"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."
Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.
Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.
Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?
"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 - Aura di Antar Bima
Suasana di meja makan mendadak mencekam. Pernyataan Bima soal Arfan yang menunggu di depan rumah sampai jam dua pagi membuat selera makan Aura hilang seketika. Bunda Syakirah tertegun, raut wajahnya yang biasanya tenang kini menyiratkan keraguan yang mulai tumbuh.
"Bima, kamu serius?" tanya Bunda dengan suara rendah.
"Bima nggak pernah seserius ini, Bun. Bima nggak tidur semalaman cuma buat mastiin dia nggak macem-macem," jawab Bima tegas. Ia lalu menoleh ke arah Aura yang masih mematung. "Ra, buruan habisin sarapan lo. Hari ini gue yang anter. Nggak ada tapi-tapian."
Aura hanya mengangguk pelan. Ada rasa aman sekaligus cemas yang berkecamuk di dadanya. Ia ingin percaya pada Arfan, tapi fakta bahwa pria itu berdiri di depan rumahnya di jam yang tidak wajar mulai terasa sangat mengganggu.
Baru saja Aura hendak mengambil tasnya, suara deru motor yang sangat familiar berhenti di depan pagar. Jantung Aura mencelos. Itu pasti Arfan.
Tok... tok... tok...
Ketukan pintu yang sopan dan teratur itu terdengar lagi. "Assalamualaikum," suara Arfan terdengar begitu cerah, seolah ia tidak baru saja terjaga sampai dini hari di depan rumah itu.
Bima langsung berdiri, wajahnya mengeras. Ia berjalan mendahului Aura menuju pintu dan membukanya dengan kasar.
Arfan berdiri di sana, masih dengan senyum tenangnya, menenteng sebuah kotak bekal kecil. "Pagi, Bim. Ini saya bawakan—"
"Nggak perlu," potong Bima ketus. "Aura berangkat bareng gue sekarang. Dan gue minta, lo jangan lagi muncul di depan rumah gue jam dua pagi kalau nggak mau gue laporin polisi."
Senyum Arfan tidak luntur, tapi matanya sedikit menyipit. Ia menatap melewati bahu Bima, mencari sosok Aura. "Ra? Bukannya kita sudah janji?"
Aura muncul dari balik punggung Bima, ia menatap Arfan dengan tatapan yang sulit diartikan, ada rasa segan, tapi juga ada jarak yang mulai ia bangun. "Maaf, Kak Arfan... hari ini aku berangkat sama Kak Bima aja. Kebetulan ada barang yang mau kita ambil di jalan nanti."
Arfan terdiam sejenak. Ia melihat betapa protektifnya Bima berdiri di depan adiknya. "Oh, begitu ya? Baik kalau begitu. Saya hargai keputusan kamu, Ra."
Arfan kemudian melirik Bima dengan tatapan yang sangat datar. "Hati-hati di jalan, Bim. Jagain adek kamu baik-baik. Saya titip dia ya."
Kalimat titip itu terdengar seperti perintah bagi Bima, yang membuatnya semakin geram. Tanpa membalas ucapan Arfan, Bima menarik lengan Aura menuju motornya yang terparkir di halaman.
Arfan tetap berdiri di sana, memperhatikan motor Bima yang keluar dari pagar. Saat Aura melirik ke belakang melalui spion, ia melihat Arfan masih mematung, menatapnya tanpa ekspresi, sampai bayangannya menghilang di tikungan jalan.
Di atas motor, Bima berteriak di balik helmnya agar terdengar oleh Aura. "Sekarang lo liat kan? Dia itu nggak normal, Ra! Lo harus bener-bener jauhin dia!"
Aura tidak menjawab. Ia hanya memeluk erat tasnya, memikirkan London yang terasa semakin jauh dan sosok Arfan yang perlahan mulai terasa seperti bayangan yang mengikuti ke mana pun ia pergi.
Setelah motor Bima dan Aura menjauh, suasana di depan pagar menjadi sunyi. Arfan masih berdiri di sana, mematung dengan kotak bekal di tangannya. Namun, langkah kaki yang lemah dari arah teras membuat Arfan menoleh.
Bunda Syakirah berjalan mendekat. Wajahnya terlihat jauh lebih pucat dari biasanya, dan ada gurat kelelahan yang sangat dalam di bawah matanya. Beliau tampak lesu, seolah tenaganya terkuras habis hanya untuk berjalan beberapa meter.
"Arfan..." panggil Bunda dengan suara yang agak serak.
"Iya, Bunda? Kenapa Bunda keluar? Udara pagi masih dingin," jawab Arfan, suaranya seketika berubah menjadi sangat lembut dan penuh perhatian. Ia melangkah mendekati Bunda seolah hendak menopang tubuh wanita itu jika sewaktu-waktu goyah.
