Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.
Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Gua Kristal Biru
Debu es yang beterbangan akibat runtuhnya dinding air terjun perlahan mengendap, menyelimuti permukaan tanah dengan lapisan putih yang tipis di depan gerbang batu yang baru saja terungkap. Elara masih mematung, napasnya terlihat sebagai uap putih yang terputus-putus, seirama dengan denyut cahaya biru safir yang memancar dari ukiran kristal di bingkai pintu kuno itu. Setiap kali cahaya itu berpendar, Elara merasakan tarikan halus di ulu hatinya, seolah-olah sirkuit Void di dalam tubuhnya sedang mengenali sisa-sisa peradaban yang telah lama terkubur.
"Nyonya, jangan melangkah lebih jauh dulu," Kaelen melangkah maju, memposisikan dirinya di antara Elara dan kegelapan gua yang menganga. Pedang peraknya ia genggam erat, meski tangannya sendiri sedikit gemetar karena tekanan mana yang mendadak meningkat di sekitar mereka. "Tekanan di dalam sana... ini bukan sekadar sihir alam. Ini adalah jebakan atau pemakaman."
Elara menatap tangan kirinya yang menghitam hingga ke siku. "Mati rasa ini sudah mencapai batasnya, Kaelen. Jika aku tidak menemukan sumber resonansi ini sekarang, tangan ini mungkin harus dipotong besok pagi."
"Justru karena itu kita harus kembali ke perkemahan!" Kaelen berseru, suaranya naik satu oktav karena cemas. Ia meraih tangan kiri Elara yang dingin dan kaku. "Lihat tanganmu! Kau bahkan tidak bisa merasakan jemarimu sendiri. Masuk ke dalam sana dalam kondisi stamina terkuras adalah bunuh diri."
Elara menoleh pelan, menatap Kaelen dengan mata yang tampak redup namun tajam. "Jika aku mundur sekarang, martabatku sebagai komandan di depan para prajurit yang baru saja kupulihkan akan hancur. Dan yang lebih penting, ancaman dari sekte itu tidak akan berhenti hanya karena kita takut. Mereka menunggu di kegelapan, Kaelen. Aku harus masuk."
Kaelen terdiam, namun matanya tidak beralih dari tangan Elara. Ia bisa merasakan hawa dingin yang menjalar dari kulit Elara ke telapak tangannya sendiri. "Aku hanya tidak ingin kehilanganmu, Aurelia."
Penyebutan nama aslinya dalam bisikan yang begitu rapuh membuat dinding pertahanan Elara retak sesaat. Ada kerinduan yang mendalam di mata ksatria itu, sebuah permohonan agar ia kembali menjadi gadis yang ia kenal di Asteria dulu.
"Aurelia sudah mati di malam pembakaran itu, Kaelen," bisik Elara, menarik tangannya perlahan dari genggaman Kaelen. "Yang tersisa hanyalah Elara, dan Elara memiliki tanggung jawab untuk memastikan tidak ada lagi prajurit yang mati sia-sia. Minggirlah."
Kaelen membungkuk rendah, memberikan jalan dengan berat hati. "Hamba mengerti, Komandan."
Elara melangkah melewati ambang pintu batu. Begitu kakinya menyentuh lantai gua yang terbuat dari batuan obsidian halus, cahaya biru di dinding gua mendadak menyala terang, menerangi lorong panjang yang menurun ke perut bumi. Udara di dalam sini terasa sangat lembap dan berbau logam—bau ozon yang tajam yang biasa muncul setelah ledakan mana murni.
"Bawa sepuluh prajurit barisan Bisu masuk," perintah Elara tanpa menoleh. "Pastikan mereka tetap dalam radius tiga meter dariku. Aku akan menciptakan lentera pelindung agar mana di dalam sini tidak menghancurkan paru-paru mereka."
Elara mengangkat tangan kanannya yang masih berfungsi normal. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia memutar aliran mana di udara, membentuk bola cahaya ungu redup yang melayang di atas kepala mereka. Lentera Void itu berfungsi sebagai filter bagi radiasi mana yang sangat pekat di dalam gua.
"Nyonya, bau udara ini... ini persis seperti bau di ruang bawah tanah istana lama sebelum dihancurkan," bisik salah satu prajurit yang berjalan di belakang Elara.
"Simpan bicaramu," sahut Elara dingin. "Fokus pada langkahmu. Jangan menyentuh dinding gua jika kau masih ingin kulitmu tetap menempel pada dagingmu."
Semakin dalam mereka masuk, lorong itu semakin lebar hingga mereka sampai di sebuah ruang terbuka raksasa di bawah tanah. Di sana, pemandangan yang tersaji membuat para prajurit terkesiap. Puluhan sosok manusia berdiri mematung di sepanjang dinding gua, namun mereka bukan lagi daging dan darah. Seluruh tubuh mereka telah berubah menjadi kristal biru transparan, dengan ekspresi wajah yang membeku dalam penderitaan yang abadi.
