Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal ditempat baru
Setelahnya dirinya pulang kembali kerumah tempat dirinya dilahirkan dan tinggal bersama dengan Kakaknya disana, disana pun terdapat masalah dengan Iparnya yang dimana Iparnya ingin melecehkan dirinya. Akhirnya Yanti mengirimnya untuk kos sendirian, namun di dalam kos itu juga Indira tidak bisa tenang karena terus saja ditelpon oleh Kakaknya entah keponakannya masuk rumah sakit ataupun yang lainnya.
Akhirnya Ayahnya meninggal dunia disaat Indira tengah tinggal di kos kosan, oleh karenanya Neneknya langsung menyuruhnya untuk tinggal dirumah saja bersama dengannya. Tidak ada yang mengetahui kejadian yang sebenarnya terjadi diantara mereka, yang mereka ketahui hanyalah Indira yang tidak mau tinggal dirumahnya sendiri karena ada alasan yang tidak bisa dijelaskan.
Akhirnya dirinya pun merenovasi kamar yang ia tinggali sebelumnya, yakni kamar yang diberikan oleh kedua orang tuanya dan sejak kecil dirinya sudah tidur dikamar itu sendirian. Setelah semuanya selesai di renovasi, akhirnya dirinya sendiri yang diusir dari rumah tersebut.
Entah berapa kali lagi dirinya harus pindah pindah tempat tinggal, rasanya tiada tempat yang bisa ia tinggali didunia ini dan bahkan rasanya ia tidak berhak untuk hidup didunia ini. Meskipun Ibunya telah menikah lagi, namun ia tidak bisa tinggal disana karena anak dari Ayah barunya lelaki semua, dan hanya Ibunya saja yang perempuan ditempat itu.
"Kalo begitu kami pamit dulu, masih banyak pekerjaan yang harus kami lakukan soalnya," Ucap Riki setelah menghafal perkataan dari Ana.
"Iya makasih ya sudah bantuin aku pindahan, hati hati dijalan ya. Sampaikan juga terima kasih sama Rania," Ucap Indira.
"Baik Bos."
Ketiganya langsung berpamitan untuk pergi dari sana, karena masih banyak pekerjaan yang harus mereka bertiga lakukan. Pada akhirnya ketiganya langsung bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut, dan perlahan lahan mobil yang mereka naiki pun tidak lagi dapat dilihat oleh Indira.
"Padahal jaraknya deket loh kok mahal amat," Ucap Ana yang protes mengenai biaya yang ditentukan oleh Riki.
"Sudah nggak papa, uang masih bisa dicari." Ucap Yanti.
"Baiklah ayo masuk," Ajak Ana.
Mereka pun langsung masuk kedalam rumah itu setelahnya, Indira sendiri pun memasukkan barang barangnya satu persatu kedalam kamar yang telah disiapkan untuknya dikamar paling belakang. Sebenarnya ada dua kamar yang masih kosong didalam rumah itu, namun Indira memilih dikamar yang paling belakang karena disanalah pasti ada ketenangan.
Apalagi Ana memiliki sebuah usaha krupuk, jadi rumah itu tidak pernah sepi pembeli maupun pekerja yang mengemasi krupuk krupuk itu, dan dikamar belakang memang tempatnya jauh dari keramaian. Oleh karenanya Indira lebih memilih dikamar paling belakang, sehingga jauh dari segala keramaian yang ada didepan.
"Mandi mandi dulu sana, pulang kerja belom mandi kan?" Tanya Ana kepada Indira.
"Belom Bude," Jawab Indira.
"Mandi dulu habis itu baru nata pakaianmu, santai santai dulu,"
"Baik Bude." Indira langsung bergegas untuk pergi meninggalkan tempat itu untuk menuju kearah kamar mandi yang ada didalam rumah tersebut.
"Kamu juga mandi mandi dulu sana, masak langsung pulang tanpa mandi dulu," Ucap Ana kepada Yanti.
Setelah membuka pesan yang dikirim oleh Indira, Yanti langsung bergegas menuju kerumah Ibunya setelah pulang dari kerjanya. Ia sangat khawatir dengan anaknya itu, namun yang di khawatirkan olehnya masih tengah bekerja saat itu karena Indira sendiri pabriknya lembur sehingga dirinya pulang sore.
Sejak pulang kerja, Yanti langsung bergegas pergi dari rumahnya, ia pun belum sempat untuk makan dan masak untuk orang rumah. Hingga sekarang pun rasanya Yanti tidak nafsu makan karena tidak menyangka bahwa Adiknya sendiri melakukan hal seperti itu kepada Indira, bahkan Adiknya tega membuat Indira tidak betah dirumah itu.
