NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak Seorang CEO

Cinta Kontrak Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Sutiana

Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.

bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11. Diantara nama dan harga diri

Mobil hitam itu melaju tenang di jalanan menuju kawasan elit di pinggiran kota.

Bangunan-bangunan megah berdiri anggun di balik gerbang tinggi, seakan memisahkan dunia mereka dari kehidupan di luar sana.

Sakira duduk di kursi penumpang dengan tangan saling menggenggam di pangkuannya. Gaun sederhana berwarna krem yang dikenakannya terasa terlalu polos untuk acara keluarga seorang CEO besar. Ia sudah berusaha menenangkan diri sejak pagi, tetapi detak jantungnya terus berdetak tak wajar.

Di sampingnya, Rafael fokus menyetir. Wajahnya dingin, rahangnya mengeras, seolah bersiap menghadapi pertempuran yang sudah ia prediksi.

“Kita akan sampai sepuluh menit lagi,” ucap Rafael akhirnya.

Sakira mengangguk. “Aku akan berusaha bersikap baik.”

Rafael meliriknya singkat. “Kamu tidak perlu menyenangkan siapa pun.”

Kalimat itu terdengar seperti perlindungan, namun nada suaranya tetap menjaga jarak.

“Cukup berdiri di sampingku,” lanjutnya.

Sakira tersenyum tipis. “Baik.”

Namun di dalam hatinya, ia tahu berdiri di samping Rafael bukanlah hal mudah. Nama besar pria itu membawa bayangan panjang—dan ia hanyalah perempuan dengan masa lalu biasa, bahkan cenderung getir.

Mobil berhenti di depan rumah besar bergaya klasik modern. Pintu gerbang terbuka perlahan.

Sakira menelan ludah.

Inilah dunia Rafael yang sebenarnya.Begitu mereka melangkah masuk, aroma kemewahan langsung terasa. Lampu gantung kristal menyala terang, lantai marmer mengilap memantulkan bayangan langkah mereka.

Beberapa pasang mata langsung tertuju pada Sakira.

“Rafael.”

Seorang wanita paruh baya melangkah mendekat. Wajahnya anggun, riasannya sempurna, sorot matanya tajam namun terkontrol.

“Ini ibuku,” bisik Rafael singkat. “Ibu Ratna.”

Sakira menunduk sopan. “Selamat sore, Bu.”

Tatapan Ratna menyapu Sakira dari ujung kepala hingga kaki, tanpa berusaha menyembunyikan penilaiannya.“Jadi kamu Sakira,” katanya datar. “Istri Rafael.”

“Ya, Bu.”

Ratna tersenyum tipis—senyum yang lebih menyerupai formalitas daripada kehangatan. “Masuklah. Keluarga sudah menunggu.”

Sakira melangkah mengikuti Rafael, punggungnya terasa kaku. Ia bisa merasakan aura tidak ramah meski belum ada satu kata pun yang kasar terucap.

Di ruang makan besar, beberapa anggota keluarga sudah berkumpul. Ada paman, bibi, sepupu—semuanya berpakaian rapi dan tampak… seragam. Seolah dunia mereka memiliki standar tak tertulis yang sama.

“Ini istri Rafael?” bisik salah satu wanita muda tanpa berusaha mengecilkan suara.

“Kelihatannya biasa saja,” sahut yang lain.

Sakira mendengar semuanya.

Ia memilih diam.

Rafael menarik kursi untuk Sakira, gestur kecil yang tak luput dari perhatian. Beberapa tatapan langsung berubah.

Makan malam dimulai dengan suasana canggung.

“Rafael,” ujar seorang pria paruh baya—pamannya. “Kami semua terkejut dengan pernikahan mendadak ini.”

“Keputusan saya,” jawab Rafael tenang.

“Tanpa perkenalan keluarga?” sela yang lain.

Rafael hendak menjawab, namun Ratna lebih dulu angkat suara. “Dan tanpa latar belakang yang jelas.”

Sendok di tangan Sakira berhenti bergerak.

“Maaf?” ucapnya pelan, namun Ratna tidak menatapnya.

“Kami hanya ingin tahu,” lanjut Ratna, “keluarga asalmu, pendidikanmu, pekerjaanmu.”

Sakira mengangkat wajah. “Saya berasal dari keluarga sederhana, Bu. Pendidikan terakhir saya SMA. Saat ini belum bekerja tetap.”

Beberapa orang saling pandang, senyum sinis tak terelakkan.

“Rafael,” kata pamannya lagi, “kamu menikahi perempuan yang bahkan tidak punya posisi jelas?”

