Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
Pagi itu, Los Angeles seakan berkonspirasi untuk menciptakan hari yang sempurna. Fharell Desmon menghentikan mobil convertible mewahnya di depan pintu utama Mansion Benedicta tepat pukul delapan. Ia turun dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya, mengenakan kemeja linen putih yang lengannya digulung hingga siku—menampilkan kesan santai namun tetap berkelas sebagai seorang pewaris.
Tak lama, Paroline keluar. Ia tampak mempesona dengan sundress berwarna kuning pastel yang lembut, kontras dengan citra "Ratu Klub" yang dulu melekat padanya. Di gendongannya, Andreas Sunny sudah rapi dengan topi fedora kecil dan kemeja monyet bermotif jangkar.
"Papa!" Andreas berseru, kakinya menendang-nendang kegirangan.
Fharell tertawa lebar, segera mengambil alih Andreas dan menghujani pipi gembil itu dengan ciuman. "Siap untuk petualangan hari ini, Jagoan?"
Ia kemudian beralih pada Paroline, melingkarkan tangan bebasnya di pinggang wanita itu dan mengecup keningnya lama. "Kau cantik sekali, Sayang. Aroma vanila darimu selalu membuatku gila," bisik Fharell.
"Berhenti menggombal, Fharell. Ayo berangkat sebelum matahari terlalu terik," balas Paro dengan rona merah di pipi yang tak bisa ia sembunyikan.
Di dalam mobil, suasana begitu hangat. Fharell menyetel musik jazz ringan. Tangan kirinya mengemudi, sementara tangan kanannya menggenggam erat tangan Paroline di atas gear box. Sesekali ia menoleh ke kursi belakang lewat spion tengah, menggoda Andreas yang sibuk dengan mainan mobil-mobilannya. Mereka terlihat seperti potret keluarga kecil yang paling bahagia di dunia.
Kebahagiaan itu mendadak terhenti di persimpangan jalan menuju Santa Monica. Lampu berubah merah. Di samping mobil Fharell, sebuah sedan sport perak berhenti sejajar. Pengemudinya menurunkan kaca jendela gelapnya.
"Rhell? Fharell Desmon?"
Fharell menoleh. Jantung Paroline seakan berhenti berdetak saat melihat siapa yang berada di balik kemudi mobil sebelah. Danesa Smith. Sang pewaris Smith Company, pria yang Tiga tahun lalu menghancurkan hidup Sania.
Danesa menatap Fharell dengan senyum santai, namun matanya langsung tertuju pada Andreas yang berada di kursi belakang. "Woah, Rell. Itu anakmu? Sejak kapan kau punya buntut?"
Fharell tersenyum bangga, sama sekali tidak merasa perlu menutupi statusnya. "Ya, ini putraku. Andreas Sunny."
Mata Danesa kemudian beralih ke kursi penumpang depan, mencari sosok ibu dari anak itu. Detik berikutnya, napas Danesa tertahan. Matanya melebar penuh keterkejutan saat mengenali wajah cantik di samping Fharell.
"Paroline? Paroline Benedicta?" Danesa bergumam, suaranya mengandung nada tidak percaya yang kental.
Danesa tentu mengenal Paroline. Siapa yang tidak mengenal "Ratu Klub" dari zaman SMA dulu? Paro adalah gadis yang paling berani, paling seksi, dan paling liar di setiap pesta elit Los Angeles. Danesa sering melihatnya memegang gelas cocktail dan rokok di tengah lantai dansa, dikelilingi banyak pria.
"Rell... kau... kau berhubungan dengan Paroline?" Danesa tertawa sinis, matanya menyapu penampilan Paro yang sekarang tampak sangat suci dan keibuan. "Aku tidak menyangka pewaris keluarga Desmon yang baik-baik sepertimu mau terjebak dengan gadis sepertinya. Kau tahu reputasinya di Sunset Strip, kan?"
Wajah Fharell mengeras. Ia tidak suka nada bicara Danesa yang meremehkan kekasihnya. Ia hendak membalas, namun Danesa lebih dulu beralih menatap Andreas kembali dengan tatapan menyelidik.
Danesa sama sekali tidak tahu bahwa Sania, gadis yatim piatu yang ia buang dulu, benar-benar melahirkan. Ia mengira Sania hanya menggertaknya dan sudah melakukan aborsi setelah ia menolak bertanggung jawab. Ia tidak pernah tahu bahwa darah dagingnya sendiri kini sedang menatapnya dengan mata besar yang sangat mirip dengan mata Sania.
"Wah, Paro," Danesa bersuara lagi, suaranya terdengar tajam. "Anakmu memang tampan. Sangat tampan. Tapi..." Danesa menyipitkan mata, menatap Andreas lalu beralih ke Fharell bergantian.
"Kurasa dia sama sekali tidak mirip denganmu, Fharell. Tidak ada satu garis wajah pun yang menunjukkan dia adalah seorang Desmon," lanjut Danesa dengan tawa meremehkan. "Mungkin kau harus melakukan tes DNA, Rell. Mengingat siapa ibunya... kau tidak tahu benih siapa yang sebenarnya kau asuh sekarang."
Paroline mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Amarah dan rasa muak meluap di dadanya. Ia ingin berteriak bahwa anak ini adalah putra Sania yang ia khianati, tapi ia harus menahan diri demi keselamatan Andreas.
Fharell, yang hingga saat ini masih percaya bahwa Andreas adalah anak kandung Paroline dari "masa lalu yang salah", justru merespons dengan ketenangan yang mematikan. Ia menggenggam tangan Paroline lebih erat, memberikan kekuatan.
"Kemiripan fisik itu relatif, Danesa," ujar Fharell dengan suara dingin yang menusuk. "Tapi ikatan batin adalah kenyataan. Bagiku, Andreas adalah putraku. Dan jika kau punya masalah dengan itu, sebaiknya kau simpan untuk dirimu sendiri sebelum aku memastikan Smith Company kehilangan kontrak kerja sama dengan Desmon Group besok pagi."
"Jalan, Rell. Jangan buang waktumu untuk sampah," bisik Paroline dengan suara bergetar.
Fharell menginjak pedal gas, meninggalkan Danesa yang masih terpaku di persimpangan. Namun di dalam mobil, suasana berubah senyap. Paroline menatap ke luar jendela, air mata mulai menggenang. Ia merasa takut. Takut jika Danesa mulai curiga, dan takut karena Fharell—pria yang begitu mencintainya masih menganggap Andreas adalah anak kandungnya.
"Jangan dengarkan si brengsek itu, Sayang," ujar Fharell lembut, mencoba mencairkan suasana. "Dia hanya iri karena aku punya keluarga yang sempurna, sementara dia hanya punya uang dan kesombongan."
Paroline hanya mengangguk lemah. Dalam hatinya, ia berbisik pada mendiang sahabatnya. Sania, si brengsek itu kembali. Dan dia baru saja menghina putramu tanpa tahu bahwa itu adalah darah dagingnya sendiri.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