"Nanti saja dirumah mandinya, Mbak. Nggak bawa baju ganti soalnya," Ucap Yanti.
"Pake baju punyanya Mbak saja, didalam ada banyak kok,"
"Nggak usah deh, nanti saja,"
"Kalo gitu ya makan makan dulu sana, Mbak masak banyak hari ini untuk kalian berdua, Mbak tau kalo kamu belom makan kan?"
"Belom sih, tapi lagi nggak ada mood untuk makan, masih nggak nyangka saja kalo adanya kejadian seperti ini sekarang. Apalagi Panca yang sejak kecil begitu tak sayang tapi ternyata tega dengan keponakannya sendiri,"
Yanti memiliki delapan saudara kandung, dirinya adalah anak ke empat dari delapan bersaudara. Kakaknya yang pertama sudah meninggal sejak dalam kandungan, dan dari tujuh saudara itu hanya terdapat tiga orang anak perempuan selebihnya lelaki semua.
Namun anak perempuan paling kecil diantara mereka telah diadopsi oleh keluarga lain, karena mereka belum juga diberikan momongan sehingga mereka langsung mengadopsi Adik dari Yanti, ditambah lagi karena faktor ekonomi yang membuat Ibunya Yanti setuju.
Mereka semua sudah memiliki kehidupannya masing masing dan tinggal bersama mertuanya sendiri sendiri, sementara Panca dia memilih tinggal bersama Ibunya. Namun mertua dan menantu itu sering kali cekcok, oleh sebabnya Panca pun memisah rumah dengan Ibunya namun masih ditanah yang sama.
"Aku juga heran kenapa bisa punya Adik seperti itu, padahal dulunya dia sangat penurut," Ucap Ana.
"Udah sering loh kita diginiin, dulu aja hampir rame semua dulur dulur gara gara dia,"
"Iya, kamu masih ingat nggak? Gara gara hal kecil saja dia sampek nggak mau ngakuin Anakku sebagai keponakannya, ya sudah sama aku langsung ku bantah, kalo dia nggak mau ngakuin Anakku sebagai keponakannya ya nggak usah ngakuin aku sebagai saudaranya juga."
"Heran aku sampek an, Mbak. Kok bisa bisanya dia begitu sama saudaranya sendiri, padahal waktu dia sakit juga yang ngerawat saudaranya. Masak gara gara uang yang aku minta waktu itu,"
"Uang apa?"
Yanti lalu menceritakan kejadiannya kepada Ana, dahulunya Yanti punya uang hasil kerjanya namun dipinjam oleh Panca untuk mencicil motornya. Karena Yanti belum ada butuhnya sehingga ia meminjamkan uangnya kepada Panca, Yanti bilang kalau sewaktu waktu dia butuh Panca harus ada uangnya karena untuk biaya sekolah anaknya.
Semenjak dirinya pisah dengan suaminya, Yanti selalu berusaha sendiri untuk bisa membiayai sekolah dari anaknya dan membiayai hidup dari anak anaknya. Namun ketika Indira butuh untuk biaya sekolah (SPP), Yanti langsung meminta uang itu kembali, tapi jawaban Panca sungguh sangat menyakitkan bagi Yanti.
Panca menjawab seolah olah Yanti memberikan uang padanya dan diminta kembali, padahal yang sebenarnya adalah Yanti meminjamkannya kepada dirinya lantaran merasa iba dengan saudaranya namun dengan syarat kalo dirinya butuh uangnya juga harus ada. Semenjak itu juga sifat Panca kepadanya sangatlah berubah, dan bahkan tidak dapat dikenali oleh Yanti.
Sejak kecil memang Yanti sering memberi uang kepada Panca, namun setelah menikah Yanti justru sibuk dengan keluarganya tapi tidak pernah melupakan saudara saudaranya. Kalau Yanti membutuhkan sesuatu ia akan minta tolong kepada saudaranya itu, tapi juga tidak dengan tangan kosong.
Namun semenjak dirinya menikah lagi dengan suami barunya itu, Yanti tidak pernah berbagi kepada mereka karena posisinya sendiri juga tengah kekurangan, namun tidak ada yang bisa memahaminya. Yang mereka lihat hanyalah kesalahannya saja, tanpa melihat bagaimana kebaikan yang telah diberikan.
"Tapi itu kan kejadian sudah bertahun tahun yang lalu," Ucap Ana yang memang dirinya sudah mengetahuinya namun dia lupa.
