"Capek tidak sayang? aku masih mau sekali lagi.."
"Kamu kuat sekali Mas.."
Si tampan itu tertawa menciumi pipi sang Istri, entah sejak kapan dia sangat mencintai istrinya ini.
"Sudah di minum Pilnya Sayang?"
"Harus Mas? Aku lelah minum Pil KB terus.."
"Menurutlah sayang semua demi kebaikan.."
Tidakkah Tama tau jika larangannya itu justru menyakiti hati Istrinya?
"Aku takut sayang, Aku takut kamu akan meninggalkan aku saat mengetaui kebenaran atas Suamimu ini."
Tama selalu di hantui rasa bersalah, ketakutan dia akan masa lalunya.
Sebenarnya apa Yang terjadi di masa lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUNTIKAN OBAT
BAB 14
“Tama! Menjauh!”
Teriak kan Selin membuat Tama menoleh, dan benar saja detik Suara Bom sudah terdengar namun Tama menanggapinya dengan tenang.
“Tama, Jangan mendekat!”
Jelas itu adalah sebuah perintah tapi Tama tak mendengarkan, dia malah mendekat dan mulai mengamati Benda Horor itu.
“Berikan aku Obeng!”
Satu anak buah Tama langsung mendekat dan memberikan barang permintaan Tama, dan tak butuh waktu lama hanya dalam hitungan detik Tama berhasil menjinakan Bom tersebut.
“Tama?”
“Aman Sein!”
“Huaahh Daebak!”
Selin menggelengkan kepala, memang Tama ini super bisa apapun, bahkan dia bisa dengan mudah menjinakan Bom dimana hal itu hanya bisa di kerjakan oleh orang Profesional.
“Lepas!!!”
Tama tersenyum namun senyuman itu terlihat sangat mengerikan.
“Why?”Apa kamu berharap bisa mati dengan cepat?”
“Bunuh!! Cepat bunuh saya!” teriak pria yang sudah terlihat hampir prustasi.
“Non cosi in fretta stupido” Tama berucap namun dengan tatapan yang sangat tajam. Selin menarik rambut pria itu membuatnya mendongakan kepala.
“Cepat katakan apapun informasi yang kamu ketahui!” bentak Selin keras, seakan tak mendengar Pria itu membuang pandangannya.
“Rompergli il collo!”
“Tama?” Selin melebarkan matanya
“Spezzagli il dito!” Tama mendekat dan menunjuk pria itu dengan jarinya.
“Dan? Tagliargli le gambe!”
Selin tertawa pelan mau heran tapi ini Tama, dia menatap pria itu dan langsung paham maksud dari tatapan bosnya itu, Tama perlahan menjauh melepaskan sarung tangan hitamnya dan membiarkan Selin yang mengurus semuanya.
“Patahkan Lehernya?”
“Jarinya lalu kakinya?”
“Itu sangat mudah Tuan.” Selin mendekat sehingga membuat lelaki itu ketakutan. Berharap langsung di bunuh tapi Tama tidak melakukan itu.
“Perlahan saja, buat dia sangat tersiksa.” Tama menepuk pundak Selin, sudah menjadi bidang Gadis itu dalam urusan menyiksa musuhnya.
Tama hendak pergi, baru beberapa langkah lelaki itu menoleh lagi.
“Bayu, dimana Alisya?”
“Di Hotel Pak, ada Argo dan Gani yang Standby..” Tama mengangguk dan langsung pergi dari sana, dia sangat merindukan Istri tercintanya.
Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit kini Tama sudah sampai Hotel, di lihat dua Bodyguard yang masih berjaga Tama menepuk pundak salah satunya.
“Kalian bisa pergi..”
“Maaf Pak, tapi Bu Selin memerintahkan Kami untuk tetap disini..”
“Bos Kalian itu saya atau Selin?”
Argo langsung menundukan kepalanya, Tubuhnya yang tinggi dan Gagah seakan kalah dengan nyalinya jika sudah berhadapan dengan sang Bos.
"Tapi Maaf Pak, Nyawa saja akan jadi taruhannya jika terjadi sesuatu dengan Bapak dan Ibu..” Kini Gani yang bersuara, baiklah memang seposesif itu Selin pada Tama dan akhirnya Tama mengalah dan membiarkan dua penjaganya itu tetap di sana.
“Baiklah, berjaga dengan baik, gunakan mata kalian, jangan gunakan telinga..”
Dua pria berbadan besar itu saling melirik, mereka tak paham arti dari ucapan sang bos, tapi mau bagaimana lagi, Mereka harus tetap menurut bukan?”
“Baik Pak..” Keduanya menunduk Hormat, Tama meninggalkan keduanya.
Dan sesuai Prediksinya, sesampainya di dalam hotel Tama sudah mendapati sang Istri tertidur dengan nyenyak, entahlah apa yang mambuat Alisya bisa tidur lebih awal. Merasa cemas Tama memeriksa suhu tubuh Istrinya..
“Hangat..” apa yang di lakukan Tama? Tentu saja Pria bucin ini langsung cemas, Pasti Istrinya sakit kalau sudah demam begini
“Sayang.. badanmu hangat..” Tama dengan lembut memeluk tubuh Istrinya, Alisya tak terusik sedikitpun yang ada Wanita cantik itu semakin pulas tertidur.
