Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Rencana Balasan
Matahari terbit di ufuk timur, menyinari hutan yang basah oleh embun dan darah.
Kami berkemah di lokasi sementara—sebuah lereng bukit sekitar satu li dari markas Klan Gong. Dari sini, asap masih membumbung dari bangunan-bangunan yang terbakar. Benteng yang dulu megah kini jadi sarang musuh.
Hyerin duduk di sampingku, kepalanya bersandar di bahuku. Dokumen-dokumen itu ada di pangkuannya, sudah dibaca berulang kali. Wajahnya lelah, tapi matanya tajam.
Dae-ho datang dengan dua ajudannya. Wajahnya serius.
"Klan Selatan sudah menguasai penuh markas. Mereka perkiraan punya sisa sekitar tiga ratus pendekar. Termasuk lima puluh dari pengkhianat."
Aku mengangguk. "Berapa banyak pasukan kita?"
"Dua ratus lima puluh dari Utara. Lima puluh dari pasukanmu. Tiga puluh pendekar Gong yang selamat. Total tiga ratus tiga puluh."
"Kelebihan jumlah tipis. Tapi mereka punya benteng."
"Dan kita punya mesiu." Dae-ho tersenyum tipis. "Tapi kita butuh strategi. Menyerbu benteng langsung akan memakan banyak korban."
Aku diam, memikirkan. Peta markas terhampar di ingatanku. Setiap lorong, setiap sudut, setiap kelemahan.
"Aku punya ide."
---
Kami berkumpul di tenda komando. Hyerin ikut, duduk di sampingku dengan dokumen-dokumen di tangannya.
"Pertama," aku mulai, "kita gunakan dokumen ini. Bukan hanya sebagai bukti, tapi sebagai senjata."
Dae-ho mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Daftar agen Klan Selatan di klan-klan lain. Kalau kita sebarkan informasi ini, klan-klan itu akan marah. Mereka akan menarik dukungan dari Selatan. Mungkin bahkan bergabung dengan kita."
"Itu butuh waktu."
"Tapi efektif. Sambil itu, kita kepung markas. Jangan serang—kepung. Putus jalur logistik mereka. Mereka punya tiga ratus orang, tapi persediaan terbatas. Dalam dua minggu, mereka akan kelaparan."
"Dan kalau mereka coba menerobos?"
"Kita hadang dengan pasukan dan mesiu." Aku menunjuk peta. "Di sini, di sini, dan di sini. Titik-titik rawan. Pasang perangkap, jebakan, dan tim sniper."
Dae-ho mengangguk pelan. "Rencana bagus. Tapi butuh koordinasi."
"Aku punya orang untuk itu." Aku menatap Hyerin. "Dia."
Hyerin terkejut. "Aku?"
"Kau yang paling tahu medan ini. Setiap bukit, setiap sungai, setiap jalur. Kau yang pimpin tim pengintaian dan penempatan jebakan."
Dia diam, memproses. Lalu mengangguk tegas.
"Aku bisa."
---
Dua minggu berikutnya adalah masa penantian yang menegangkan.
Setiap hari, pasukan kami bergerak di sekitar markas, memasang perangkap, mengganggu patroli, dan memastikan tidak ada suplai yang masuk. Para pengintai melaporkan situasi di dalam—persediaan menipis, moral merosot, beberapa pengkhianat mulai menyesal.
Dokumen-dokumen sudah dikirim ke klan-klan yang namanya ada di daftar. Reaksinya cepat—beberapa klan menarik utusan mereka dari Selatan, beberapa mengirim protes keras, dan satu klan bahkan memutuskan aliansi.
Hyerin bekerja tanpa lelah. Setiap pagi dia pergi dengan tim pengintai, setiap malam dia kembali dengan laporan detail. Kadang aku khawatir—dia terlalu memaksakan diri. Tapi setiap kali kutanyakan, dia hanya menjawab, "Aku baik-baik saja, Oppa."
Tapi aku lihat matanya. Ada api di sana. Api yang membakar dari dalam.
---
Hari ke-15, kabar dari dalam.
Seorang utusan Klan Selatan datang dengan bendera putih. Mereka minta negosiasi.
Dae-ho menatapku. "Jebakan?"
"Mungkin. Tapi kita harus dengar."
"Kau mau temui mereka?"
