Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Luka di Balik Gairah
Pintu penthouse tertutup dengan dentuman pelan yang menggema di ruangan luas yang sunyi. Cahaya remang-remang dari lampu kota Jakarta menembus jendela besar, menyinari Lyra yang masih mengenakan gaun pengantin mewahnya. Namun, tidak ada binar kebahagiaan. Lyra berdiri mematung di tengah ruangan, membiarkan mahkota kecil di kepalanya jatuh ke lantai marmer dengan bunyi gemerincing yang menyedihkan.
Dendam itu sudah lunas. Martha dan Rianti sudah mendekam di balik jeruji besi. Tapi kenapa hatinya terasa begitu kosong?
Sean mendekat dari belakang, langkah kakinya terdengar mantap namun hati-hati. Ia melepaskan jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang beberapa kancing atasnya sudah terbuka. Tangannya yang besar melingkar di pinggang Lyra, menarik tubuh mungil itu untuk bersandar pada dadanya yang bidang.
"Sudah berakhir, Lyra. Mereka tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi," bisik Sean parau di ceruk leher Lyra.
Lyra memejamkan mata, namun bayangan wajah Martha yang tertawa saat menceritakan rencana pemerkosaan Hana justru muncul dengan jelas. Ia tersentak, melepaskan diri dari dekapan Sean dengan kasar.
"Jangan sentuh aku, Sean!" teriak Lyra. Suaranya pecah, penuh dengan kepedihan yang mendalam.
Sean terpaku, matanya berkilat antara bingung dan cemas. "Lyra, ada apa? Aku suamimu. Aku yang membantumu menghancurkan mereka."
Lyra menoleh, menatap Sean dengan mata yang sembap namun tajam. "Setiap kali aku melihatmu, aku melihat dia, Sean! Rahangmu, matamu, cara kau menatapku... itu semua mengingatkanku pada darah wanita iblis yang mengalir di tubuhmu! Kau adalah putra dari wanita yang merancang neraka bagi ibuku!"
"Aku bukan dia, Lyra! Aku menghancurkan ibuku sendiri demi kau!" raung Sean, ia melangkah maju dan mencengkeram bahu Lyra, memaksanya untuk menatap kegilaan di matanya.
"Tapi kau memiliki kegelapan yang sama dengannya, Sean. Kau menjeratku, kau memaksaku, kau mengurungku... Bukankah itu yang dilakukan Martha pada Edward?" Lyra tertawa getir di sela isakannya. "Aku mencintaimu, tapi cinta ini terasa seperti pengkhianatan pada ibuku."
Sean terdiam. Rasa takut kehilangan yang luar biasa menghantam dadanya. Ia tidak bisa membiarkan Lyra pergi, tidak setelah ia menyerahkan segalanya untuk wanita ini. Dengan gerakan cepat yang tak terduga, Sean menarik Lyra ke dalam pelukannya, mencium bibir istrinya dengan intensitas yang liar dan putus asa.
Ciuman itu bukan lagi sebuah sapaan lembut; itu adalah deklarasi perang. Sean menyambar pinggang Lyra, membawanya menuju ranjang besar mereka dan menjatuhkannya di atas sprei sutra yang terasa dingin di kulit, namun kontras dengan napas mereka yang membakar. Di bawah cahaya redup yang temaram, Sean menatap Lyra dengan tatapan yang seolah ingin menguliti rahasia terdalamnya.
"Lihat aku, Lyra," desis Sean, suaranya rendah dan serak, tangannya gemetar saat ia menanggalkan penghalang di antara kulit mereka. "Jangan pejamkan matamu. Rasakan aku. Rasakan setiap inci dari pria yang berdiri di depanmu ini."
Kain-kain terjatuh ke lantai, menyisakan Lyra yang gemetar di bawah tatapan lapar suaminya. Sean menunduk, bibirnya memburu setiap jengkal kulit lembut istrinya. Saat jemari Sean mulai menjelajah area sensitif yang membuat Lyra melengkungkan punggungnya, Sean berbisik tepat di telinganya, "Katakan padaku... siapa pemilik tubuh ini?"
Lyra mengerang, napasnya tersengal saat tangan Sean bergerak dengan ritme yang menuntut. "Sean... kumohon..."
"Sebut namaku lagi," perintah Sean. Ia memberikan tekanan yang membuat Lyra kehilangan kendali, lidahnya menelusuri lekuk tubuh Lyra dengan presisi yang mematikan. "Aku bukan masa lalu keluargamu yang kelam itu. Aku adalah kenyataanmu sekarang."
Ketika Sean memosisikan dirinya di antara kedua paha Lyra, ketegangan di antara mereka mencapai puncaknya. Ia tidak langsung masuk, melainkan menggoda bibir sensitif Lyra dengan miliknya yang sudah menegang, membiarkan antisipasi itu menyiksa mereka berdua.
