Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33- Tidak Menikmati Apapun
Pagi di kamar kost nomor 12 dimulai dengan keheningan yang menyesakkan. Alea berdiri di depan dapur kecilnya, menatap air yang mendidih dengan tatapan kosong. Ia menyeduh kopi hitam saset, berharap aroma pahitnya bisa memicu sesuatu di dalam kepalanya.
Ia menyesap kopi itu pelan. Cairan panas menyentuh lidahnya, tapi sarafnya hanya melaporkan suhu, bukan rasa.
“Kok hambar?” gumam Alea. Ia mencoba menyeruput lagi, kali ini lebih banyak. “Sama saja. Kayak minum air putih panas.”
Pandangan Alea kemudian beralih ke tas kanvasnya yang tergeletak di atas meja. Di sana, sudut amplop cokelat yang ia temukan kemarin sore sedikit mengintip keluar. Jantungnya berdegup tidak beraturan hanya dengan melihat benda itu. Ia ingin membuangnya ke tempat sampah, tapi tangannya justru bergerak menyentuh permukaan kertasnya yang kasar. Dingin. Seperti ada rahasia busuk yang tersimpan di sana.
Di toko buku, suasana terasa canggung. Alea mencoba menyibukkan diri dengan merapikan rak, tapi setiap kali ia bergerak, ia merasa beban amplop di dalam tasnya, yang ia simpan di loker karyawan seolah ikut berpindah ke pundaknya.
“Al, sini deh sebentar,” panggil Dinda dari meja kasir. Di depannya ada sekotak donat cokelat. “Ini donat yang antrinya panjang banget itu. Cobain satu, mumpung masih anget.”
Alea mendekat dengan langkah berat. “Aku nggak lapar, Din.”
“Satu gigit aja. Katanya kalau makan cokelat, mood bisa langsung naik. Ayo, buka mulut.” Dinda menyodorkan sepotong donat dengan antusias.
Alea menerimanya, menggigit sedikit, lalu mengunyahnya pelan. Wajahnya tetap datar.
“Gimana? Enak banget kan? Glaze-nya itu lho, lumer banget,” tanya Dinda penuh harap.
Alea menelan donat itu dan menatap Dinda dengan tatapan bingung. “Rasanya kayak kardus, Din.”
“Hah? Kardus gimana? Ini cokelat premium, Al.” Dinda mengambil gigitan dari donat yang sama. “Enak begini kok! Manis, gurih, lembut. Kamu beneran bilang ini kayak kardus?”
“Di lidahku nggak ada rasanya, Din. Hambar. Kayak aku lagi ngunyah sesuatu yang nggak punya rasa sama sekali.”
Dinda meletakkan donatnya, wajahnya berubah cemas. “Al, kamu beneran oke? Lidah hambar itu biasanya gejala orang mau sakit parah. Kamu meriang?”
“Enggak. Aku cuma, nggak tahu. Mungkin lidahku lagi mati rasa saja.”
Alea terdiam sejenak, lalu berbisik, “Din, kalau ada orang yang ngasih kamu amplop cokelat tanpa nama, kira-kira isinya apa?”
Dinda mengernyit. “Amplop cokelat? Mungkin surat tagihan? Atau malah surat cinta misterius? Kenapa? Kamu dapet?”
“Enggak,” dusta Alea cepat. “Cuma nanya.”
Pukul satu siang, bel pintu toko berdenting. Aksa masuk membawa bungkusan makanan yang aromanya sangat kuat. Ia langsung menarik kursi di area baca dan memberi kode pada Alea untuk mendekat.
“Ayam bakar bumbu rujak. Kamu pernah bilang ini tempat favoritmu, kan?” ucap Aksa sambil membuka kotak makan itu.
Alea duduk di depannya, menatap potongan ayam dengan bumbu merah yang melimpah. Ia mulai menyuap. Satu suap, dua suap, lalu ia berhenti.
“Gimana?” tanya Aksa. “Masih seenak dulu?”
Alea meletakkan sendoknya, ia menatap Aksa dengan frustrasi yang mulai memuncak. “Nggak tahu, Sa. Semuanya hambar.”
“Hambar? Bumbunya sebanyak ini kamu bilang hambar?” Aksa menyipitkan mata, memperhatikan wajah Alea yang pucat.
“Bumbunya ada di lidahku, Sa. Aku tahu ini pedas, aku tahu ini gurih, tapi di otakku nggak ada sinyal enak itu. Aku ngerasa kayak lagi ngisi bensin ke tangki mobil. Cuma sekadar biar mesinnya jalan, tapi nggak ada kepuasan.”