"Lah mangkanya itu, padahal dirinya sendiri juga yang bilang kalo waktu aku butuh dia langsung mengembalikan uangnya. Tapi waktu diminta sama Riri dulu ucapannya tuh tidak enak di hati,"
"Sudah lupakan saja, penting sekarang sudah bisa melewati semuanya. Lagian Indira juga sudah tinggal disini,"
"Iya, aku minta tolong banget ya Mbak, jagain Dira. Kalo dia ikut aku juga nggak bisa,"
"Iya biar dia tinggal disini saja, Mbak malah nggak ikhlas kalo dia tinggal disana apalagi sampai ngekos,"
"Iya Mbak, makasih."
Setelah mengobrol cukup lama, akhirnya Yanti berpamit untuk pulang karena ia takut kalau suaminya akan mencarinya nanti. Sebelum berangkat kesana memang suaminya tengah bekerja, dirinya juga sudah berpamitan kepada suaminya, dan sekarang semuanya sudah selesai ia harus pulang.
Jika ke malaman dijalan suaminya bisa marah kepadanya, apalagi jalanan menuju kearah rumah barunya itu sangatlah jauh dan juga jalannya sangat rawan terhadap kecelakaan ataupun begal. Perjalanan menuju kearah rumahnya kerap melewati persawahan dan gelap, oleh karenanya dirinya harus pulang sebelum langit mulai gelap.
"Yaudah pamitan dulu sama Dira,"
"Iya Mbak."
Setelah kepergian dari Ibunya, Indira langsung membersihkan kamarnya dan menata kembali pakaiannya yang sebelumnya berceceran. Rasanya pundaknya terasa sangat capek ditambah lagi setelah pulang bekerja dia langsung boyongan, sehingga tidak ada kesempatan untuknya beristirahat walaupun sebentar.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya dia pun terlelap dalam tidurnya, ia bahkan tidak menyadari kapan dirinya mulai tertidur dan kapan terakhir kali dirinya tersadar. Karena sangking lelahnya, sehingga dapat membuatnya langsung tertidur begitu saja.
******
"Dira sini," Panggil Ana.
"Kenapa Bude?" Tanya Indira sambil berjalan untuk mendekat kearah Budenya itu.
"Sini, duduk sini." Ana lalu menepuk sebuah kursi untuk mempersilahkan Indira duduk disana.
"Kenapa Bude?" Tanya Indira setelah duduk.
"Belum pernah masak kan? Bude ajarin masak, pumpung Bude mau masak. Siapa tau dengan ini kamu bisa masak, jangan kayak Mbak Pita, dia sampek kebingungan caranya masak waktu disuruh mertuanya masak."
"Iya Bude."
Ana lalu mengajari Indira bagaimana caranya untuk memasak, meskipun selama ini Indira belum pernah memasak namun dirinya juga sudah bisa memasak meskipun sedikit sedikit. Karena waktu dulu sebelum orang tuanya berpisah, Indira sering main masak masakan dengan temannya.
Entah memasak membuat bakso aci, martabak, dan lain sebagainya. Namun dirinya belum bisa memasak masakan yang sulit sulit, seperti membuat gule, soto, dan yang lain sebagainya yang dimana masakannya membutuhkan bumbu dapur yang sangat banyak jenisnya.
Indira menyimak terus apa yang tengah diajari oleh Ana kepadanya, Ana mengira bahwa Indira belum pernah diajari hal seperti itu oleh Yanti sebelumnya. Namun siapa sangka bahwa itu semua sudah dipelajari oleh Indira lebih awal daripada anak seusianya, namun Indira jarang melakukan itu karena sudah dilakukan oleh Nenek Neneknya dan mereka tidak membiarkan Indira melakukannya.
"Kalo membuat perkedel itu seperti ini, jadi semua bumbunya di goreng dulu habis itu kentangnya,"
"Kalo di kukus bisa Bude?" Tanya Indira padahal dirinya sudah tau jawabannya, namun biar terkesan bahwa dirinya memang belum pernah masak.
"Oh tentu bisa, tapi nanti gampang basi jadinya. Kalo di goreng masih bisa tahan lama, kalo di rebus atau di kukus gampang basi soalnya mengandung air."
"Biasanya Bunda buatnya direbus soalnya,"
"Memang bisa, tapi tekstur dan rasa enakan di goreng. Nanti ada rasa sedap sedapnya juga,"
"Oh begitu."
Indira terus memperhatikan hal yang dilakukan oleh Budenya itu dengan seksama, meskipun dirinya sudah hafal nantinya namun dia tetap memperhatikannya tanpa menoleh kearah manapun. Ana sendiri memperlihatkan apa yang dilakukan olehnya sambil memberi arahan kepada Indira tentang cara memasak, ia juga mengajari Indira untuk mengenal jenis jenis bumbu.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.