"Kau milikku, Lyra. Katakan," tuntut Sean lagi.
"Aku milikmu... hanya milikmu," isak Lyra, tangannya mencengkeram bahu kokoh Sean, kuku-kukunya tanpa sadar menggores kulit pria itu.
Dengan satu dorongan yang mantap dan dalam, Sean mengisi kehampaan itu. Suara napas yang tertahan dan detak jantung yang berpacu memenuhi ruangan. Setiap gerakan Sean adalah ritme yang ganas namun penuh pemujaan. Ia menarik kaki Lyra ke bahunya, membiarkan koneksi mereka terasa semakin dalam, semakin menyesakkan.
"Rasakan betapa aku membutuhkanmu," gumam Sean di sela-sela pergulatan gairah mereka. Ia membalikkan tubuh Lyra, mendekapnya dari belakang, tangannya meremas pinggang istrinya dengan posesif saat ia memberikan tekanan demi tekanan yang membuat ranjang mereka berderit pelan.
Malam itu seolah tidak berujung. Dari atas ranjang hingga ke sudut ruangan, Sean seolah ingin menghapus setiap memori buruk dalam benak Lyra dengan panas tubuhnya. Ia membawa Lyra pada puncak berkali-kali, menuntut pengakuan melalui setiap sentuhan, setiap bisikan, dan setiap tetes keringat yang menyatu.
"Kau tidak bisa pergi," bisik Sean saat ia akhirnya melepaskan segalanya di dalam rahim Lyra, memeluknya begitu erat seolah takut wanita itu akan menguap jadi asap. "Kau adalah bagian dari napasku sekarang."
Namun, setelah badai gairah itu mereda, Lyra tetap menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Air mata masih mengalir di sudut matanya.
Sean bangkit dari tempat tidur, tubuhnya yang atletis berkeringat. Ia berjalan menuju brankas pribadinya, mengambil sebuah benda, lalu kembali ke samping Lyra. Ia menarik tangan Lyra dan meletakkan sebuah pisau lipat perak berukir—warisan keluarga Elgar—di telapak tangan istrinya.
Sean kemudian berlutut di lantai, menempatkan dadanya tepat di depan ujung pisau yang dipegang Lyra.
"Apa yang kau lakukan, Sean?" tanya Lyra, suaranya gemetar.
"Jika wajahku mengingatkanmu pada Martha, dan jika darah Elgar dalam tubuhku adalah beban bagimu... maka bunuh aku sekarang, Lyra," ujar Sean dengan nada yang sangat tenang namun mematikan. "Aku lebih baik mati di tanganmu daripada melihatmu menatapku dengan kebencian. Tusuk tepat di jantungku, karena di sanalah kau bertahta."
Lyra tertegun. Ia menatap pisau itu, lalu menatap mata Sean yang penuh dengan pengabdian dan kegilaan yang murni. Sean tidak sedang bersandiwara. Pria ini benar-benar menyerahkan hidupnya pada Lyra.
"Kau gila..." bisik Lyra, tangannya gemetar hebat hingga pisau itu jatuh ke lantai.
Sean langsung menerjang Lyra, mendekapnya begitu erat seolah ingin menyatukan tubuh mereka menjadi satu. "Ya, aku gila! Aku gila karenamu! Jangan pernah biarkan bayang-bayang Martha memisahkan kita. Aku adalah milikmu, Lyra. Aku budakmu, suamimu, dan pelindungmu. Jangan pernah melihatku sebagai putra Martha, tapi lihatlah aku sebagai pria yang akan membakar dunia untukmu."
Lyra akhirnya luluh. Ia menangis tersedu-sedu di pelukan Sean, meluapkan seluruh hampa dan rasa sakitnya. Malam itu, Sean berhasil membuktikan satu hal: ia bukan bayangan Martha. Ia adalah monster yang berbeda, monster yang hanya tunduk pada satu ratu.
Keesokan paginya, suasana di Elgar Group tetap tegang. Namun, kejutan baru muncul saat sebuah surat pengunduran diri massal dari dewan direksi yang setia pada Martha mendarat di meja Sean. Bersamaan dengan itu, sebuah email anonim masuk ke ponsel Lyra.
“Dendammu belum selesai, Nyonya Elgar. Kau baru menghancurkan akarnya, tapi kau belum menemukan ‘buah’ yang paling beracun. Cari tahu tentang proyek rahasia Martha di perbatasan Singapura.”
Lyra menatap layar ponselnya. Ia menoleh ke arah Sean yang sedang tidur dengan tenang di sampingnya, tangan pria itu masih melingkar protektif di pinggangnya.
Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, Lyra tidak akan membiarkan Sean melindunginya sendirian. Ia akan menjadi lebih kejam dari Martha untuk melindungi apa yang sekarang menjadi miliknya: Sean.
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...