NovelToon NovelToon
The Spy Cultivator [Haneen And Shadow System]

The Spy Cultivator [Haneen And Shadow System]

Status: sedang berlangsung
Genre:Pembunuhan / Sistem / Pembaca Pikiran / Time Travel / Transmigrasi / Solo Leveling
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sands Ir

Haneen, mantan agen intelijen elit, dikhianati dan tewas di dunia modern. Namun, dia terbangun di tubuh gadis lemah yang namanya sama di dunia kultivasi, murid luar Sekte Pedang Langit dengan merdian rusak yang sering di-bully.

Beruntung, Haneen membawa Sistem Agen Bayangan yang memungkinkannya mengeluarkan senjata modern seperti pistol, drone intai, dan granat di dunia yang mengandalkan pedang dan jurus.

Awalnya hanya ingin bertahan hidup, Haneen justru mengungkap jaringan korupsi besar di dalam sekte. Para tetua yang terlihat suci ternyata saling melindungi sambil mencuri sumber daya. Bersama Yan Ling, murid luar yang juga jadi korban, Haneen mulai membongkar kejahatan satu persatu.

Namun setiap kebenaran yang terungkap, mereka semakin diburu. Dari tambang ilegal hingga ruang bawah tanah rahasia, Haneen dan Yan Ling harus terus berlari sambil mencari cara untuk bertahan.

Mampukah Haneen bertahan di dunia yang mengagungkan kekuatan spiritual sambil membongkar rahasia kelam para tetua?
Akankah teknologi modern dari sistemnya cukup untuk mengalahkan kultivator tingkat tinggi yang terus memburunya? Dan yang terpenting, bisakah dia dan Yan Ling saling percaya di tengah bahaya yang mengintai setiap langkah?

Penuh Aksi, strategi cerdas, dan intrik yang tak terduga.

Ikuti perjalanan Haneen membuktikan bahwa di dunia yang kejam ini, pinter dan siap bisa mengalahkan yang kuat.
Siapkah kamu mengikuti setiap langkah berbahaya mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sands Ir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 : Serangan Kilat di Kota Batu Bulan

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Haneen dan Yan Ling melompat dari atap gedung merah bata itu secepat kilat. Kaki mereka mendarat ringan di atas genting bangunan sebelah, tidak menimbulkan suara sedikit pun. Di belakang mereka, aura tekanan yang sangat kuat menyapu area gudang tempat mereka baru saja keluar. Pemimpin Serikat Naga Merah telah tiba, dan kemarahannya terasa hingga ke ujung saraf siapa pun yang berada dalam radius satu kilometer.

Mereka tidak berani menoleh. Mereka berlari menyusuri rangkaian atap Kota Batu Bulan, memanfaatkan kegelapan malam sebagai selimut perlindungan. Angin malam yang dingin menerpa wajah mereka, membawa aroma debu dan asap dari lampu-lampu jalan di bawah.

"Haneen, aura itu semakin dekat," bisik Yan Ling di sela napas mereka yang teratur. Wanita itu melompati celah lebar antara dua bangunan tanpa ragu.

"Aku tahu," jawab Haneen singkat. Matanya tetap fokus ke depan. Dia memanggil antarmuka sistem di dalam pikirannya. Layar biru neon hanya terlihat oleh retina mereka sendiri.

[Item Aktif: Penyamaran Aura Tingkat Dewa. Sisa Waktu: Dua Puluh Lima Menit.]

"Kita punya waktu setengah jam sebelum penyamaran ini pudar," Ucap Haneen sambil terus berlari. "Kita harus menemukan tempat persembunyian baru sebelum itu terjadi."

"Ke arah mana?" tanya Yan Ling. Dia mengikuti langkah Haneen dengan percaya penuh.

"Distrik Barat. Area pabrik tua," perintah Haneen. Dia membelokkan arah lari mereka menjauh dari pusat kota yang terang benderang. "Di sana banyak bangunan kosong. Sistem sudah memindai area aman."

Mereka berbelok ke gang sempit yang dipenuhi sampah. Haneen mengambil sebuah alat kecil dari saku jubahnya. Itu adalah bom asap mini. Dia melemparnya ke persimpangan jalan di belakang mereka. ‘Duar!’ Asap tebal langsung mengembang, menutupi jejak aroma dan panas tubuh mereka.