Rafael menatap mereka dingin. “Status Sakira sebagai istriku sudah cukup jelas.”

“Di dunia kita, itu tidak cukup,” sahut Ratna tajam.

Sakira mengepalkan tangannya di bawah meja. Dadanya terasa panas, namun ia menahan diri.

“Aku tidak datang untuk dinilai sebagai aset,” ucapnya akhirnya, suara tetap tenang. “Aku hanya ingin menghormati keluarga suamiku.”

Ruangan mendadak sunyi.

Rafael menoleh ke arahnya, jelas terkejut.

Ratna tersenyum tipis. “Berani juga.”

“Aku hanya jujur,” balas Sakira.

Rafael meletakkan sendoknya. “Jika ini berubah menjadi interogasi, kami akan pergi.”

“Kamu membela perempuan ini?” tanya Ratna.

Rafael berdiri. “Dia istriku.”

Kata itu membuat jantung Sakira bergetar hebat.

Namun Ratna tidak mundur. “Pernikahan ini tidak seimbang, Rafael. Cepat atau lambat, itu akan menjadi masalah.”

Rafael menatap ibunya lama. “Aku yang akan menanggung akibatnya.”

Ia menggenggam tangan Sakira. “Kita pulang.”

Di dalam mobil, suasana hening.

Lampu kota melewati jendela seperti kilatan kenangan yang tidak menyenangkan. Sakira menatap lurus ke depan, menahan air mata yang sejak tadi menggenang.

“Maaf,” ucapnya pelan.

Rafael menoleh. “Untuk apa?”

“Karena aku membuat suasana buruk.”

Rafael mengerem di pinggir jalan secara tiba-tiba.

Ia menoleh penuh emosi. “Kamu tidak salah.”

Sakira terkejut.

“Mereka yang keterlaluan,” lanjut Rafael, suaranya tertahan. “Aku yang menyeretmu ke dunia ini.”

“Ini konsekuensi menikah denganmu,” jawab Sakira pahit.

Rafael terdiam.

“Sakira,” katanya lebih lembut. “Jika kamu ingin mengakhiri kontrak ini lebih cepat—”

“Tidak,” potong Sakira cepat.

Rafael menatapnya tajam.

“Aku tidak akan lari hanya karena diremehkan,” lanjut Sakira. “Aku sudah terlalu sering diremehkan sejak dulu.”

Kata-kata itu membuat Rafael tercekat.

“Dan aku tidak ingin menjadi bebanmu,” tambah Sakira lirih.

Rafael meraih wajah Sakira dengan satu tangan, membuat perempuan itu menatapnya. Jarak mereka begitu dekat.

“Kamu bukan beban,” ucapnya tegas. “Jangan pernah berpikir begitu.”

Untuk sesaat, dunia seolah berhenti.

Napas mereka saling bersentuhan. Sakira bisa melihat konflik di mata Rafael—keinginan dan ketakutan yang bertabrakan.

Namun Rafael menarik tangannya.

“Kita harus tetap ingat batas,” katanya dingin kembali.

Sakira mengangguk, meski hatinya terasa perih.

Malam itu, Sakira menangis dalam diam.

Bukan karena keluarga Rafael, melainkan karena ia mulai menyadari satu hal yang berbahaya—

Ia tidak lagi hanya menjalani peran.

Ia mulai mencintai.

Sementara itu, Rafael duduk di ruang kerja dengan segelas minuman yang tak tersentuh. Kata-kata ibunya terngiang di kepalanya, bercampur dengan keberanian Sakira yang membuatnya kagum… dan takut.

“Jika aku terus membiarkannya di sisiku,” gumamnya, “dia akan semakin terluka.”

Namun membayangkan Sakira pergi justru membuat dadanya sesak.

Kontrak itu kini terasa seperti penjara.

Dan mereka berdua terjebak di dalamnya—bukan oleh kertas perjanjian, melainkan oleh perasaan yang mulai tumbuh tanpa izin.

Pagi datang tanpa benar-benar membawa terang bagi Sakira.

Ia terbangun dengan mata sembab, sisa tangis semalam masih terasa di dadanya. Rumah itu kembali sunyi, terlalu besar untuk dua orang yang sama-sama terjebak dalam pikirannya sendiri.

Sakira duduk di tepi ranjang, memeluk lutut.

Jika aku pergi sekarang… mungkin semuanya akan lebih mudah untuknya.

Pikiran itu berulang kali muncul, meski hatinya menolak mentah-mentah.

Di ruang makan, Rafael sudah duduk dengan setelan kerja rapi. Wajahnya tampak lebih dingin dari biasanya—bukan dingin karena marah, melainkan karena ia sengaja membangun jarak.

