“Aku perintahkan kau untuk menjaga Lea dalam kondisi apapun.” — Martin De Gaulle
Begitulah awal mula semuanya.
Sebuah perintah yang mengikat Elios Leopold—tangan kanan sang Godfather. Pria dingin, berbahaya, dan setia tanpa syarat.
Elios selalu ada di sisi Lea—Eleanore Moreau. Menjaga, melindungi, dan memastikan gadis itu tak pernah sendirian. Dari kedekatan yang terus terjalin, perasaan pun tumbuh seiring berjalannya waktu.
Lea menyadari perasaannya lebih dulu. Tapi Elios… tidak.
“Aku akan menjadi apapun yang kau mau. Mama, Papa, saudara dan sahabat. Asal kau yang meminta, aku akan mewujudkannya.” — Elios Leopold
Ucapan itu membuat Lea berharap. Namun, di saat Lea mengucapkan permintaannya, akankah Elios mampu menepatinya?
Dari perlindungan lahir ketergantungan.
Dari kedekatan tumbuh hasrat yang terlarang.
Jika Elios mengabulkan permintaan itu, akankah Lea sanggup menghadapi kegilaan pria berbahaya yang telah menjadikannya satu-satunya tujuan hidup?
Terjerat Hasrat Monsieur Leopold
Yuk baca novel ini guys!
Seperti apa kisah protektif, posesif dan obsesi Monsieur Leopold terhadap bidikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu - Part 2
...“Aku juga tak suka dengan kehadiran Sovia yang mengganggu liburan ini.” — Eleanore Moreau...
Lea tersenyum dengan sangat terpaksa. Lalu ia menyuruh Sovia masuk untuk menemui Elios.
Sovia melangkah masuk ke dalam ruangan, lalu ia melangkah ke arah Elios dengan sangat cepat—seperti seorang wanita yang sedang kesenangan ingin bertemu dengan pujaan hatinya.
“Monsieur,” sapa Sovia sambil tersenyum. Ia menyerahkan sebuah paper bag untuk Elios. “Ini untuk Anda.”
Elios menerima paper bag tersebut.
“Boleh saya pinjam Mademoiselle sebentar?” tanya Sovia lagi. Matanya terlihat berbinar-binar seolah sedang menginginkan sesuatu.
Elios mengangkat kedua alisnya secara bersamaan. Ia penasaran dengan apa yang sedang Sovia rencanakan. Pasalnya wanita di depannya ini selalu ada inisiatifnya tersendiri.
“Ya. Jangan lakukan sesuatu yang tidak ia sukai,” ucap Elios akhirnya.
Mendapatkan persetujuan Elios, akhirnya Sovia beranjak pergi ke arah Lea. Lalu ia merangkul lengan Lea dengan sebuah senyum yang sumringah.
“Mademoiselle, ayo ganti baju? Aku sudah membelikan pakaian khusus untukmu.”
“Pakaian khusus?” tanya Lea tak mengerti.
Sovia mengangguk pelan. “Ya. Saya sudah memilihkan pakaian pantai bernuansa batik. Anda pasti cantik mengenakannya.”
Lea tak bisa menolak ajakan Sovia. Meskipun ia tak suka, ia tetap melangkah menuju ke kamar bersama dengan Sovia. Ia bergegas mengenakan batik yang sudah Sovia belikan untuknya. Batik buatan tangan berwarna cream dengan perpaduan motif bunga serta corak lainnya yang berwarna maroon, hitam dan coklat. Model batik tersebut memiliki rok lilit yang menampakkan belahan kaki hingga ke paha. Dipadukan dengan atasan kemben yang nyaris berbentuk bra dengan tali kecil seukuran lebar jari kelingking.
“Wah... Anda cantik sekali,” gumam Sovia menatap kecantikan Lea saat mengenakan batik pilihannya. “Saya penasaran, seperti apa gigihnya pria yang akan mendekati Anda nantinya.”