Pemimpin Naga Merah yang sedang mengejar pasti akan terkecoh sebentar. Itu waktu yang cukup bagi mereka untuk menghilang.

Setelah lima belas menit berlari tanpa henti, mereka akhirnya sampai di sebuah pabrik tekstil yang sudah tidak beroperasi. Jendela-jendelanya pecah. Besi-besi berkarat menggantung di dinding. Tempat ini sempurna untuk sembunyi.

Haneen memeriksa sekeliling sekali lagi sebelum memberi isyarat pada Yan Ling untuk masuk. Mereka menyusup melalui jendela lantai dua yang rusak. Lantai pabrik tertutup debu tebal. Setiap langkah mereka meninggalkan jejak kaki yang jelas.

"Kita aman untuk saat ini," ucap Haneen sambil bersandar pada tiang beton yang dingin. Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya.

Yan Ling duduk di atas tumpukan karung goni yang masih tersisa. Dia membuka tas kecil di pinggangnya. "Apa yang berhasil kita ambil dari markas mereka?"

Haneen mengeluarkan sebuah kristal berwarna ungu gelap dan beberapa gulungan dokumen dari tas dimensi sistem. Dia meletakkan barang-barang itu di atas lantai yang bersih.

"Ini kristal komunikasi," jelas Haneen sambil mengambil kristal itu. Permukaannya berdenyut lemah dengan cahaya merah. "Dan ini dokumen transaksi. Ada catatan pengiriman barang ke beberapa kota besar."

Yan Ling mengambil salah satu gulungan dokumen. Dia membukanya perlahan. Matanya membelalak saat membaca isinya. "Ini... ini daftar nama pejabat yang disuap oleh Naga Merah. Bahkan ada nama dari Sekte Pedang Langit di sini."

"Tetua Zhao bukan satu-satunya tikus," gumam Haneen dingin. Dia mengambil kristal komunikasi itu. "Dengan ini, kita bisa mendengarkan percakapan mereka. Atau lebih baik lagi, kita bisa menyisipkan pesan palsu."

Yan Ling menatap Haneen dengan pertanyaan di matanya. "Kau berencana memanipulasi mereka?"

"Bukan hanya memanipulasi," jawab Haneen sambil tersenyum tipis. Senyuman itu sering muncul saat dia memiliki rencana yang berbahaya. "Kita akan membuat mereka menghancurkan diri mereka sendiri dari dalam."

Haneen mengaktifkan fitur analisis pada sistem. Dia menempelkan jari telunjuknya pada permukaan kristal. Cahaya biru dari sistem merambat ke dalam kristal itu, membaca pola frekuensinya.

[Sistem sedang menganalisis... Pola suara terdeteksi. Cocok dengan Pemimpin Serikat Naga Merah.]

"Bagus," ucap Haneen puas. "Sistem sudah meniru pola suara pemimpin mereka. Sekarang kita bisa mengirim perintah atas nama dia."

"Apa perintahnya?" tanya Yan Ling. Dia mulai memahami arah rencana Haneen.

"Perintahkan semua anggota cabang untuk berkumpul di gudang utara," jawab Haneen. "Katakan ada penyusup berbahaya di sana. Suruh mereka membawa semua aset berharga untuk diamankan."

Yan Ling tertawa kecil. "Jika mereka semua berkumpul di satu tempat, markas utama mereka akan kosong."

"Tepat sekali," puji Haneen. "Kita bisa masuk bebas ke markas utama mereka besok malam. Ambil semua sisa data, lalu kita hancurkan gudang utara dengan bom yang sudah kita pasang."

"Rencana yang kejam," komentar Yan Ling. Dia berdiri dan menyarungkan pedangnya kembali. "Tapi efektif."

Haneen tidak menjawab. Dia segera mengirimkan pesan suara palsu melalui kristal itu. Suaranya keluar dengan sempurna, persis seperti pemimpin Naga Merah yang berwibawa dan tegas.

"Semua unit cabang Kota Batu Bulan. Segera berkumpul di gudang utara. Membawa semua aset berharga. Ada ancaman serius. Lakukan sekarang."

Pesan itu terkirim melalui jaringan kristal komunikasi mereka. Haneen mematikan kristal itu dan memasukkannya kembali ke tas.

"Sekarang kita tunggu," ucap Haneen. Dia berjalan menuju jendela yang menghadap ke arah kota.

