NovelToon NovelToon
Luminar

Luminar

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:835
Nilai: 5
Nama Author: Nostalgic

Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.

Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Terasing di Dunia yang Tak Peduli

Ibunya datang dengan suara langkah kaki yang berat, seolah setiap hentakan tanah menahan amarah yang meluap-luap. Heras mendengarnya dengan jelas, dan tak lama kemudian, ibunya muncul di hadapannya dengan wajah yang mendung, seakan awan hitam baru saja menutupi matahari. Ibunya memarahi Heras habis-habisan karena ia membolos sekolah, kata-kata pedas meluncur deras tanpa jeda, menghina dan mencela putranya sendiri panjang lebar. Namun, Heras tidak lagi terkejut mendengarnya—semua itu sudah menjadi "makanan sehari-hari", bumbu rutin yang meresap ke dalam tulang dan dagingnya.

Heras menjawab dengan suara yang pelan namun tegas, mengatakan bahwa ia pergi ke pasar untuk menyelamatkan orang dari monster. Namun, respon ibunya bukannya peduli, melainkan semakin merendahkan. Lidah ibunya tajam bagaikan pisau, menyinggung kakinya yang lumpuh dan menusuk tepat ke dalam luka masa lalu, mengorek apa yang menjadi trauma terdalamnya.

Hal itu membuat Heras muak, marah, dan kesal—perasaan yang bergolak bagaikan lautan yang badainya tak kunjung reda. Tanpa sadar, ia tiba-tiba turun dari kasur. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berdiri tegak di atas kedua kakinya yang selama ini tak berdaya. Matanya menatap ibunya dengan tajam, seolah ada api yang menyala di dalamnya, tanpa mempedulikan rasa sakit yang menjalar seperti ribuan jarum menusuk dari ujung kaki hingga ke punggung. Ibunya yang melihat sosok anaknya yang kini terlihat sedikit menyeramkan itu tiba-tiba terdiam, ketakutan, dan segera berbalik kembali ke kamarnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Namun, kemenangan sesaat itu tak bertahan lama. Tak lama setelah ibunya pergi, tubuh Heras lemas seketika. Kakinya sudah tak sanggup lagi menahan beban tubuhnya, dan ia terjatuh ke lantai dengan suara yang memilukan. Heras menekan dadanya yang terasa sesak, seakan ada batu besar yang menimpa paru-parunya, dan berpikir sejenak. Kemudian, ia menatap ke arah depan dengan tatapan yang serius dan penuh tekad, meski di matanya tersimpan kesedihan yang tak terucap.

Beberapa saat kemudian, Heras berangkat ke sekolahnya menggunakan kursi rodanya. Ia melewati gang-gang sempit dan kerumunan orang yang berjalan lalu lalang, namun tak ada satu pun tangan yang terulur untuk membantunya. Semua orang seolah buta dan tuli akan keberadaannya. Ia menyebrangi jalan raya yang ramai dengan terburu-buru, menghindari kendaraan yang lewat dengan napas yang tersengal-sengal. Sesampainya di sekolah, ia menuju ke kelas dan bergerak menuju mejanya. Namun, ia menemukan bahwa ada sekelompok orang yang tengah asyik berbincang di depan meja itu, dan salah satunya bahkan duduk santai di atas mejanya seolah itu adalah miliknya sendiri. Tanpa memikirkan hal itu terlalu dalam, Heras berbalik dan menatap ke arah jendela kaca yang mempresentasikan keindahan langit pagi—langit yang biru dan ceria, sangat kontras dengan hatinya yang kelabu.

Bel masuk sekolah pun berbunyi nyaring, dan para murid berhamburan masuk ke dalam kelas dengan kericuhan yang memekakkan telinga, duduk di kursi mereka masing-masing seolah Heras hanyalah sebuah patung tak bernyawa di sudut ruangan.

Kejadian itu terus terulang bagaikan sebuah siklus yang tak berujung, di mana Heras tidak lagi dianggap sebagai manusia yang bernyawa dan berperasaan. Ia sudah dicampakkan oleh lingkungannya, terbuang layaknya sampah yang tidak berguna. Ketika di kantin, ia sering diganggu oleh para berandal sekolah—mereka mendorong kursi rodanya secara sembarangan, menumpahkan makanan ke baju nya, dan tertawa terbahak-bahak melihatnya kesulitan membersihkan diri. Bahkan seorang guru yang melihat kejadian itu hanya diam terpaku, memalingkan wajah seolah tidak melihat apa-apa, membiarkan ketidakadilan terjadi di depan matanya tanpa sedikit pun niat untuk membantunya.

Saat pelajaran berlangsung, ketika Heras memberanikan diri untuk mengangkat tangan dan bertanya, ia diacuhkan oleh guru tersebut seolah suaranya tak lebih dari desiran angin yang lewat. Teman-teman sekelasnya malah menertawakannya, tawa yang pedas dan menyakitkan yang menggema di seluruh ruangan. Bahkan ada yang berani mengejek kelumpuhannya, menirukan cara ia berjalan atau bergerak dengan kursi rodanya, membuat rasa malunya meluap-luap hingga ke ubun-ubun.

Hingga pada akhirnya, cahaya di dalam hati Heras semakin ciut, seakan lilin yang hampir padam diterpa angin malam. Ia menanyakan pada dirinya sendiri, berulang kali, apa salahnya menolong orang lain? Pertanyaan itu bergema di dalam kepalanya, bersahutan dengan kenangan masa lalu yang kembali berputar bagaikan film yang diputar ulang tanpa henti.

Frustrasi merengkuh hatinya bagaikan cakar raksasa yang tak mau lepas. Jiwanya terasa hancur lebur, serupa kaca yang dihancurkan hingga menjadi seribu kepingan kecil yang tak mungkin disatukan kembali. Heras merasa seperti sebuah kapal yang karam di tengah lautan luas, berjuang untuk tetap bertahan namun terus-menerus dihantam ombak kepahitan yang tak kunjung reda. Setiap hari bagaikan siksaan yang perlahan menggerogoti kewarasannya, meninggalkan luka batin yang jauh lebih perih daripada rasa sakit fisik yang ia rasakan di kakinya. Ia merasa terasing di dunianya sendiri, seorang pendiam di tengah keramaian, seorang yang hidup namun terasa sudah mati.

1
Nasipelang
lego euy
Nasipelang
rasa sakit ini, adalah bukti bahwa aku masih hidup
Anonymous
oke
Anonymous
kece
Anonymous
mc nya menderita saya suka
Nasipelang
awalnya ngebosenin, tapi lama-lama seru juga
Anonymous
oke
Anonymous
bujet
Anonymous
baru aja kenalan udah ditinggal ama luminar
Anonymous
uwihh level up coyy
Anonymous
kasihan mc nya jir
Anonymous
mirip nexus yah
Anonymous
kena de javu
Nasipelang: de javu nya apa
total 1 replies
Anonymous
jirr
Arctic General
Sangat bagus... kek ultraman 🗿
Arctic General
up thorr oii🦖
Arctic General
Buset kek ginga🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!