Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak angkat laki-lakinya itu.
Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.
Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.
Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?
ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Kejujuran Fian
"Silahkan kak, mau cari yang model apa?" seorang pelayan wanita bertanya dengan nada ramah.
"Yang couple ada nggak mbak?" tanya Raza.
Pelayan wanita itupun mengeluarkan 2 model jam couple dengan warna berbeda. Yang satu dari bahan kulit berwarna coklat dan satu lagi dari model rantai besi berwarna silver.
"Yang ini bagus sih Za. Lea nggak terlalu suka yang dari bahan kulit" ucap Vanya. Matanya meneliti kedua model jam tangan couple itu untuk perbandingan.
"Yaudah mbak, bungkus yang ini" Raza mengeluarkan dompet dari saku celana nya.
"Bayar pake ini ya mbk" Raza menyodorkan kredit card miliknya.
"Loh Za, kok jadi lo yang bayar sih" Vanya kalah cepat dengan Raza. Ia baru saja ingin mengeluarkan dompet dari tasnya, tapi Raza sudah menyerahkan kartu pembayaran miliknya.
"Kan tadi udah aku bilang Vanya. Kamu nurut aja ya, setelah ini kamu mau beli apa lagi? Ayo aku temenin" ucap Raza dengan nada lembut.
"Jangan gitu lah Za, gw nggak enak sama lo"
Raza mengusap pelan puncak kepala Vanya, "Ngga papa Van. Ini aku yang maksa, bukan kamu yang minta kan?"
"Tapi..... "
"Sekali ini aja Van, besok-besok kamu yang traktir deh. Tapi jangan mahal-mahal, kasian kamu nya" potong Raza.
"Yaudah deh" pasrah Vanya.
"Totalnya 300 juta ya kak. Ini kartunya" ucap pelayan itu sambil mengembalikan kartu Raza.
"300 juta?" tanya Vanya dengan raut wajah terkejut.
"Murah kok Van, udah ngga usah di pikirin" balas Raza sambil tersenyum maklum.
'300 juta mah murah anjir. Jam tangan gw yang dibeliin Papa ada yang 1M. Kapan-kapan beli disini aja deh kalo murah-murah ' batin Vanya.
"Ayo, kamu mau kemana lagi?" tanya Raza. Mereka berdua sudah keluar dari toko jam tangan.
"Anter gw pulang aja Za" jawab Vanya. Jam di tangan nya menunjukkan pukul 21.15
"Yaudah ayo"
Raza pun mengantar Vanya ke kostan gadis itu. Setelah sampai, Vanya menolak untuk di bukakan pintu.
"Gw masuk dulu ya Za. Thanks buat malam ini"
"Iya sama-sama Vanya. Sampai ketemu besok di sekolah" balas Raza.
Vanya keluar dari mobil laki-laki itu. Melihat Vanya memasuki gerbang, Raza pun melajukan mobilnya.
"Van" panggil seseorang.
Vanya yang belum sepenuhnya masuk ahirnya menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.
"Kak Fian?" Vanya menghampiri Fian yang sedang bersandar pada mobil BMW miliknya.
"Masuk Van! Kakak mau ngomong penting" perintah Fian tanpa ingin di bantah. Dengan malas Vanya pun mengikuti Fian masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu terparkir di pinggir jalan samping gerbang kost, sehingga tidak akan mengganggu akses jalan.
"Kak Fian ngapain kesini?" tanya Vanya dengan nada ketus.
Fian memegang kedua tangan Vanya, "Van..... " panggil Fian dengan nada sangat lembut dan juga tatapan cinta.
Vanya menelan kasar saliva nya 'Ini maksudnya apa ya tatapan kak Fian kok gitu banget, bikin hati gw nggak kuat' batin Vanya.
"Kakak tau kamu habis pergi sama cowok. Bahkan kakak tau apa aja yang kalian lakuin. Plisss Van, jangan kayak gitu lagi. Kakak nggak suka"
"Maksud kakak apa? Kenapa harus nggak suka?" tanya Vanya sambil mencoba menarik tangannya namun gagal karena Fian menggenggam nya dengan erat.
"Maaf kalo kakak lancang nyewa orang untuk membobol cctv Resto dan Mall. Tapi kakak udah nggak kuat lagi Van. Kakak nggak suka liat kamu sama cowok lain" Vanya bisa melihat kejujuran dari sorot mata laki-laki itu.
"Plis kak to the point aja! Aku nggak suka kakak bertele-tele kayak gini" sentak Vanya.
"Vanya..... Kakak..... "
"Kalo kakak nggak ngomong juga aku keluar" dengan sekali tarik, kedua tangan nya langsung lepas dari genggaman Fian.
Fian menarik kembali kedua tangan gadis itu. Dalam sekali tarikan nafas, ia mengungkapkan isi hatinya.
"Kakak suka sama kamu Vanya"
"Apa?" Vanya langsung tersentak kaget. Meski dalam satu tarikan nafas, tapi Vanya bisa mendengar jelas apa yang Fian ucapkan.
"Aku suka sama kamu Van, sebagai seorang laki-laki kepada lawan jenisnya. Bukan sebagai seorang kakak" Fian merubah panggilan nya.