Bunda Syakirah memaksakan sebuah senyum tipis, tapi matanya tidak bisa berbohong. "Masuklah dulu, Nak. Ada yang ingin Bunda bicarakan. Tidak enak bicara di depan pagar seperti ini."
Arfan mengangguk patuh. "Baik, Bunda."
Mereka masuk ke dalam rumah. Arfan memperhatikan setiap gerak-gerik Bunda. Ia menyadari betapa lesunya gerakan Bunda hari ini, cara Bunda duduk di sofa yang terlihat begitu berat, dan napasnya yang sesekali terdengar pendek.
"Bunda hari ini terlihat sangat lelah. Apa obatnya sudah diminum?" tanya Arfan sambil meletakkan kotak bekal yang dibawanya ke atas meja. "Saya bawakan bubur gandum madu, ini bagus untuk stamina Bunda."
Bunda Syakirah menghela napas panjang, beliau menatap Arfan dengan pandangan yang sulit diartikan. Di satu sisi, beliau sangat menghargai kebaikan Arfan, tapi di sisi lain, ucapan Bima tadi pagi terus terngiang-ngiang di kepalanya.
"Arfan," panggil Bunda pelan, matanya menatap lekat ke arah Arfan. "Bima bilang... tadi malam kamu ada di depan rumah kami sampai jam dua pagi. Benar begitu?"
Arfan terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Ia menatap Bunda dengan tatapan yang sangat tenang, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun di wajahnya.
"Saya hanya ingin memastikan kalian aman, Bunda," jawab Arfan lirih. "Tadi malam perasaan saya tidak tenang. Saya takut ada orang berniat jahat karena rumah ini hanya dihuni Bunda, Aura, dan Bima yang seringkali pulang larut. Saya tidak ingin hal buruk terjadi pada keluarga yang sudah saya anggap seperti keluarga sendiri."
Bunda Syakirah tertegun mendengar jawaban itu. Ketulusan dalam nada bicara Arfan begitu meyakinkan, namun tetap saja, ada sesuatu yang terasa berlebihan.
"Tapi Nak, kamu juga butuh istirahat. Kamu tidak perlu sampai seperti itu," ujar Bunda dengan suara yang makin melemah. Beliau memegang dadanya sejenak, wajahnya makin memucat. "Bunda hanya tidak ingin ada kesalahpahaman lagi dengan Bima. Dia sangat keras kepala..."
Bunda tiba-tiba terbatuk kecil, membuat Arfan langsung berdiri dan mendekat dengan sigap.
Arfan dengan sigap memapah Bunda Syakirah menuju kamar. Ia membantu Bunda berbaring dengan sangat hati-hati, memastikan bantalnya terpasang nyaman. Wajah Bunda yang kian pucat membuat Arfan terlihat sangat khawatir, namun ia tetap berusaha tenang agar tidak membuat Bunda semakin panik.
"Bunda harus istirahat total hari ini. Jangan pikirkan apa pun dulu," ucap Arfan lembut.
Ia kemudian duduk di tepi ranjang dan mulai memijat kaki serta lengan Bunda dengan gerakan yang sangat terlatih dan penuh perasaan. Pijatannya pas, tidak terlalu keras namun mampu memberikan relaksasi. Arfan tampak sangat telaten, seolah-olah merawat ibunya sendiri.
"Maaf ya, Nak Arfan... Bunda jadi merepotkan kamu terus. Padahal kamu pasti sibuk di galeri," ucap Bunda lirih, matanya mulai terpejam menikmati rasa nyaman dari pijatan itu.
"Sama sekali tidak merepotkan, Bunda. Bagi Arfan, kesehatan Bunda adalah prioritas. Arfan ingin Bunda segera sembuh supaya bisa melihat Aura sukses nanti," jawab Arfan tanpa menghentikan gerakannya.
Sambil memijat, Arfan terus memperhatikan wajah Bunda yang mulai tampak lebih tenang. Namun, di balik tatapan matanya yang teduh itu, tersimpan sebuah tekad yang semakin kuat. Ia merasa bahwa dengan kondisi Bunda yang seperti ini, dialah satu-satunya orang yang paling bisa diandalkan untuk menjaga rumah ini, terlepas dari apa pun yang dikatakan Bima.
Bunda Syakirah pun perlahan tertidur pulas karena rasa nyaman dan kelelahan yang luar biasa. Arfan menyelimuti Bunda hingga sebatas dada, lalu ia berdiri di samping tempat tidur, menatap Bunda dalam diam selama beberapa saat.
