Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Malam itu masih sama, jam sudah menunjukkan pukul 02:15. Xiao Han baru menyelesaikan patroli kedua di halaman belakang—semua pagar terkunci rapat, kamera CCTV berkedip hijau stabil, kolam ikan koi tenang seperti biasa. Dia kembali masuk ke rumah melalui pintu samping, sepatu kulitnya berbunyi pelan di lantai marmer dingin.
Rumah Rina Wijaya terasa semakin sunyi setelah tengah malam. Lampu-lampu utama sudah dimatikan, hanya lampu temaram dinding yang menyala samar di lorong-lorong panjang. Xiao Han berjalan pelan menuju ruang tamu untuk duduk sebentar, tapi langkahnya terhenti di depan lorong samping yang selama dua malam sebelumnya dia lewati tanpa perhatian khusus.
Di dinding lorong itu tergantung sebuah lukisan besar—ukuran hampir dua meter lebarnya, bingkai kayu mahoni berukir halus. Lukisan keluarga: seorang pria berjas rapi berusia sekitar 45 tahun berdiri di tengah, tersenyum tegas, di sampingnya wanita cantik berusia 30-an (mungkin Rina muda) memeluk seorang anak perempuan kecil berusia sekitar sepuluh tahun. Anak itu mengenakan gaun putih berenda, rambut panjang terurai, senyumnya lebar dan polos, mata besar dengan bulu mata lentik yang panjang.
Xiao Han mendekat lebih dekat, lampu temaram dinding menerangi wajah gadis kecil itu dengan lebih jelas.
Dadanya seperti ditusuk tiba-tiba.
Gadis kecil di lukisan itu… mirip sekali dengan Hua Ling’er.
Bukan mirip biasa. Mata besar yang ekspresif, bentuk hidung kecil yang mancung, senyum yang sedikit miring ke kiri saat tersenyum lebar, bahkan cara rambutnya tergerai lurus dengan poni samping yang sama persis seperti Hua Ling’er kecil yang pernah dia lihat di foto lama kekasihnya.
Xiao Han menatap lukisan itu lama sekali. Jantungnya berdegup kencang. Mungkin ini hanya perasaan saja, mungkin kebetulan, mungkin karena dia terlalu sering memikirkan Hua Ling’er akhir-akhir ini. Dia menggeleng pelan, mencoba menenangkan diri. Rina tidak pernah menyebutkan nama gadis kecil itu, tidak pernah bilang dia di mana sekarang. Mungkin ini cuma khayalan Xiao Han yang kelelahan.
Dia hendak melanjutkan langkah, tapi mendengar suara langkah pelan dari atas tangga. Rina muncul lagi, kali ini mengenakan kimono sutra tipis berwarna biru dongker yang lebih pendek, memperlihatkan kaki panjangnya yang mulus. Rambut hitam panjangnya tergerai bebas, kulitnya berkilau lembut di bawah cahaya temaram—tubuhnya tetap kencang dan proporsional seperti wanita yang rajin merawat diri dengan perawatan mahal setiap minggu.
Dia berhenti di tangga bawah, memandang Xiao Han yang berdiri di depan lukisan.
“Kak Xiao Han… kamu lagi lihat lukisan itu ya?” suaranya lembut, tapi ada nada penasaran yang lebih dalam malam ini.
Xiao Han menoleh, sikapnya tetap profesional.
“Iya, Mbak. Lukisan keluarga yang bagus.”
Rina turun tangga pelan, kimono sutranya bergoyang mengikuti langkah. Dia berhenti tepat di samping Xiao Han, cukup dekat sampai aroma parfum vanila dan jasmine-nya tercium jelas.
“Aku suka lukisan ini. Mengingatkan aku pada masa lalu yang lebih… hangat.”
Dia menatap Xiao Han dari samping, matanya menelusuri postur tubuh pria itu—bahu lebar, lengan yang terlihat atletis meski di balik kemeja seragam supir, dada yang naik-turun pelan karena napas yang sedikit terganggu. Rina sudah lama janda, sudah lama tidak ada pria di rumah ini malam-malam. Dan Xiao Han, dengan sikap tegasnya yang tetap hormat meski dia sudah mencoba menggoda berkali-kali, justru semakin membuatnya tertarik.
“Kamu… postur tubuhmu bagus sekali, Kak,” katanya pelan, jari-jarinya menyentuh lengan Xiao Han dengan ujung kuku yang terawat rapi. “Atletis, kuat… tapi tetap sopan. Aku jarang ketemu pria seperti kamu.”
Xiao Han tidak mundur, tapi juga tidak membalas sentuhan itu. Suaranya tetap tenang.
“Makasih pujiannya, Mbak. Saya cuma melakukan tugas saya.”
Rina tersenyum kecil, senyum yang penuh godaan tapi juga ada kerinduan di dalamnya. Dia melangkah lebih dekat, kimono sutranya sedikit terbuka di bagian dada, memperlihatkan garis leher halus yang terawat sempurna.
“Aku tahu kamu profesional. Tapi malam ini… aku ingin lebih dari sekadar penjaga rumah.”
Dia mengeluarkan ponsel dari saku kimono, mengetik cepat, lalu menunjukkan layar ke Xiao Han: notifikasi transfer baru masuk—10.000.000 rupiah.
“Sepuluh juta lagi. Untuk malam ini saja. Tidur bersamaku. Aku tidak minta apa-apa selain kehadiranmu… dan mungkin sedikit kehangatan. Rumah ini terlalu sepi, Kak. Dan aku sudah lama sekali tidak merasa… disentuh.”
Xiao Han menatap angka itu di layar. 10 juta lagi. Itu berarti biaya terapi ibunya bisa lunas lebih cepat, bahkan bisa sisihkan untuk kebutuhan Xiao Mei. Tapi dadanya terasa sesak.
“Mbak Rina… saya—”
Rina memotong dengan lembut, jarinya menyentuh bibir Xiao Han pelan.
“Jangan jawab sekarang. Ikut aku ke belakang. Ke kolam. Kita bicara di sana. Udara malam sejuk, dan tidak ada siapa-siapa di rumah ini selain kita berdua.”
Dia berbalik, berjalan pelan menuju pintu belakang yang mengarah ke halaman kolam. Xiao Han ragu sejenak, tapi akhirnya mengikuti—bukan karena uang, tapi karena dia ingin menjelaskan dengan jelas bahwa dia tidak bisa.
Di tepi kolam koi yang diterangi lampu bawah air berwarna biru lembut, Rina berhenti. Angin malam meniup kimono sutranya, membuat kain tipis itu menempel di tubuhnya yang terawat sempurna. Dia menoleh ke Xiao Han, lalu dengan gerakan lambat dan penuh percaya diri, mulai melepas ikatan kimono di pinggangnya.
Kain sutra biru dongker meluncur pelan dari bahunya, jatuh ke lantai batu tepi kolam, meninggalkan tubuh telanjangnya yang mulus dan proporsional di bawah cahaya bulan dan lampu kolam.
Xiao Han berdiri membeku, napasnya tertahan. Rina menatapnya dengan mata yang penuh hasrat tapi juga kerinduan.
“Kak Xiao Han… malam ini saja. Lepaskan bajumu. Kita berdua di sini… tidak ada yang tahu.”
Xiao Han menelan ludah, tangannya mengepal di samping tubuh. Dia mulai melepas kancing kemeja seragamnya satu per satu, kain hitam itu jatuh ke samping kimono Rina di tepi kolam.