“Kamu tidak perlu ikut aku hari ini,” ucapnya tanpa menatap Sakira.

Sakira berhenti melangkah. “Kenapa?”

“Aku akan sibuk.”

Jawaban singkat itu terasa seperti tembok.

Sakira menarik napas. “Rafael… tentang semalam—”

“Sudah cukup,” potong Rafael. “Aku tidak ingin membicarakannya.”

Nada suaranya profesional, hampir seperti berbicara pada rekan kerja. Sikap itu membuat Sakira mengerti satu hal: Rafael sedang melindungi dirinya sendiri.

Dan mungkin… menjauh darinya.

“Baik,” jawab Sakira pelan.

Ia duduk, mengambil sarapan seadanya, meski nyaris tak berselera. Rafael berdiri, mengambil jasnya, lalu berhenti sejenak di ambang pintu.

“Sakira,” katanya tanpa menoleh. “Apa pun yang terjadi… jangan dengarkan kata-kata mereka.”

Pintu tertutup sebelum Sakira sempat menjawab.

Hari itu, Sakira menerima pesan yang membuat jantungnya berdegup keras.

Nomor tak dikenal.

Aku ingin bertemu. Kita perlu bicara tentang Rafael.

Tangannya gemetar.

Pesan kedua masuk.

Aku bagian dari masa lalunya. Dan kamu berhak tahu.

Sakira menatap layar ponsel lama.

Masa lalu Rafael.

Bagian yang selama ini tak pernah benar-benar ia sentuh.

Setelah ragu beberapa saat, Sakira membalas singkat.

Di mana?

Sore itu, Sakira duduk di sebuah kafe yang lebih sepi dari biasanya. Di depannya, seorang perempuan berpenampilan elegan tersenyum tipis. Aura percaya dirinya begitu kuat.

“Aku Alya,” ucap perempuan itu. “Mantan tunangan Rafael.”

Kata itu menghantam Sakira tanpa ampun.

“Mantan… tunangan?” ulang Sakira lirih.

Alya mengangguk. “Keluarga kami hampir saja menyatukan kami. Jika bukan karena suatu kejadian.”

“Apa kejadian itu?” tanya Sakira, berusaha tetap tenang.

Alya menyesap minumannya. “Rafael memilih karier dan ambisi. Dia selalu begitu—menarik diri ketika perasaan mulai menguasai.”

Sakira terdiam.

“Dan sekarang,” lanjut Alya menatapnya tajam, “kamu ada di posisiku dulu.”

“Kalau begitu,” jawab Sakira perlahan, “kenapa kamu mencariku?”

Alya tersenyum tipis. “Karena aku tidak ingin kamu terluka lebih jauh.”

Kata-kata itu terdengar seperti peringatan… atau ancaman halus.

Malamnya, Rafael pulang lebih awal dari biasanya.

Ia menemukan Sakira duduk di ruang keluarga, menatap kosong ke arah jendela. Hatinya mencelos—ia jarang melihat Sakira setenang itu.

“Kamu ke mana hari ini?” tanya Rafael.

Sakira menoleh. “Aku bertemu seseorang.”

Rafael mengernyit. “Siapa?”

“Masa lalumu.”

Rafael membeku.

Kamu bertemu Alya?” suaranya menegang.

Sakira mengangguk. “Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?”

“Karena itu tidak penting,” jawab Rafael cepat.

“Penting untukku,” balas Sakira, kali ini berani menatapnya. “Dia bilang kamu selalu pergi ketika perasaan mulai terasa nyata.”

Rafael mengepalkan rahangnya. “Dia tidak tahu apa-apa.”

“Lalu aku?” suara Sakira bergetar. “Aku ini apa bagimu, Rafael?”

Keheningan memekakkan telinga.

“Aku tidak ingin kamu berharap,” jawab Rafael akhirnya. “Aku tidak ingin kamu terluka.”

Sakira tersenyum pahit. “Tapi menjauhimu justru membuatku lebih sakit.”

Rafael menatapnya lama, seolah ingin mengatakan sesuatu yang telah lama terkunci. Namun kata-kata itu tak pernah keluar.

“Kita harus tetap profesional,” ucap Rafael dingin.

Sakira berdiri. “Kalau begitu… jangan menahanku saat kontrak ini berakhir.”

Kata-kata itu membuat Rafael terdiam, dadanya terasa sesak.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari—ia mungkin akan kehilangan Sakira bukan karena kontrak, melainkan karena ketakutannya sendiri.

Bersambung...

1
Ana Sutiana
bagus dan menarik ceritanya untuk di baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!