Aku menggeleng. "Kita semua. Biar mereka lihat kita kuat."
---
Pertemuan dilakukan di tanah lapang antara kedua kubu.
Dari pihak kami: aku, Dae-ho, Hyerin, dan dua jenderal Utara. Dari pihak mereka: seorang komandan tinggi dengan wajah keras, ditemani dua ajudan.
Komandan itu menatap kami dengan sinis. "Jin Tae-kyung. Kau yang bikin kami susah."
Aku tidak menjawab.
Dia melanjutkan, "Kami tahu situasi kami. Tapi kalian juga tahu: kalau kami bertahan, kalian akan kehilangan banyak orang. Jadi, bagaimana kalau kita buat kesepakatan?"
"Kesepakatan apa?"
"Kami keluar dari markas ini. Dengan hormat. Senjata tetap di tangan. Dan kalian tidak kejar. Sebagai imbalan, kami akan rekomendasikan klan kami untuk tidak menyerang lagi."
Dae-ho tertawa. "Kau pikir kami bodoh? Begitu kalian keluar, kalian akan kumpulkan pasukan lagi dan kembali."
"Kau punya pilihan lain?"
Aku diam. Lalu berkata, "Ada satu syarat."
"Apa?"
"Tinggalkan semua pengkhianat. Mereka tetap di sini, untuk diadili menurut hukum Klan Gong."
Komandan itu mengerutkan kening. "Mereka sudah bergabung dengan kami."
"Mereka pengkhianat. Mereka bukan bagian dari kesepakatan."
Diam panjang. Lalu dia mengangguk.
"Baik. Setuju."
---
Malam itu, gerbang markas terbuka.
Pasukan Klan Selatan keluar dalam barisan rapi, meninggalkan senjata mereka—sesuai kesepakatan, mereka bawa senjata, tapi diam-diam kami tahu mereka menyembunyikan beberapa. Tapi tidak apa. Yang penting mereka pergi.
Di belakang mereka, terikat dan terdiam, lima puluh pengkhianat Klan Gong. Termasuk beberapa wajah yang kukenal—mantan tetua, mantan komandan, mantan teman.
Hyerin menatap mereka dengan dingin. Tangannya memegang pedang ayahnya.
"Ini mereka," bisiknya.
"Apa yang kau mau lakukan?"
Dia menatapku. "Hukum mereka. Menurut adat."
---
Pagi harinya, pengadilan digelar.
Di halaman depan markas yang masih hangus terbakar, para pengkhianat dihadapkan pada sisa pendekar Klan Gong yang selamat. Hyerin berdiri di depan, sebagai pewaris sah Patriark.
Satu per satu, mereka dijatuhi hukuman.
Sebagian besar—hukuman mati. Beberapa yang hanya terpaksa—hukuman buang. Dua orang yang membantu dari dalam—dimaafkan, tapi dipecat dari klan.
Hyerin membacakan putusan dengan suara tegas. Tidak ada getaran. Tidak ada keraguan.
Saat eksekusi pertama dilakukan—pemenggalan di depan umum—aku menoleh. Hyerin tidak bergeming. Matanya lurus menatap.
Di satu sisi, aku bangga padanya. Di sisi lain, aku takut. Takut api ini akan membakarnya dari dalam.
---
Malam harinya, kami duduk di reruntuhan Aula Utama.
Atapnya sudah runtuh. Singgasana hangus. Tapi bintang-bintang di atas tetap bersinar, seolah tidak peduli dengan drama manusia di bawah.
Hyerin bersandar di pundakku.
"Oppa, apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Membangun kembali."
"Dari apa? Semua hancur."
"Kita punya dokumen itu. Kita punya aliansi dengan Utara. Kita punya pasukan. Dan kita punya..." aku meraih tangannya, "...kita punya satu sama lain."
Dia tersenyum tipis. Senyum pertama dalam berminggu-minggu.
"Aku cinta padamu, Oppa."
Aku mencium keningnya. "Aku juga."
Di kejauhan, di tenda komando, lampu masih menyala. Dae-ho pasti sedang menyusun rencana berikutnya. Besok akan ada seribu urusan. Tapi malam ini, hanya kami berdua.
Dan untuk pertama kalinya sejak kebakaran itu, aku merasa damai.
---
[Bersambung ke Bab 24]