Aksa terdiam sejenak, ia bersandar pada kursi kayu itu. “Sejak kapan semuanya terasa kayak gitu?” tanya Aksa.
“Dari bangun tidur. Kopi tadi pagi, donat dari Dinda, sekarang ayam ini. Semuanya sama. Hambar. Aku takut, Sa.”
“Takut apa?”
“Kalau rasa makan saja hilang, apa rasa-rasa yang lain juga bakal hilang?” Alea meremas ujung kemejanya. “Sa, kemarin di toko, aku nemuin amplop cokelat selipan di rak. Terus ada orang yang ngawasin aku dari seberang jalan.”
Rahang Aksa mengeras. Tatapannya yang tadi lembut berubah menjadi sangat tajam. “Amplop? Mana amplopnya? Kenapa kamu baru bilang?”
“Aku takut, Sa. Aku belum buka isinya. Aku simpen di loker.”
“Ambil. Sekarang,” perintah Aksa. Suaranya tidak keras, tapi penuh otoritas.
“Jangan sekarang, Sa,” pinta Alea lirih. “Aku belum siap kalau isinya sesuatu yang buruk. Perasaanku lagi mati rasa begini, aku takut kalau aku buka isinya, aku malah nggak bisa ngerasain apa-apa lagi, atau malah hancur total.”
Aksa menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya agar tidak menakuti Alea. Ia kembali meraih tangan Alea. “Oke. Kita simpan dulu. Tapi kamu nggak boleh buka itu sendirian, paham?”
“Kenapa kamu peduli banget, Sa?” tanya Alea. “Isinya mungkin cuma sampah.”
“Karena aku nggak mau warnamu hilang selamanya, Al. Kalau dunia kamu sekarang lagi hitam putih, aku bakal di sini. Aku bakal nunggu sampai warnanya balik lagi. Mau sebulan, mau setahun, aku nggak peduli.”
Alea menatap Aksa lama. “Tapi aku nggak bisa kasih apa-apa ke kamu. Aku bahkan nggak bisa bilang terima kasih dengan bener karena aku nggak ngerasa seneng dapet ayam ini.”
“Aku nggak butuh ucapan terima kasih kamu,” jawab Aksa tenang. “Aku cuma mau kamu tetap ada. Kalau hari ini semuanya hambar, ya sudah. Kita makan buat bertahan hidup saja, bukan buat cari rasa.”
Sore harinya, saat toko mulai sepi, Alea kembali ke lokernya. Ia menatap tas kanvasnya. Amplop cokelat itu masih di sana. Ia merasa benda itu memiliki gravitasi sendiri, menariknya untuk terus memikirkannya.
Dinda menghampiri Alea. “Al, tadi Pak Aksa kayaknya tegang banget pas ngobrol sama kamu. Ada masalah?”
“Nggak ada, Din. Cuma masalah lidah hambar tadi.”
Beneran? Kok kayaknya dia protektif banget?”
“Dia emang gitu, kan?” sahut Alea datar. Ia mengambil tasnya dan beranjak pulang.
“Dia beneran perhatian ya sama kamu. Aku iri deh, Al. Padahal dia kelihatan galak di kantor, tapi kalau sama kamu.—“
“Aku nggak ngerasa apa-apa, Din,” potong Alea datar.
Dinda terdiam, ia menatap Alea dengan wajah sedih.
“Maksudnya?”
“Harusnya aku seneng dapet perhatian kayak gitu, kan? Tapi rasanya datar aja. Kayak liat orang asing yang lagi baik sama aku. Aku merasa jahat karena nggak bisa ngerasain syukur itu.”
Dinda memegang bahu Alea. “Al, kamu nggak jahat. Kamu cuma lagi sakit. Jangan nyalahin diri sendiri karena perasaanmu lagi mogok. Istirahat ya nanti di kost.”
Malam itu, di kamar kost, Alea duduk di tepi tempat tidur. Ia mengeluarkan amplop cokelat itu. Rasa hambar di lidahnya masih ada, tapi tangannya yang memegang kertas itu bergetar hebat. Ia tahu, di dalam kertas ini ada bukti masa lalu yang ingin ia lupakan, tentang pelecehan di masa SMP yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
“Besok,” bisiknya pada kegelapan. “Aku bakal buka ini pas Aksa ada di deketku. Aku nggak bisa sendiri.”
Alea menyelipkan amplop itu di bawah bantalnya, tepat di mana ia bisa merasakan permukaannya yang keras sepanjang malam.