Setelah mengutak – atik ponsel pintarnya Tama kembali memeluk Alisya, rasa rindunya pada sang Istri belum tersalurkan tapi mau bagaimana lagi, Tama hanya bisa menunggu sang Istri membaik.
“Tam?”
Mendengar suara yang sangat dia kenal, si tampan itu menoleh dia mengode saat melihat Seseorang melewati pintu kamarnya.
“Tam? Alisya kenapa?”
“Demam, ada obatnya?” Selin mengangguk dia mendekat dan mencoba mengecek keadaan Alisya.
“Untung aku selalu bawa obat – obatan..”
“Narkoba?”
“Ngaco!! Ini penurun demam Tam! Ada – ada saja kamu!!”
Tama tersenyum, di usapnya punggung Selin sehingga gadis itu langsung menoleh.
“Makasih ya Sein..”
“Untuk?”
“Sudah selalu ada buat aku, kamu selalu mengutamakan keselamatan aku..”
Selin mengangguk namun wajahnya masih saja datar.
“Itu sudah menjadi tugas aku Tama, jadi jangan berlebihan..”
Si Tampan itu mengangguk dan kembali membelai kepala sang Istri.
“Dalam beberapa menit demamnya pasti turun, tapi apabila tidak juga turun kita harus bawa ke rumah sakit Tam..” Tama mengangguk setuju dia juga cemas dengan Istrinya.
“Aku tinggal sebentar Telepon Pak Widodo, bisa kamu temani Alisya sebentar, Sein?”
“Tentu! Pergilah..”
Tama mengecup kening Alisya sebelum meninggalkan, Selin hanya tersenyum menyaksikan sendiri kebucinan Bosnya.
“Selin?”
“Hhhmm?”
Saat menoleh rupanya Si nona muda sudah terbangun, Alisya tersenyum dengan wajah pucatnya dan Selin yang cemas sejak tadi seketika merasa lega.
“Al, kamu baik – baik saja?”
Wanita cantik itu mengangguk, terlihat jelas kecemasan di wajah Selin dan Alisya hanya tersenyum.
“Apa yang di rasa Sya?”
“Kepalaku sakit Sel, mual banget..”
Satu kata yang membuat kedua mata Selin menyipit.
Mual?
“kenapa bisa? Kamu makan apa tadi?”
“Hanya Roti Selai Markisa..”
“Jelas tidak ada masalah, lalu mualnya dari mana?”
“Kamu sudah datang bulan Al?”
“Mendengar pertanyaan Selin sontak si cantik itu langsung berpikir dan dia baru menyadari bahwa memang dia belum haid bulan ini.
“Hmm belum, aku juga baru keingetan..” Selin semakin mengerutkan dahinya.
“Apa mungkin kamu hamil?”
Alisya tertawa, pertanyaan Selin sangat membuatnya lucu.
“Jangan aneh Sel, mana mungkin aku hamil, Bosmu saja rutin sekali menyuruhku meminum Obat menunda kehamilan..”
“Ya bisa saja Al, apapun bisa terjadi atas kuasa Tuhan bukan?” Alisya terdiam, besar harapan dia jika omongan Selin itu menjadi kenyataan tapi rasanya tidak mungkin.
“Tidak Sel, sepertinya aku hanya masuk angin..”
Baiklah Selin menerima baik alasan dari Alisya tapi dia akan tetap mencaritahu ini.
“Sayang sudah bangun?” dua wanita cantik di dalam kamar menoleh dan mendapati Tama masuk dengan wajah tampannya.
“Sudah Mas baru saja, Mas Tama dari mana?”
“Aku habis Menghubungi seseorang sayang.” Tama mengecup kening sang Istri dan kembali menoleh pada Sekretarisnya.
“Sel, tolong kamu urus pak Widodo secepatnya, supaya Lusa kita bisa pulang..”
“Kita pulang Mas?” Tama mengangguk dengan senyum.
“Iya sayang, kamu kan tidak betah disini, makanya aku mempercepat jalannya pekerjaan aku agar kita cepat pulang..”
Alisya berseru ria, dia memeluk leher suaminya.
“Makasih sayang.. I Love You..”
“Love you More Honey..”
Selin menggeleng, lagi dan lagi dia sangat tidak menyangka bos yang selama ini bekerja dengannya, yang terkenal dengan Bos dingin, pemarah dan tukang ngamuk ternyata selalu manis dan lembut jika berhadapan dengan Istrinya.
“Baiklah aku akan urus semuanya Tam..”
“Nice! Kamu boleh pergi..” Selin mengangguk dan pamit pergi sebelumnya berpamitan dengan Alisya.
“Kok Selin bisa ada disini?”
“Iya sayang, aku yang memanggilnya..”
“Untuk?”
“Membawakan kamu obat..”
Pandangan Alisya menoleh dan mendapati satu suntikan ada di atas meja.
“Itu bukannya suntikan ya Mas? Kenapa bisa ada disini?”
Tama tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Istrinya.
“Itu Obat menurun panas sayang, untuk kamu..”
“Siapa yang suntikan ke tubuhku?”
“Aku dong, siapa lagi?” Jawab Tama dengan bangga, tapi Justru Alisya merasa heran.
“Sejak kapan kamu bisa menyuntik Mas? Memangnya pekerjaanmu Dokter?”
“Hhmmm Itu...”
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya