Aroel Mahardika kembali ke desa setelah lima tahun pergi, diam-diam tanpa memberi tahu siapa pun. Tujuannya hanya satu: menenangkan hati yang selalu gelisah. Tapi desa itu menyimpan lebih dari sekadar ketenangan.
Di Saung Langit, tempat yang pernah menjadi saksi masa lalunya, Aroel dipukul secara misterius. Tidak ada saksi, tidak ada jejak, hanya rasa sakit yang nyata. Di tengah sawah, seorang bocah kecil muncul dan menghilang dengan tatapan yang penuh teka-teki. Warga desa terlalu tenang, terlalu diam, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin mereka ungkapkan.
Siapa yang memukulnya?
Apa maksud bocah itu selalu muncul di tempat yang salah?
Dan rahasia apa yang selama ini disembunyikan oleh desa dan Saung Langit?
Setiap langkah Aroel menimbulkan pertanyaan baru, dan setiap jawaban yang ia dapat justru menimbulkan lebih banyak ketegangan. Dalam atmosfer yang menekan, emosinya meledak antara marah, takut, salah tingkah, dan penasaran. Masa lalu yang kelam, rahasia yang tersembunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arroels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Jejak Luar
Matahari hampir tenggelam ketika suara langkah kaki terdengar di halaman depan. Aroel dan Putri menoleh bersamaan. Bayangan seseorang bergerak di antara pohon dan semak, samar tapi jelas.
“Ada yang di luar,” kata Putri pelan, menundukkan tubuh sedikit.
Aroel berdiri, matanya fokus menatap jendela. “Jangan panik. Kita lihat dulu.”
Putri mengangguk. Tangannya sedikit gemetar, tapi wajahnya tetap tenang. “Siapa itu, ya?”
Aroel mencondongkan tubuh, memeriksa halaman lagi. “Belum jelas. Tapi mereka nggak seperti warga sekitar. Cara jalan dan posisi tubuhnya… berbeda.”
Putri menahan napas. “Berarti mereka… mengamati?”
“Sepertinya,” jawab Aroel. Ia melangkah perlahan, tidak ingin membuat suara berlebihan. “Tapi mereka juga hati-hati. Mereka tahu kalau ada yang memperhatikan.”
Putri tersenyum tipis, mencoba menenangkan diri. “Jadi ini seperti permainan kucing dan tikus?”
Aroel menoleh padanya. “Bisa dibilang begitu.”
Suasana hening sesaat. Mereka berdua menatap ke luar jendela, bayangan itu bergerak lagi, mendekat sedikit tapi tidak terlalu jelas. Hati mereka berdebar, tapi bukan ketakutan murni lebih ke kewaspadaan dan penasaran.
“Kalau mereka lihat kita di sini, apa yang harus kita lakukan?” tanya Putri.
“Tetap tenang. Jangan panik. Dan jangan tunjukkan kalau kita tahu mereka ada,” jawab Aroel. “Kalau perlu, kita pura-pura sibuk.”
Putri mengangguk, menatap Aroel dengan sedikit senyum. “Sepertinya kita memang tim yang cocok.”
Aroel menoleh dan tersenyum. “Tim yang cocok tapi harus tetap waspada. Aku nggak mau kamu jadi sasaran.”
Putri menahan tawa kecil. “Aku juga nggak mau kamu terlalu serius terus. Kadang santai sedikit juga nggak apa-apa.”
Mereka duduk kembali, membuat diri mereka tampak seperti sedang menata dokumen dan membereskan kain. Bayangan di luar terus bergerak perlahan, seolah mengamati setiap gerakan mereka.
“Kamu pikir mereka cuma pengintai atau ada tujuan lain?” tanya Putri.
“Belum tahu,” jawab Aroel. “Kalau mereka benar-benar punya tujuan, kita harus siap.”
Putri menatap Aroel. “Siap apa?”
“Siap menghadapi apa pun yang mereka lakukan. Tapi dengan kepala dingin,” jawab Aroel.
Mereka saling tersenyum. Sebuah tawa kecil terdengar, ringan tapi menenangkan. Bayangan di luar tetap bergerak, tapi mereka berdua tidak lagi panik. Mereka mulai merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar kewaspadaan: kekompakan, rasa saling menjaga, dan kepercayaan.
Angin sore mulai masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Daun bergesekan, ranting patah pelan, tapi mereka tetap duduk tenang. Putri meminum sedikit kopi, aroma hangatnya menenangkan suasana.
“Kamu yakin mereka nggak berani mendekat lebih jauh?” tanya Putri sambil menatap ke luar.
Aroel mengangkat bahu. “Kalau mereka cukup pintar, mereka bakal menunggu. Tapi kalau mereka salah langkah…” Ia tersenyum kecil. “Kita siap.”
Putri menatapnya, hatinya lega sekaligus waspada. “Aku nggak mau lagi nunggu dan takut sendiri. Sekarang aku ikut menghadapi semuanya, bersama kamu.”
Aroel mencondongkan tubuh ke arahnya. “Aku janji, kita pelan-pelan. Tidak gegabah. Kita lihat dulu geraknya.”
Mereka berdua kembali diam, menatap bayangan yang bergerak pelan di luar. Tidak ada kata-kata berlebihan, tidak ada drama besar. Hanya ketegangan tipis yang terasa nyata, campur aduk dengan rasa aman karena mereka kini berada di sisi yang sama.
Putri memecah kesunyian. “Kalau mereka benar-benar mencoba masuk…”
Aroel menatapnya, matanya serius tapi lembut. “Kita hadapi bareng. Aku nggak akan biarkan kamu sendirian.”
Putri tersenyum tipis. “Aku juga nggak mau kamu sendirian.”
Mereka saling menatap, lalu kembali menatap bayangan di luar. Perlahan, matahari tenggelam, dan bayangan mulai memudar dalam kegelapan yang menebal. Suasana tetap tenang, tapi ketegangan semakin terasa. Mereka tahu, orang luar itu tidak akan menghilang begitu saja.
Hari itu berakhir dengan keheningan yang penuh arti. Mereka duduk berdampingan, menyeruput kopi yang mulai dingin, dan menatap luar dengan kewaspadaan baru. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi malam nanti, tapi satu hal jelas: mereka tidak lagi berdiri sendiri, dan mereka siap menghadapi apapun bersama.
Bersambung......