Lea menatap Sovia dengan penuh tanda tanya.
“Seperti yang kita tahu, Monsieur sangat perhatian pada Anda,” ucap Sovia sambil menyisir rambut Lea yang kini duduk di depan meja rias. “Pasti Monsieur tak akan melepaskan Anda pada sembarangan pria.”
“Saya yakin, pasti Monsieur akan sangat selektif saat ada pria yang ingin mendekati Anda, Mademoiselle,” imbuhnya sambil menguncir kuda rambut Lea, menampakkan indahnya tengkuk dan tulang belikat yang ia miliki.
“Nah, sekarang sudah selesai. Ayo kita ke pantai!” Sovia meraih lengan Lea yang belum sempat membalas perkataannya sejak tadi. Lalu keduanya keluar dari kamar.
Entah sejak kapan Brad dan Frank sudah ada di dalam ruangan yang sama dengan Elios. Ketiganya sedang duduk di sofa ruang tengah dengan pintu yang terbuka, menampakkan pemandangan pantai yang membentang luas tanpa batas.
Semua mata pria yang ada di ruangan itu langsung terperangah saat melihat dua orang wanita itu keluar dari kamar. Yang satu terpesona dengan kecantikan gadis muda, sisanya terpesona dengan kecantikan wanita elegan yang sudah matang.
“Kalian pergi dulu,” perintah Elios membuyarkan binar mata Brad dan Frank. “Aku akan menyusul.”
Saat Brad, Frank dan Sovia meninggalkan ruangan, tersisa Lea dan Elios di ruang tengah. Lea mendadak tak nyaman dengan tatapan mata Elios. Ia sampai memperhatikan di mana letak salah pakaian yang ia kenakan saat itu.
“Bajunya tidak cocok ya untukku?”
Elios melangkah mendekat ke arah Lea. Lalu ia mencondongkan tubuhnya, sehingga wajahnya melewati telinga Lea. Dan dalam waktu singkat, pria itu berhasil melepaskan kunciran yang sudah Sovia lakukan untuk Lea tadinya.
“Kenapa dilepas?” tanya Lea tanpa sadar melangkah mundur selangkah.
“Aku tak suka ada yang melihat leher itu selain aku.”
Seketika wajah Lea memerah karena malu. Tapi rasa malunya mendadak ia hapus jauh-jauh. Ia masih merasa terganggu dengan kehadiran Sovia di tengah-tengah liburan panas itu.
“Aku juga tak suka dengan kehadiran Sovia yang mengganggu liburan ini,” ucap Lea spontan tanpa basa basi. Rasanya jika dipendam terus-terusan, liburan ini akan berlalu dengan sia-sia.
Elios mengerutkan keningnya. Ia merendahkan posisi tegaknya—menyamakan tingginya dengan Lea. “Kenapa? Apa dia melakukan hal yang tidak kau sukai?”
Lea membuang wajahnya ke samping. “Dia ‘kan menyukaimu.”
Elios tak mampu menahan tawanya. Kali ini, tawanya lepas tanpa bisa ia kendalikan. Ia tertawa sambil satu tangan bertolak pinggang, dan satu tangannya lagi menutup sebagian wajahnya. Ini adalah tawa pertamanya yang pernah Lea lihat sejak mereka pertama kali bertemu. Sebuah tawa tanpa beban dan benar-benar menggelitik hati.
“Kenapa kau tertawa? Aku serius, Eli!” Lea merenggut dengan ekspresi wajah yang kesal.
Elios menarik napas pelan, lalu ia kembali mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke arah Lea. “Dia itu tour guide kita.”
“Tour guide?” tanya Lea tak mengerti.
Elios menaikkan kedua alisnya. Lalu ia meraih dan menggenggam kedua tangan Lea secara bersamaan. “Ya. Di sini tempat lahirnya. Dia sangat familiar dengan lokasi ini. Dan kau tahu... Brad menyukai Sovia. Sementara Sovia, dia menyukai Frank.”
