
bodoh kn ada tuh fto dio. up aja lah bego
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!