Mereka menunggu dalam hening selama satu jam. Kota Batu Bulan tidak pernah benar-benar tidur, tetapi malam ini ada perubahan pola pergerakan. Dari kejauhan, mereka bisa melihat banyak cahaya obor bergerak menuju area gudang di utara kota.

"Mereka menurutinya," lapor Yan Ling yang juga mengintip dari jendela. "Lihat betapa banyaknya. Mereka benar-benar panik."

"Ketakutan membuat orang bodoh," kata Haneen. Dia berbalik menghadap Yan Ling. "Kita bisa istirahat sebentar. Shift pertama aku yang jaga."

Yan Ling mengangguk lelah. Dia berbaring di atas karung goni, menggunakan tasnya sebagai bantal. "Bangunkan aku dua jam lagi."

"Tidurlah," perintah Haneen lembut.

Yan Ling segera memejamkan mata. Napasnya menjadi teratur dalam waktu singkat. Pertarungan tadi menguras banyak tenaga spiritualnya.

Haneen duduk di dekat pintu masuk pabrik. Pistol silent sudah siap di pangkuannya. Matanya terbuka, waspada terhadap setiap suara yang masuk. Dia memanggil sistem sekali lagi untuk memeriksa status misi.

[Misi Sampingan Selesai: Acak balau Markas Cabang Naga Merah. Hadiah: 3000 Poin Informasi + Pelacak GPS Global.]

Haneen tersenyum tipis melihat notifikasi itu. Pelacak GPS Global akan sangat berguna. Dengan alat itu, dia bisa mengetahui posisi anggota Naga Merah mana pun di seluruh benua, selama mereka membawa perangkat komunikasi yang kompatibel.

"Langkah selanjutnya," gumam Haneen pada diri sendiri. Dia menatap langit-langit pabrik yang gelap.

Menghancurkan tetua Zhao di Sekte Pedang Langit hanyalah awal. Jaringan Naga Merah jauh lebih besar dan lebih berbahaya. Mereka memiliki uang tak terbatas dan koneksi di mana-mana. Jika Haneen ingin benar-benar aman, dia harus memotong kepala ular ini sampai ke akarnya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di luar pabrik. Haneen langsung berdiri. Dia mengangkat pistolnya, mengarahkan ke arah pintu. Napasnya ditahan.

Langkah itu berhenti di depan pintu. Ada suara berbisik.

"Aku yakin mereka ada di sini," suara pria itu terdengar samar. "Jejak aura berakhir di sekitar bangunan ini."

Haneen mengerutkan kening. Penyamaran aura mereka seharusnya masih aktif. Bagaimana mereka bisa terlacak?

Dia melihat ke arah Yan Ling yang masih tidur. Haneen tidak akan membangunkannya kecuali darurat. Dia harus menangani ini sendirian dulu.

Haneen berjalan pelan menuju pintu. Dia menempelkan telinga ke kayu yang lapuk. Ada tiga orang di luar. Aura mereka tingkat menengah. Bukan ancaman besar, tapi cukup merepotkan jika mereka berteriak memanggil bantuan.

Haneen membuka pintu perlahan. Celah kecil cukup baginya untuk melihat keluar. Tiga orang berbaju hitam berdiri di halaman berdebu. Mereka memegang alat pendeteksi yang berkedip-kedip.

"Alat itu," batin Haneen. "Mereka punya pelacak aura jenis baru."

Haneen tidak ragu lagi. Dia membuka pintu lebar-lebar dan langsung menembak. ‘Tss! Tss! Tss!’

Tiga tembakan senyap melesat dalam kurang dari satu detik. Tiga orang itu roboh bersamaan sebelum sempat menyadari keberadaan Haneen. Mereka jatuh ke tanah dengan lubang kecil di dahi.

Haneen segera menyeret tubuh mereka masuk ke dalam pabrik. Dia tidak boleh meninggalkan mayat di luar. Itu akan memancing lebih banyak musuh.

Setelah menyembunyikan mayat di bawah tumpukan mesin tua, Haneen memeriksa alat pendeteksi yang dibawa salah satu musuh. Alat itu berbentuk kotak logam dengan layar kecil.

[Sistem sedang menganalisis alat...]

[Alat ini dapat mendeteksi sisa energi penyamaran tingkat tinggi. Efektif hingga jarak seratus meter.]

Haneen menghela napas. Ternyata penyamaran mereka tidak sepenuhnya sempurna. Ada celah kecil yang bisa dimanfaatkan musuh tingkat tinggi.