"Apa yang terjadi pada mereka?" bisik Rina, wajahnya pucat pasi saat melihat sosok kristal yang tampak seperti seorang prajurit sedang memohon ampun.
Elara mendekati salah satu sosok kristal itu. "Ini adalah kegagalan purifikasi dari era kuno. Mereka mencoba menyerap energi tanpa memiliki sirkuit yang sanggup menahan kehampaan. Energi ini menyerap cairan tubuh mereka dan mengubahnya menjadi mineral dalam sekejap."
"Dan Anda masih ingin melanjutkan?" Kaelen mendekat, suaranya penuh horor. "Ini bukan pemakaman, ini adalah ruang eksekusi."
"Bagiku, ini adalah tempat latihan yang paling murni," jawab Elara tanpa keraguan.
Di tengah ruangan raksasa itu, berdiri sebuah altar batu yang dikelilingi oleh parit air yang tidak membeku. Di atas altar, sebuah bongkahan kristal sebesar kepala manusia melayang, berdenyut dengan cahaya safir yang sangat kuat. Inilah Inti Kristal Biru.
"Tetap di sini," perintah Elara kepada pasukannya. "Jangan ada yang melangkah melewati parit air itu. Jika kalian menyentuhnya, kalian akan membeku secara molekuler sebelum sempat berteriak."
Elara melangkah menuju parit air. Setiap langkahnya terasa sangat berat, seolah-olah gravitasi di sekitar altar itu berkali-kali lipat lebih kuat. Ia bisa merasakan sirkuit jiwanya mulai memberontak, merespons energi masif yang terpancar dari inti kristal tersebut. Namun, dendam yang ia simpan selama bertahun-tahun menjadi bahan bakar yang mendorongnya terus maju.
Dunia di sekitar Elara mendadak senyap, menyisakan suara detak jantungnya yang berdentum kencang di telinga. Ia merasakan jiwanya ditarik masuk ke dalam inti kristal tersebut, bukan sebagai serangan, melainkan sebagai proses penyatuan. Di dalam pusaran energi itu, Elara mengalami kilas balik singkat—bukan memori miliknya, melainkan sisa-sisa memori dari tanah Utara ini. Ia melihat api yang melahap Asteria, mendengar jeritan orang-orang yang dicintainya, dan merasakan alasan sebenarnya mengapa kekaisaran begitu takut pada kekuatan Void.
"Kau tidak akan bisa menampungnya, Elara! Lepaskan!" teriak Kaelen dari kejauhan.
Elara tidak melepaskannya. Alih-alih melawan, ia menerapkan teknik Void Inversion. Ia membuka setiap sirkuit mananya, membiarkan energi kristal yang masif itu mengalir masuk dan mengisi kekosongan di dalam dirinya. Rasa dingin yang awalnya membekukan perlahan berubah menjadi hangat yang menjalar dari telapak tangannya menuju ke seluruh tubuh.
"Aku tidak... akan... melepaskannya," bisik Elara dengan suara yang bergema ganda, seolah-olah ada suara lain yang berbicara bersamanya.
Secara perlahan, warna hitam yang menjalar di tangan kirinya mulai memudar. Bukan menghilang, melainkan berubah menjadi jaringan cahaya biru transparan yang berpendar di bawah kulitnya. Tubuh Elara mulai terangkat beberapa inci dari lantai altar, diselimuti oleh cahaya biru pekat yang menyilaukan hingga menyapu seluruh ruangan gua.
"Nyonya!" Juna mencoba maju, namun ia terlempar mundur oleh gelombang kejut mana yang keluar dari tubuh Elara.
Cahaya itu semakin terang, menelan sosok Elara sepenuhnya. Tekanan udara di dalam gua menjadi begitu padat hingga para prajurit barisan Bisu terpaksa berlutut untuk menahan beban di pundak mereka. Selama beberapa detik yang terasa abadi, hanya ada kesunyian yang mencekam dan cahaya safir yang membakar kegelapan.
Saat cahaya itu perlahan memudar dan kembali menyerap ke dalam tubuhnya, Elara mendarat kembali di atas obsidian dengan gerakan yang sangat ringan. Sirkuit di tangan kirinya tidak lagi menghitam; tangan itu kini tampak bersih namun memiliki garis-garis kristal transparan yang bersinar lembut.
Elara mendongak, dan Kaelen membeku di tempatnya. Ia melihat mata Elara tidak lagi memiliki pupil tunggal. Di dalam iris ungunya, kini terdapat lingkaran ganda yang berputar pelan, memancarkan aura otoritas yang absolut dan dingin.
Void Level 2.0: Tercapai.
"Semuanya sudah berakhir?" bisik Rina yang gemetar di sudut gua.