Ia kemudian melangkah keluar kamar dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. Namun, bukannya langsung pulang, Arfan justru berjalan menuju dapur. Ia mulai mencuci piring-piring kotor yang ada di bak cuci, lalu merapikan meja makan yang tadi ditinggalkan berantakan oleh Bima dan Aura.
Ia ingin saat Aura pulang nanti, semuanya sudah rapi dan Bunda tidak akan capek-capek untuk membersihkan nya setelah bangun nanti.
...****************...
Lampu-lampu sorot di langit-langit galeri memantulkan cahaya pada lantai marmer yang dingin. Di dinding-dinding putih itu, karya-karya Arfan berjejer rapi, masing-masing memiliki label harga yang setara dengan mobil mewah. Orang-orang menyebutnya jenius. Media memujinya sebagai seniman berjiwa bersih. Namun, bagi Arfan, galeri ini hanyalah ruang hampa yang ia ciptakan untuk dunia.
Ia melangkah masuk ke ruang pribadinya di lantai atas, tempat yang aromanya didominasi oleh campuran linseed oil dan aroma tembakau tipis. Arfan meletakkan kunci motornya, lalu duduk di depan sebuah kanvas yang masih setengah jadi. Jari-jarinya yang tadi memijat bahu Bunda dengan lembut, kini memegang kuas dengan presisi yang mengerikan.
Baginya, melukis bukan sekadar memindahkan warna. Melukis adalah cara dia mengontrol kenyataan.
"London," bisiknya pelan. Nama kota itu terasa seperti duri di tenggorokannya.
Ia menyapukan warna abu-abu gelap ke sudut kanvas. Pikirannya melayang pada Bima. Ia tahu Bima membencinya, dan sejujurnya, Arfan tidak keberatan. Kebencian Bima adalah sesuatu yang bisa diprediksi, dan apa pun yang bisa diprediksi, bisa dikendalikan. Yang tidak bisa ia kendalikan adalah keinginan Aura untuk pergi jauh melintasi samudera.
Arfan menatap jemarinya sendiri. Jari-jari inilah yang tadi pagi mencuci piring di dapur Bunda, yang merapikan selimut wanita tua yang rapuh itu. Ada kepuasan aneh saat ia melakukan itu, perasaan bahwa ia adalah pahlawan tanpa tanda jasa, sosok yang lebih dibutuhkan keluarga itu daripada anak kandung mereka sendiri yang pemarah.
Namun, bayangan Aura yang menatapnya dengan jarak di spion motor tadi pagi terus mengusiknya.
“Aku berangkat sama Kak Bima aja, Kak.”
Kalimat itu terngiang seperti nada sumbang dalam simfoni yang sempurna. Arfan mengambil cat merah tua, mencampurnya sedikit hingga warnanya menyerupai lebam. Ia mulai melukis latar belakang yang nampak seperti labirin.
Ia adalah seorang pelukis terkenal bukan hanya karena tekniknya, tapi karena ia tahu bagaimana cara menyembunyikan kegelapan di balik keindahan. Publik melihat lukisannya sebagai karya yang religius dan penuh kedamaian, padahal di dalamnya ada obsesi yang terkunci rapat.
"Mereka nggak akan paham, Ra," gumamnya pada sosok di kanvas yang matanya belum ia selesaikan. "Bunda sakit, Bima nggak bisa diandalkan. Kamu satu-satunya alasan tempat ini tetap bernapas. Kalau kamu pergi, semuanya akan hancur."
Arfan kembali menyapukan kuasnya. Kali ini gerakannya lebih cepat, lebih intens. Di galeri ini, ia adalah Tuhan bagi dunianya sendiri. Tak ada yang bisa melarangnya berdiri di depan pagar rumah orang hingga jam dua pagi. Tak ada yang bisa melarangnya masuk ke dalam inti paling pribadi dari keluarga Syakirah.
Baginya, cinta bukan tentang melepaskan. Cinta adalah tentang memastikan bahwa objek yang dicintai tetap berada di tempat yang paling aman, di bawah pengawasannya, di dalam jangkauan tangannya, dan di dalam bingkai yang ia ciptakan.
Sambil terus melukis, ia melirik ponselnya. Menunggu sebuah pesan, entah dari Bunda yang menanyakan kabarnya, atau dari Aura yang mungkin sudah luluh hatinya. Arfan tahu bagaimana cara menunggu. Dia adalah seorang pelukis, dan pelukis tahu bahwa mahakarya tidak diciptakan dalam semalam, ia butuh ketelatenan, sedikit manipulasi warna, dan kesabaran yang tak terbatas.
Bersambung.......
Assalamualaikum semuanya, jangan lupa like dan komen ya yaa🫶🏻.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