"Kita harus pindah lagi," bisik Haneen. Dia membangunkan Yan Ling dengan menggoyang bahu wanita itu pelan.

Yan Ling langsung bangun. Dia tidak bertanya kenapa. Dia langsung berdiri dan memeriksa peralatan nya. "Ada masalah?"

"Ada pemburu yang bisa menembus penyamaran aura," jawab Haneen sambil menunjukkan alat pendeteksi itu. "Kita tidak aman di sini. Mereka mungkin sudah mengirim sinyal ke markas."

"Berapa lama kita punya waktu?" tanya Yan Ling sambil mengikat tali sepatu botnya dengan cepat.

"Maksimal sepuluh menit sebelum pasukan utama datang," estimasi Haneen. "Kita harus keluar dari kota sekarang juga."

"Padahal rencana kita sudah hampir berhasil," keluh Yan Ling. Dia mengambil tas nya.

"Rencana bisa diubah. Nyawa tidak bisa diganti," tegas Haneen. Dia berjalan menuju jendela belakang pabrik. "Kita keluar lewat saluran pembuangan bawah tanah. Itu tidak terpantau oleh alat mereka."

Yan Ling mengikuti Haneen tanpa membantah. Mereka turun ke lubang besi di lantai dasar pabrik. Bau tidak enak langsung menyergap hidung mereka, tetapi mereka tidak punya pilihan.

Mereka merayap di dalam terowongan gelap itu selama dua puluh menit. Air kotor menggenang setinggi lutut. Tikus-tikus besar berlarian ketakutan saat mereka lewat.

Akhirnya, mereka keluar dari lubang saluran pembuangan di tepi hutan, jauh di luar tembok kota. Udara segar malam langsung mengisi paru-paru mereka.

Haneen menoleh ke belakang. Kota Batu Bulan masih terlihat jelas dengan cahaya lampu-lampunya.

"Mereka pasti sedang menggeledah kota sekarang," kata Haneen. Dia membersihkan lumpur dari jubahnya.

"Kita tidur di hutan?" tanya Yan Ling. Dia melihat sekitar. Pohon-pohon besar mengelilingi mereka. Gelap dan menyeramkan.

"Kita buat tenda darurat," jawab Haneen. Dia mengambil item dari sistem. [Tenda Kamuflase Optik. Harga: 500 IP.]

Sebuah tenda berwarna hijau gelap muncul di tangan Haneen. Dia melemparnya ke tanah. Tenda itu langsung membuka diri dan menyatu dengan warna lingkungan sekitar. Dari jarak sepuluh meter, tenda itu tidak terlihat sama sekali.

"Masuk," perintah Haneen.

Mereka masuk ke dalam tenda. Hangat dan kering. Sistem mengatur suhu udara di dalam tenda menjadi nyaman.

"Kita istirahat empat jam," kata Haneen sambil duduk bersandar pada dinding tenda. "Subuh kita mulai bergerak menuju markas utama mereka yang sebenarnya."

"Di mana lokasinya?" tanya Yan Ling. Dia sudah merasa kantuk lagi.

"Sistem sudah melacak sinyal dari kristal komunikasi tadi," jawab Haneen. Dia menunjukkan peta hologram kecil di telapak tangannya. "Ada sebuah pulau kecil di tengah Danau Kabut. Di sana markas pusat mereka."

"Danau Kabut?" Yan Ling mengernyit. "Tempat itu penuh dengan monster air tingkat tinggi. Tidak ada orang biasa yang berani ke sana."

"Justru karena itu tempat yang sempurna," kata Haneen. "Tidak ada yang akan menyangka markas organisasi pembunuh ada di sarang monster."

Yan Ling mengangguk paham. Dia memejamkan mata. "Bangunkan aku saat waktu nya tiba."

Haneen mengangguk. Dia menunggu sampai napas Yan Ling menjadi teratur. Baru kemudian dia memejamkan matanya sendiri.

Tidur Haneen tidak pernah lelap. Selalu ada satu bagian dari otak nya yang tetap waspada. Itu adalah kebiasaan dari dunia lama yang tidak bisa hilang.

Di luar tenda, angin hutan berhembus pelan. Daun-daun pohon bergesekan menimbulkan suara desir yang menenangkan. Namun, di dalam pikiran Haneen, perang masih berlangsung.