"Tapi..... Tapi kenapa waktu itu kakak nolak aku? Bahkan kakak bawa cewek ke rumah yang kakak perkenalkan sebagai pacar" raut wajah Vanya langsung berubah sedih mengingat kejadian penolakan itu.
"Itu.... Kakak fikir, jika kakak menolak dan menyakiti perasaan kamu, kamu akan melupakan kakak. Tapi ternyata malah kakak yang nggak bisa lupain kamu Van. Kakak cukup tau diri kalau kakak hanya anak angkat. Papa nggak mungkin merestui kita" jelas Fian cukup masuk akal.
"Kak.... Kenapa kakak nggak jujur aja dari awal? Aku bisa bantu buat ngomong sama Papa. Kita bisa laluin ini berdua"
Fian menarik Vanya kedalam pelukannya.
"Nggak segampang itu Vanya. Kamu masih inget waktu Lea nanyain itu ke Papa, dan apa jawabannya? Papa nggak akan setuju Van. Tapi kakak nggak mau kehilangan kamu" Fian mengecup singkat puncak kepala Vanya lalu melepaskan pelukannya.
"Kak.... Putusin Lyora. Setelah itu, kita pikirkan cara untuk kedepannya gimana" putus Vanya ahirnya.
"Oke. Kakak akan putusin dia. Lagian kakak juga nggak bisa membohongi diri kalau kakak cuman mau sama kamu aja" ucap Fian dengan wajah serius.
"Jadi kakak juga suka sama aku?" tanya Vanya memastikan.
"Iya Vanya. Kamu perlu bukti apa biar bisa percaya?" tanya Fian balik.
"Nanti setelah kakak putusin Lyora kita pacaran ya? Janji nggak akan bilang dulu sama siapa-siapa" ucap Vanya penuh harap.
"Untuk saat ini belum bisa Van. Kita selesaikan semua dulu pelan-pelan ya, baru setelah itu kita bisa memulai suatu hubungan" Fian menangkup kedua sisi pipi Vanya.
"Percaya sama kakak. Suatu saat nanti, kita bisa bersama tanpa harus memikirkan apapun. Bagaimanapun juga kita harus bisa mendapatkan restu dari Mama Papa, Van. Dan kakak nggak akan nyerah begitu aja. Kakak cinta sama kamu" di ahir kalimat nya, Fian mengecup pelan kening Vanya.
"Oke, Vanya percaya sama kakak. Untuk sementara kita nggak pacaran dulu"
"Tapi kamu jangan deket-deket sama cowok lain. Kakak cemburu" Fian mengerucutkan bibirnya.
"Apasih kak, gemes banget deh kalo cemburu. Kalo gini, aku malah seneng bikin kakak cemburu" ledek Vanya.
"Awas aja kalo kamu berani deket-deket sama cowok lain, apalagi cowok tadi. Kakak bakalan cium kamu!" ancam Fian.
"Nih, cium aja. Kakak mau cium yang mana?" Vanya mendekatkan wajahnya ke arah Fian.
Fian menyentil pelan dahi gadis itu dan membuat Vanya seketika menjauhkan wajahnya.
"Aduh kak, sakit ih" Vanya mengaduh kesakitan.
"Kapok. Makannya jangan nakal gitu ih. Kakak laki-laki normal Vanya. Selama ini kakak selalu nahan diri apalagi kalo liat tingkah gemes kamu, rasanya pengen kakak bungkus aja"
"Ih kok aku jadi takut ya" ucap Vanya sambil bergidik ngeri.
"Nggak Van, tenang aja. Iman kakak kuat kok. Buktinya selama ini kakak selalu menjaga kamu"
"Tapi kakak pernah beberapa kali cium aku diem-diem waktu aku tidur. Hayoooo ngaku"
"Eh itu.... Kakak kira kamu nggak tau. Maaf ya, kakak janji nggak akan kayak gitu lagi" Fian seketika langsung panik. Selama ini ia kira Vanya sudah benar-benar tertidur saat ia menyelusup ke kamar nya hanya untuk memberi ciuman selamat tidur di kening gadis itu.
"Haha muka kakak lucu banget kalo panik. Lagian aku seneng-seneng aja sih kakak cium, hehe" ucap Vanya disertai cengiran khasnya.
"Nggak ah. Karna kamu udah tau, kakak nggak akan kayak gitu lagi. Malah kakak bakalan minta izin kamu dulu sebelum mau cium"
"Hehehe, begitu lebih baik" ucap Vanya sambil cengegesan.
"Yaudah. Kakak cuman mau ngomong itu aja Van. Kakak harap kamu bisa sabar menunggu ya, karna gimana pun posisi kita ini sangatlah rumit"
"Iya kak, aku ngerti kok. Kalo gitu aku masuk dulu ya"
"Eh tunggu....Peluk dulu dong Van, biar malam ini kakak bisa tidur nyenyak" Fian merentangkan kedua tangannya, dengan senang hati Vanya masuk ke dalam pelukan laki-laki itu.
Setelah puas berpelukan, Vanya keluar dari mobil Fian lalu masuk ke dalam kostnya. Fian pun meninggalkan kost tersebut setelah memastikan Vanya benar-benar masuk ke dalam kamarnya.