Elara tidak menjawab. Ia berdiri tegak, merasakan setiap partikel udara di dalam gua berada di bawah kendalinya. Namun, ketenangan itu hanya bertahan sesaat. Sensorik Void-nya yang baru saja berevolusi menangkap getaran frekuensi yang tajam dari arah pintu masuk gua di permukaan tebing.
"Tunggu," Elara mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua diam.
Dari kejauhan, melintasi lorong-lorong batu yang lembap, terdengar sebuah suara yang memecah kesunyian malam di luar sana. Sebuah teriakan peringatan yang melengking dari salah satu pos penjaga atas, memecah kesunyian pegunungan es.
"Musuh! Ada rombongan tak dikenal mendekati perkemahan!"
Suara teriakan itu bergema masuk ke dalam gua, memantul di dinding-dinding kristal. Elara memicingkan matanya yang memiliki pupil ganda, menatap ke arah kegelapan lorong pintu keluar dengan tatapan yang mampu menembus malam.
Dunia di sekitar Elara mendadak senyap, menyisakan suara detak jantungnya yang berdentum kencang di telinga. Ia merasakan jiwanya ditarik masuk ke dalam inti kristal tersebut, bukan sebagai serangan, melainkan sebagai proses penyatuan. Di dalam pusaran energi itu, Elara mengalami kilas balik singkat—bukan memori miliknya, melainkan sisa-sisa memori dari tanah Utara ini. Ia melihat api yang melahap Asteria, mendengar jeritan orang-orang yang dicintainya, dan merasakan alasan sebenarnya mengapa kekaisaran begitu takut pada kekuatan Void.
"Kau tidak akan bisa menampungnya, Elara! Lepaskan!" teriak Kaelen dari kejauhan.
Elara tidak melepaskannya. Alih-alih melawan, ia menerapkan teknik Void Inversion. Ia membuka setiap sirkuit mananya, membiarkan energi kristal yang masif itu mengalir masuk dan mengisi kekosongan di dalam dirinya. Rasa dingin yang awalnya membekukan perlahan berubah menjadi hangat yang menjalar dari telapak tangannya menuju ke seluruh tubuh.
"Aku tidak... akan... melepaskannya," bisik Elara dengan suara yang bergema ganda, seolah-olah ada suara lain yang berbicara bersamanya.
Secara perlahan, warna hitam yang menjalar di tangan kirinya mulai memudar. Bukan menghilang, melainkan berubah menjadi jaringan cahaya biru transparan yang berpendar di bawah kulitnya. Tubuh Elara mulai terangkat beberapa inci dari lantai altar, diselimuti oleh cahaya biru pekat yang menyilaukan hingga menyapu seluruh ruangan gua.
"Nyonya!" Juna mencoba maju, namun ia terlempar mundur oleh gelombang kejut mana yang keluar dari tubuh Elara.
Cahaya itu semakin terang, menelan sosok Elara sepenuhnya. Tekanan udara di dalam gua menjadi begitu padat hingga para prajurit barisan Bisu terpaksa berlutut untuk menahan beban di pundak mereka. Selama beberapa detik yang terasa abadi, hanya ada kesunyian yang mencekam dan cahaya safir yang membakar kegelapan.
Saat cahaya itu perlahan memudar dan kembali menyerap ke dalam tubuhnya, Elara mendarat kembali di atas obsidian dengan gerakan yang sangat ringan. Sirkuit di tangan kirinya tidak lagi menghitam; tangan itu kini tampak bersih namun memiliki garis-garis kristal transparan yang bersinar lembut.
Elara mendongak, dan Kaelen membeku di tempatnya. Ia melihat mata Elara tidak lagi memiliki pupil tunggal. Di dalam iris ungunya, kini terdapat lingkaran ganda yang berputar pelan, memancarkan aura otoritas yang absolut dan dingin.
Void Level 2.0: Tercapai.
"Semuanya sudah berakhir?" bisik Rina yang gemetar di sudut gua.
Elara tidak menjawab. Ia berdiri tegak, merasakan setiap partikel udara di dalam gua berada di bawah kendalinya. Namun, ketenangan itu hanya bertahan sesaat. Sensorik Void-nya yang baru saja berevolusi menangkap getaran frekuensi yang tajam dari arah pintu masuk gua di permukaan tebing.
"Tunggu," Elara mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua diam.
Dari kejauhan, melintasi lorong-lorong batu yang lembap, terdengar sebuah suara yang memecah kesunyian malam di luar sana. Sebuah teriakan peringatan yang melengking dari salah satu pos penjaga atas, memecah kesunyian pegunungan es.
"Musuh! Ada rombongan tak dikenal mendekati perkemahan!"
Suara teriakan itu bergema masuk ke dalam gua, memantul di dinding-dinding kristal. Elara memicingkan matanya yang memiliki pupil ganda, menatap ke arah kegelapan lorong pintu keluar dengan tatapan yang mampu menembus malam.