Dia memikirkan wajah Pemimpin Naga Merah. Aura yang begitu kuat. Itu bukan kultivator biasa. Mungkin dia sudah mencapai tingkat inti.

"Kita butuh lebih banyak kekuatan," gumam Haneen dalam tidur setengah sadar.

Sistem seolah mendengar keluhannya. [Saran: Gunakan poin untuk membeli Pelatihan Instan Teknik Pedang Bayangan. Harga: 5000 IP.]

Haneen tersenyum dalam hati. Itu ide bagus. Besok, sebelum menyerang pulau itu, dia akan membeli pelatihan itu. Yan Ling juga perlu peningkatan kekuatan.

Malam berlalu dengan cepat. Fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Cahaya oranye menerobos masuk ke dalam tenda melalui celah kecil.

Haneen bangun lebih dulu. Dia memeriksa sekeliling tenda. Aman. Tidak ada jejak musuh.

Dia membangunkan Yan Ling. "Waktunya berangkat."

Yan Ling bangun, meregangkan otot-otot nya yang kaku. "Aku siap."

Mereka membongkar tenda dan menyimpannya kembali ke sistem. Wajah mereka masih menggunakan penyamaran tingkat tinggi. Tidak ada yang akan mengenali mereka sebagai buronan yang sama dari semalam.

"Kita butuh perahu," kata Haneen sambil melihat ke arah danau yang letaknya sekitar lima kilometer dari hutan ini.

"Aku bisa membuat rakit," tawar Yan Ling.

"Tidak perlu," jawab Haneen. Dia sudah memiliki rencana. "Sistem punya item untuk itu."

Mereka mulai berjalan menembus hutan menuju danau. Langkah mereka ringan dan cepat. Burung-burung pagi berkicau riang, tidak menyadari bahwa dua pembawa badai sedang melintas di bawah mereka.

Perjalanan menuju Danau Kabut akan penuh bahaya. Monster air menanti di kedalaman. Musuh manusia menanti di pulau tengah.

Tapi Haneen tidak gentar. Dia sudah menyiapkan segala sesuatu. Senjata, rencana, dan strategi semua sudah siap.

"Yan Ling," panggil Haneen tiba-tiba saat mereka sedang berjalan.

"Ya?" jawab Yan Ling tanpa menoleh.

"Setelah misi ini selesai, apa yang akan kau lakukan?" tanya Haneen. Pertanyaan itu keluar tiba-tiba, tanpa rencana.

Yan Ling terdiam sebentar. Dia memikirkan jawabannya. "Aku tidak tahu. Mungkin mencari tempat tenang. Atau mungkin ikut kau terus."

Haneen tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis. Dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi setelah semua ini berakhir. Tapi untuk sekarang, mereka memiliki tujuan yang sama.

Dan itu sudah cukup.

Mereka terus berjalan. Matahari semakin tinggi. Danau Kabut sudah terlihat di kejauhan. Permukaan airnya tenang, tertutup kabut tipis yang misterius.

Di tengah danau, sebuah pulau kecil terlihat samar. Asap tipis mengepul dari sana.

"Itu target kita," kata Haneen sambil menunjuk ke arah pulau.

"Siap untuk berperang?" tanya Yan Ling sambil memeriksa pedangnya.

"Selalu," jawab Haneen tegas.

Mereka turun menuju tepian danau. Di sana, di balik semak-semak, mereka akan merencanakan serangan paling berbahaya dalam hidup mereka. Menyerang ke jantung ular berbisa. Haneen yakin kali ini, mereka tidak akan gagal.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Bersambung…...

Jangan lupa like, komen dan share 😄

1
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor🔥
Mbu'y Fahmi
huh ... thor serasa ikut dalam cerita...👍👍
Mbu'y Fahmi
deg² thor takut ketauan😄
Ahyar Alkautsar Rizky
keren thor😍
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor🔥
Mbu'y Fahmi
lanjut thor... makin seru cerita nya
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor 🔥
Ara putri
semangat kak. jgn lupa mampir juga keceritaku PENJELAJAH WAKTU HIDUP DIZAMAN AJAIB
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor🔥
Ahyar Alkautsar Rizky
izin save gambarnya ya thor 🙏
Fajar Fahri
ikut kedalam cerita
Fajar Fahri
visualnya kerenn 👍
Intan21
😍
Intan21
good
Saskia Natasya
alur cerita nya bagus
Ahyar Alkautsar Rizky
seru kali thor 😍
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor please
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!