“Perasaan mereka terlalu rumit,” imbuhnya sambil tertawa.
“Sovia menyukai Frank?” tanya Lea tak percaya. Ia sedikit memiringkan kepalanya sambil menatap Elios. “Lalu, kenapa selama ini dia selalu mengikutimu kemana kau pergi? Sampai-sampai dia rela ke apartemen di pagi buta?”
Elios membelalak. “Jadi... kau marah karena Sovia datang waktu itu?” ia mendadak teringat dengan kejadian pagi minggu lalu. “Ah... jadi itu alasan kenapa kau merajuk?”
Lagi... Elios kembali tertawa karena terlalu gemas dengan tingkah Lea saat cemburu. Ia semakin yakin dengan perasaan gadis itu padanya—tak perlu diragukan lagi.
“Frank itu selalu mengikutiku kemanapun aku pergi,” ucap Elios menjelaskan. “Jadi, tujuan Sovia menemuiku itu hanya alasan. Dia seharusnya bisa memberi laporan lewat telefon saja. Tapi karena ingin bertemu Frank, dia selalu mencari cara untuk menemuiku, melalui Frank.”
Lea menggangguk pelan sambil mencerna penjelasan Elios. Jika dipikir-pikir lagi, selama ini Sovia tak pernah bertingkah berlebihan terhadap Elios. Bahkan ekspresi wanita itu terlihat biasa saja dan formal pada Elios. Tapi... kenapa selama ini dia merasa cemburu? Apa karena ia merasa terintimidasi dengan kecantikan dan keanggunan yang wanita itu miliki? Ia takut bahwa ia tak cukup cantik. Ia takut jika dibandingkan dengan Sovia—wanita dewasa yang matang. Dan... ia takut akan kehilangan Elios Leopold yang ia cintai.
“Haih!” Lea menggelengkan kepalanya karena menyesali kekonyolannya itu.
“Jadi...” Elios menggendong Lea menghadap ke arahnya. Kemudian ia berjalan ke arah sofa dan merebahkan tubuh gadis itu tepat di bawah tubuhnya. “Selama ini kau cemburu?”
Wajah Lea memerah. Ia menutup wajahnya menggunakan kedua tangan karena terlalu malu saat dilihat oleh pria itu. “Tidak! Kata siapa aku cemburu?”
“Kau cemburu.” Elios mencium punggung tangan Lea yang menutupi wajahnya. Kemudian ciuman itu berpindah ke arah telinga. Ciuman liar penuh gairah tak bisa dihindari karena penampilan yang menggoda di sore itu. Terlebih lagi tingkah menggemaskan Lea saat cemburu.
“Mh... i—iya. A—aku takut jika... ahh... aku tak cukup cantik... dibandingkan Sovia.”
Lea bergidik saat telinganya di cium dan jilati bertubi-tubi tanpa henti. Tubuhnya terus melengkung tak terkendali dan menggeliat tanpa henti di bawah kungkungan tubuh kekar Elios. Napasnya berantakan di sela ciuman yang pria itu berikan.
“Kau cantik melebihi siapapun itu di mataku,” bisik Elios sambil napas beratnya menggelitiki telinga Lea.
“El... ki—kita harus pergi. Mmh!”
Elios beranjak dari telinga Lea. Kini ciumannya turun menyusuri tengkuk dan leher jenjang milik gadis itu. Aroma manis yang keluar dari tubuh Lea memiliki daya tarik tersendiri baginya. Hasratnya semakin bergejolak.
“Masih ada besok,” ucap Elios dengan suara napasnya yang berat.
...****************...
Bersambung....
EL jika kamu bicara. baik2 dg Martin pastinya Martin akan mempertimbangkan niat baik kamu. jangan berpikir pendek dulu ok